My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 137 (Good girl)


__ADS_3

Randy segera tersadar, matanya mengerjap beberapa kali, ketika samar-samar suara seseorang terbatuk-batuk tak henti-henti.


"Ay?" Dia berteriak, ketika tidak mendapati istrinya di tempat tidur.


Dengan segera Randy menuruni tempat tidur, berlari ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat, menekan handle dan mendorongnya sekaligus sampai embuat Ayumi yang sedang membungkuk di hadapan wastafel tersentak kaget.


"Hey? Kamu kenapa?" Tanya Randy saat melihat keadaan Ayumi yang terlihat tidak baik-baik saja.


Pria itu khawatir juga merasa sedikit takut.


Mata merah berkaca-kaca, juga wajah sembab yang terlihat sangat pucat. Mereka saling menatap dari pantulan cermin di hadapan Ayumi.


Randy melangkahkan kaki untuk mendekat, mengusap-usap punggung istrinya, kemudian memberikan pijatan lembut di tengkuk bagian belakang.


"Sejak kapan kamu muntah-muntah seperti ini? Kenapa tidak membangunkan aku?" Cicit Randy.


Ayumi membasuh wajahnya, menutup kran air, meraih tissue untuk mengeringkan sisa air di wajah, berbalik badan kemudian memeluk Randy, menyandarkan wajah di dada bidang milik suaminya.


Perempuan itu memejamkan mata. Terdiam beberapa saat, berusaha menetralisir rasa mulai yang masih tersisa.


"Mau ke Dokter?" Pandangan Randy menunduk, berusaha melihat wajah istrinya yang dia sembunyikan.


Dia menggelengkan kepala.


"Bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Randy.


"Bajunya!" Kata Ayumi pelan.


"Baju aku kenapa?" Pria itu mengendus pakaiannya saat ini.


Ayumi sedikit menjauhkan wajahnya, mendongakkan kepala sampai pandangan keduanya beradu dari jarak yang begitu dekat.


"Bajunya ketinggalan di rumah Mama!" Ucapnya lagi dengan nada penuh kekecewaan.


Kening Randy berkerut.


"Kok bisa?"


"Waktu itu aku bawa turun sama tas. Tasnya aku simpan sama baju punya Abang, tapi kayanya baju itu ketinggalan, aku fokus sama kantong markisa nya!"


Dia merengek seperti anak kecil yang sedang mengadu kepada ayahnya. Bahkan raut kesedihan jelas terlihat, itu terjadi hanya karena pakaian kesayangan milik suaminya yang tertinggal, sehingga membuat Ayumi pusing, mual dan muntah.


"Bisa ambil pakaian kotor aku yang lain." Randy mencoba menenangkan.


"Tidak mau, … beda aku mau yang itu!"


"Tapi bagaimana mengambilnya? Tidak mungkin kalau hari ini kita kembali kesana, aku harus bekerja."


"Yah, gimana dong! Bajunya nggak ada, kamu mau kerja. Udah ini mah aku pasti muntah-muntah terus." Keluh Ayumi.


"Nanti setelah subuh aku telfon Mama. Sekarang kita kembali ke kamar dulu, baru jam setengah empat pagi."


Randy menggiring istrinya ke luar dari ruangan itu, mengantar Ayumi sampai naik ke atas tempat tidur, dan menarik selimut sampai menutupi hampir semua bagian tubuh istrinya.


"Mau minum?" Randy bertanya.


Ayumi menggelengkan kepala.


"Atau mau aku buatkan susu hangat?"


"Nggak mau, nanti aku semakin mual. Aku nggak suka susunya di buang saja!"


Randy menghembuskan nafasnya pelan. Dia berjalan memutari ranjang, ikut naik yang seketika disambut Ayumi. Perempuan itu kembali menempel, menenggelamkan wajah di dada bidangnya.


"Tidurlah. Agar tidak pusing apalagi mual dan muntah, keadaanmu tadi membuat aku sangat takut." Kata Randy sambil mengusap-usap kepala istrinya.


***


"Jadi benar ada disana?" Randy berbicara dengan Sumi melalui sambungan telepon.


Sementara Ayumi memperhatikan, duduk tepat di samping Randy dengan raut wajah berbinar.


"Baiklah, nanti Mama bisa antara kesini?"


"Bisa, … mungkin nanti ke rumah Bu Maria dulu, siapa tahu mau kesana juga, jadi bisa berangkat bersama-sama." Jawab Sumi.


Mendengar itu Randy hanya mengangguk.


"Kalau begitu sudah dulu, Ma. Randy harus berangkat kerja, takutnya kesiangan."


Pria itu mengulum senyum, mengangguk-anggukan kepala. Lalu menjauhkan handphone dari telinganya, dan menekan salah satu tombol sampai sambungan telepon bersama sang ibu mertua benar-benar terputus.


"Ada?" Tanya Ayumi.


Dia yang sedari tadi duduk di sofa kamar pun langsung bangkit.


"Ada, nanti Mama antar kesini. Kamu senang?" Randy tersenyum manis.


Ayumi mengangguk lagi, perempuan itu maju satu langkah, mengusap bahu suaminya. Merapikan kemeja kerja Randy, dan mengancingkan bagian atas untuk segera dia pasangkan dasi.


"Memangnya sudah bisa?"


Randy menundukan pandangan, menatap Ayumi yang tampak sedikit kesulitan menyampirkan dasi.


Orang yang dimaksud tidak menjawab, dia menarik suaminya sampai berada dekat dengan sofa, setelah itu Ayumi naik, dan menyampirkan dasi di kerah kemeja Randy.


"Aku kan belajar terus, masa tidak bisa melulu." Kata Ayumi seraya memfokuskan diri, memasangkan dasi untuk suaminya.


Randy diam memperhatikan. Menatap wajah Ayumi dengan bibir yang mengecutut, matanya terus bergerak-gerak, juga tangan yang tak hentinya meliuk-liuk, berusaha menyempurnakan penampilan suaminya.


"Selesai."


Ayumi mengangkat pandangan, menatap Randy yang juga sedikit menundukan wajah.


Keduanya tersenyum.


Rambut bagian depan yang sedikit ikal. Alis yang lebat, bulu mata yang lentik, sorot mata yang terlihat tajam. Mengenakan kemeja putih, dasi hitam, jas abu-abu, dengan celana berwarna senada, membuat penampilannya benar-benar memukau.


Tentu saja. Dia Randy Danendra, sosok kepercayaan Raga Biantara yang tidak boleh berpenampilan sembarangan. Pria itu harus tetap terlihat rapi dan menarik, karena memang banyak menemui orang-orang penting di dalam dunia bisnis.


Cup!


Randy mencium bibir Ayumi singkat.


"Ayo kita sarapan." Ajak Randy.


Ayumi tersenyum, sebagai jawaban setuju atas ajakan Randy, suaminya. Mereka segera berjalan ke arah luar, mendekati meja makan, yang sudah tersedia berbagai macam hidangan. Termasuk udang dan cumi balado yang Tutih bekalkan untuk anak juga menantunya.


Randy segera duduk. Sementara Ayumi meraih piring dan mengisi dengan nasi.

__ADS_1


"Lauknya mau ambil sendiri?" Tawar Ayumi.


"Ambilkan saja. Hanya pakai sup ayam dan tempe ya, tidak usah pakai udang dan cumi, … jangan sampai aku bolak-balik kamar mandi saat menghadiri pertemuan nanti."


Ayumi mengangguk. Dia meletakan satu piring nasi di hadapan Randy, membawa satu mangkuk kecil, mengisinya dengan sup ayam, dan kembali meletakannya di hadapang suaminya.


"Selamat makan, Daddy."


Ayumi duduk, dia meraih piring dan hanya mengisinya dengan udag dan cumi balado.


"Tidak pakai nasi lagi?" Tanya Randy.


Ayumi tersenyum.


"Coba pakai nasi sedikit. Itu pasti pedas, namanya saja sudah balado, masih pagi, mana tidak pakai nasi. Nanti anak kita kepanasan di dalam bagaiaman?" Randy mulai protes.


Ayumi terkekeh.


"Kamu ngaco, mana bisa begitu. Dari lambung ke rahim jauh loh!"


"Tapi itu pedas, tidak apa-apa kalau pakai nasi. Lagian kenapa akhir-akhir ini kamu tidak mau makan nasi?"


Ayumi menjejalkan cumi balado kedalam mulutnya, dia kunyah dengan sangat perlahan, seolah tengah menikmati masakan buatan sang ibu yang begitu dia sukai, tanpa mau menghiraukan tatapan Randy yang semakin memicing.


"Ay?"


"Heumm?" Ayumi menjawab dengan bergumam tanpa mengalihkan pandangannya kepada Randy.


"Ayumi?"


"Iya." Sahutnya masih acuh.


Randy meletakan sendok juga garpunya, menyandarkan punggung dengan kedua tangan yang dia lipat di atas dada.


Dia menghembuskan nafasnya perlahan, membuat Ayumi melirik sekilas.


"Ayumi Kirana!"


"Iya iya, … astaga!"


Ayumi segera meraih centong nasi, dan menambahkan kedalam piring miliknya dengan jumlah yang sangat sedikit.


"Lagi!" Tegas Randy.


Ayumi tak merespon, dia kembali menikmati masakan ibunya dengan begitu lahap.


"Yang benar saja. Apa kamu mau makan nasi dengan jumlah yang sangat sedikit? Sementara kalian berbagi makanan? Ada mahluk lain di dalam perut kamu Ayumi jadi …"


"Baiklah Bapak Randy Danendra. Kamu sangat menyebalkan pagi hari ini." Sergah Ayumi memotong ucapan suaminya.


Dia mendelik, dan kembali menambahkan jumlah nasi kedalam piring makannya.


Melihat itu Randy tersenyum, lalu kembali menikmati sarapannya dengan tenang, karena Ayumi sudah makan dengan benar, meskipun perempuan itu terlihat sedikit kesal juga tidak suka.


Terlihat dari raut wajahnya yang begitu berbeda.


"Bagus, setelah ini minum susu, vitamin, dan air putih yang banyak. Agar aku pergi bekerja dengan pikiran tenang." Kata Randy dengan raut wajah berbinar.


"Harus banget minum susunya?" Ayumi cemberut.


"Tentu saja, asam folat sangat penting untuk ibu hamil. Jika mual maka minumnya perlahan-lahan, kalau mual ya berhenti dulu, … tapi harus tetap minum! Bukannya kamu mau bayi kita nanti lahir dengan sehat?"


"Bagus, jadi habiskan cepat nasinya. Aku tidak akan melaranga kamu makan makanan yang pedas jika masih berada di batas wajar, hanya saja jangan lupakan susu dan vitami nya, akhir-akhir ini kamu sudah mulai malas jika tidak di ingatkan." Kata Randy penuh penekanan.


Ayumi bungkam, sementara Randy segera bangkit setelah selesai menghabiskan sarapan miliknya. Dia berjalan ke arah dispenser, mengisi dengan air hangat, meminumnya hingga tandas, kemudian kembali mngisinya dan meletakan tepat di samping Ayumi.


"Hari ini sepertinya aku banyak pekerjaan. Menemui beberapa sponsor, mengurus kontrak untuk pemain baru yang akan pak Raga beli, dan berkas-berkas lainnya, bisa saja aku pulang larut, tidak apa-apa?" Jelas Randy seraya meraih buah naga, dan memotong menjadi dua bagian.


Satu dia letakan di piring kecil untuk Ayumi, dan satu lagi dia makan.


"Mama akan datang kan?" Ayumi menatap suaminya.


Randy mengangguk.


"Mungkin Ibuku juga datang, jadi kamu tidak akan kesepian, … tapi jika ada apa-apa segera hubungi." Randy mengusak rambut Ayumi. "Oke? Kamu mengerti?"


"Mengerti." Balas Ayumi sembari mengangguk pelan.


"Good girl."


Ayumi menatap Randy, dia tersenyum.


"Minta tolong ambilka vitaminya boleh?" Pinta Ayumi yang langsung Randy jawab dengan anggukan.


Pria itu beranjak ke arah kamar, sementara Ayumi mengusap kedua sudut bibirnya menggunakan tisu, kemudian meneguk air putih hangat dengan pelan-pelan.


"Obat anti depresan nya sudah mau habis? Kapan jadwal kita periksa dan melakukan tetapi lagi? Aku lupa." Randy datang membawa obat-obatan milik Ayumi.


Dia bahkan membantu membuka setiap bungkusan, lalu menyerahkan kepada Ayumi.


"Aku lupa juga!" Jawab Ayumi singkat.


"Terimakasih." Ayumi menerima obat yang Randy sodorkan, memasukannya kedalam mulut, dan meminum air sebanyak-banyaknya.


Randy tersenyum melihat istrinya.


"Sudah bisa tanpa bantuan buah pisang?"


"Bisa, tapi susah. Obatnya muter-muter dulu di dalam mulut sebelum masuk ke tenggorokan."


"Setidaknya kamu bisa meminum obat dengan benar."


Ayumi mengangguk.


Perempuan itu bangkit, merapihkan piring kotor dan membawanya kedalam bak cuci.


"Aku harus berangkat sayang!" Randy mendekat, kemudian memeluk Ayumi.


"Baiklah, ayo aku antar sampai kedepan."


Randy melepaskan lilitan tangannya, kemudian berjalan terlebih dahulu.


"Bi? Tolong meja makannya di rapihkan yah." Panggil Ayumi saat sang asisten rumah melintas dari arah taman belakang berjalan ke arah dapur, dengan kranjang kosong di tangannya.


"Iya Non."


Randy meraih kunci mobil kerjanya, menenteng tas berisikan laptop, memakai sepatu, dan berjalan ke arah luar, dimana garasi rumah dan mobil-mobil nya terletak.


"Aku berangkat yah!" Randy kembali berpamitan.

__ADS_1


Dia menunduk untuk meraih kening Ayumi, beralih mencium kedua pipi juga bibir, dan berakhi di perut istrinya.


"Baik-baik oke? Jangan membuat Mommy mual lagi!"


"Iya Daddy." Ayumi menjawab dengan suara yang di buat seimut mungkin.


Randy menegakan tubuh, mengusap kepala istrinya, sebelum dia benar-benar berjalan ke arah garasi, dan masuk kedalam Lexus abu-abu kesayangannya.


Ayumi melambaikan tangan ketika suara derum mesin mobil terdengar.


"Hati-hati yah! Awas kalau ada Dokter Aleesa jangan nakal."


Randy membuka kaca mobilnya.


"Ngaco kamu!" Pria itu terkekeh.


"Ya sudah sana berangkat, nanti Pak Raga marah lagi lho."


"Ingat! Kalau ada apa-apa segera hubungi aku, jangan diam saja."


"Ya."


Mobil itu mulai mundur, meninggalkan garasi rumahnya.


PIM PIM.


"Papayo!" Ayumi berteriak.


Mobil itu berbelok, melaju dengan kecepatan sedang saat memasuki jalanan komplek. Perlahan-lahan kendaraan roda empat itu melaju semakin menjauh, dan menghilang dari pandangan Ayumi.


Dia memutuskan untuk segera kembali, masuk dan tak lupa menutup pintu rumahnya.


"Non buah naga nya!"


"Oh, iya aku lupa."


Dia mendekati Dini, meraih buah naga yang tadi suaminya siapkan, lalu berjalan ke arah taman belakang.


***


Sumi keluar dari dalam taksi, membawa sebuah tas berukuran sedang, juga satu tempat yang Maria titipkan untuk anak dan menantunya saat dia tidak bisa datang berkunjung.


Kesibukannya sebagai penjual toko kue menjadi salah satu penyebab utama. Jika dulu dia tidak pernah melewatkan kunjungannya kepada Randy, kali ini Maria lebih merasa tenang dan tidak terlalu khawatir karena sudah ada Ayumi bersamanya.


Sumi menekan tombol bel.


Klek!


Setelah menunggu beberapa detik akhirnya pintu rumah besar itu terbuka. Dan tampaklah Dini, membukakan pintu tersebut sembari tersenyum.


"Bu Sumi, masuk Bu!" Dia mempersilahkan.


"Ayumi ada? Atau sedang keluar? Kenapa rumahnya sepi sekali?" Tanya Sumi sambil melangkah masuk.


"Non, Ayumi ada di kamarnya, Bu."


Sumi mengangguk, dia meletakan barang bawaannya di sofa, sementara satu titipian Maria dia berikan kepada Dini.


"Bi, tolong di kasih piring ya. Saya panggil Ayumi dulu!"


"Iya, Bu!" Dini mengangguk.


"Sejak kapan Ayumi di dalam kamar?"


"Dari tadi pagi, tidak lama setelah Pak Randy berangkat kerja dan menghabiskan buah naga yang Pak Randy siapkan."


Sumi mengangguk, dia mendekati pintu kamar yang tertutup rapat, lalu mengetuknya beberapa kali.


"Ay? Mama datang!"


Tok tok tok!!


Namun pintu kamar itu tak kunjung di buka. Rasanya begitu khawatir, apalagi saat mendengar penuturan Dini, bahwa Ayumi belum keluar kamar lagi setelah suaminya berangkat bekerja, bahkan sampai sekarang menjelang sore hari.


"Ayumi? Mama masuk ya!"


Sumi menekan handle pintu kamar Ayumi, mendorongnya perlahan, dan samar suara orang sedang muntah-muntah terdengar, membuat Sumi segera melangkah masuk, dan berlari ke arah pintu kamar mandi yang terbuka lebar.


"Ay?"


Panggilan itu membuat Ayumi menoleh, menutup kran air dan mengusap bibirnya dengan tangannya.


Mata sayu, wajah pucat juga keadaan yang terlihat sedikit lemas.


"Sejak kapan kamu muntah-muntah? Kenapa tidak memanggil Bi Dini? Bagaimana kalau terjadi sesuatu?"


Sumi mendekat, seraya mengusap punggung Ayumi.


Perempuan itu mendengarkan tubuhnya, berbalik badan, kemudian tersenyum saat pandangannya keduanya beradu.


"Mama sudah datang?"


"Tunggu sebentar, Mama ambilkan minum dulu."


Sumi hampir pergi, namun Ayumi menahan tangannya.


"Tidak usah, ambilkan baju Abang yang ketinggalan di rumah Mama saja. Aku cuma butuh itu!"


Tanpa banyak bertanya Sumi pun mengangguk, dan beranjak ke arah luar kamar.


Dengan langkah lemas Ayumi keluar dari dalam kamar mandi sana. Mendekati ranjang tidur, naik dan segera merebahkan diri. Rasanya begitu lemas, apalagi dia tak berhenti muntah tidak lama setelah dia memasuki kamar, sampai membuat tenaganya hampir habis.


"Bajunya kotoran Ay?"


Sumi masuk.


"Memang." Ayumi menadahkan tangannya, meminta pakaian itu segera Sumi berikan.


Dan setelah ada di dalam genggamannya, Ayumi langsung mencium kain tersebut, sehingga rasa pusing dan mual nya perlahan mulai menghilang. Aneh memang, tapi itulah yang Ayumi rasakan.


Sumi melongo melihat itu.


"Mama duduk sini, tolong usap-usap kening aku! Aku mau tidur, aku cape dari tadi mualnya nggak berhenti." Dia menepuk tempat kosong di sisinya.


Sumi mengangguk, dia duduk di tepi ranjang, dan tanpa dia sangka-sangka Ayumi beralih berbaring di atas pangkuannya.


"Tidurlah." Sumi mengusap kepala Ayumi perlahan-lahan.


Perempuan itu mengangguk pelan, dengan mata yang mulai dia pejamkan.

__ADS_1


__ADS_2