My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 42 (reality)


__ADS_3

Satu hari bermalam di rumah orang tua Randy, melakukan banyak aktifitas dan sarapan pagi bersama, lalu membantu Maria menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah. Sampailah pada waktu dimana Randy juga Ayumi harus kembali, pulang ke pusat kota dimana mereka bekerja karena hari esok sudah kembali pada rutinitas masing-masing.


Kini mereka berada dalam perjalanan, setelah drama Maria yang memohon agar Ayumi dan Randy tetap berada di rumahnya hingga sore hari nanti.


Dan wanita itu luluh setelah Ayumi memberinya sangat banyak penjelasan.


Suara musik mengalun, menemani perjalanan Ayumi bersama Randy yang hendak menempuh perjalanan pulang dengan jarak yang lumayan jauh.


Pria itu tampak sangat serius, menatap kedepan dengan kedua tangan mencengkram kuat setir mobil.


Ayumi menoleh, menatap pria di sampingnya yang terus bungkam seribu bahasa.


"Ada sesuatu?" Gadis itu memulai pembicaraan.


Randy melirik sekilas, lalu kembali pada jalanan di hadapannya.


"Sesuatu apanya?" Randy balik bertanya.


"Tidak biasanya kamu pendiam seperti ini! sudah dari tadi pagi lho, pas sarapan aja kamu diem, ... sakit gigi? atau bagaimana?" Cecar gadis itu dengan beberapa pertanyaan.


Ayumi mengubah posisi duduknya jadi sedikit menyamping, agar dapat menatap kekasihnya dengan leluasa.


"Tidak ada, aku hanya sedang fokus mengemudi." Jawabnya tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun.


Ayumi mengangguk, tapi hal lain membuat dia lebih mendekat lagi, sampai dia benar-benar mencondongkan tubuhnya.


"Telinga kamu merah!" Sekilas Ayumi menyentuh daun telinga itu.


Dia kembali mundur, dan duduk dengan benar seperti semula.


"Benarkah?" Randy menyentuh telinga sebelah kirinya.


Ayumi mengangguk lagi.


"Di gigit nyamuk? atau telinga Abang sakit?" Tak hentinya Ayumi bertanya.


Randy bungkam.


"Abang!?"


"Iya? kenapa sih? aku lagi fokus nyetir, Ay!" Akhirnya Randy menoleh, dan menatap Ayumi sambil tersenyum, sebelum kembali mengarahkan pandangan kearah depan.


"Ish nyebelin, dari tadi aku tanya tapi nggak di jawab-jawab." Gadis itu merajuk.


Dia menggeser tubuhnya hingga menempel pada pintu mobil, menatap lurus kedepan dengan bibir yang mengerucut.


Dia cemberut.


Ya bagaimana? masa aku harus bilang kesel sama Ibu, nanti dia tanya kenapa aku kesel sama Ibu lagi!


Batin Randy berbicara.


Dia segera menoleh, lalu tangan kirinya bergerak meraih tangan Ayumi dan menggenggamnya.


"Nanti ngobrolnya setelah sampai saja. Sekarang biarkan aku fokus mengemudi, kamu makan saja, oke? tadi kan sebelum berangkat Ibu ngasih satu kantong kue dan jajanan pasar." Bujuknya.


"Kok makan sih! nggak jelas kamu tuh." Balas Ayumi sedikit ketus

__ADS_1


"Iyaa ... kan waktu kita berangkat saja kamu sibuk makan. Jadi aku bisa nyetir lebih fokus lagi."


"Ish!"


Ayumi menyentakan tangannya, sampai genggaman itu terlepas.


"Kamu nyembunyiin sesuatu yah? padahal aku suka cerita apapun ke kamu. Tapi kamunya malah gini, jadi ..." Belum sempat Ayumi menyelesaikan ucapannya, Randy kembali meraih tangan Ayumi, meletakannya diatas perseneling untuk dia genggam kembali.


"Ayumi? aku tidak apa-apa, hanya sedikit mengantuk. Semalam tidak bisa tidur, jadi biarkan aku fokus nyetir, oke?" Jelas Randy dengan suara yang terdengar begitu lembut.


"Dasar aneh, harusnya kalau takut ngantuk tuh ngobrol!"


"Ya ya ya, terserah kamu saja. Asal jangan marah!"


Setelah itu Ayumi diam, menikmati perjalanan pulang pada hampir tengah hari.


Ditemani langit biru yang sangat indah, juga cahaya matahari yang terus menyorot, dan jangan lupakan dengan beberapa awan putih di sekitarnya, membuat suasan hari itu sangat luar biasa.


***


Sementara di lain tempat, Ali terlihat mendekatkan ponsel kearah daun telinga saat mencoba menghubungi seseorang.


[Halo, Pak Ali?]


Sapa seseorang di dalam sambungan telfon sana.


"Maaf, Pak. Saya mau minta waktu Bapak sebentar, apa Bapak Al sedang sibuk?"


Ucap Ali sedikit canggung. Kemudian dia duduk di sofa ruang tamu, di temani Tutih yang terus mendekatinya.


[Oh, ... tidak Pak, waktu senggang saya sangat banyak sekarang.]


[Pak Ali butuh bantuan? atau sedang mengalami kesulitan lagi?]


"Bu-bukan. Ini tentang Ayumi!"


[Heem, kenapa denga Ayumi?]


Ali menggigit bibirnya kencang, perasaanya mulai berkecamuk. Apalagi sikap Tutih, perempuan itu bahkan sudah terisak pelan.


Mereka tidak tahu harus berbuat apa, tapi kenyataan ini harus mereka beberkan kepada anak perempuan yang sudah dia asuh puluhan tahun lamanya.


[Dia mulai tahu?]


Alvaro bertanya lagi.


"Belum. Tapi kita harus segera memberi tahunya, kemarin Ayumi datang, dia membawa kekasihnya kehadapan kami, dan anak muda itu berniat serius."


Tutih semakin terisak, sementara kedua pria yang sedang berbincang itu sama-sama teriam.


"Entah bagaimana kita harus mengatakan ini. Kami hanya mengatakan jika sebelum mereka menikah, kita harus bertemu dengan Bapak terlebih dulu." Jelas Ali.


[Baiklah, hubungi saya jika memang waktunya sudah di tentukan. Nanti saya datang kesana."


"Tapi bagaimana setelah itu?" Tutih terisak.


[Bu Tutih sedang panik?]

__ADS_1


"Iya." Ali mengangguk. "Ini hal yang sangat kami takutkan, dan pada akhirnya sebuah kebenaran memang harus di ungkap, meski kami benar-benar tidak siap."


[Ayumi akan baik-baik saja. Saya percaya dia tidak akan marah kepada kalian, mungkin syok iya, ... tapi dia tidak akan berbuat lebih jauh. Saya tahu dia anak yang sangat baik.]


"Mudah-mudahan begitu, Pak."


[Serahkan kepada saya, biar saya yang menjelaskannya nanti.]


"Terimakasih sebelumnya, Pak. Kalau begitu terimakasih sudah meluangkan waktu."


[Jangan sungkan, Pak Ali.]


"Mari Pak, sekali lagi terimakasih."


[Kembali kasih, Pak. Katakan kepada Bu Tutih, semuanya akan baik-baik saja.]


"Siap."


Dan sambungan telfon itu terputus.


Ali meletakan ponsel jadulnya diatas meja kaca yang berada tidak jauh di hadapannya, kemudian dia beralih pada sang istri yang terus menangis.


"Semuanya akan baik-baik saja!" Ali merengkuh tubuh renta itu, memeluknya erat, juga menyalurkan banyak cinta dan kasih sayang.


"Ibu hanya takut, Pak. Bagaimana Ayumi setelah ini? bagaimana kalau dia marah dan tidak mau kembali? rasanya Ibu tidak akan sanggup." Ucap Tutih di tengah isakannya.


Ali menggelengkan kepala.


"Dia tidak akan Setega itu, lagi pula dia sangat dekat dengan mu. Mana bisa pergi begitu saja hanya karena dia tahu kamu bukan Ibu kandungnya."


"Seharusnya kita mengatakan ini sejak masih lama. Saat dia masih belum sedewasa sekarang, jadi dia tidak akan berani pergi!"


"Semuanya sama saja, hanya waktu yang berbeda." Jelas Ali.


Dia menepuk-nepuk punggung istrinya pelan.


"Kita hanya menjalankan tugas, kita hanya menerima tawaran ayahnya Junior. Dan jangan lupa, kita menyembunyikan ini dari Ayumi, karena kita tidak pernah menganggap dia orang lain, dia tetap anak kita, anak gadis kesayangan kita."


Tutih mengangguk, dia menarik diri, dan mengusap pipi yang terus di basahi air mata.


"Lalu bagaimana jika dia ingin mencari orang tuanya?" Wanita itu menatap sang suami.


"Pak Al yang tebih tahu, maka dari itu kita harus bertemu dengannya. Sebelum kita mengurus Ayumi, yang menemukan dia di dalam sebuah kardus itu Bu Sisil."


Tangisnya kembali pecah, apalagi saat ingatannya kembali kemasa itu.


Sosok kecil yang malang, di berikan oleh Alvaro juga Sisil, tanpa busana dan tali ari-ari yang masih menempel.


Tanpa sengaja Sisil menemukannya, di depan sebuah warung dengan keadaan yang sudah sangat sepi, saat jeritan melengking terdengar begitu nyaring.


Bukan tanpa alasan Alvaro tidak mengasuh Ayumi, tapi dia lebih mengerti, jika sosok yang sudah lama mengabdi pada keluarganya lebih menginginkan seorang anak perempuan, sementara Tutih?


Wanita itu sudah tidak bisa kembali melahirkan seorang anak, dikarena operasi pengangkatan rahim beberapa tahu silam setelah melahirkan Amar, karena plasenta yang terus menempel di dinding rahim.


Dan berapa bersyukurnya mereka, dapat mengurus seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Membawa keajaiba juga kebahagiaan di tengah keluarga kecilnya.


......................

__ADS_1


Ayumi yang malang😭


Jangan lupa like, komen, hadiah, dan vote :)


__ADS_2