My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 64 (Una dan Aira)


__ADS_3

"Ay?"


Panggil Randy seraya membuka pintu kamar, setelah beberapa menit dia meninggalkan Ayumi untuk mencari sesuatu di ruang kerja.


Dia terdiam setelah mendapati Ayumi yang kembali berbaring diatas tempat tidur, bergulung selimut, dengan pandangan yang tertuju pada layar ponsel.


Sepertinya dia sedang berbalas pesan dengan seseorang. Batin Randy berbicara.


"Aku harus berangkat, tidak apa-apa kamu sendiri?" Kata Randy setelah dia duduk di tepi ranjang, tepat di dekat Ayumi.


Sementara perempuan yang di maksud tidak langsung menjawab, dia hanya fokus menatap layar ponsel, dan mengetik sesuatu di sana.


"Ay?" Randy kembali memanggil.


"Sebentar, aku balas chat dari Una dan Aira dulu!" Katanya.


Pria itu diam memperhatikan, saat perempuan di hadapannya terlihat tersenyum-senyum dengan jemari yang terus berkutik diatas layar handphone.


Kedua sudut bibir Randy pun membentuk sebuah lengkungan, bagaimana tidak bahagia. Dia benar-benar mendapatkan Ayumi, bahkan sampai hal paling rahasia pun sudah dia ambil.


Bagaimana bisa seorang Randy mendapatkan gadis yang terpaut sepuluh tahun lebih muda, dan yang paling membuatnya bahagia adalah dirinyalah laki-laki pertama untuk perempuan itu, setelah semua yang pernah dia lakukan semasa lajang dulu.


"Abang mau berangkat?" Ayumi meletakan ponselnya begitu saja, lalu mengubah posisinya menjadi duduk.


Mereka saling melempar senyum.


"Tidak apa-apa kamu dirumah sendiri? Aku tidak akan lama." Katanya sambil mengusap pipi Ayumi dengan ibu jarinya.


"Maksudnya, semoga bisa pulang cepat." Randy meralat ucapannya.


Ayumi mengulum senyum, di bergeser semakin mendekat, lalu memeluk suaminya.


"Emmm, … aku ada janji sama Una! Boleh keluar nggak? Cuma sebentar, melepas rindu karena sudah beberapa hari tidak bertemu."


"Keluar?" Randy membeo, dia tampak memicingkan mata.


Ada sedikit perasaan tidak rela, tapi apa mampu dia menolak permintaan wanitanya? Tentu saja tidak.


"Abang? Cuma sebentar!" Pandangannya menengadah, menatap wajah Randy yang kini terlihat lebih segar.


Dahinya mengkerut, ketika dia baru saja menyadari jika terdapat satu luka goresan di pipi kanan suaminya.


"Ini? …"


Senyum Randy tertahan, kemudian menganggukan kepala.


"Hasil karya mu." Randy terkekeh.


Sementara Ayumi mengatupkan mulut, dengan pipi yang terlihat memerah.


"Sakit?" Ayumi masih menatap ke arah


goresan berwarna merah itu.


"Sedikit."


"Berdarah?"


Randy mengangguk, dan itu membuat wajah Ayumi memucat, dengan raut wajah penuh penyesalan.


"Kamu."


"Maksudnya?" Ayumi bingung.


Tangan Randy meraih pinggang Ayumi, lalu menariknya hingga semakin rapat.


"Kamu yang berdarah, … bukan aku." Randy berbisik tepat di hadapan wajah istrinya.


Tubuhn Ayumi menegang, matanya berkedip beberapa kali, apalagi saat Randy terus mendorongnya sampai dia kembali terjatuh dengan posisi tubuh Randy yang menindih tubuhnya.


Perasaan Ayumi mulai tak karuan.


"Kamu sudah berdosa. Membohongi Ibumu seperti tadi!" Randy berbisik lagi.


"Terus aku harus bagaimana?" Ayumi berusaha santai. "Aneh sekali kalau aku mengatakan itu darah perawanku bukan?" Katanya, lalu mendorong dada suaminya sampai dia mampu kembali mendudukkan diri.

__ADS_1


"Sakitnya sudah sembuh yah!?" Randy tertawa. "Kamu mulai lincah lagi, tidak seperti tadi."


"Siapa bilang?" Balas Ayumi sedikit ketus. "Ayo, bukannya kamu mau berangkat? Aku numpang sampai halte depan."


Ayumi berjalan ke arah sebuah gantuang yang terbuat dari kayu, lalu membawa tasnya.


"Baiklah, ayo!"


Randy bangkit, merapikan kemejanya, kemudian berjalan mendekat, dan meraih tangan Ayumi untuk di genggamannya seperti biasa.


***


Laju mobil Randy perlahan melamban, lalu menepi di salah satu halte yang Ayumi maksud, dimana sudah terdapat kedua temannya duduk di kursi sana.


"Aku pergi dulu, yah!?" Pamit Ayumi saat dia membuka tali sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya.


"Uang jajan nya masih ada?"


Ayumi mengangguk.


"Ada."


"Baiklah, nanti pulang sendiri tidak apa-apa? Aku harus mengurus beberapa hal setelah selesai meeting."


"Iya, aku pakai taksi atau ojek online."


"Ya sudah, hati-hati." Kata Randy.


"Kamu juga yah!" Ayumi mengulurkan tangannya.


"Apa?"


Pria itu terlihat sedikit kebingungan, bahkan beberapa kali dia menatap wajah juga tangan Ayumi bergantian.


"Salim, cepatlah mereka sudah menunggu."


"Salim?"


"Iya, seperti ini!"


"Kok diem, kurang yah!" Katanya santai, dia mencondongkan tubuh, dan mencium pipi pria itu beberapa kali sampai membuat Randy benar-benar terdiam.


"Dadah sayang!"


Ayumi melambaikan tangan, menarik handle pintu di samping, lalu keluar dan segera mendekat kepada teman-teman yang terlihat menyambutnya dengan senyuman gembira.


"Dia memang godaan terbesar, ku! Bahkan saat akan berangkat bekerja seperti ini." Gumam Randy.


Ketika perempuan itu berpelukan, saling melepas rindu dengan gelak tawa yang samar terdengar.


Pim pim!


"Iya, hati-hati!" Ayumi berteriak, juga melambaikan tangan saat mobil milik suaminya mulai beranjak pergi, melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan halte tersebut.


Melihat sikap Ayumi yang sedikit terlihat berlebihan membuat Aira juga Una saling menatap, kemudian mereka mengedikkan bahu secara bersamaan.


"Jadi, … mau kemana kita?"


Kini Ayumi beralih menatap kedua temannya, setelah mobil Randy benar-benar menghilang dari pandangan.


Una diam, begitu pun dengan Air. Dua gadis itu tampak terheran-heran.


"Ish, kalian kenapa? Biasa aja lihatnya nggak usah kaya gitu!" Ayumi mengusap wajah kedua temannya.


"Aneh aja!" Aira berujar.


"Hemmm, … sama mas pacar sampe segitunya. Sampai dadah-dadah, padahal biasanya nggak begitu." Celetuk Una.


Ayumi tersenyum.


"Nanti gue cerita, tapi sekarang kita cari makan dulu."


Ayumi menggandeng tangan kedua temannya, mulai berjalan menyusuri trotoar, mencari tempat singgah yang cocok.


"Teras Jepang aja kali yah!" Tawar Ayumi.

__ADS_1


Namun Una tertawa kencang.


"Duit dari mana gue." Katanya lalu memukul bahu Ayumi kencang.


Plak!


"Ah!" Ayumi memekik kencang.


"Lu mentang-mentang udah punya Sugar Daddy, ajakan makannya di tempat yang begitu! Bukan nggak ada duit, tapi gua harus bertahan hidup sebulan sebelum gajian tiba pada waktunya!" Aira menimpali.


"Gue traktir. Kasian gue sama kalian, tiap hari miendog kan?" Dia tertawa kencang.


"Tau aje lu!" Una kembali memukul bahu Ayumi kencang, sampai mantan gadis itu sedikit terhuyung ke depan.


"Astaga! Lu ketawa ya ketawa aja! Nggak usah sambil mukul."


"Una kan emang begitu!" Tukas Aira.


***


Dan setelah drama persahabatan tadi. Akhirnya mereka berada di dalam sebuah kedai Yakiniku BBQ, duduk memutari sebuah meja dimana sebuah alat pembakaran terletak di tengah-tengah.


"Pesanannya sudah semua, ya Ka. Ada tambahan lain?" Seorang waiters bertanya.


"Sudah, ini dulu saja." Sahut Ayumi.


Pemuda itu mengangguk, lalu meninggalkan tiga perempuan cantik yang mulai membakar daging-daging yang sudah tersedia.


Kepulan asap mulai mengudara, bau wangi sudah terasa di indra penciuman masing-masing, saat Una meletakan beberapa daging di atas panggangan, dan Aira yang bertugas mengibaskan kipas kecil yang waiters berikan.


"Hubungan, lo sama Pak Randy serius banget yah? Bahkan lo sakit aja dia yang urusin." Aira mulai membuka suara.


Ayumi yang tengah asik membolak balik daging di atas panggangan pun melihat ke arahnya.


"Sebenarnya, kita sudah menikah. Kemarin malam, dadakan!" Ucapan itu sontak membuat kedua temannya terdiam.


"Apa lo bilang? Nikah? Malem? Dadakan? Lo hamil duluan, Ay?" Una dengan suara kencang, sampai membuat perhatian beberapa orang teralih.


Plak!


Ayumi memukul tangan Una.


"Lo bisa kecilnya volume suara lo, nggak?" Cicit Ayumi pelan.


"Ya, … gue kaget Ay!" Balasnya santai.


Ayumi menggelengkan kepalanya, membawa sayur dan menjejalkan daging kedalam mulutnya.


"Jadi, … kalian udah nikah? Kenapa nggak pakai pesta? Kan Pak Randy tajir, asistennya seorang Raga Biantara lho, pemilik Klub sepak bola ternama di Indonesia." Aira berucap.


"Katanya sih, belum …" Ayumi mengunyah terlebih dulu. "Kemarin aja niatnya mau ketemu Bapak sama Ibu doang, eh kok malah nikah." Sambungnya kembali.


Aira mengangguk paham, sementara Una diam memperhatikan sambil menikmati hidangan spesial di hadapannya.


Untuk beberapa menit mereka diam, sibuk menikmati hidangan yang mereka masak sendiri.


"Terus gimana?"


"Gimana apanya?" Ayumi menatap Una.


"Udah bobol belum?"


"Hah!?" Ayumi masih bingung.


"Bobol apaan si!?" Aira ikut bereaksi.


"Kan semalem lo nikah? Sekarang masih perawan apa nggak? Udah gol apa belum? Kan pasti udah bobo bar…"


Aira segera membekap mulut Una, melihat sekitar yang lagi-lagi beberapa mata melihat ke arah mereka. Aira tersenyum canggung, lalu menganggukan kepala kepada orang tersebut.


"Maaf Bu, … Pak! Teman saja emang rada blong." Aira terlihat malu.


Sementara Ayumi menepuk keningnya kencang.


"Kebanyakan makan mie nih, otaknya jadi keriting." Gumam Ayumi seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


Ayumi mulai pusing, dia sedikit frustasi.


__ADS_2