
Randy terus memeriksakan ponselnya yang tergeletak di atas meja kerja tepat di samping kanannya. Pria itu benar-benar tidak bisa fokus bekerja, pikirannya terus tertuju kepada Ayumi yang dia tinggalkan sejak saat masih terlelap. Dia masih ingat sangat, bagaimana istrinya menangis, menumpahkan kekesalan terhadap dirinya, dan baru benar-benar berhenti ketika adzan subuh mulai terdengar.
Ayumi hanya menangis tersedu-sedu, tanpa mengatakan apapun, atau berbuat apapun hanya untuk meluapkan sesuatu yang mengganjal di dalam hati, dan itu buruk, karena Ayumi tak lagi mau mengutarakan isi hatinya seperti yang selalu dia harapkan agar Anxiety Disorder nya cepat membaik.
Randy menutup berkas di hadapannya, menggeser agar lebih menjauh, dan menghempaskan punggung pada sandaran kursi.
"Kau yang membuatnya seperti ini Randy! Kau bodoh. Sudah banyak ketakutan yang dia lewati, lalu kau melakukannya lagi. Kau marah dan tidak kembali dengan cepat, membuat Ayumi takut itu terjadi kembali sampai dia memilih untuk tetap diam, … daripada harus mengutarakan isi hati juga kekesalannya dan membuat dirimu kembali pergi!"
Dia bermonolog, dengan mata terpejam dan jemari yang memijat kening yang mulai terasa pusing.
"Ada sesuatu?" Seseorang membuatnya kembali membuka mata, kemudian menegakan tubuh, lalu duduk seperti semula.
Aleesa tersenyum, dia berjalan mendekat dengan dua cup minuman dingin di kedua tangannya.
"Tidak ada, hanya lelah saja." Kata Randy.
"Minumlah, … sepertinya kau kurang tidur sampai matamu hitam seperti itu!" Aleesa meletakan cup minuman di meja Randy.
Kemudian tersenyum dan duduk di kursi yang memang tersedia disana, sampai keduanya saling berhadapan.
"Ruangan Pak Raga disana, kenapa kau duduk disini!"
"Masih ada waktu untuk kita berbincang-bincang lah!" Kata Aleesa.
Namun Randy tampak sedikit malas. Tentu saja dia tidak bisa fokus karena isi kepalanya hanya tentang Ayumi dan bagaimana keadaannya. Pikirannya kacau ketika perempuan itu menjadi sangat pendiam, dan Randy merindukan Ayumi saat dia mengganggunya melalui pesan singkat atau telepon.
"Ah aku benar-benar merindukannya!" Baginya menjerit-jerit.
Aleesa menatap keadaan Randy yang sedikit kacau. Dia menelisik lebih jauh manik kelam pria itu, dan benar saja, ada sesuatu yang tidak beres, namun pria itu kini tidak terbuka seperti dulu sebelum Randy menikah. Mereka selalu bercanda gurau, berbicara banyak hal, bahkan mengeluhkan keadaan masing-masing, dan mungkin itulah yang membuat Aleesa merasa nyaman dengan Randy.
Pria yang kini sudah mempunyai istri.
"Diminum dulu kopinya. Setidaknya dapat membantu pikiranmu menjadi lebih tenang." Ucap Aleesa.
Randy mengangguk.
"Ya, … nanti setelah memeriksa dokumen kontrak yang harus aku serahkan nanti sore."
Randy kembali meraih map yang sempat dia tutup, kemudian kembali membukanya dan memeriksakan benda itu.
Aleesa segera bangkit.
"Baiklah aku ke ruangan Pak Raga dulu." Perempuan itu tersenyum, lalu beranjak pergi meninggalkan Randy ke arah salah satu pintu ruangan yang tertutup.
"Hey!?"
Panggil Randy kepada salah seorang Office boy yang melintas di hadapannya. Dia membawa berbagai macam alat kebersihan, untuk dia bawa ke ruang simpan di lantai yang sama.
"Iya, Pak? Butuh sesuatu?"
Randy menggeser cup minuman yang Aleesa berikan tadi.
"Bawa dan minumlah." Ucap Randy seraya menatap wajah lelah pria berseragam biru muda itu.
"Untuk saya, Pak?"
Randy mengangguk, kemudian merogoh saku jas, membawa dompet dan mengeluarkan satu lembar uang pecahan seratus ribu.
"Sudah jam makan siang. Kerjamu bagus, selalu membuat meja kerja saya rapi dan bersih. Ambilah beli makanan yang mau kamu makan hari ini!"
Office boy itu tersenyum, meraih cup minuman juga uang yang Randy sodorkan, kemudian membungkukan tubuh sembari menempelkan uang di keningnya sebagai tanda terimakasih.
"Terimakasih banyak, Pak. Semoga rezekinya berkah, dan di lipat gandakan oleh tuhan, saya simpan uang ini, nanti pulang mau ajak anak istri jalan-jalan."
Randy terkekeh mendengar itu, karena pegawai yang sudah sangat dia kenal memang selalu terbuka, bahkan tentang keluarganya.
"Jalan-jalan? Kemana?" Tanya Randy tersenyum antusias.
"Ah biasalah Pak, anak saya dibawa nongkrong pinggir jalan saja sudah senang, jajan cimol kentang."
Randy mengangguk.
"Jika itu untuk anakmu, … maka ini untuk istrimu! Bawa dia makan di tempat yang sedikit berbeda." Dia kembali mengeluarkan uang dan memberikan kepada pria yang tampaknya masih jauh lebih muda darinya.
__ADS_1
"Tidak usah, Pak. Ini cukup!"
"Saya tidak suka kalau kamu menolak apa yang saya berikan." Kata Randy.
"Tapi Pak …"
"Untuk malam nanti bawa anak dan istrimu ke tempat yang lebih layak. Sesekali tidak apa-apa bawa mereka membeli makanan yang lebih mahal, bahagiakan mereka, karena kebahagian mereka pasti bahagia untukmu."
"Duh saya jadi nggak enak."
"Tidak apa, terima saja."
Pria itu menerimanya kembali, dan tak hentinya mengucapkan rasa syukur juga terimakasih, sebelum dia benar-benar pergi ke arah ruang penyimpanan yang terletak di sudut tempat itu.
Randy mengulum senyum. Dia semakin merindukan Ayumi, perempuan yang juga selalu mengajaknya jalan-jalan malam, sore atau bahkan pagi. Membeli jajanan kaki lima yang begitu dia sukai.
"Astaga aku harus pulang!"
Dia menutup dokumennya, bangkit dan berjalan ke arah pintu ruangan Raga yang terbuka.
Tok tok tok!
"Pak?" Randy menyembulkan kepala.
Dan dua orang yang sedang bercakap-cakap itu menoleh, mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Surat kontraknya sudah saya periksa. Tapi maaf sepertinya saya tidak bisa mewakili Bapak sore nanti." Dia masuk dan meletakkannya di atas meja Raga.
Raga menatap Randy penuh tanya, begitupun dengan Aleesa.
"Saya harus pulang, Pak. Saya berangkat sebelum Ayumi bangun, … pikiran dan hati saya tidak enak."
Mendengar itu Raga mengangguk.
"Baik, pulanglah. Pertemuan nanti masih bisa saya lakukan."
Randy tersenyum samar.
"Terimakasih Pak."
***
"Bi, Ayumi sudah bangun?"
Randy memasuki rumah, dan langsung disambut Dini yang baru saja selesai merapikan dapur bersih. Sepertinya wanita itu baru selesai masak. Tercium dari bau lezat yang menyapa indra penciumannya.
"Baru bangun, selesai mandi dan sekarang sedang duduk di taman belakang."
Randy melonggarkan dasi lalu membuka nya, melepaskan jas, lalu menggulung lengan kemejanya dan beranjak ke arah taman belakang rumah.
Suasana siang hari ini tak begitu terik. Langit memang cerah, namun terlihat banyak awan sampai suasana terasa begitu sejuk, apalagi ketika angin sepoi-sepoi berhembus.
Disanalah Ayumi. Duduk membelakangi di kursi kayu dengan rambut basah yang terlihat masih acak-acakan. Dengan segera pria itu berjalan mendekat setelah mempersiapkan diri terlebih dahulu.
Tentu saja perasaan takut ditolak Ayumi jelas adanya.
"Sedang makan?" Randy langsung menyapa, dia memasang senyum semanis mungkin, apalagi ketika perempuan itu menoleh dan menengadahkan pandangan sampai pandangan keduanya beradu.
Ayumi terdiam untuk beberapa saat.
"Makan apa?"
"Emmm, … ini … tadi Bi Dini masakin aku ayam sayur!" Raut wajahnya terlihat datar.
Ayumi memperlihatkan satu piring nasi, dengan ayam sayur kuah kuning, juga terdapat beberapa cabe rawit utuh.
Randy tersenyum.
"Kamu tidak bertanya aku kenapa pulang? Atau sudah makan apa belum?"
"Sudah makan?" Tanya Ayumi langsung.
Kini Randy yang diam.
__ADS_1
"Tidak mau mengajakku makan bersama?"
Ayumi menggelengkan kepala.
"Nasi ada banyak, ayam sayurnya juga, … kenapa mau makan bersama? Minta saja sama Bi Dini nanti di siapin juga." Raut wajah Ayumi datar.
Dan itu membuat Randy semakin yakin jika Ayumi masih merasa kesal kepada dirinya.
"Apa?" Tanya Ayumi saat Randy terus menatapnya.
"Mau makan satu piring berdua boleh? Aku belum makan, aku lapar dan tidak bisa menunggu lagi kalau harus minta Bu Dini siapkan."
"Masa?" Ayumi menjengit.
Perempuan itu menoleh ke arah pintu, hendak berteriak, tapi Randy membekap mulutnya.
"Tidak tidak, kita makan bersama oke?" Ucap Randy lalu melepaskan tangannya di mulut istrinya.
Ayumi diam tak bereaksi apapun lagi ketika Randy mulai menyantap nasi ayam sayur miliknya. Bahkan dia tidak menolak saat sang suami mendekatkan sendok berniat untuk menyuapinya.
"Mau pergi jalan-jalan sore? Hari ini aku senggang." Randy bertanya dengan senyum termanis yang pernah dia perlihatkan.
Namun Ayumi menggelengkan kepala. Perempuan itu langsung menolak.
"Kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa." Balas Ayumi singkat.
"Kamu masih marah?" Dia bertanya lagi, kemudian menjejalkan sesendok nasi kuah dengan potongan daging ayam.
Ayumi mengunyah makanannya dengan sangat perlahan. Menatap wajah suaminya dengan raut wajah tanpa ekspresi.
"Aku tidak marah." Perempuan itu menyanggah.
"Lalu?"
Ayumi diam lagi, dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Maaf."
"Kenapa minta maaf? Yang salah kan aku. Nggak bisa ngertiin kamu, aku nyebelin, malah sampai ngusir kamu di rumah kamu sendiri."
Randy mengulum bibirnya, rasanya begitu sesak ketika mendengar Ayumi mengatakan itu.
"Kemarin aku keterlaluan. Aku pergi sampai larut tanpa memahami keadaanmu."
"Itu memang aku yang meminta pergi bukan?"
"Ya, … tapi seharusnya aku tidak begitu, karena kamu tidak benar-benar meminta aku untuk pergi."
Ayumi menghela nafasnya.
"Aku tidak mau bahas inilah!" Dia bangkit, berniat pergi tapi tangan Randy menahannya.
"Ay!?"
"Apalagi?" Suaranya terdengar begitu lirih.
Dia benar-benar sedang kecewa. Namun sebisa mungkin menahan tangisnya yang akan kembali terjadi.
"Tetaplah disini, maafkan aku." Randy memohon.
"Aku tidak mau mengingat itu lagi, aku tidak mau aku kesal lagi, dan aku tidak mau berbicara yang tidak-tidak sampai meminta kamu pergi lagi. Kepala aku berisik, jadi biarkan …"
Belum selesai Ayumi berbicara. Randy segera menarinya untuk lebih mendekat, dan memeluk pinggang Ayumi, sampai wajah Randy bener-bener menempel di perut Ayumi yang sudah mulai terasa adanya perbedaan.
Perutnya belum terlihat membulat karena usia kandungannya baru saja memasuki 3 bulan. Hanya saja perut bagian bawahnya sudah terasa sedikit menyembul.
"Aku tahu aku salah. Aku selalu meminta agar kamu meluapkan segalanya, jangan memendam apapun agar rasa sakit tidak bersemayam di dalam hati, namun setelah kamu melakukan itu aku malah menjadi sebuah ketakutan terbesarmu. Aku lupa jika istriku sedang berjuang menyembuhkan Anxiety Disorder nya." Ucap Randy.
"Maaf sudah berbuat seperti kemarin. Kembalilah menjadi Ayumi istriku, bukan Ayumi saat sebelum kita menjalin hubungan. Dia dingin, selalu memendam semuanya sendirian, angkuh dan tidak terlalu banyak bicara."
Randy menengadahkan pandangan.
__ADS_1
"Marahlah, mengomel seperti biasa. Karena dengan hal itu aku tahu kamu baik-baik saja." Ucapnya lagi, dengan mata yang mulai memerah dan berkaca-kaca.