
"Minggu depan seluruh Crew dan anak-anak mau liburan. Tidak terlalu jauh, hanya pantai terdekat saja, ... Mami mau ikut?" Raga menyingkap selimut yang sudah menutupi tubuh istrinya, lalu masuk dan ikut berbaring.
Raga terus bergerak-gerak, dia baru terdiam setelah mendapatkan posisi ternyaman. Bagaimana lagi kalau bukan memeluk tubuh wanita yang kini mempunyai kesibukan sama seperti dirinya, dan mereka baru bisa bersama malam hari seperti sekarang, saat semua pekerjaan telah usai.
"Mau apa tidak?" Raga mengulangi pertanyaannya.
Pria itu terus menciumi leher istrinya, menghirup aroma perempuan yang selalu dia rindukan.
"Tidak tahu, lihat nantilah." Jawab Balqis tanpa mengubah posisi sedikit pun.
Dia terus berbaring miring, memunggungi suaminya dengan mata yang perlahan terpejam.
"Hanya begitu jawaban mu?" Dia menarik lengan Balqis, berusaha membuat istrinya berbalik badan.
"Aku ngantuk, Papi!" Perempuan itu merengek.
"Setidaknya tidurlah di pelukan ku seperti biasa, rasanya aneh jika kau tidur memunggungi ku." Pintanya.
"Aku hanya ingin memejamkan mata sebentar. Kamu tahu sendiri, Bara belum tidur dan dia pasti mencari ku nanti." Jelas Balqis, suaranya mulai terdengar berat.
Sepertinya perempuan itu benar-benar kelelahan.
"Iya kemarilah, biarkan aku memeluk mu." Raga menepuk-nepuk lengan Balqis.
Wanita itu menurut, dia segera berbalik badan, dan menenggelamkan wajah hingga menempel di dada bidang sana.
Cup!
Raga menyambutnya dengan sebuah kecupan hangat di kening, lalu memeluknya sangat erat.
"Tidurlah sayang, jika Bara menangis biarkan aku yang menenangkannya." Dia mengusap kepala istrinya lembut.
Namun bukannya tertidur, pergerakan tangan Raga justru membuat Balqis kembali membuka mata dan menengadahkan pandangan.
Dan ternyata saat ini Raga juga tengah memejamkan matanya.
Seulas senyum timbul di bibir tipis Balqis.
Betapa tampannya pria itu, pria yang selalu bersikap manis dan hangat, membantu dia mengurus sang buah hati meski keduanya sama-sama lelah dengan kegiatan sehari-hari yang cukup padat, bahkan Raga mungkin lebih lelah darinya karena banyak sekali jadwal yang selalu Randy berikan.
Tangan Balqis terangkat, lalu mendarat diatas rahang tegas pria yang sudah beberapa tahun ini menjadi teman hidupnya.
"Katanya mau tidur, maka tidurlah. Jika Bara sudah Santi antar kesini, kamu tidak akan bisa tidur cepat." Ujar Raga dengan mata yang terus tertutup.
"Kamu kelelahan juga yah!?" Dia terus mengusap pipi sang suami, dengan kedua sudut bibir yang tertarik sampai membentuk senyuman.
Mata Raga terbuka, dia menundukan pandangan, menatap istri cantiknya yang saat ini tengah tersenyum.
__ADS_1
"Kamu lebih lelah. Banyak yang kamu harus kerjakan, menandatangani sebuah kerja sama, membuat desain, lalu check lokasi, ... tidak sama dengan ku! aku hanya duduk untuk menandatangani sesuatu, bahkan tak jarang itu semua Randy yang lakukan, aku hanya mengawasi." Randy mengelak.
"Cobalah untuk mengandalkan Junior, jangan semuanya kamu yang melakukan." Sambung Raga, dia merasa khawatir dengan pekerjaan istrinya yang semakin hari semakin padat.
"Seandainya aku bisa begitu, maka aku sudah sering di rumah bersama Bara. Tapi nyatanya tidak bisa, pasti ada beberapa desain yang Junior tidak kuasai, bahkan dia selalu meminta bantuan ku jika tidak bisa memaksimalkan gambarnya." Balqis terkekeh.
Perempuan itu mengeratkan pelukannya, dan kembali menempelkan wajah di dada sang suami yang menjadi tempat ternyaman baginya.
"Sayang?" Raga berbisik.
"Iya?" Balqis menyahut, dengan posisi yang tetep seperti tadi.
"Apa kamu tidak merindukan aku? sudah berapa lama kit tidak ..."
Raga menggantung ucapannya, sampai Balqis kembali mengangkat kepala dan pandangan keduanya beradu.
Raga tersenyum penuh arti.
"Sebentar lagi Bara akan Santi antar, jadi tidak mungkin." Kata Balqis sembari menahan senyum.
Detak jantungnya tiba-tiba saja meningkat, saat tatapan pria di hadapannya begitu tajam, bahkan lebih menggoda.
"Aku bisa berpacu dengan waktu." Ucap Randy penuh penekanan.
Raga langsung menarik lepas baju rumahan yang dia kenakan, bagkit dan mengungkung Balqis dibawah tubuh kekarnya.
Ayumi berdiri, dengan kedua tangan yang dia letakan diatas pinggang, seraya menatap beberapa Tote bag berisikan barang belanjaan, yang dia beli bersama kekasihnya tadi.
Pakaian, sepatu, sendal dan kebutuhan lainnya seperti makeup dan skincare untuknya.
"Dia memang berlebihan, astaga!" Gumam Ayumi, dia menggelengkan kepala.
Menatap tidak percaya, apa yang baru saja terjadi. Hidupnya kini berubah drastis, apa yang tidak bisa dia beli, kini Ayumi mendapatkannya secara cuma-cuma.
Bahkan ada yang lebih membuatnya terkejut, saat pria itu mengirimkan sejumlah uang pada rekening orang tuanya.
Biarkan aku meringankan semua beban hidup mu.
Ucapan itu kembali teringat.
"Aih, ... apa yang akan orang lain katakan!" Ayumi mulai duduk. "Pasti mereka kira aku yang memanfaatkan dia, meminta banyak hal dan ..." Dia berhenti berbicara, saat tiba-tiba saja ponselnya berbunyi nyaring.
Ayumi merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan benda pipih yang terus bergetar, dan berbunyi tanpa henti.
"Benarkan! Ibu pasti langsung tanya." Ayumi menggaruk kepalanya.
Segera Ayumi menggeser tombol berwarna hijau, dan tampaklah wajah seorang wanita paruh baya di dalam sana.
__ADS_1
"Ibu? belum tidur?" Gadis itu menyapa terlebih dulu, dengan senyum manisnya seperti biasa.
[Ay, tadi hape Ibu berbunyi. Ibu kira itu pesan dari kamu, tapi ternyata bukan! ada pemberitahuan jika seseorang mengirimkan uang, apa kamu mengirimnya? padahal ini belum akhir bulan, kamu sudah gajian? apa gaji nya naik lagi? kenapa jumlahnya lebih besar dari pada biasanya? kenapa tidak di tabung, bukankah kamu mau kukiah?]
Rentetan pertanyaan terus Tutih lontarkan, hingga membuat Ayumi terdiam dengan isi kepala yang berputar keras.
Bagaimana dia memberi tahu ibunya, lalu apa juga yang akan Tutih pikirkan jika dia berkata jujur, bahwa Randy lah yang memberikan uang itu, dan bukan dirinya.
Ayumi menggaruk kepalanya lagi.
"Emmm, ... sebenernya itu bukan dari Ayu. Tanggal gajian masih tersisa beberapa hari lagi, dan gaji Ayumi tidak naik. Itu pemberian seseorang untuk Bapak dan Ibu, bisa kalian gunakan untuk menambah modal warung Kopi milik Bapak." Jelas Ayumi.
Gadis itu terlihat gugup, apalagi wajah penuh keterkejutan Tutih di perlihatkan.
[Kamu jual diri!?]
Wanita itu berteriak.
Dengan cepat Ayumi menggelengkan kepala, dia ingin segera membantah ucapan sang ibu.
[Ibu tidak butuh uang banyak seperti ini, kami memang membutuh kan uang, Ayumi. Tapi jangan sampai membuat diri mu serendah ini!]
"Ti-tidak begitu! aku nggak jual diri, itu pemberian seseorang, nanti Ayumi bawa untuk menemui Ibu dan Bapak, mungkin Minggu depan."
[Siapa?]
Aduh, harus apa aku menyebutnya!
Batin Ayumi berbicara.
"Ya nanti Ayumi kenalin sama Ibu dan Bapak. Yang harus Ibu tahu itu bukan dari hasil yang tidak halal."
Tutih diam.
[Beneran? ini bukan uang haram? Ibu tidak mau kalau ini uang hasil ...]
"Tidak!" Sergah Ayumi. "Pokonya nanti Ayu jelasih, sekarang Ibu tidurlah, sudah malam."
Setelah mengucapkan itu, Ayumi segera menekan tombol merah, yang otomatis membuat sambungan telepon keduanya terputus.
Ayumi melemparkan ponselnya, lalu menghempaskan tubuh keatas tempat tidur kecil miliknya.
"Astaga! yang benar saja, masa Ibu mengira aku jual diri!"
......................
🦥
__ADS_1