My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 146 (Terkejut)


__ADS_3

"Jadi, …" Nur menggantung kata-katanya.


"Diminum dulu teh hangatnya, Bu Nur. Setelah itu saya ceritakan." Kata Sumi kepada tamunya yang datang pada sore hari ini.


Orang yang di maksud mengangguk, meraih gelas berisikan air teh hangat yang sudah Sumi siapkan, lalu meneguknya perlahan.


Nur kembali terdengar menghirup oksigen dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan. Rasa terkejutnya belum benar-benar hilang, apalagi ketika gadis muda itu terus menatap ke arahnya dengan tatapan tak kalah bingung.


Bahkan kening Ayumi terus berkerut kala Nur menatapnya dengan sedemikian rupa.


"Kapan kalian bertemu?" Tanpa basa-basi Nur langsung bertanya.


"Mungkin satu bulan terakhir." Sumi tersenyum.


Nur kembali mengalihkan pandangannya kepada Ayumi.


"Bagaimana kalian bertemu? Lalu bagaimana reaksi awalnya? Ibu lihat dia sudah begitu dekat denganmu! Siapa tadi namanya?" Nur penasaran.


"Ayumi." Jawab Sumi seraya tersenyum tipis.


"Astaga Ibu benar-benar tidak bisa berkata-kata. Padahal ada yang harus saya sampaikan, hanya saja semuanya terasa begitu mengejutkan, bahkan hari ini sudah dua orang yang mengejutkan kami." Dia mengusap dadanya sendiri.


Sumi diam mendengarkan.


"Ada kabar. Tapi entah harus menyebutnya dengan kabar buruk atau baik, … jika tidak keberatan ayo ke rumah saya dulu, Bapak juga sudah menunggu disana." Jelasnya.


"Emmm, … ada apa yah? Kok aku agak takut sekarang, kabar apa yang Bu Nur bawa? Dan kenapa Pak RT menunggu saya?" Kini Sumi bertanya.


Nur bungkam, bibirnya seolah sedang berusaha mengatakan sesuatu, namun dia tahan karena merasa bahwa kabarnya akan membuat Sumi langsung menolak ajakannya.


"Ayo ke rumah sebentar saja. Ada kabar yang harus kami sampaikan, … ajak juga Ayumi!" Nur berujar.


Sumi langsung menoleh, menatap Ayumi yang juga sedang menatapnya.


"Ay? Mau ikut Mama?"


Langsung Ayumi menganggukan kepala. Hari mulai petang, langit kekuningan mulai menghitam, dan tidak mungkin dirinya diam di tempat yang baru seperti rumah Sumi saat ini sendiri, dia tidak berani.


"Baiklah, hanya sebentar bukan Bu?" Sumi menyakinkan.

__ADS_1


Nur mengangguk seraya mengulum senyum.


Sumi mulai bangkit, begitu juga dengan Nur dan putrinya. Namun tiba-tiba saja terdengar sedikit keributan di luar.


"Saya mohon, Pak. Saya mohon!" Seseorang berbicara dalam bahasa Indonesia tidak terlalu fasih.


"Sungguh saya hanya meminta agar tidak membuat keributan disini, kasihan Sumi."


Mendengar kegaduhan itu Ayumi semakin bingung. Bahkan dia terlihat sedikit ketakutan juga panik, hingga terus bergeser ke arah belakang, dan memeluk lututnya sendiri setelah punggungnya menempel di dinding sudut ruangan.


"Bu Nur membawa dia kesini?" Kata Sumi dengan ekspresi datar, dengan pandangan yang tertuju ke arah luar, menatap dua pria saling tarik-menarik dari balik gorden tipis berwarna putih menerawang jendela rumahnya.


"Kami sudah tidak tahu harus bagaimana. Tiga hari yang lalu dia datang, … dan selalu datang hanya untuk mencari tahu keberadaan kalian, dia mendesak kami dan kabar tentang Susi hari ini benar-benar membuat kami harus segera membantah kepadamu."


Sumi menghela nafasnya. Kemudian dia berjalan dan berdiri di ambang pintu masuk.


"Pak, biarkan dia masuk. Malu jika ribut di luar, beberapa orang menonton drama ini secara langsung." Kata Sumi.


Pandangan wanita itu tertuju pada satu pria asing yang sempat mengisi relung hatinya, begitupun sebaliknya. Valter menatap Sumi dengan pandangan yang tak bisa Sumi artikan.


Entah itu rindu, penyesalan, atau tatapan penuh cinta. Sumi tak lagi dapat mengartikannya.


"Masuklah, tapi saya mohon untuk tidak membuat keributan."


"Ay!" Sumi seolah tak dapat Ayumi yang sedang memeluk tubuhnya sendiri di sudut ruangan yang sedikit terhalang meja televisi.


"Ma!" Suara Ayumi begitu lirih.


"Astaga! Kamu disana." Wanita itu panik.


Sumi langsung mendekat, kemudian memeluk Ayumi. Mengusap keningnya yang sudah dibasahi keringat dingin.


"Ini kenapa ribut-ribut?" Suaranya terdengar semakin lirih.


Sumi bangkit, menarik Ayumi sampai perempuan itu benar-benar berdiri, lalu membawanya masuk kedalam kamar.


"Kamu tunggu disini, ya? Jangan keluar kamar sampai mereka pulang. Mana obatnya? Sekarang minum obat dulu agar kamu merasa sedikit tenang."


Ayumi mengangguk, dia mulai merebahkan dirinya, dan kembali memeluk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Mama hubungi Randy dulu, … sepertinya kamu mulai tidak aman." Sumi bergumam, dia keluar kamar terlebih dahulu.


Berjalan ke arah dapur, melewati beberapa orang yang sudah duduk di kursi rotan tengah rumah, termasuk mengacuhkan tatapan Valter yang terus mengintai pergerakannya.


Sumi mencoba menghubungi Randy, dengan satu tangan yang sedang memegangi teko untuk mengisi air kedalam gelas.


"Ran. Tolong Mama sekarang! Cepat datang dan bawa Ayumi pulang, ini bahaya!" Sumi berbisik.


Randy yang sedang dalam perjalanan pulang seketika menepikan mobil miliknya.


"Terjadi sesuatu kepada Ayumi?"


"Tidak. Hanya saja Ayahnya tiba-tiba datang, Mama takut Ayumi semakin syok, … jadi datanglah dan bawa Ayumi. Mama minta amankan dia terlebih dulu, jangan biarkan ayahnya menemui Ayumi sekarang, Mama belum siap!"


"Baik, Randy langsung kesana sekarang."


"Ya sudah, Mama mau memberi Ayumi obat dulu."


Sumi memutuskan sambungan telepon keduanya, meraih gelas berisikan air teh yang mungkin saja sudah dingin, dan membawanya kembali kedalam kamar.


Wanita itu menutup pintu kamarnya rapat-rapat.


"Obatnya dimana, Ay? Mama sudah bawakan airnya, ayo diminum, dan berusahalah untuk tetap tenang dan tidak panik. Tidak apa-apa yang harus kamu takutkan, mereka hanya seseorang yang ingin menemui Mama."


Ayumi menatap Sumi lekat-lekat.


"Mereka mau menyakiti Mama?" Pikiran Ayumi tak bisa jernih lagi.


"Tidak, mungkin hanya ingin berbicara." Sumi meletakan gelas minum di atas meja kecil samping tempat tidur. "Airnya Mama simpen disini, kamu minum obatnya, Mama keluar dulu sebentar agar mereka segera pergi." Tegas Sumi kepada Ayumi.


"Mama yakin mereka tidak akan menyakiti Mama?" Perempuan muda itu kembali meyakinkan.


Sumi menjawab dengan sebuah anggukan. Bahkan dia tersenyum agar membuat rasa takut dan cemas Ayumi sedikit berkurang.


"Mau aku temani?" Ayumi kembali bangkit, dia hendak turun dari atas tempat tidur.


Tapi Sumi menolak, dia segera menggelengkan kepalanya, menahan Ayumi agar tetap berada di atas tempat tidurnya.


"Tidak usah, hanya sebentar Mama janji."

__ADS_1


Sumi mendorong tubuh putrinya dengan sangat perlahan, membuat Ayumi kembali berbaring, dan menarik selimut tipis ke atas sampai menutupi hampir seluruh tubuhnya.


Sumi langsung keluar meninggalkan Ayumi begitu saja, dan tak lupa menutup pintu, seolah Sumi ingin menyembunyikan putrinya dari Valter. Laki-laki yang mungkin akan sangat antusias jika mengetahui anak yang dia tinggalkan berada di tempat yang sama.


__ADS_2