
Sumi meletakan mug teh manis hangat di atas meja, yang baru saja dia buat setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah. Kemudian dia duduk di kursi rotan, mengistirahatkan tubuhnya dari segala rasa lelah yang selalu menyapa, bahkan hampir setiap hari.
Pikirannya melayang jauh ke pusat kota sana. Dia benar-benar merindukan Ayumi, setiap saat dia selalu mengkhawatirkannya. Apalagi mengingat Ayumi yang selalu mengalami mual dan muntah di jam-jam tertentu, atau bahkan hanya karena tidak dapat menemukan pakaian bekas pakai milik Randy.
Aneh memang, tapi itulah Ibu hamil.
Sumi menggenggam mug, menyandarkan punggung, lalu meminum teh manis nya dengan sangat perlahan setelah meniup-niup terlebih dahulu.
Tok tok tok!!
Pandangan Sumi seketika tertuju ke arah pintu, dimana seseorang tampak berdiri di dekatnya.
Kening wanita itu menjengit, seraya menatap lekat-lekat ke arah kaca yang tertutup dengan tirai putih tipis.
Tok tok tok!!
Pintu kembali di ketuk.
"Ya, siapa?"
Dia meletakan minumannya, berdiri dan berjalan mendekati pintu rumah yang tertutup rapat. Terlebih dulu Sumi menyingkap tirai, memastikan siapa yang datang dan bertamu pagi-pagi sekali.
"Valter!?" Ekspresi wajah Sumi terlihat bingung.
Sementara pria yang kini berdiri di hadapan pintu, hanya tersenyum ketika pandangannya beradu dengan wanita sang pemilik rumah.
"Open the door, …. please!" Katanya.
Sumi memutar kedua bola matanya, dia beranjak dan menekan handle pintu sampai benda itu benar-benar terbuka. Pandangan pria itu melihat ke arah dalam. Dimana sebuah ruangan berukuran kecil, namun terlihat begitu nyaman karena semuanya tertata dengan sangat rapih.
"Ya, ada apa?"
Kepala Sumi sedikit mendongak, menatap pria di hadapannya.
"Hanya ingin bertamu, memangnya tidak boleh?"
"Apa bertamu harus sepagi ini? Masih ada siang, dan sore. Lalu kenapa datang pagi-pagi sekali!" Ucap Sumi sedikit menggerutu.
Valter hanya tersenyum. Hatinya begitu lega ketika mendengar Sumi mulai banyak berbicara, walaupun umpatan yang selalu dia dengar, setidaknya Sumi sudah mau berbicara banyak kepada dirinya.
"Laras, … ummm … kakiku pegal sekali, bolehkan aku memintamu untuk menawarkan sebuah kursi untuk duduk?"
"Silahkan duduk." Sumi menunjuk kursi yang terletak di teras depan rumah.
Valter diam.
__ADS_1
"Disini?"
Sumi mengangguk-anggukan kepalanya, kemudian berjalan melewati Valter dan segera duduk di kursi satunya lagi.
Tidak ada pilihan Valter, selain menurutinya dan segera duduk di kursi bersebelahan dengan Sumi.
"Ada apa? Kenapa datang kesini? Apa kata orang-orang jika ada pria asing yang datang kesini, sendirian. Mendatangi rumah seorang wanita yang tidak jelas asal-usulnya, perawan tua bukan, janda pun bukan." Ucap Sumi sembari menatap lurus kedepan.
"Hanya ingin berkunjung, … aku kira Ayumi ada disini, aku merindukan dia." Valter menyahut.
"Kamu tahu sendiri dia pulang bersama suaminya!" Wanita itu menoleh, menatap Valter yang juga sedang menatapnya. "Lalu kenapa kamu mencari dia kesini? Dia ada di pusat kota, jika mau kesana dan tidak punya alamat, aku berikan nomor ponsel Randy agar kamu dapat mengabari dia."
Namun pria yang duduk tepat di sampingnya segera menggelengkan kepala.
"Apa maksudnya itu? Apa kamu sedang berbohong?" Tanya Sumi penuh selidik.
"Tidak begitu. Aku mau mengajakmu pergi bersama, jika aku yang pergi sendiri, … rasanya aneh sekali."
Sumi menghela nafasnya.
"Berhentilah menggangguku. Entah itu dengan tawaran pergi ke Jerman untuk melihat kuburan keluargaku, atau pergi ke kota hanya untuk menemui Ayumi. Kamu mempunyai segalanya, uang … kendaraan! Lalu apa yang menyulitkanmu? Jika tidak mau pergi sendiri maka pakailah Bus agar kau berangkat dengan puluhan orang sekaligus." Sumi terus berbicara tanpa henti.
"Aku merindukan dia, banyak sekali keinginanku untuk menghabiskan waktu dengannya. Hanya saja aku masih merasa gugup, atau bahkan tidak pantas ketika rasa itu hadir. Jadi bolehkan aku memintamu untuk pergi bersama? Setidaknya ada kamu yang bisa berbicara ketika aku kehabisan kata-kata, aku selalu gugup, … kau pasti tahu itu!"
"Jika sudah bertemu Ayumi, kamu mau apa? Selain menghabiskan waktu bersama?"
"Tidak ada, mungkin berbincang-bincang santai sudah cukup. Aku benar-benar merindukan dia, bahkan setelah beberapa menit dia pulang."
Sumi memejamkan mata, kemudian kembali menghela nafasnya secara kasar.
"Kau selalu mengatakan itu sejak dari kemarin." Cicit Sumi.
"Kau keberatan? Kalau begitu lupakan saja, aku akan tetap disini sampai nanti waktunya pulang."
"Baiklah baiklah. Mau pergi jam berapa? Tidak mungkin sekarang, ini baru jam enam pagi!"
"Aku rasa sekarang justru lebih baik, kita bisa sampai di sana lebih awal, dan lebih mempunyai waktu bersama Ayumi."
"Haih kau menyusahkan, … bahkan setelah aku tidak lagi menjadi private guide."
Valter terkekeh kencang.
"Jika mau begitu, maka aku akan bayar jasamu seperti dulu!" Valter tersenyum ke arah Sumi yang sedang terus menatapnya dengan raut wajah kesal. "Seperti pertama kalinya aku menginjakan kaki disini, dan menemukan gadis yang sangat menarik, sampai membuat aku ingin kembali dan terus kembali.".
"Siapa yang kau maksud?" Ucap Sumi ketus.
__ADS_1
"Menurutmu siapa?"
"Kak Susi?"
Senyuman di bibir Valter seketika surut ketika mendengar Sumi mengatakan itu.
"Siapa yang kamu maksud? Aku?" Sumi menunjuk dirinya sendiri. "Jika benar, kenapa kau malah menikahi Kakakku sendiri? Apa tidak ada wanita lain? Waktu itu aku sudah sangat lama menunggu kepastian darimu, aku kira kamu mengakhirinya begitu saja tanpa sebuah kepastian, makanya aku mencoba untuk membuka diri. Walaupun susah, bahkan bisa dikatakan jika aku tidak pernah benar-benar menerima pinangannya, tapi aku terus berusaha. Lalu kamu datang, dan menikahi Kak Susi hanya untuk membalas rasa sakit yang kamu rasakan? Terus ini apa? Bahkan kau berhasil membuat hidupku benar-benar hancur, dan untuk apa kamu kembali? Bukankah seharusnya kamu senang? Aku hancur sejak hamil dan berusaha sendirian setelahnya."
Nafas Sumi tersengal-sengal, entah kenapa emosinya selalu memuncak ketika mengingat kejadian itu.
"Laras. Aku kesini tidak untuk bertengkar, aku datang untuk memperbaiki semuanya." Jelas Valter.
Pria itu merasa sedikit tidak enak hati.
"Ah kau benar. Kamu datang memang untuk memperbaiki semuanya, … termasuk hubungan aku dan keluargaku! Aku yang terlalu emosian, dan selalu marah bahkan ketika kamu tidak bermaksud ke arah sana." Wanita itu bangkit.
Sementara Valter menengadahkan pandangan. Dia takut Sumi mengusirnya, dan membuat keadaan semakin buruk.
"Kau datang membawa mobil atau …"
"Ojek, … aku meninggalkan mobil di hotel." Jawab Valter memotong ucapan Sumi.
"Baiklah, kau boleh pergi lebih dulu. Tunggu aku di lobby hotel. Aku akan berkemas dan berganti pakaian." Kata Sumi kemudian beranjak memasuki rumahnya.
"Tidak mau pergi bersama?"
"Tidak usah, nanti aku pakai ojek juga." Katanya lagi lalu menutup pintu rumah begitu saja.
Valter mengangguk, dia berdiri dan mulai pergi dari kediaman sederhana milik wanita yang sangat dia cintai.
"Ah nahas sekali nasibmu, kau membuat wanita yang kau cintai menderita, dengan cara menikahi kakaknya. Lalu sekarang? Tidak ada lagi kesempatan untukmu kawan." Ucap Valter kepada dirinya sendiri.
Sementara beberapa sorot mata menatap ke arah rumah Sumi secara mengendap-endap.
"Nahkan, … dia memang mantan wanita malam. Gadis yang suka datang, itu anaknya yang dia berikan kepada orang." Ucap salah satunya.
"Saya dengar cerita dari orang bukan begitu, Ceu!"
"Halah, itu mah cara dia menutupi aib saja."
......................
Oh iya guys, jangan lupa mampir di novel baru othor. Bantu rate bintang tujuh biar rame, like sama komen jangan lupa !!
__ADS_1