My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 135 (Solusi)


__ADS_3

Keduanya sama-sama diam dalam posisi saling berpelukan. Tidak, lebih tepatnya Randy yang kini berada dalam dekapan nyaman Ayumi, dia menyandarkan pipinya di dada milik sang istri, terdiam cukup lama setelah Ayumi berusaha menenangkannya.


"Aku tidak sedang membela Bang Amar!" Ayumi mengusap punggung suaminya.


Perdebatan tak lagi bisa dihindari, ketika Ayumi berusaha menenangkan, tapi Randy menyangka jika dirinya sedang membela orang lain dibandingkan dengan suaminya sendiri.


"Aku yakin Abang tidak seperti itu. Jadi seharusnya Abang tidak usah tersinggung, … karena memang yang Bang Amar bicarakan itu nol besar, tidak akan pernah terjadi. Aku tahu benar tentang itu Daddy, kamu hanya mencintai satu wanita dan itu aku." Ucapnya lagi.


Namu Randy terus diam dengan posisi yang sama. Hampir satu jam Ayumi bersandar sedikit berbaring, dengan Randy yang saat ini berada di atas tubuhnya.


"Sayang? Masih marah?" Perempuan itu sedikit memiringkan kepalanya, berusaha melihat wajah Randy.


Dia tidak menjawab.


"Masih kesal?" Ayumi menyentuh pipinya.


Randy melirik, melihat Ayumi. Yang kemudian segera memejamkan mata, dengan helaan nafas yang berhembus beberapa kali.


"Mau tidur? Tidurlah. Nanti jam lima aku bangunkan, agar tidak sampai rumah kemalaman."


"Aku tidak mau pulang!" Sergah Randy.


"Heum!?" Kening Ayumi menjengit kencang.


"Aku tidak mau pulang. Biarkan saja Pak Raga marah, atau dia mau memberhentikan aku, … aku tidak peduli, sebaiknya aku ada disini bersama dirimu!"


Katanya dengan perasaan kesal. Bahkan kekesalan itu dapat Ayumi rasakan, selain dari nada bicara, wajahnya pun berekspresi sedikit berbeda.


"Kalau begitu bagaimana aku? Haih padahal aku sudah pamer punya suami kaya. Kok malah mau berhenti!"


Randy mengangkat wajahnya, menatap Ayumi dengan bibir yang cemberut.


"Kamu ini matre sekali!"


"Bukan matre. Tapi realistis! Kalau kamu tidak bekerja lalu bagaimana aku dengan Baby Tomato? Apa kamu tidak mau membawa kami jalan-jalan keluar negeri? Atau ke Bali? Padahal akan sangat menyenangkan jika nanti kita liburan membawa bayi."


Randy bungkam.


"Ini bukan masalah aku bisa menerima kamu apa adanya atau tidak. Tapi masa gara-gara aku disini kamu tidak mau bekerja?"


"Jadi aku harus pulang? Sendirian? Dan tinggal tanpa dirimu lebih dari satu malam? Ah itu akan sangat sulit!"


Randy mengeluh. Suaranya bahkan terdengar tidak bersemangat, dan penyebabnya karena Ayumi yang ingin berlama-lama di kampung halamannya, terutama di rumah Sumi.


Sulit memang untuk mengerti, sulit juga untuk dijelaskan. Tapi rasa itu nyata adanya, dimana ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata, ketika dirinya sangat menginginkan kedekatan bersama wanita yang baru saja dia temukan.


Dan itu ibu kandungnya.

__ADS_1


"Kalau begitu, … bagaimana kalau Abang minta libur sehari lagi? Kita menginap di rumah Mama, pagi-pagi sekali kita pulang."


Randy menghembuskan nafasnya.


"Tidak bisa." Dia mendesah frustasi.


"Lalu aku harus bagaimana?"


"Pulang. Ikut pulang, tidak menginap dan meninggalkan aku selama itu!" Randy merengek.


Dan kali ini Ayumi melihat sisi lain dari suaminya. Tegas, berwibawa, sedikit pemarah, tapi sekarang dia berubah menjadi anak kecil yang sedang merengek kepada ibunya.


"Mommy? Ayolah pulang, jangan menginap." Pinta Randy lagi.


Ayumi berpikir sebentar, sembari menatap mata berbinar milik suaminya yang saat ini tengah memohon. Dan akhirnya dia menganggukan kepala, Ayumi tidak tega melihat keadaan suaminya saat ini, dia benar-benar tidak mau ditinggal pergi.


Randy tersenyum.


"Benarkah?"


"Ya, memangnya aku bisa apa? Tetap berada disini sementara kamu merengek memintaku pulang? Mustahil. Yang ada kamu tetap disini, membiarkan Pak Raga memarahimu!"


Mendengar itu senyum Randy seketika terbit. Menghilangkan raut wajah masamnya yang sedari tadi dia pasang saat baru saja Ayumi pisahkan dari Amar.


Sementara perempuan itu memutar kedua bola matanya.


"Tidak ada hubungannya, Amar memang menyebalkan!" Randy terus tersenyum.


"Kamu sampai membuat wajah Bang Amar pucat, tahu! Sudah ketakutan begitu kamu masih terus mendesaknya." Kata Ayumi.


"Benar kata Ibumu. Kamu mempunyai sifat sedikit pemarah! Sebenarnya tidak apa-apa, namanya manusia pasti pernah merasa kesal bukan? Tapi alangkah baiknya kamu segera belajar untuk menguranginya, … sebentar lagi kita akan menjadi Mommy dan Daddy! Masa mau berantem cuma gara-gara candaan."


Perempuan itu kembali berceramah.


"Kamu membela Amar terus!"


"Ish di bilangin. Aku nggak bela Bang Amar, cuma ngasih tahu kamu biar nggak terlalu emosian seperti itu! Nggak semua selesai hanya karena saling melayangkan atau menerima pukulan."


Randy menghela nafasnya lagi. Lalu menenggelamkan wajah di ceruk leher Ayumi.


Dia menghindar.


"Kalau mau istirahat. Tidur yang benar, jangan seperti ini …"


Belum selesai Ayumi berbicara, Randy kembali mengangkat kepala, dan memandang Ayumi dengan tatapan tajamnya.


"Anak kamu kegencet! Nggak kasihan? Nanti dia tidak bisa nafas." Kini Ayumi yang tersenyum. "Cepat pindah, kamu sangat berat tahu!" Tangan Ayumi segera mendorong bahu Randy.

__ADS_1


Membuat pria itu segera pindah, dan berbaring di sampingnya.


Ayumi terus memaksakan senyumnya, segalak apapun dia berusaha memperlihatkan diri, namun tentu saja dia takut jika suaminya mulai memperlihatkan taringnya, bahkan hanya dengan sebuah tatapan tanpa ekspresi sudah benar-benar membuat bulu kuduk Ayumi berdiri semua.


"Mau aku habisi sekarang atau nanti di rumah?" Bisik Randy.


Plak!


Ayumi memukul pundak Randy dengan sangat kencang.


"Main habisin aja, … kaya kuaci … aku kan Ayumi Kirana Danendra. Harus di cintai, di sayang, di usap, karena stoknya terbatas, dan nggak produksi lagi hehe."


Satu alis Randy terangkat.


"Ish, jangan begitu. Aku takut!"


Ayumi segera menelusupkan diri, memeluk Randy dan menempelkan wajahnya pada dada bidang yang selalu membuatnya nyaman. Apalagi bau khas Randy yang membuat Ayumi benar-benar tidak bisa jauh.


"Oh mau disini yah!" Suara Randy terdengar semakin rendah.


"Jangan!"


Ayumi menahan Randy yang berharga hampir bangkit.


"Bolehlah, sedikit."


"Jangan!" Cicit Ayumi lagi, namun kini terdengar tawa pelan Ayumi.


Randy benar-benar bangkit, mengubah posisi menjadi berada di atas tubuh Ayumi, menatap wajah panik itu dengan senyum miring yang terlihat begitu menggoda.


"Jangan disini!" Ayumi merengek.


"Memangnya kenapa? Dimanapun sama saja."


"Beda. Disini aku tidak bisa men**sah, eh … maksud aku nanti kamu bekap mulut aku kencang dan aku benar-benar tidak bisa nafas."


Satu alis Randy kembali terangkat, dengan wajah yang semakin mendekat.


"Tidak bisa bernafas atau …" Randy menggantung kata-katanya.


"Hu'um. Disini aku tidak bisa berteriak, kamu juga! Jadi nanti pas pulang saja yah!"


Randy menggelengkan kepala.


"Ada solusi lain." Randy bangkit, kemudian turun dari atas ranjang tidur Ayumi.


"Kita ke apartemen. Disana kamu bisa berteriak sekencang-kencangnya, atau merintih dan men**sah seperti yang selalu kamu lakukan disaat kita melakukannya."

__ADS_1


__ADS_2