
"Can you explain something?" Valter menatap Sumi.
Wanita yang di maksud mengangguk, kemudian dia berdiri.
"She's your daughter!" Ucap Sumi dengan suara pelan.
Sementara Valter kembali mematung. Kata-kata itu membuat kesadarannya hampir memudar, namun isak tangis Ayumi terus membuat dirinya mempertahankan kesadarannya.
"Sungguh?" Suara Valter bergetar.
"Hemm, … dia kembali kepadaku beberapa bulan lalu!"
Dan di detik berikutnya dia membalas pelukan Ayumi. Mendekap tubuh mungil itu dengan sangat erat.
"Maafkan Papa, … maafkan Papa sekali lagi maafkan Papa karena sudah meninggalkanmu."
Ayumi tak membalas apapun, perempuan itu hanya terus mangais kencang, sampai membuat beberapa tamu hotel melihat ke arah ayah dan anak yang baru saja di pertemukan. Ada rasa marah dan ingin menanyakan alasan mengapa pria itu begitu tega, namun rasa lain lebih mendominasi sampai rasa kecewa itu tertutup begitu saja.
Sementara Sumi hanya diam melihat interaksi keduanya, begitu pula dengan Randy. Pria itu menatap istrinya dengan tatapan sendu, apalagi tangisan Ayumi benar-benar membuat hatinya sedikit terasa di cabik-cabik.
Ya. Gadis yang begitu ceria, dengan segala beban dan luka yang dia miliki.
Batin Randy berbicara.
Valter membawa Ayumi untuk duduk, mengurai pelukannya, dan menatap wajah Ayumi setelah pelukannya terlepas. Mata Valter bergerak-gerak, menyelami netra coklat kelam milih Ayumi.
"What's your name?" Dia mengusap kedua pelupuk mata gadis cantik di hadapannya yang mulai berhenti menangis.
Isakan Ayumi belum benar-benar hilang, sampai perempuan itu masih tak mau menjawab.
"Ayumi." Kata Sumi.
"Orang tuanya memberi dia nama yang sangat cantik." Jelas Sumi.
Matanya berkaca-kaca, bahkan tak jarang dia mengusap kedua sudut matanya ketika air mata benar-benar tak bisa dia kendalikan. Randy bergeser mendekat, lalu mengusap-usap punggung Sumi, agar bisa membuat ibu mertuanya menjadi lebih kuat lagi.
"Emmm, … seperti kita harus memesan minuman." Randy berbicara.
Dia bangkit kemudian berjalan ke arah lain, meninggalkan Ayumi bersama kedua orang tuanya.
Ayumi menatap Sumi yang duduk bersebrangan dengan dirinya. Dia merentangkan satu tangan, meminta wanita itu segera mendekat tanpa banyak berbicara.
"Come. Mendekatlah, … penuhi permintaan anakmu."
Mendengar Valter berbicara demikian, maka Sumi tak bisa membantah, dia mengikuti kemauan Ayumi, mendekat dan duduk di samping putrinya yang seketika Ayumi peluk.
Untuk pertama kalinya. Dia benar-benar merasakan keluarga yang begitu lengkap, kali ini dia tidak sedang bermimpi, Ayumi benar-benar dapat memeluk ayah dan ibu kandungnya dalam waktu yang bersamaan.
Mereka bertiga kembali menangis.
Takdir Tuhan memang tidak bisa di tebak. Bahkan Valter tak menyangka jika jalan hidup dia akan serumit ini. Hidup dengan perempuan yang selalu mengancam keselamatan hidupnya, kemudian bercerai. Namun Valter tetap tidak bisa mendapatkan Sumi, bahkan niatnya terdahulu mencari Bayi yang secara paksa Susi buang pun tidak pernah terjadi. Selalu ada halangan yang membentang, sampai membuat dirinya tak bisa berkutik sedikit pun.
Tidak peduli orang-orang membicarakan segala macam keburukannya, dia sudah berusaha, namun Tuhan mempunyai jalannya sendiri.
"Kamu bahagia, Nak?" Sumi tersenyum, mengusap kepala Ayumi dan menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi wajahnya.
Ayumi mengangguk.
"Aku nggak tahu harus apa sekarang." Kata Ayumi dengan isakan yang masih tersisa.
"Kamu bisa menghabiskan waktu bersama dengan ayahmu. Mungkin Mama akan segera kembali ke Villa, tidak enak jika harus pergi berlama-lama." Jelas Sumi.
Namun Ayumi menggelengkan kepala.
"Kita akan kembali bersama-sama setelah ini." Ayumi berujar.
Dia melepaskan pelukan dari kedua orang tuanya, meraih tisu yang tersedia di atas meja kaca berukuran besar, lalu mengusap wajahnya.
"Ah maaf. Hidung aku mampet!" Ucap Ayumi sambil terkekeh.
Membuat Sumi dan Valter tersenyum melihatnya.
Tanpa merasa puas Valter terus memperhatikan Ayumi. Menatap wajah cantik itu lekat-lekat dengan perasaan yang begitu luar biasa.
"Kamu belum mengatakan apapun. Apa kamu memaafkan Papa?" Dia menyentuh pipi Ayumi.
__ADS_1
Ayumi menoleh, menatap wajah pria asing di hadapannya. Rambut coklat keemasan, manik indah berwarna coklat kelam, hidung mancung dengan wajah tegas yang terlihat tampan meski di usia matangnya.
Tubuhnya tinggi besar, mempunyai kulit yang begitu putih, dengan penampilan yang bisa dibilang sangat terlihat rapih, mungkin dia mempunyai ekonomi yang begitu baik, berbeda dengan ibunya yang mengalami kesulitan saat mereka belum bersama.
"Masih tidak mau bicara?" Valter bertanya lagi.
"Lalu aku harus bagaimana? Aku harus membenci kalian? Sementara aku tahu jika kalian orang tua kandung aku?" Ayumi mulai membuka suara.
"Aku kesal, aku marah, tapi aku tidak bisa melakukan apapun. Ini tentang waktu dan takdir Tuhan yang sudah tidak bisa diubah."
"Maka marahlah. Tidak apa-apa! Setidaknya Papa tidak akan terus merasa berdosa karena sudah melakukan hal yang sangat buruk."
Ayumi menggelengkan kepala.
"Aku tidak mau bahas ini. Aku takut akan membenci mendiang Tante Susi!" Ayumi menatap ibunya.
Dan langsung dijawab anggukan oleh Sumi.
Tidak lama setelah itu Randy datang bersama beberapa orang pegawai, membawa minuman juga makanan yang dipesankan untuk istri juga kedua orang tuanya.
"Permisi."
Mereka meletakan setiap makanan dan minuman di atas meja.
"Terimakasih, Mas, … Mbak!" Kata Randy.
Mereka hanya mengangguk, lalu beranjak pergi setelahnya.
"Kemarilah, aku memesankan jus tomat untukmu." Dia memanggil Ayumi.
"Benarkah?"
Ayumi mengusap pipinya menggunakan punggung tangan. Kemudian bangkin dan beralih duduk di sofa yang Randy tempati. Dengan semangat Ayumi meraih gelas berisikan minuman berwarna oranye, lalu meminumnya perlahan.
Ayumi menoleh ke arah suaminya. Dia tersenyum.
"Enak, aku suka." Katanya.
Randy mengangguk, dia beralih kepada Valter juga Sumi yang terlihat saling terdiam.
"Thank you." Valter berucap.
Sementara Sumi hanya menganggukan kepalanya kepada sang menantu, Randy.
Mereka mulai menikmati minuman juga berbagai macam makanan yang beberapa waktu lalu Randy pesan. Beberapa saa menghentikan obrolan, sampai akhirnya Valter kembali membuka suara.
"Terimakasih sudah bersedia datang. Bahkan kejutan luar biasa kamu berikan, … kamu membawa putriku! Hal yang tidak pernah aku duga."
Sumi menghela nafas. Rasanya begitu sulit untuk memulai obrolan yang memang selalu mengarah kepada masa lalunya, tapi apa boleh buat. Masalah tidak akan selesai jika kita hanya memendamnya.
"Aku sudah memaafkanmu. Aku juga sudah berdamai dengan keadaan! Hidupku membaik sekarang, bahkan sangat baik apalagi setelah Ayumi kembali. Memang tidak mudah, aku harus menunggu hampir 20 tahun lamanya, melihat tumbuh kembang putriku dari jarak yang sangat jauh. Inilah hasil kesabaranku, bahkan saat aku mulai mengikhlaskan segalanya, tiba-tiba saja dia kembali dan selalu datang." Ucap Sumi.
Ayumi dan Randy hanya diam mendengarkan.
"Maafkan kebodohanku. Segala kesusahan yang kamu alami, atau gunjingan yang kamu dapatkan, itu semua berawal dari aku. Coba saja dulu aku tidak gegabah, coba saja aku mau mendengarkan penjelasanmu terlebih dulu, maka yang aku nikahi …"
Valter berhenti berbicara ketika Sumi mengangkat tangannya sambil memejamkan mata.
"Aku tidak mau membahas ini!" Tegas Sumi.
"But …"
"Please. I don't want to hear it!" Sumi menutup kedua telinganya.
"Mmmm, … sebaiknya kita tidak perlu melihat kebelakang. Sepahit apapun masa lalu, tapi kita harus tetap berjalan menuju masa depan, maka jadikan kejadian terdahulu sebagai pelajaran agar tidak kembali melakukan kesalahan yang sama." Tukas Ayumi.
Valter mendengarkan, meski dia tidak terlalu fasih dalam bahasa Indonesia, tapi dia mengerti apa yang putrinya katakan.
Rasanya begitu sakit. Ketika seorang anak sudah mampu mengatakan kata-kata yang sangat luar biasa. Lalu dimana saat dia tumbuh? Dimana dirinya saat gadis mungil itu mulai belajar dalam segala hal. Dan yang lebih menyakitkan bagi Valter adalah, ketika Sumi mengatakan wanita itu menunggu sampai 20 tahun lamanya untuk mendapatkan momen seperti sekarang.
"Sesulit itukah hidupnya? Apa orang tua asuh putrinya tidak mengizinkan untuk bertemu." Batin Valter bermonolog.
"Ayumi?" Valter memanggil.
"Ya."
__ADS_1
"After this moment. Bolehkah Papa menemui kamu lagi? Dan menghabiskan waktu bersama? Setidaknya satu kali dalam seumur hidup Papa, sebelum nanti harus pulang ke Germany, dan tidak tahu akan kembali kesini atau tidak." Ucap Valter dengan logat bicara yang begitu khas.
Ayumi melirik Randy.
"Datanglah, rumah kami terletak 30 menit dari bandara. You can come whenever you want." Kata Randy seraya tersenyum dengan segala kelapangan hatinya.
"Kalian, … sudah menikah?"
Ayumi dan Randy mengangguk bersamaan.
"Oh God! Aku melewatkan banyak hal!" Valter tampak begitu menyesal.
"Memang. Begitu pula aku, … tidak banyak yang aku ketahui dari putriku sendiri. Tapi aku sangat bahagia karena apapun yang aku dapatkan sekarang sudah sangat cukup."
Valter menatap Sumi. Wanita yang begitu banyak berubah. Keadaannya tidak terlalu baik, terlihat dari pakaian yang dia kenakan bahkan jauh dari kata modis, sementara dirinya hidup dalam segala kemudahan.
"I'm so sorry."
"Of course." Sumi menimpali.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Valter melihat senyuman Sumi yang begitu manis, dan itu satu-satunya yang tidak berubah dari dalam diri Sumi, senyum penuh ketulusan.
"Sudah cukup larut, sebaiknya kita kembali ke villa." Kata Sumi kepala anak juga menantunya.
Randy mengangguk, dia segera berdiri.
"Baik. Tuan Valter, terimakasih atas waktu yang anda berikan, maafkan jika saya lancang karena meminta petugas hotel untuk memanggil anda, … kalau begitu kami pamit undur diri, kita bisa berbicara lagi di lain waktu jika anda tidak keberatan."
Valter berdiri, dia mendekati Randy dan memeluk pria itu dengan sangat erat.
"Papa. Cukup panggil Papa, karena kau menikahi anakku, maka kau juga sudah menjadi putraku sekarang. Terimakasih sudah memberikan kehidupan yang layak untuk mereka di saat aku tak mampu melakukannya. Sekali lagi terimakasih, saya titip mereka. Saya takut tidak bisa kembali karena satu dan lain hal." Valter menepuk-nepuk pundak Randy.
Pria yang di maksud mengangguk, dan tersenyum.
"Baik, saya akan melakukan itu." Kata Randy.
"Ayumi? Kemarilah."
Valter merentangkan kedua tangannya ketika dia melihat Ayumi mulai berdiri.
"Ayumi pulang dulu, Om." Ayumi mendekat, lalu memeluknya dengan sangat erat.
Valter mengangguk, dia memejamkan mata sambil mencium puncak kepala Ayumi, merasakan hatinya yang berdenyut nyeri. Rasanya tidak rela membiarkan mereka pergi, namun dia tidak mempunyai hak apapun untuk menahannya.
"Berbahagialah, Nak. Semoga masih ada kesempatan untuk menemui kalian!"
Ayumi mengangguk, dia melonggarkan pelukannya.
"Kami juga menginap disini, besok masih bisa bertemu." Kata Ayumi, mencoba membuat perasaan Valter baik-baik saja.
Raut sendu, juga mata yang berkaca-kaca sudah cukup baginya mengetahui jika pria paruh baya itu sedang tidak baik-baik saja.
"Kau juga mau undur diri?" Valter bertanya kepada Sumi.
"Ya, sudah larut dan aku harus istirahat."
"Baiklah. Mungkin lain kali kita harus bicara lagi!"
"Sepertinya tidak ada lagi yang perlu dibahas. Sudah aku katakan aku memaafkan kalian, jadi setelah ini hiduplah dengan damai." Pamit Sumi.
Dan jawab itu benar-benar membuat Valter sangat kecewa.
"Kami pamit."
Setelah mengatakan itu Sumi, Randy dan Ayumi segera beranjak pergi. Berjalan ke arah pintu lobby, meninggalkan Valter yang masih berdiri mematung disana.
Pria itu bahkan terus melihat punggung Sumi, sampai wanita itu tak lagi dalam jangkauannya.
"Bagaimanapun keadaannya sekarang. Semuanya tidak akan lagi sama. Luka yang kugoreskan sudah sangat dalam. Beruntung mereka masih berbaik hati untuk menemuimu, sampai jika suatu saat nanti ajalmu tiba, setidaknya tidak akan terlalu memberatkan karena kata maaf sudah kamu dapatkan." Batin Valter berbicara.
Dengan langkah gontai Valter berjalan melewati meja resepsionis. Pria itu menganggukan kepala saat wanita yang bertugas di sana tersenyum.
"Thank you." Ucap Valter sambil terus berjalan mendekati satu lorong dimana beberapa pintu lift terletak di sana.
Dan setelah menunggu beberapa detik, akhirnya pintu besi itu terbuka dengan sangat perlahan, kemudian Valter masuk, dan langsung menghilang saat pintu lift kembali tertutup rapat.
__ADS_1