My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 134 (Amar dan Randy)


__ADS_3

"Nah, … ayo dimakan pisang gorengnya. Ibu tinggal dulu ke dalam, Bapak beli cumi dan udang, minta segera di masakan sebelum Ayumi bangun nanti." Tutih meletakan satu piring pisang goreng yang masih panas tepat di antara Amar dan Randy, yang saat ini sedang duduk di satu bale-bale yang sama.


"Terimakasih, Bu!" Ucap Randy.


Sementara Amar hanya mengangguk dan tersenyum kepada Ibumu.


"Iya, kalau ngobrol itu biasanya butuh cemilan." Sindir Tutih kepada dua pria yang tidak terpaut usia jauh itu.


Sedari tadi keduanya hanya terdiam, bahkan Ali dan Tutih sampai tertawa saat mengintip dari dalam dapur, mendapati tingkah anak dan menantunya yang terlihat masih merasa canggung satu sama lain.


"Mereka masih diam-diaman?" Tanya Ali pelan kepada istrinya.


"Ya begitu. Kejadian kemarin-kemarin mungkin masih membuat keduanya canggung, … jadi biarkan saja. Nanti juga bicara sendiri kalau sudah capek saling diam seperti itu!" Tutih tersenyum saat merasa lucu dengan tingkah kedua anak laki-lakinya.


Wanita itu segera mendekati wadah udang dan cumi yang sudah Ali cuci, mulai memasukan berbagai macam bumbu agar rasanya semakin nikmat. Namun tidak dengan Ali, pria tua itu sibuk duduk di dekat jendela, menatap ke arah Randy dan Amar dengan perasaan sedikit was-was.


Ali takut jika sesuatu akan kembali terjadi, mengingat keduanya memiliki sifat yang sama-sama keras kepala dan cenderung tidak mau mengalah. Terutama Amar, yang sudah pasti Ali mengetahui sifat dan wataknya.


"Tidak usah di awasi!" Tutih menoleh sekilas, menatap suaminya lalu kembali pada udang dan cumi yang akan Tutih masak.


"Bapak hanya sedang mengantisipasi, takutnya mereka berdua bersitegang lagi seperti kemarin-kemarin." Ali berujar.


"Memangnya kelihatan begitu?"


"Tidak, sejauh ini mereka masih diam. Sibuk dengan ponsel masing-masing." Jelas Ali tanpa mengalihkan pandangannya.


Tak hentinya Ali memperhatikan Amar juga suami dari putrinya Randy. Dan setelah sekian lama, akhirnya Amar terlihat memulai pembicaraan,seraya membawa satu pisang goreng yang langsung dia jejalkan ke dalam mulutnya.


"Jadi, … bagaimana aku harus memanggilmu?" Kata Amar. "Dengan sebutan nama? Ah tapi itu tidak sopan, meskipun kamu menikah dengan adikku, tapi kamu 3 tahun lebih tua dariku!" Pria itu melanjutkan ucapannya.


Sementara Randy belum menjawab, dia justru meraih pisang goreng di piring yang sama, dan berusaha menikmatinya tanpa mau terganggu dengan pertanyaan iparnya.


"Lalu? Apa aku juga harus memanggilmu Abang? Sementara kau jauh lebih muda dariku?" Ucapnya sedikit ketus.


Akhirnya Randy membuka suara.


"Tidak usah repot-repot. Panggil saja Amar! Dan aku akan memanggilmu Randy, … adil bukan?" Dia tersenyum.


"Ya ya ya, terserah saja! Aku tidak peduli hal lain, selain perasaan istriku." Randy berujar.


Amar tersenyum. Namun dia mengarahkan pandangan tajam kepada suami dari adik perempuannya. Memperhatikan dalam diam, gerak-gerik Randy, seolah dia sedang mencurigai sesuatu.


"Kamu boleh jago bela diri. Kamu juga boleh mempunyai segala kekuasaan dengan uangmu. Hanya satu yang harus kamu ingat! Aku tidak akan diam jika adik perempuan kesayanganku dipermainkan laki-laki lain … termasuk kamu, aku tidak takut meski nyawaku menjadi taruhannya!" Tegas Amar.


Dia tampak bersungguh-sungguh.


Seketika Randy berhenti mengunyah. Dia menoleh ke arah samping kiri dimana Amar berada, dia membisu tanpa ekspresi apapun.

__ADS_1


"Kau sedang mengancam?"


Raut wajahnya datar, suaranya rendah, dengan mata memicing, menatap Amar dengan perasaan kesal.


Amar mengendikan kedua bahunya, dan dengan sangat santai dia kembali membawa pisang goreng, sambil menggerakkan kedua alisnya.


"Apa kau tidak tahu diri? Pelupa? Atau bodoh?" Cicit Randy pelan.


"Tidak. Aku hanya seorang Kakak laki-laki yang tidak mau ada yang menyakiti adikku, sekalipun itu suaminya." Ucap Amar santai.


Randy mengubah posisi duduknya, sampai dirinya kini duduk berhadapan dengan Amar.


"Yang menyakiti Ayumi itu kau jika harus aku ingatkan! Kau membuat traumanya semakin besar, dan berdampak sampai sekarang dia mengidap Anxiety Disorder, … dan dengan tidak tahu malunya kau mengatakan itu kepada diriku? Orang yang sedang berusaha keras menyembuhkannya!" Randy menggeram kencang.


"Kakak macam apa kau?"


Kesabarannya seolah sedang benar-benar diuji oleh Amar. Bahkan pria itu terus tersenyum-senyum saat kilat kemarahan mulai Randy perlihatkan.


"Santai. Tidak usah setegang ini bersamaku! Aku suka bercanda gurau, … begitu saja tidak tahu!" Amar mendelik.


"Kau tidak sedang bercanda, tapi kau sedang mengujiku. Kau meremehkan aku, dan kau meragukan aku!" Balas Randy dengan suara rendah juga penuh penekanan.


Amar mengerjapkan matanya beberapa kali. Tiba-tiba saja dadanya berdebar, dia gugup juga sedikit takut, saat Randy mulai mendekat, meraih ujung pakaian bagian atas dan mencengkramnya sangat kuat.


"Sebenarnya apa maumu, huh!" Randy menggeram kencang.


"Sayang!"


Ayumi berteriak dari ambang pintu dapur. Betapa terkejutnya saat dia mendapati suaminya sedang bersiap menghajar Amar yang sudah tidak bisa berkutik.


Begitupun dengan Ali juga Tutih, mereka yang sudah mulai sibuk memasak kembali terkejut dengan teriakan Ayumi.


"Jangan pukul lagi!" Ayumi berlari mendekati Randy.


Dan dengan sekali tarikan Ayumi menjauhkan suaminya dari Amar.


"Kenapa kamu marah?" Ayumi mengusap dada suaminya, menengadahkan pandangan, menatap wajah penuh amarah suaminya.


"Eheumm!" Amar berdehem, membenahi posisi juga pakaiannya.


"Ada apa ini? Tadi Ibu tinggalkan masih baik-baik saja." Tutih datang dengan raut panik.


Randy bungkam, dengan tatapan tajam yang terus tertuju kepada Amar.


Matanya memerah, nafasnya menderu-deru. Bahkan dada Randy terlihat naik turun dengan sangat cepat. Namun, kali ini dia tidak bisa berbuat apapun, karena Ayumi datang dan memeluknya dengan sangat erat.


"Ay, bawa Randy masuk dulu yah!" Ali menatapnya.

__ADS_1


Ayumi langsung mengangguk, menggiring suaminya masuk ke dalam rumah.


"Ada apa lagi, Mar?" Ali mendekat.


"Tidak tahu. Hanya sedikit bahasan para laki-laki, tapi dia terlalu tempramen sampai kata-kata candaanku saja dia buat serius." Jelas Amar.


"Memangnya apa yang kamu katakan?" Tutih menatapnya Amar penuh selidik.


Amar diam, dia menatap ayah dan ibunya bergantian. Tatapan Tutih juga Ali tampak begitu sendu, kekhawatiran jelas terlihat jelas dari ekspresi keduanya.


"Amar?" Panggil Ali.


"Hanya mengatakan jika dia macam-macam kepada Ayumi. Maka orang pertama yang harus dia hadapi adalah Amar, Pak. Tidak peduli sehebat dan se-berpengaruh apa dia, tapi jika dia menyakiti Ayumi, maka Amar tidak akan pernah takut melawan Randy." Amar menjelaskan.


Ali menghela nafasnya, begitu juga dengan Tutih. Wanita itu duduk, lalu mengusap punggung anaknya dengan sangat pelan-pelan.


"Kenapa kamu mengatakan itu?"


"Ya Amar hanya mengatakan itu saja. Agar Randy tidak berani mempermainkan Ayumi, … Ibu tahu? Laki-laki dengan ekonomi yang cukup tidak akan pernah cukup dengan satu perempuan." Amar menatap ayahnya.


"Randy tidak mungkin seperti itu!"


"Amar hanya berandai-andai, Bu! Memang tidak semua laki-laki seperti itu, tapi sebagian besar, … ya Ibu dan Bapak sepertinya lebih berpengalaman." Dia beralih menatap ibunya.


Ali diam, begitupun dengan Tutih, karena apa yang Amar katakan ada benarnya.


"Tapi lain kali tidak usah berlebihan. Tidak enak juga sampai kamu terus membuat Randy tersinggung!"


"Iya, Pak. Maaf!"


"Tidak usah meminta maaf. Kamu benar, hanya saja tidak semua orang dapat menerima peringatan seperti itu. Mungkin Randy tidak seperti yang kamu pikirkan, makanya dia merasa sedikit tersinggung." Tutih menasehati.


"Tapi Amar tidak mengatakan jika dia pria tidak benar."


"Ibu tahu, tapi secara tidak langsung kamu menyinggung perasaan Randy. Jadi sebaiknya kita melihat dari jarak yang cukup jauh, Ibu tahu kamu tidak akan bisa menerima jika Ayumi disakiti, … Ibu juga tahu sesayang apa kamu dengan Ayumi dulu, meski hubungan kalian sempat merenggang, tapi sejatinya seorang kakak memang begitu bukan? Jadi tidak usah maju terlalu dekat, biarkan Ayumi menjalani rumah tangganya dengan baik, mungkin suatu saat nanti pasti ada kekeliruan, dan tugas kita hanya mengingatkan saja, tidak perlu ikut campur lebih dalam."


Amar tidak menjawab lagi, dia hanya mengangguk mendengarkan setiap ucapan Tutih.


"Sudah-sudah, jangan terlalu dipikirkan. Ayumi sedang berusaha menenangkan Randy, … mudah-mudahan Randy tidak kesal lagi." Kata Ali.


"Ya, kenapa laki-laki keras kepala seperti itu yah! Belum lagi dengan egonya yang tinggi sampai menjadi emosian seperti begitu!" Gumam Amar.


"Kamu juga begitu! Tidak sadar ya?" Sindir Ali sambil tertawa kencang.


"Dasar!" Tutih menjewer daun telinga Amar.


"Duh!" Amar mengaduh, meringis saat merasakan panas di daun telinganya.

__ADS_1


__ADS_2