
Ayumi mengehembuskan nafasnya kasar, lalu menghempaskan punggung pada sandaran sofa, dengan mata terpejam juga tangan yang mulai memijat pelipis saat kepalanya tiba-tiba saja terasa pusing. Setelah mendengar setiap ungkapan isi hati yang Tutih katakan.
Dia benar-benar tidak menyangka bahwa ibunya mampu berpikiran sejauh itu. Bahkan disaat dia berusaha membuat semua sama.
"Ay, Ibu hanya takut." Suara Tutih terdegar memekik pelan.
"Ketakutan Ibu tidak masuk akal. Sungguh aku tidak mengerti kenapa Ibu bisa berpikir bahwa aku akan pergi, aku akan lebih memilih Mama, … bahkan disaat aku merasa bahagia karena mempunyai tiga Ibu sekaligus." Jawab Ayumi dengan suara pelan, dan tak mengubah posisinya sedikit pun.
Dia terus memijat pelipisnya dengan kedua bola mata yang terus terpejam.
Sumi diam menunduk, begitupun dengan Ali, Tutih, dan Randy yang juga cukup terkejut dengan apa yang sempat Tutih katakan.
"Maaf, tapi sekarang Ibu tahu Ibu keliru terhadapmu!"
"Apa Ibu tidak merasakannya? Bahkan aku berusaha melupakan jika aku hanya seorang anak asuh dari Ibu dan Bapak, berusaha melupakan kata-kata Bang Amar, aku berusaha agar semuanya sama, aku tidak mau ada kata Ibu angkat, atau anak angkat, aku mau hubungan kita seperti dulu, walau memang keadaannya sudah berbeda, Mama Sumi juga Ibuku, wanita yang melahirkan aku, … apa aku salah jika mau menghormati Ibu yang lainnya?"
Suara Ayumi bergetar, dia berusaha menahan tangisnya dengan susah payah. Dia cukup terkejut saat Tutih mengira jika dirinya akan melupakan dia, dan beralih memilih hidup bersama Sumi, sementara Tutih akan terlupakan, padahal sudah jelas seorang yang membesarkan lebih mempunyai jasa besar.
"Tidak begitu. Ibu hanya takut dan itu membuat Ibu tidak bisa mengendalikan pikiran Ibu sendiri, sekarang Ibu sadar Ibu sedang keliru." Tutih berusaha menjelaskan.
Dan tiba-tiba saja suara bell rumah berbunyi beberapa kali. Randy hendak bangkit untuk membukakan pintu, namun Sumi menahannya, dan wanita itu segera berlari ke arah pintu utama.
Klek!
Sumi menekan jendela pintu, menarik pintu kayu itu sampai benar-benar terbuka dengan lebar, sampai pandangan mata Sumi dengan dua orang yang berdiri di teras luar beradu.
"Pak, Bu … silahkan masuk!" Sumi mempersilahkan.
"Apa terjadi sesuatu yang begitu serius?" Alvaro menatap Sumi dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
Sumi hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Sebaiknya Bapak masuk saja untuk mengetahui keadaan sebenarnya. Karena jujur saya bingung dengan keadaan sekarang, bahkan saya salah satu manusia yang paling di takuti sekarang." Kata Sumi kepada Alvaro.
"Takut!?" Pria itu mengulangi ucapannya.
"Iya, Bu Tutih takut saja merebut Ayumu."
Alvaro mengangguk, dia berjalan melewati Sumi, berjalan masuk meninggalkan Sisil yang masih berdiri di ambang pintu bersama Sumi.
"Bu, masuk."
"Jangan memanggil Ibu, sudah aku katakan jika kita itu seumuran. Panggil nama saja agar lebih akrab." Kata Sisil, dia tersenyum.
"Tidak. Saya merasa itu sedikit tidak sopan!" Sumi tersenyum samar.
Sisil menghela nafasnya.
"Heh, kamu ini!"
Sumi hanya tersenyum, kemudian menutup kembali pintu rumah itu, dan berjalan ke arah ruang tengah dimana orang-orang sudah berkumpul, kecuali Amar.
Pria itu mempunyai banyak alasan saat Ali memohon dan meminta agar dia segera datang ke rumah Randy untuk meluruskan masalah agar tidak semakin berlarut-larut.
"Om?" Randy menyapa.
Sementara Ayumi tak bereaksi apapun, perempuan itu tetap memejamkan mata sambil terus memijat pelipisnya.
Alvaro menatap hampir semua orang yang ada disana bergantian, seolah menanyakan keadaan Ayumi yang terlihat tidak baik-baik saja saat ini.
"Ay?" Panggil Alvaro.
Ayumi membuka matanya perlahan, menoleh lalu menatap pria tinggi yang terlihat sebaya dengan ayahnya, Ali.
"Iya, duduk Om. Banyak yang harus kita bicarakan, sepertinya banyak sekali kekeliruan yang sudah terjadi." Jelas Ayumi.
Dia menjelaskan dengan hati yang terasa ngilu.
Perempuan itu segera mengubah posisinya menjadi duduk tegak seperti semula.
"Sepertinya cukup serius yah." Ucap Alvaro seraya duduk di salah satu sofa yang kosong.
Disusul sang istri yang ikut duduk di satu sofa yang sama, juga Sumi yang duduk di tempat semula.
"Jadi ada apa?" Alvaro tersenyum kepada Ayumi.
__ADS_1
"Mungkin Bapak saja yang menjelaskan, … aku tidak mau mengingatnya lagi, rasanya begitu sesak saat seseorang mengira aku seburuk itu." Katanya dengan suara pelan.
"Maafkan Ibu, Nak." Kali ini Tutih terlihat lebih memohon.
"Hhhh, … padahal Ibu tahu sendiri aku bagaimana, sesulit apapun keadaan aku pasti berusaha baik-baik saja, tapi bisa-bisanya Ibu berpikir hal seperti itu, berbicara kepada Bang Amar, sampai aku harus menerima setiap kata menyakitkan karena kekesalannya." Ayumu terlihat semakin kecewa.
Semua orang terdiam, mereka bingung karena kali ini Ayumi memang berbeda. Dia banyak berbicara menumpahkan segala sesuatu yang terasa mengganjal di dalam hatinya, tapi itu memang lebih bagus dari pada harus memendam sendiri seperti sebelum-sebelumnya.
Bahkan Randy pun tak berani berbuat banyak, dia hanya membiarkan Ayumi meluapkan rasa kecewanya.
Ali mulai menjelaskan satu persatu kepada Alvaro. Dimana istrinya kini mengalami rasa takut yang berlebihan terhadap kedekatan Ayumi juga ibu kandungnya Sumi. Wanita itu mengira jika sikap Ayumi terhadapnya sudah benar-benar berubah, dan membuat perasaannya begitu sedih, sampai dia berbicara kepada Amara tanpa sengaja dan membuat pria itu kesal, lalu melontarkan kata-kata yang begitu menyakiti hati Ayumi, sampai dua pria muda terlibat pertengkaran karenanya.
"Saya tidak bermaksud begitu, Pak. Saya hanya tidak bisa berpikir, selembut itukah Ayumi sampai dia mampu memaafkan seorang yang sudah membuangnya? Dan dengan mudah kembali mendekati Ayumi tanpa merasa malu."
"Bu!" Ali memperingati.
"Mama tidak mau membela diri?" Kini Ayumi menoleh ke arah ibunya duduk.
Sumi diam, mengulum senyum penuh kesedihan, lalu menggelengkan kepala.
"Setidaknya katakan jika bukan …"
"Bisa dekat denganmu sudah lebih dari kata cukup, Mama tidak butuh pengakuan orang lain. Jika apa yang mereka pikirkan seperti yang Bu Tutih katakan batusan, maka biarkan saja!" Sumi tersenyum, seolah ingin memberitahu Ayumi jika dirinya baik-baik saja.
Ayumi menghela nafasnya.
Entah kenapa penuturan Sumi terdengar begitu sesak. Saking seringnya dia mendengar ucapan-ucapan tanpa sebuah bukti, hingga membuat wanita itu mulai terbiasa karenanya.
"Bu Tutih. Ini salah saya karena tidak memberitahukan kebenarannya sejak dulu, … saya memang tidak mengetahui alasan Bu Sumi meninggalkan Ayumi waktu itu, tapi dia mencarinya setelah beberapa Minggu Ayumi kalian rawat, Sisil meminta saya untuk meminta Ayumi kembali dan memberikan pada orang yang lebih berhak. Tapi saya tidak melakukan itu karena saya merasa jika saya mengambil Ayumi maka kalian akan sangat bersedih, maka saya meminta Bu Sumi untuk bersabar hingga waktunya tiba, saya tidak mengizinkannya untuk menemui Ayumi, namun saya memberikan setiap perkembangan Ayumi setiap bulannya, sampai pada waktu dimana Randy membutuhkan seorang ART saya menunjuk Bu Sumi, selain untuk lebih mendekat karena sudah waktunya, tapi beliau juga orang yang bisa dibilang dekat dengan keluarga Randy, dan itu cukup bagus." Jelas Alvaro panjang lebar.
Tutih mematung mendengar itu.
"Saya minta maaf, tapi Bu Sumi tidak seburuk apa yang Bu Tutih kita." Sambung Alvaro.
Dan itu benar-benar membuat Tutih tak bisa bereaksi apapun. Dia melihat ke arah Sumi, wanita itu tersenyum, lalu rasa malu tiba-tiba dia rasakan, membuat dirinya sedikit tidak menyara nyaman duduk di sofa sana.
"Mama tidak mau menceritakannya?" Lagi Ayumi bertanya kepada Sumi.
Namun wanita itu kembali menggelengkan kepala.
"Tapi Ma …"
"Tidak apa-apa, jika Bu Tutih merasa sedikit cemas karena kehadiran saya, … saya minta maaf. Tapi jika Ibu mau saya menjauh, maka katakan kepada Ayumi, dan biarkan dia yang memintanya, maka saya akan melakukan apapun agar putriku kembali bahagia, seperti sebelum dia mengetahui bahwa saya Ibu kandungnya." Tukas Sumi dengan dada yang bergemuruh.
Ucapan itu sontak membuat Ayumi membelalakan mata.
"Tidak mungkin." Ayumi menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sayang, ingat! Kamu sudah berjanji agar tetap tenang." Randy menyentuh tangan istrinya.
"Tenang? Tapi Mama berniat pergi lagi!" Mata Ayumi berkaca-kaca.
Dia menatap Randy seolah sedang memadu dan meminta bantuan agar menahan Sumi agar tidak pergi lagi.
"Tidak, ini hanya perumpamaan." Jelas Sumi.
"Tapi Mama sudah berniat pergi!"
"Tidak akan jika kamu meminta Mama tetap disini."
"Anak Macam apa yang meminta Ibunya untuk pergi! Apa aku kelihatan seburuk itu?" Ayumi mulai terisak.
"Tidak tidak, kamu gadis yang sangat baik. Dan itu hasil didikan kedua orang tuamu, Mama bangga."
"Emmm, … sebaiknya kamu istirahat di kamar yah! Tidak baik jika kamu seperti ini untuk kandunganmu, masuk kamar oke? Ini biar kita yang selesaikan, hanya sedikit kesalahpahaman, dan Om Al akan mengatasi semuanya." Pinta Randy.
Mendengar itu Sisil segera bangkit, dia mendekati Ayumi, seraya meraih tangan wanita muda itu, yang keadaannya terlihat mulai mengkhawatirkan.
"Tante temani. Benar kata Randy, kamu tidak boleh banyak pikiran, tidak seharusnya masalah ini kamu alami, … apalagi kamu sedang hamil … pantas saja Junior bilang dia bertemu dengan mu di salah satu Dokter kandungan, ternyata kamu sudah isi." Sisil tersenyum.
Ayumi masih terus duduk, dia seperti tidak mau bergerak karena takut jika Sumi akan pergi seperti beberapa waktu lalu.
"Aku mau disini saja Tante." Ayumi menengadahkan pandangan, menatap Sisil yang tengah melihatnya dengan sorot mata yang begitu sejuk.
"Ayo Tante temani, jangan sedih seperti ini. Tidak baik, nanti Baby nya ikutan sedih seperti Mama nya." Kata Sisil.
__ADS_1
Ayumi mengalihkan pandangan ke arah Sumi.
"Mama disini." Sumi tersenyum.
"Janji tidak akan pergi seperti kemarin?"
Sumi menimpali dengan anggukan.
Akhirnya Ayumi meraih tangan Sisil, lalu berdiri dan beranjak pergi dari ruangan sana, memasuki sebuah ruangan besar bersama Sisil yang berinisiatif menemani Ayumi yang sedang bersedih.
"Jangan bersedih, Papa nya Nior pasti bisa menyelesaikan kesalah pahaman ini." Kata Sisil seraya menutup ruangan itu.
Sementara Ayumi berjalan lebih dulu ke arah sofa, duduk disana, menatap sebuah kolam ikan kecil tepat di dekat jendela kamarnya.
"Ayumi hamil?" Alvaro bertanya kepada Randy.
"Iya, … usia kandungannya baru saja 3 Minggu."
"Astaga! Keadaannya masih sangat rentan."
"Maaf ini semua karena Ibu." Tutih kembali bersuara.
Dia menatap menantunya dengan tatapan penuh penyesalan.
"Seharusnya ini memang tidak terjadi. Mau Om Al bilang atau tidak kisah awalnya seperti apa, tapi seharusnya ini sudah selesai, karena keadaan memang sudah baik-baik saja, tapi rasa ketakutan Ibu membuat keadaan menjadi sedikit berbeda." Randy menatap ibu mertuanya.
Kemudian beralih pada Sumi yang hanya terdiam menyimak. Wanita itu tidak tahu harus bagaimana menyikapinya.
"Bu Tutih. Maaf jika saya membuat Ibu tidak nyaman, maaf jika saya sudah membuat Ibu merasa jika Ayumi akan memilih saya dan meninggalkan Bu Tutih dengan Pak Ali. Tapi sungguh, tidak ada niatan sedikitpun untuk memiliki Ayumi sendirian, justru awalnya saya berniat menjauh saja dan membiarkan Ayumi bahagia dengan kalian, … tapi saya tidak tahu kenapa tiba-tiba dia datang dan sudah mengetahui keadaan sesungguhnya seperti apa."
"Tidak Bu Sumi. Yang harus meminta maaf itu istri saya, karena sudah dengan lancang menuduh Bu Sumi begitu."
Tutih menundukan kepala.
"Saya rasa bukan lancang, Bu Tutih hanya seorang Ibu yang takut kehilangan putrinya. Jangan khawatir, sungguh saya sudah tidak pernah bertanya apapun lagi kepada Pak Al, dulu memang saya selalu bertanya kapan saya akan mendapatkan hak saya, tapi setelah melihat Ayumi hidup dengan sangat baik, itu sudah sangat cukup."
Randy menatap Sumi dalam diam. Begitu luang hati seorang wanita yang dia ketahui adalah salah satu teman dari ibunya, meski tidak terlalu dekat, tapi kedatangan Sumi ke rumahnya membuat Randy mengirasa jika hubungan Sumi dengan Maria memang benar-benar terjalin sangat baik.
"Untuk itu, saya juga minta maaf." Ucap Alvaro.
"Tidak apa, Pak. Apa yang Bapak lakukan sudah benar, memang saya sempat menginginkan Ayumi. Tapi jika dia tumbuh bersama saya, kasian jika harus mendengar omongan para tetangga tentang keburukan Ibunya."
"Apa Bu Tutih masih mengira jika Bu Sumi seburuk itu?" Tanya Alvaro.
Tutih segera menggelengkan kepala.
"Yang buruk itu saya. Bayangkan saja! Saya melarang seorang Ibu untuk mendekati anaknya, bahkan tak jarang saya memberi ancaman." Alvaro berkata.
Tutih mengangkat pandangan, dia menatap Sumi dengan mata yang sudah memerah, juga di genangi air yang hampir saja tumpah membasahi pipi.
"Maafkan saya, Bu Sumi. Maafkan saya sudah berpikir yang tidak-tidak."
Sumi mengangguk.
"Sebaiknya kita fokus untuk kesembuhan Ayumi. Dia butuh dukungan kita sekarang, dia pejuang Anxiety Disorder, belum lagi kini dia sedang mengandung, ada banyak hal positif yang bisa kita lakukan daripada memikirkan hal yang tidak-tidak."
"Ya ampun, kenapa aku ini!" Tutih terlihat sangat menyesal.
Tutih mulai menangis.
"Apa semuanya sudah jelas? Saya harap tidak ada kesalahpahaman lagi, … sekali lagi saya minta maaf Bu Sumi." Ucap Alvaor lagi.
"Jalannya memang sudah harus seperti ini, Pak. Tidak apa-apa."
"Ma? Boleh minta tolong panggil Bi Dini? Minta buatkan minuman yah, aku mau lihat keadaan Ayumi dulu." Pinta Randy kepada mertuanya.
Sumi mengangguk, lalu dia beranjak ke arah belakang.
"Om, aku tinggal dulu yah! Mau lihat keadaan Ayumi dulu."
"Baiklah."
"Ibu juga tenanglah, Ayumi tidak akan marah."
Setelah mengatakan itu, dan mendapatkan anggukan dari Tutih, dia segera berjalan mendekati pintu kamarnya yang tertutup, menekan handle pintu perlahan kemudian masuk dan membiarkan pintu kamarnya terbuka.
__ADS_1