
Suasana terasa semakin ramai, padahal malam sudah merangkak semakin larut di area resort sana. Selain adanya acara BBQ, kedatangan orang-orang dekorasi juga membuat suasana menjadi semakin riuh, selain gelak tawa Randy bersama ketiga teman dekatnya.
Sementara Ayumi, perempuan itu asik bermain monopoli dengan Una dan Aira, seraya menikmati sosis bakar yang di cocol saus cabai dan mayonaise, sambil terus tertawa-tawa.
Statusnya yang sudah menikah, bahkan saat ini sedang hamil besar, tak membuat Ayumi membatasi apapun yang dia inginkan. Termasuk bermain monopoli dengan kedua sahabatnya, tanpa merasa malu kepada Maria yang kini sedang duduk memperhatikan dari jarak yang cukup dekat.
Wanita itu bahkan ikut tersenyum, saat perempuan dengan perut bulat besar itu terkikik menertawakan salah satu dari temannya yang sudah terlihat kalah.
"Yah, … gue miskin Ay! Nggak real nggak di monopoli. Melarat mulu!" Kata Una sambil tertawa kencang.
"Heh!" Aira menepuk pundaknya.
"Nggak ish, … ini gue lagi ngerosting diri sendiri." Kata Una lagi.
Sementara Aira hanya menggelengkan kepala, saat mendapati tingkah konyol Una yang memang selalu diperlihatkan. Bahkan diantara mereka, orang yang paling santai dan selalu bertingkah konyol adalah Una, sampai ketika gadis itu tidak ada, maka sesuatu akan terasa sangat berbeda.
"Aduh!" Ibu hamil itu mengaduh, tertawa sambil memegangi perutnya, kala janin di dalam sana menendang dengan sangat kencang, seperti sedang memprotes sang ibu karena terlalu banyak tertawa dan bergerak.
"Kenapa?" Maria langsung mendekat.
Ayumi menoleh, menatap raut wajah panik mertuanya dari jarak yang sangat dekat.
"Cuma nendang, Bu. Tapi tendangan jurus halilintar!"
"Ish!" Maria menepuk lengan menantu kesayanganya. "Kamu bikin Ibu takut, Ay!" Sambungnya lagi, seraya beralih mengusap perut Ayumi yang memang sedang berada pergerakan di dalam sana.
Maria diam menatap perut Ayumi sambil terus tersenyum.
"Kalian mau tambah? Cumi dan udang bakar sudah matang!" Sumi datang dari arah luar.
Mereka semua menoleh ke arah suara. Membuat Sumi sedikit kebingungan karena mendapati Maria yang sedang memegangi perut putrinya.
"Ayu kenapa, Bu?" Tiba-tiba saja dia panik.
"Nggak apa-apa, … Ayumi hanya mengeluh saat bayinya menendang sangat kuat."
Sumi menghela nafas, dia meletakan piring besar berisikan cumi dan udang bakar, ikut duduk lalu melakukan hal yang sama seperti Maria, sampai kedua itu itu memegangi perut Ayumi, saling menatap dan tersenyum.
"Aih, … aku lagi main monopoli! Kenapa Mama sama Ibu malah main sama perut aku!"
"Ya main saja, kita sedang menikmati dia menendang-nendang." Kata Sumi.
"Nggak bisa Ma, … kagok!" Cicit Ayumi yang berusaha menyingkirkan kedua ibunya.
Dan setelah dia berhasil. Ayumi kembali melanjutkan permainannya. Membuat Sumi dan Maria menggelengkan kepala, dengan rasa gemas kepada ibu hamil yang masih terlihat seperti anak kecil.
"Saya kembali keluar kalau begitu Bu!" Pamit Sumi.
Wanita itu kembali mendekati suaminya yang tengah asik membolak-balik udang, cumi, dada ayam, sosis dan masih banyak lagi, di bantu Dini yang ikut mengoleskan mentega hasil racikan Maria, hingga bau lezat berpencar kemana-mana.
Suasana di luar Villa terlihat sangat ramai. Beberapa meja dan kursi sudah tertata dengan rapi, begitu juga dengan dekorasi yang mulai terlihat sempurna.
Balon-balon berwarna Lilac terlihat, di tambah warna putih sebagai pelengkap, lalu sebuah tulisan berukuran besar (Baby girl or boy) terpampang jelas.
"Ayumi masih bermain?" Valter menoleh, sampai dia dapat menatap wajah istrinya dengan sangat jelas.
Sumi mengangguk.
"Dia sedang bermain uang, dan rumah-rumah. Bahkan dia tidak mau diganggu saat aku datang, … putrimu terlihat sangat menggemaskan, Valter!" Gumam Sumi.
Setelah itu dia beralih kepada Dini, wanita yang terus berkecimpung di dunia perdapuran.
"Ambilah makanannya. Nasi sudah saya sediakan di dalam, makan setelah itu istirahat!" Titah Sumunkepada asisten rumah putrinya.
"Tapi masih banyak yang harus di bakar, Bu!" Dini berujar.
"Tidak apa-apa, ada saya. Bibi istirahat saja, mungkin besok akan sangat repot."
Dini pun mengangguk. Dia membawa piring, memasukan dada ayam, udang dan bakso bakar kedalam piringannya, lalu berjalan ke arah dalam setelah berpamitan kepada Sumi dan Valter lebih dulu.
Dan tinggal lah mereka berdua. Berdiri di depan sebuah pemanggang berukuran besar. Sumi mengoleskan bumbu, dan Valter yang membolak balik agar matang dengan sempurna.
Valter membawa gunting, memotong-motong dada ayam yang terlihat sudah matang, menusuknya dengan garpu, meniup-niup, kemudian dia berikan kepada Sumi, istrinya.
"Bagaimana?"
"Sudah matang. Ini enak, … kamu mau makan? Aku ambilkan nasi!"
Mendengar itu Valter tertawa.
"Sejak menikah, apa-apa harus pakai nasi yah! Sampai memakan ayam pun aku harus tetap memakannya dengan nasi." Ucap Valter.
"Agar kenyang, dan kamu bisa tidur dengan nyenyak, sayang!" Suara Sumi terdengar pelan.
"Baiklah-baiklah, ambil nasinya dan suapi aku makan. Sementara aku menyelesaikan semuanya oke?"
Sumi tersenyum, dia segera masuk untuk membawa nasi yang Valter minta.
***
Setelah puas bermain monopoli, akhinya Ayumi keluar dari dalam Villa, mendekati suaminya yang sedang berkumpul, dan berbincang-bincang dengan ketiga temannya, yang tidak lain adalah seorang pemain bola ternama di Indonesia, bahkan salah satu dari mereka masuk kedalam Timnas Indonesia.
__ADS_1
"Kita masuk kamar dulu, Ay!" Kata Aira yang tiba-tiba menghentikan langkahnya saat melihat Egy disana.
"Kenapa?" Ayumi mendekat lalu menarik tangan Aira ke arah meja dimana suaminya berada disana.
Terlihat merokok dan meminum sesuatu yang mengandung alkohol.
"Sayang jangan kesini!" Randy memperingati ketika melihat Ayumi mendekat.
"Kenapa?"
"Disini bau asap rokok!"
Ayumi memicingkan mata.
"Haih! Bagas, … Evan? Tolong matikan dulu rokok kalian, Ayumi kesini dan dia tidak boleh menghirup asap rokok secara langsung."
"Mana ada seperti itu. Bahkan bahaya asap rokok masih menempel di pakaianmu, Ran!" Kata Egy, kemudian dia meneguk minumannya.
"Nggak lah!" Katanya sembari menepuk-nepuk pakaian yang dirinya kenakan.
Ayumi segera mendekat, membawa kedua temannya dan duduk bergabung disana.
"Egy. Ayank beb nih datang, gih bawa jalan!"
Ucapan Ayumi itu membuat Aira membelalakan mata.
"Eh nggak, … jangan dengerin Ayumi!" Aira memaksakannya senyumnya.
Egy menatap Aira lekat-lekat. Dia begitu heran dengan sikap gadis yang satu itu, jika semua idolanya selalu bersikap berlebihan, namun tidak dengan Aira, gadis itu cenderung lebih santai, bahkan terlihat malu-malu dan menghindar.
Berbeda dengan sikap Aira yang sedikit terlihat panik karena malu. Una duduk tenang, dengan pembawaannya yang cuek, sampai membuat Evan menatapnya dengan perasaan penasaran.
"Ay?"
"Hemmm?"
"Ini minuman apa?"
Una menatap beberapa kaleng minuman di hadapannya.
"Pak? Saya boleh coba?" Dia beralih kepada Randy.
"Tidak boleh. Jika mau minuman ambil di dalam, ini bukan minuman untuk para gadis." Kata Randy dengan ekspresi wajah datarnya.
"Aih, Bapak pelit!" Celetuk Una.
Dan berhasil membuat semua orang tertawa, terkecuali Aira yang terus terdiam karena merasa gugup saat dirinya ada di dekat Egy.
Si pemain bola yang dia idolakan.
***
Perlahan-lahan Aira mulai terbiasa. Kembali berbicara kepada Egy, seperti waktu dimana Randy dan Ayumi mengadakan resepsi pernikahan.
"Kita duluan ya, Gy!" Pamit Evan juga Bagas bersamaan.
"Kemana?"
"Ke kamar. Kita udah cape banget, perjalan kesini cukup memakan waktu." Jelas Bagas.
Egy pun mengangguk, dia kembali pada Aira dan membicarakan beberapa hal yang tidak terlalu penting, sampai akhinya Una menyenggol lengannya, membuat Aira segera tersadar keberadaan dia bersama mereka.
"Masih mau ngobrol, Ra?"
"Sebentar lagi, kenapa? Udah ngantuk yah!?"
Una menjawab pertanyaan Aira dengan anggukan kepala. Wajahnya sudah terlihat lelah, dengan mata yang juga terlihat sayu, menandakan jika Una benar-benar sudah mengantuk.
"Duluan deh!" Kata Aira.
"Yakin?" Una berusaha meyakinkan.
"He'em. Sebentar lagi aku juga masuk, tapi aku belum ngantuk, Na!"
" Ya sudah!"
Una segera bangkit dari duduknya, kemudian berjalan ke arah bangunan yang terletak di paling ujung, dengan langkah tersayuk-sayuk.
"Jika sudah mengantuk, tidak apa-apa pergilah ke kamarmu!" Kata Egy seraya memberikan senyuman yang sangat manis.
Aira hanya tersenyum.
"Mungkin sebentar lagi! Momen seperti ini sangat jarang, kapan lagi aku bisa berbicara banyak hal bodoh bersama seorang pemain sepak bola ternama." Aira terkekeh.
"Oh ya?"
Aira mengangguk.
"Lalu selama ini kenapa kau menghindar? Entah itu pertemuan di rumah Randy, atau waktu di jalan. Waktu aku di dalam mobil, dan kau berjalan menyusuri trotoar sendirian waktu itu? Kau ingat?"
"Aku ingat." Jawab Aira.
__ADS_1
"Lalu kenapa kau selalu bersikap acuh? Aku memanggilmu karena aku sudah merasa kenal, karena kau teman dari istrinya Randy, yang tidak lain adalah temanku juga."
"Lalu aku harus bagaimana? Senang? Berjingkrak dan melompat-lompat? Itu nggak mungkin, aku tahu posisi aku. Aku hanya seorang penggemar saja!"
Egy menarik oksigen sebanyak mungkin, kemudian menghembuskan nafasnya perlahan-lahan.
"Apa kau sengaja mau membuat aku merasa penasaran?"
Aira menggelengkan kepala.
"Tidak sama sekali. Aku hanya bersikap sebagaimana mestinya saja. Aku dan kamu itu jauh sekali, bagaikan langit dan bumi, jadi aku rasa untuk apa juga terlihat akrab seperti teman."
"Aku merasa kau terlalu banyak mendengarkan ucapan orang lain!"
Aira tertawa.
"Sudah ah! Aku ngantuk, ngobrolnya besok lagi yah!"
Aira segera bangkit, namun panggilan Egy jelas membuatnya kembali berhenti dan menoleh.
"Ada kontak yang bisa saya hubungi?"
"Kontak?"
Egy mengangguk.
"Ada, cuma kadang-kadang aku nggak punya pulsa sama kuota, … jadi nggak bakalan ada gunanya." Aira berbohong.
Gadis itu kembali membalikan badan, melanjutkan perjalannya ke arah kamar yang dia tempati bersama Una. Namun tanpa diduga Egy berlari, dan berhasil menghadangnya.
"Handphone!" Tegas Egy.
"Dih!"
"Mana handphone? Aku pinjam sebentar!" Pria itu terlihat sedikit memaksa.
Awalnya Aira berniat menghiraukan pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Dia begitu menyadari siapa dirinya dan Egy, selain dia tidak mau berharap banyak, dia juga tidak mau merasa paling dekat, hingga suatu saat nanti akan merasakan patah hati jika suatu saat nanti tayangan berita memberitahukan pemain bola itu sedang dekat dengan beberapa wanita. Entah itu model, pemain sinetron, atau seorang putri dari konglomerat, seperti sebelum-sebelumnya.
"Cepat berikan ponselmu."
"Untuk apa? Kita tidak ada kepentingan apapun. Hanya berbincang santai tidak butuh nomor ponsel.
"Astaga Aira, kau ini ada masalah apa denganku!"
"Tidak ada, Egy. Aku hanya mengagumimu, … itu saja."
Egy menghela nafas.
"Aku masuk dulu yah! Besok harus bantuin Ayumi. Kalau aku ngantuk nanti aku salahin kamu, biar kamu yang di marahin Pak Randy!"
Setelah mengatakan itu Aira segera beranjak pergi, berjalan cukup cepat meninggalkan Egy yang masih mematung memperhatikan punggungnya.
Awalnya dia ingin acuh saja. Namun hatinya terus meminta dia untuk mengejar Aira, sampai tanpa Egy sadari kakinya berlari, dan kembali menghadang gadis itu dengan cara menarik pergelangan tangan Aira.
"Ish kenapa deh!" Kata Aira sedikit ketus.
"Hanya nomor ponsel. Siapa tahu aku punya pekerjaan lebih layak daripada seorang OG. Saya bisa menghubungi kamu, … jadi berapa nomor ponselnya? Atau aku yang catat saja nomor ponsel punyaku?"
Aira menatap Egy cukup tajam, menyelami sorot matanya di bawah langit yang temaram, mencoba mencari sebuah kebohongan, tapi dia tidak melihatnya. Sampai harapan dirinya mulai muncul, dimana dia menginginkan sebuah pekerjaan yang lebih baik, agar dapat mengumpulkan uang dan melanjutkan sekolahnya, seperti yang dia harapkan sejak dari awal.
Gadis itu merogoh saku celananya, lalu memberikan benda pipih itu kepada Egy.
"Tulis saja nomor kamu. Nanti saya hubungi jika benar-benar butuh pekerjaan, kalau untuk sekarang aku masih betah kerja di kantor Bu Balqis, dia baik dan tidak banyak menuntut para pekerjanya, termasuk aku."
Egy meraih benda itu. Sebuah ponsel yang terlihat sudah usang. Bahkan retakan-retakan kecil terlihat di layar ponselnya.
"Passwordnya?"
Egy bertanya setelah mendapatkan ponsel itu.
"Sembilan belas enol-enol!" Aira mengeja.
Pria itu menekan beberapa angka yang Aira sebutkan. Dan terbukalah kunci layar handphone milik Aira, yang seketika memperlihatkan seseorang sedang tersenyum dengan seragam kebanggaannya.
Egy mencari fitur kontak di dalam ponsel sana. Kemudian memasukan nomornya setelah dapat menemukan fitur tersebut.
Handphone Egy berbunyi.
"Nah, sudah masuk. Terimakasih, … Aira! Semoga secepatnya aku dapat mengabarkan jika ada pekerjaan yang lebih baik, dengan nominal gaji yang cukup besar." Kata Egy.
Aira meraih ponsel itu, memasukannya kembali pada saku celana, lalu mengangguk.
"Apa aku boleh berharap?"
Egy mengangguk.
"Tentu saja."
"Ah tapi aku takut kecewa, … berharap kepada manusia adalah satu hal yang sangat salah." Aira tersenyum.
"Kalau begitu aku masuk dulu yah! Mau istirahat." Kata Aira yang segera dijawab Egy dengan anggukan kepala.
__ADS_1
Dia segera berbalik badan, lalu berjalan mendekati sebuah bangunan yang Aira tempati bersama salah satu sahabatnya. Di sepanjang jalan Aira mengulum senyum, betapa tidak menyangka nya dia, saat Ayumi menjadi sebuah jembatan untuk dirinya menemukan orang-orang yang tidak Aira sangka-sangka sama sekali.
Banyak hal baik, dan indah ketika Ayumi menikah dengan Randy. Gadis itu benar-benar tidak pernah melupakan siapa dirinya sebelum bersama Randy. Sampai dia ikut menyeret Aira dan Una pada hal-hal baik. Contohnya Aira saat ini, walaupun itu belum pasti, tapi setidaknya masih ada harapan jika dirinya bisa bekerja lebih baik lagi dari hanya sekedar Official girl.