
"Mama mau kemana? Sudah siap-siap begitu?" Ayumi menarik kursi meja makan, kemudian duduk disana, di susul Randy yang tak kalah heran ketika mendapati penampilan Sumi yang terlihat sedikit berbeda dari biasanya.
Sumi tersenyum. Dia meraih piring dan mengisinya dengan nasi, kemudian wanita itu letakan tepat di hadapan anak juga menantunya.
"Hari ini Mama mau pulang dulu. Baik-baik yah, jangan lupa makan nasi, minum susu dan vitamin nya." Sumi berpesan.
Namun ucapan itu sontak membuat Ayumi terdiam seketika. Dia menatap ibunya lekat-lekat, dan itu membuat Sumi kembali tersenyum penuh arti.
"Tiga hari lalu aku beresin kamar kostnya sama Abang. Aku siapin buat Mama kalau-kalau Mama merasa canggung jika tinggal bersama kita. Tapi kenapa malah mau pulang?" Nada suara Ayumi terdengar kesal.
Entah kenapa dia selalu tidak rela jika mendengar kabar Sumi akan kembali pulang, dan tidak lagi bersamanya. Ada sesuatu yang terasa menjadi lengkap setelah kehadiran Sumi, dan itu benar-benar mempengaruhi perasaannya.
"Iya nanti sesekali Mama tinggal disana. Tapi sekarang tidak bisa, Ay. Waktu gadai rumahnya masih berlangsung, jika uang Mama sudah kembali, maka Mama akan tinggal disini bersama Kalian. Untuk sementara waktu, coba hubungi Ibu dan Bapak, siapa tahu juga mereka ingin berkunjung kesini."
"Aku sudah telpon kemarin malam. Tapi Ibu dan Bapak tidak bisa datang, warung di tepi pantai sedang ramai, wisatawan sedang melonjak naik, jadi katanya sayang kalau di tinggalkan begitu saja."
Jelas Ayumi dengan raut wajah murung.
Randy menatap Ayumi, kemudian beralih pada Sumi. Dan kedua nya menatap dalam jangka. Waktu yang cukup lama.
"Hanya Mama yang tidak terlalu sibuk. Ibu sudah tidak datang karena toko kue, sekarang orang tua Ayumi yang sibuk dengan warung tepi pantai, jadi Mama lah harapan Ayumi satu-persatu." Randy tampak memohon.
"Sebenarnya Mama juga malu dengan beberapa tetangga. Padahal Mama berjanji dan menyanggupi permintaan mereka, menjadi buruh cuci gosok, tapi Mama putuskan secara sepihak karena harus kesini. Dan Mama di tunggu lagi, … jadi sekarang benar-benar harus pulang." Sumi mencoba membuat Ayumi juga Randy mengerti.
"Makan dulu, nanti kita bicarakan lagi. Masih ada waktu Mama disini sampai sore." Sumi tersenyum.
Sementara Ayumi terlihat murung.
***
"Nah, tas kerjanya." Ayumi memberikan tas berisikan laptop juga beberapa berkas dari genggamannya.
Randy segera menoleh, meraih tas yang Ayumi berikan, membuka pintu mobil dan menyimpannya disana. Setelah itu Randy beralih kepada Ayumi, dia merentangkan kedua tangan, yang segera Ayumi sambut sampai mereka saling memeluk.
"Sudahlah. Masih ada Bi Dini, … tidak akan terlalu sepi, lagi pula dulu kamu sendiri di rumah sebelum ada Mama dan Bi Dini, pergilah menonton drama yang sangat kamu sukai. Tidak usah bersedih seperti ini!"
"Nggg, … tidak boleh ikut Mama ya? Sekali ini saja, tidak apa-apa sehari dua hari nanti aku pulang sendiri tidak usah kamu jemput." Pinta Ayumi.
Mendengar permintaan istrinya pria itu hanya terdiam.
__ADS_1
"Sayang? Boleh yah. Cuma dua atau tiga hari, sudah itu aku di rumah nggak bakalan rewel, janji." Ayumi memohon.
Perempuan itu berjalan semakin mendekat, melilitkan tangan di pinggang suaminya, berjinjit lalu mencium bibir Randy beberapa kali, membuat Randy seketika mengedarkan pandangan untuk melihat situasi.
Beruntung saja suasana masih sangat sepi, hanya ada satu security yang masih berjaga di pos, dan memfokuskan diri pada buku catatan di hadapannya.
"Boleh ya?" Mata Ayumi berbinar.
"Jangan melakukan itu di tempat umum, di lihat anak kecil akan sangat berbahaya."
Perempuan itu tersenyum.
"Boleh yah?"
Randy memejamkan mata, menghela nafas kencang, kemudian mengarahkan pandangan ke arah istri cantiknya.
"Baiklah, tapi tunggu sampai aku pulang dulu. Aku antar sampai halte bus nanti."
Senyum Ayumi semakin merekah, bahkan dia berjingkrak kegirangan, melompat-lompat beberapa kali, dan batu benar-benar berhenti ketika Randy meraih pinggangnya.
"Jangan melakukan ini juga, berbahaya! Anak kita terguncang di dalam sana, nanti dia pusing, mual, dan muntah."
Ayumi tertawa semakin kencang.
"Nanti sesekali aku jalan ke rumah Ibu. Bantuin jagain toko kue."
"Ya ya ya, terserah saja. Kamu bahagia sekarang?" Tanya Randy, pria itu mengulum senyumnya.
Ayumi mengangguk dengan penuh semangat, bahkan wajahnya memerah saat rasa bahagia menyeruak memenuhi rongga dada.
"Thank you, Daddy."
"It' s okay Babe. Aku harus berangkat, sekarang! Katakan kepada Mamamu tunggu sampai aku pulang, nanti aku antar. Dan untukmu, … siapkan semuanya, pakaian, susu, vitamin dan obat antidepresan yang tidak boleh tertinggal oke?" Randy mengusap kepala Ayumi.
Perempuan itu mengangguk.
Cup!
Randy mencium kening Ayumi, kedua pipi. Dan berakhir di bibir Ayumi, mengecup kan dengan jangka waktu yang sedikit lama.
__ADS_1
Bugh!
Ayumi memukul dada suaminya ketika ciuman itu terlepas.
"Kata Abang nggak boleh di ruangan terbuka, bahaya kalau anak-anak lihat."
"Tidak apa-apa, aku rasa suasananya masih sangat sepi." Randy tersenyum.
"Ya sudah, cepat berangkat nanti kamu terlambat."
Randy mengangguk, dia berjalan memutari mobil, segera masuk hingga suara dentuman mesin mobil mulai terdengar.
Ayumi mundur beberapa langkah, bibirnya terus tersenyum, dengan telapak tangan yang terus melambai-lambaikan.
"Daddy berangkat, oke?" Ucap Randy setelah membuka kaca mobil sebelah kiri.
"Iya."
Mobil Lexus abu-abu itu mulai bergerak mundur dengan sangat perlahan, keluar dari garasi, berbelok dan melesat setelah memasuki jalan utama.
Pandangan Ayumi terus tertuju kepada mobil suaminya, bahkan tanpa dia sadari kedua tangan mengusap perut, seolah memberitahukan jika sang ayah dari jabang bayi miliknya sudah benar-benar pergi bekerja.
***
Sore harinya Ayumi terlihat begitu antusias. Menyiapkan segala keperluannya, meletakan di atas tempat tidur, dibantu Sumi menata ke dalam tas berukuran besar.
"Sudah cukup, jika kekurangan baju nanti bisa pakai punya Mama dulu, Ay!" Kata Sumi, yang seketika menghentikan aktifitasnya.
"Empat baju cukup?"
"Cukup, memangnya berapa lama kamu akan di rumah Mama? Randy tidak akan mengizinkan jika terlalu lama." Sumi tersenyum ke arah anaknya.
Ayumi mengangguk, dia segera menutup pintu lemari pakaiannya, dan berjalan ke arah sang ibu yang sedang duduk di tepi ranjang.
"Tinggal aku siapin susu hamil, sama obat dan vitamin."
Sumi segera menutup tas milik Ayumi. Setelah itu dia berdiri, dan membawanya ke arah luar kamar, untuk kemudian Sumi letakan di atas sofa ruang tengah, bersama tas besar miliknya.
......................
__ADS_1
...Guys guys guys ......
...Othor mau bilang terimakasi, untuk semua dukungan yang kalian lakukan. Like, komen, vote, hadiah. Asli itu bikin Othor seneng. Pokonya Aylopyou :*...