My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Perasaan antara anak dan ibu kandung


__ADS_3

“Hey, sayang. Apa kabar?” Wajah sumringah Sumi memenuhi layar handphone, ketika sambungan video call nya langsung terhubung.


Ayumi tersenyum, dia tidak langsung menjawab.


“Ahh kalau begitu Mama tahu kalau kamu sedang dalam keadaan baik.” Sumi berujar kembali, disertai kekehan pelan, yang seketika membuat Ayumi ikut tertawa.


“Aku juga tahu, sekarang keadaan Mama semakin baik. Hhhh tentu saja, kalau tidak aku omelin Papa habis-habisan!”


“I hear it!”


Suara Valter terdengar, dan tidak lama setelah itu dia sedikit mengintip layar handphone, sehingga Ayumi dapat melihat wajah tampan Ayahnya yang baru saja mendekat.


“Oh, hai Papa?” Sapa Ayumi sambil tertawa-tawa.


“Ada kabar apa? Wajah kamu sumringah sekali. Apa Raizel mendapatkan nilai yang bagus? Dan menjadi murid teladan di sekolahnya? Oh atau mungkin dia sudah tidak rewel ya?” Sumi memberikan banyak pertanyaan.


Karena sedikit merasa heran dengan sikap Ayumi, yang tampak terus menahan senyum, dengan raut wajah berbinar.


“El masih tetap seperti itu. Manjanya minta ampun, terus pemikirannya juga sedang kritis, apa saja ditanyakan, dan terus saja berbicara kalau belum mendapatkan jawaban yang menurutnya puas. Tapi tidak apa-apa, aku senang melihat El seperti itu, karena tandanya dia sehat bukan. Tapi aku punya kabar yang lebih membahagiakan.” Jelas Ayumi dengan wajah berbinar.


Membuat Valter juga Sumi diam dan saling menatap satu sama lain, dengan rasa penasarannya.


“Jangan main tebak-tebakan sama Mama, Ay!”


Ayumi tergelak saat melihat raut wajah kesal ibu kandungnya.


“Habisnya Mama sama Papa sudah dihubungi, padahal aku mau ngasih tau sesuatu dari beberapa hari lalu.”


“Sesuatu apa?” Valter mulai membiasakan diri berbicara bahasa Indonesia, meskipun belum terlalu fasih. Baik dalam pengucapan, maupun aksen yang dia miliki.


“Raizel mau punya adik.”


Dan ucapan itu membuat Valter juga Sumi terdiam. Raut wajah keduanya berubahnya, dengan mulut menganga sedikit terbuka, dan tidak percaya.


“Kamu sedang berbohong?” Sumi memicingkan mata.


“Memangnya aku kelihatan lagi bohong ya? Ahahah!”


“Hemm, … kamu tahu? Terkadang sikap iseng kamu itu mirip Raizel, ah atau Raizel yang mirip kamu ya?!” Sumi masih tidak percaya.


Ayumi tidak langsung bicara lagi, dia menikmati pemandangan di dalam layar handphonenya, dimana Sumi dan Valter tampak berbicara, berbisik dan sedikit menerka-nerka.


Tidak pernah dia bayangkan, kini dirinya hidup dikelilingi orang-orang yang sangat mencintainya. Ali, Tutih, Maria, Randy. Dan sekarang bertambah Valter juga Sumi, yang sama sekali tidak pernah terbesit jika dirinya terlahir dari wanita lain. Hidup sederhana, dibesarkan oleh orang tua yang sangat luar biasa, lalu kecelakaan di masa kecilnya, yang membuat Ayumi hidup dengan pen di dalam tulang kaki untuk seumur hidup. Lalu setelah itu munculah sosok yang akan menjadi seorang asisten rumah tangga, yang tidak lain dan tidak bukan adalah awal terbukanya semua rahasia yang sudah lama ditutup-tutupi.


“Benar Raizel akan memiliki adik, Ay?” Sumi bertanya lagi, hanya sekedar untuk meyakinkan.


Ayumi pun mengangguk.


“Dan yang lebih menyenangkan adalah, … sepertinya di kehamilan sekarang ngidam aku nggak terlalu parah. Aku hanya mengalami mual di waktu-waktu tertentu, tidak seperti saat mengandung Raizel, aku selalu merasakan sangat mual hampir di setiap detiknya.”


Sumi tersenyum, kemudian dia menyeka sudut matanya.


“Syukurlah, semoga kalian semua sehat.” Wanita itu tampak sangat terharu.


“Oh ayolah, aku sedang tidak mau menangis sekarang. Jadi stop, ini kabar bahagia.” Ujar Ayumi.

__ADS_1


“Mama bahagia sayang, sama sekali tidak sedih.”


Valter terlihat mengulum senyum, lalu dia merangkul pundak istrinya, dan memberikan tepukan pelan.


“We will have another grandchild.” Kata Valter, yang di balas anggukan oleh Sumi.


“Lalu kemana El dan ayahnya? Kenapa kamu menyendiri sekarang?” Sumi lanjut bertanya.


“Ada, sedang menonton cartoon di luar. Aku disini hanya ingin merebahkan diri, … tidak tahu kenapa, rasanya nyaman sekali kalau diam disini.”


Sumi tersenyum tipis, menimbulkan perasaan sejuk di hati Ayumi.


“Mama?”


“Iya, Ay?”


“Mama kapan kesini? Kayaknya aku lagi mau di peluk Mama.”


Akhirnya, setelah menahan rasa rindu dalam waktu yang tidak sebentar. Ayumi pun mengungkapkan hal tersebut kepada ibunya.


Sumi diam dengan perasaannya.


“Mama? Aku kangen Mama.”


“Sementara ini usaha Papa mu disini sedang bagus, sayang. Tidak bisa kami tinggal, apalagi Papa suka memantaunya secara langsung.”


Ayumi menghela nafasnya.


“Untuk sementara ada Bu Maria, Bu Tutih sama Pak Ali juga, Ay. Kalau sudah waktunya Mama pasti datang lagi.”


“Sama saja sayang. Apalagi Bu Tutih itu yang membesarkan kamu, … kalian hidup selama balasan tahu. Tidak akan ada yang berbeda!” Sumi tampak memperlihatkan gelagat yang berbeda.


Dia bahkan berkali-kali menghindari kontak mata dengan Ayumi. Menatap area sekelilingnya, dan berusaha untuk tidak peduli. Namun, tentu saja Ayumi menyadari apa yang sedang terjadi, dan mungkin saja sesuatu sedikit menggores perasaannya.


“Papa?” Ayumi beralih kepada pria yang sedari tadi terus menyimak.


“Yes, darling?”


“Apa terjadi sesuatu kepada Mama?”


Valter diam, lalu menatap wajah istrinya, ketika kurang memahami apa yang Ayumi katakan.


“Tidak ada, Ay!”


“Tidak, Mama bohong.” Ayumi dengan raut wajah serius.


“Mama dan Papa hanya tidak memiliki waktu, Ay. Mungkin kamu saja nanti yang berlibur kesini.” Sumi tersenyum.


Akan tetapi itu tidak cukup untuk membuat rasa curiga Ayumi mereda. Perempuan itu yakin jika sesuatu sedang ada dalam pikiran Sumi, sehingga membuat wanita itu enggan menampakan kaki di rumah suaminya.


“Apa ini masih tentang, Ibu?”


Sumi menggelengkan kepala.


“Ayumi harus tahu rasa khawatirmu, sayang.” Valter berbicara dalam bahasa Jerman kepada Sumi.

__ADS_1


“Tidak boleh.” Tegas Sumi kepada suaminya.


“Sudah jelas kalian menyembunyikan sesuatu. Dan aku yakin ini semua ada sangkut pautnya dengan Ibu. Aku tahu Ibu selalu bersikap kurang baik kepada Mama, menganggap seolah Mama ingin kembali merebut aku, bahkan mungkin merasa sudah membuat perhatian aku hanya tertuju kepada Mama. Tapi satu yang harus Mama ingat, disini masih ada aku, Abang, El dan Bu Maria yang akan dengan sangat baik menerima Mama. Bahkan Bapak saja selalu menentang apa yang Ibu lakukan, … tapi aku tidak bisa meminta Ibu untuk tetap bersikap seperti biasa, aku tahu kecemburuan ini pasti akan terjadi, … jadi aku mohon Mama tetaplah seperti biasa, Mama tidak merebut aku dari siapapun. Maaf jika perlakukan Ibu membuat Mama tersinggung, tapi itu di luar kendali aku sama Abang.”


Sumi bungkam.


“Aku tahu ini tidak mudah. Mama sudah mengalami sikap buruk dari orang-orang bahkan sejak aku lahir. Dan sekarang Mama harus mengalami kebencian dari Ibu asuh aku, … tapi sungguh, aku terus mengharapkan Mama disini. Tidak peduli berapa banyak orang berbicara kalau aku anak yang tidak tahu terimakasih. Tapi kalian ini orang tua aku, aku harus tetap menjalin hubungan baik dengan Mama juga Ibu. Jika Ibu tidak suka kepada Mama hanya karena perhatian aku selalu lebih menonjol kepada Mama, … memangnya siapa yang bisa mengatur perasaan? Aku hanya ingin mempunyai banyak waktu dengan Mama dan Papa, itu saja tanpa ingin mengurangi sedikitpun rasa hormat aku sama Bapak dan Ibu.”


“Tidak sayang, tidak begitu.” Suku berusaha menjelaskan.


Namun, tampaknya Ayumi sedikit merasa kecewa, sehingga dia menggeser tombol berwarna merah, yang seketika membuat sambungan Video keduanya terputus.


Brak!!


Ayumi meletakkan handphonenya di atas nakas cukup kencang. Membuat Randy yang baru saja masuk kedalam ruangan sana sedikit merasa terkejut.


“Hey? Kenapa?” Pria itu menutup pintu kamarnya, lalu berjalan mendekati Ayumi.


Tidak ada jawaban sedikitpun, selain Isak tangis yang tiba-tiba terdengar.


Randy duduk di tepi ranjang, membungkuk, lalu memeluk istrinya dari belakang.


“Ada sesuatu?”


Ayumi masih tidak menjawab, dan akhirnya Randy memilih untuk membiarkan Ayumi menangis. Setidaknya itu akan mengurangi perasaan yang mungkin mengganjal di dalam hati.


Randy memeluk Ayumi dengan sangat erat, mengusap rambut, menciumi pipi, dan terus berusaha agar bisa membuat Ayumi merasa lebih baik.


Klek!!


Pintu kamar terbuka, dan muncul Raizel dari balik sana. Raut wajah gadis kecil itu seketika berubah, apalagi saat melihat Randy sedang memeluk Ayumi, rasa cemburu tiba-tiba saja memenuhi dirinya.


“Aaaaaa, … Daddy bohong! Katanya sayang aku juga, tapi malah main peluk-pelukan sama Mommy, sementara aku ditinggalin nonton tv sendiri.” Rengek Raizel.


Lalu dia keluar, dan membanting pintu kamar kedua orang tuanya sangat kencang.


“Tidak, El …” Randy bingung.


“Omay, Daddy sama Mommy peluk-pelukan terus!” Raizel terdengar mengadu.


“Mungkin Mommy sedang merasa tidak enak badan, El tahu sendiri beberapa hari lalu Mommy kerumah sakit kan? Mungkin Mommy tidak enak badan lagi.” Maria terdengar menjelaskan.


Sementara dua orang di dalam sana saling beradu pandangan, dengan pikiran masing-masing.


“Ah anak kamu tuh.” Ayumi menggerutu.


Randy terkekeh.


“Anak kamu juga.” Katanya, lalu mendaratkan ciuman di kepala Ayumi.


“Saingan aku anak sendiri, … masa begini saja …”


“Shutttt, sudahlah. Raizel kan memang begitu. Mau se posesif apapun dia sama aku, tapi dia tetap mencintaimu, kau tahu? Beberapa kali dia menyalakan aku, dengan tuduhan aku tidak menjaga ibunya dengan baik.”


Lalu mereka tertawa bersama.

__ADS_1


Ayumi mengusap pipinya yang basah, berbalik badan, lalu menyurukkan wajah di dada bidang Randy, yang seketika memberikan rasa yang begitu nyaman.


__ADS_2