
Valter merasakan hatinya begitu ngilu, melihat Sumi yang berusaha menahan suara tangisannya mati-matian. Wanita itu terus mengatur nafasnya, namun tetap saja air mata terus berjatuhan.
"Jangan pernah menahannya, menangislah. Manusia membutuhkan itu agar beban di dalam hatimu lenyap." Valter menatap Sumi yang terus mengusap pipi dengan ujung lengan baju hangatnya.
Dia mengangguk, kemudian menoleh dan menatap Valter.
"Aku tidak tahu harus apa, … tapi jika butuh bahu untuk bersandar, maka …"
Belum selesai Valter berbicara. Sumi beringsut mendekat, dan memeluk pria di sampingnya dengan sangat erat, menenggelamkan wajah di dada bidangnya, berusaha meredam tangisan yang kembali pecah.
"Sekarang aku benar-benar tidak sanggup." Ucap Sumi di sela tangisan yang begitu memilukan.
Perasaannya tak pernah berubah. Wanita itulah yang selalu memenuhi pikiran juga relung hati yang paling dalam. Bahkan ketika dia sudah memilih untuk menikah, dan hidup dengan Susi, Valter tetap tak dapat menggantikan posisi Sumi, wanita itu memiliki tempat yang begitu spesial, sampai siapapun tidak dapat menggantikan posisinya.
Awalnya sempat ragu, dia hanya berani mengusap-usap pundak Sumi. Namun akhirnya dia kalah, hatinya terus berkata jika harus memeluk Sumi, dan itu terjadi begitu saja, tanpa sebuah penolakan sedikit pun.
***
Ayumi menghentikan langkahnya, membuat Randy melakukan hal yang sama, namun sepertinya pria itu belum menyadari apa yang terjadi tidak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.
"Ada apa?" Randy bertanya.
Tapi Ayumi tidak menjawab, sampai membuat pria itu mengikuti kemana istrinya mengunci pandangan.
Randy menajamkan penglihatannya. Mencoba mencari tahu siapa yang duduk di kursi kayu sana dengan keadaan saling memeluk satu sama lain.
"Itu, … Mama dan Om Valter!" Kata Ayumi dengan suara pelan.
Randy kembali mengalihkan pandangan kepada istrinya.
"Ma …"
Ayumi hampir saja berteriak untuk memanggil. Namun dengan cepat Randy membekap mulut istrinya, dan menarik sampai mereka sedikit lebih berjarak.
"Jangan. Biarkan mereka menyelesaikan urusannya!" Kata Randy.
Pria itu menyingkirkan tangan dari mulut sang istri.
Ayumi diam menatap suaminya. Kemudian beralih menatap Sumi yang sedang memeluk Valter, membenamkan wajah di dada bidang pria asing itu, yang tidak lain adalah ayahnya sendiri.
"Mereka …"
"Ya, biarkan mereka seperti itu. Mungkin banyak kesalahpahaman yang harus mereka selesaikan, atau bahkan mereka mencoba berdamai demi dirimu, demi buah cintanya yang sudah kembali hadir. Mungkin akan terasa berbeda bagimu karena tumbuh tidak bersama mereka, tapi percayalah perasaan mereka seperti orang tua lain, … yang ingin memberikan hal terbaik untuk anaknya! Untuk kamu, … putri mereka." Randy menatap manik Ayumi yang terus bergerak-gerak ketika Randy menjelaskan sesuatu kepadanya.
Hati Ayumi mencelos, memang rasanya sedikit aneh. Bukan, mungkin maksudnya canggung, dan perasaannya tentu berbeda.
Ada semacam dinding pembatas yang begitu besar, sampai Ayumi tidak bisa menjadi dekat seperti dirinya kepada Ali.
"Mau kesana?"
__ADS_1
"Hah?"
"Mau kesana? Pergilah aku menunggu disini, temui orang tua kandungmu, … berikan apapun yang seharusnya mereka rasakan agar tidak terus merasa sedih karena kekosongan hatinya."
Randy tersenyum, sambil mengusap pipi Ayumi dengan sangat lembut.
"Tidak apa-apa kamu disini?" Ayumi meyakinkan.
"Aku disini, menunggu kalian sampai selesai."
Randy memundurkan tubuhnya, kemudian duduk di salah satu kursi yang juga tersedia disana. Pertama-tama Ayumi kembali mendekat, mencium pipi Randy, dan segera beranjak.
Dengan langkah cepat Ayumi berlari ke arah dimana Valter dan Sumi berada. Perasaannya tentu saja berdebar-debar, bahkan sampai beberapa kali menoleh ke arah sang suami, tapi akhirnya dia kembali mendekat setelah Randy terus menggerakkan tangan, mengisyaratkan untuk tidak mengubah pikirannya karena merasa sedikit ragu.
Ayumi berhenti tepat di samping Valter. Membuat pria itu menoleh, dan tersentak karena terkejut.
"Kamu disini?" Valter bertanya, raut wajahnya bingung.
Sumi mengangkat pandangan, hendak melepaskan pelukannya. Namu Ayumi segera menghambur, sampai mereka bertiga kembali berpelukan.
"Oh, God!" Valter menghembuskan nafasnya yang terasa begitu berat.
Ayumi ikut menangis, bahkan lebih kencang saat mereka baru saja bertemu kemarin malam, membuat Valter pun ikut menangis. Bukan tangisan kesedihan, tapi kebahagiaan yang tak bisa Valter ungkapkan oleh kata-kata.
"Aku mencintai kalian. Ingat itu! Aku mencintai kalian apapun keadaannya! Aku memang tumbuh besar dengan ayah dan ibu, tapi cintaku kepada kalian sama besarnya." Ayumi meracau.
"Maaf karena tidak bisa memberikanmu hidup yang baik." Valter mencium kening Ayumi.
Bagaimana bisa. Dia menemukan sosok dirinya juga Sumi, dalam versi yang lebih baik.
"Mama jangan sedih. Aku sudah bilang ada aku disini dan jangan pernah merasa sendiri."
Sumi tidak menjawab, dia hanya semakin mengeratkan pelukannya.
"Kalian membuat pagi hariku menjadi sedikit buruk. Aku keluar untuk berburu sunrise, … tapi malah menangis seperti ini!"
Ayumi terkekeh, lalu mengusap pipinya yang basah setelah melepaskan diri dari dekapan kedua orang tuanya.
"Kami tidak bermaksud." Balas Valter ikut tersenyum.
Hal yang membuat Ayumi lagi-lagi bungkam, karena pria itu memiliki senyuman yang begitu sama dengan dirinya.
"Apa ada sesuatu?"
Valter menggelengkan kepala.
"Kami hanya berbincang, namun tiba-tiba saja seperti ini." Kini Sumi menjawab.
"Benar?"
__ADS_1
"Iya, … dengan siapa kamu kemari? Ibu hamil sudah berkeliaran sepagi ini!"
Ayumi menunjukan pandangan ke arah lain, dimana Randy berada menatapnya sambil tersenyum. Valter dan Sumi saling menatap, ketika menyadari keberadaan Randy disana.
"Apa yang kalian bicarakan sampai berakhir menangis seperti ini."
"Your Mom misses his family." Kata Valter.
Ayumi yang sedikit mengerti bahasa Inggris, dapat memahami apa yang Valter katakan.
"Mama mau ke Jerman?'
Namun pertanyaan itu membuat Sumi terkekeh.
"Kamu ini! Uang dari mana? Mama tidak mampu, bahkan untuk hidup sehari-hari saja sulit jika tidak kamu bantu."
"Ada Papa yang bisa biayain!" Celetuk Ayumi. "Iyakan Pah?"
"What!?"
"Money, Mama tidak punya uang tapi mau ke Jerman."
"Ay kamu ngaco!"
"Tidak tidak!" Valter menggelengkan kepala. "Bukan yang itu, kata sebelumnya."
Ayumi diam, dia tidak mengerti.
"Kamu memanggil aku apa tadi?"
"Papa!"
Valter tersenyum.
"You call me Papa? Bukan Om seperti kemarin malam?"
"Oh, mau Ayumi panggil Om saja?"
"No no no! Only Papa. Sekarang panggil itu, Papa suka. Papa benar-benar merasa memiliki anak sekarang." Ucap Valter sambil terus tersenyum.
"Ran, kemarilah! Untuk apa menunggu disana." Panggil Sumi.
Pria yang di maksud mengangguk, dan beranjak mendekat.
"Abang! Mama mau ke Jerman tapi tidak punya uang."
"Heh! Mama tidak bilang begitu." Wanita itu menyangkal.
"Ah Papa tidak peka. Kalau Mama bilang begitu berarti mau di bawa ke Jerman Pah! Bawa saja, aku mengizinkan tapi jangan lama-lama."
__ADS_1
Sumi menepuk lengan putrinya, sementara Randy tersenyum melihat kegugupan Sumi yang terlihat begitu jelas.
"Wanna go?" Akhirnya Valter bertanya kepada Sumi secara langsung.