My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 119 (Sebuah kabar)


__ADS_3

Sumi menegakkan tubuhnya, menatap ranjang tidur berukuran besar yang baru saja dia rapikan. Setelah itu dia mengemasi barang bawaan, dan keluar dari kamar tamu yang Sumi huni beberapa malam.


Wanita itu berjalan ke arah teras depan, dimana Maria terlihat sedang menyiram bunga-bunga kesayangannya.


"Pantas saja anggreknya terlihat begitu sehat, mereka disiram setiap pagi." Ucap Sumi yang seketika membuat Maria menoleh.


Wanita itu tersenyum, lalu meletakan Gembor dan berjalan mendekati Sumi yang kini duduk di kursi kayu.


"Benar mau pulang hari ini? Tidak menginap lagi? Tambah satu atau dua malam lagi lah!" Cerca Maria dengan beberapa pertanyaan.


Sumi tersenyum samar, lalu menggelengkan kepalanya.


"Rumah sudah terlalu lama saya tinggal." Sumi beralasan.


"Padahal saya senang, ada teman mengobrol setiap hari." Ujar Maria.


"Mungkin kapan-kapan saya berkunjung, Bu."


Maria mengangguk, kemudian menoleh dan menatap Sumi lekat-lekat. Dia memang terlihat sumringah, namun tatapannya seolah memberitahukan sesuatu tangan perasaan di dalam hatinya. Terlebih wanita itu terlihat lebih pendiam, sepulangnya dari rumah kedua orang tua Ayumi.


"Bu Sumi mau ke kota?"


"Tidak, Bu."


"Jika rindu Ayumi, maka temui saja. Atau tinggal bersama mereka. Setidaknya ada yang menemani Ayumi saat dia menjalani kehamilan mudanya."


Sumi mengulum senyum, lalu menundukan kepala. Dan terdengarlah helaan nafas yang begitu panjang, seolah sedang membuang sesuatu yang mengganggu perasaannya.


"Ada sesuatu? Bu Sumi boleh berbagi cerita dengan saya jika ada yang mengganjal di dalam hati!"


Sumi tidak langsung menjawab, dia hanya terus menundukan kepala, sambil memainkan jemarinya.


"Bu? Ada sesuatu? Sepertinya ada hal yang membuat Bu Sumi seperti ini. Kenapa?" Maria terus mendesak.


"Emmmm, … saya pikir … sepertinya saya harus sedikit menjaga jarak dengan Ayumi! Bu Maria pasti merasakan apa yang saya rasakan, bagaimana reaksi Bu Tutih kepada saya kemarin, dia terlihat tidak menyukai saya, mungkin tidak ada yang menyadari, tapi saya tahu betul, mungkin Bu Tutih merasa takut jika saya akan membuat Ayumi melupakan ibu asuhnya."


Maria mendengarkan dalam diam. Dengan ingatan yang mulai tertarik mundur, dan benar. Maria baru sadar saat ini, dimana Tutih tidak seceria biasanya, setelah mengetahui Ayumi pergi secara diam-diam untuk menemui wanita yang sudah melahirkannya.


"Ini memang tidak mudah. Hanya saja jangan seperti itu, … bagaimana dengan Ayumi? Dia pasti sedih jika Ibunya menjauhi dia tanpa sebuah alasan yang jelas."


"Tapi saya jadi merasa bersalah. Saya merasa sudah membuat hubungan Ayumi dan Bu Tutih sedikit berbeda." Ujar Sumi dengan raut wajah sendu.


Maria mengusap punggung wanita yang sepuluh tahun lebih muda darinya dengan sangat perlahan.


"Tetaplah seperti sekarang. Perlahan keadaan akan kembali seperti semula, semua orang hanya sedang terkejut, … Om nya Ayumi memberitahukan ini dengan tiba-tiba, setelah itu Ayumi mendengar setiap penjelasan tanpa sengaja, jadi wajar saja jika kita semua sedang terkejut saat ini."


Sumi mengangguk.


"Kita seorang ibu, kita juga sama-sama berjuang untuk anak kita … meski jalan yang tuhan tentukan memang benar-benar berbeda! Tapi tetaplah kuat untuk Ayumi, jangan merasa berkecil hati, saya memang tidak tahu jelas masa lalu kalian seperti apa, hanya saja saya yakin, ada satu hal yang tidak bisa Bu Sumi jelaskan kepada saya."


Sumi mengangguk lagi.


"Kalau begitu, saya izin pamit sekarang. Sepertinya ada rumah yang ingin saya kunjungi!"


"Baiklah. Temui Ayumi kapanpun Bu Sumi mau, dan jika merasa kesepian di rumah sana, maka datang kesini dan temani saya."


"Baik, Bu Maria terimakasih … mari."


Sumi segera bangkit, kemudian beranjak pergi meninggalkan kediaman Maria, berjalan menuju arah lain untuk mendatangi rumah masa kecilnya yang sudah lama dia tinggalkan, dan dibiarkan terbengkalai begitu saja, mengubur semua kenangan, entah itu baik ataupun buruk.


***

__ADS_1


Tidak perlu memakan waktu lama. Akhirnya Sumi sampai di halaman rumah terdahulunya, dia menatap dengan mata berkaca-kaca.


Rumah berukuran cukup besar, yang kini benar-benar sudah usang dan terlihat beberapa kerusakan parah di setiap sudut. Belum lagi rumput-rumput liar yang tubuh dimana-mana, membuat bangunan itu terkesan sangat menakutkan.


Begitu banyak kenangan di dalamnya. Sebuah keluarga yang begitu hangat, solid dalam segala hal, tapi porak poranda, hancur tanpa sisa, dan itu karena ulahnya.


Dia kembali menyalahkan dirinya sendiri.


Ya, semua berasal darinya. Jika dia bisa bersabar menunggu Valter, maka hubungannya dengan Bayu tidak akan pernah ada, mereka akan bahagia tanpa harus menghancurkan apapun.


Dan karena rasa kecewa Valter terhadap Sumi, pria itu memutuskan menikahi kakak perempuan dari wanita itu, berusaha membalas rasa sakit dengan hal yang lebih pedih.


Namun, hal yang tidak diduga justru terjadi. Mereka belum benar-benar bisa melupakan cinta satu sama lain, sampai hubungan gelap pun terjadi, meski itu terjadi karena sebuah paksaan, lagi dan lagi Sumi menunjuknya karena tidak bisa berusaha mencegah semuanya agar tidak terjadi.


Kau memang bodoh!


Batinnya berteriak.


Sumi memejamkan mata, berusaha mengusir ingatan yang terus membuat hatinya sakit.


"Oh ayolah, ini bahkan sudah 20 tahun berlalu. Tapi kenapa setiap menatap rumah ini rasanya sangat sesak." Sumi mengusap kedua pipinya yang basah, kemudian melangkahkan kaki, mendekati pintu yang tertutup dengan sangat rapat.


Tanpa kunci, tanpa gembok atau pengaman apapun, rumah itu dia tinggalkan, tapi isi di dalamnya tetap utuh, tidak ada seorangpun yang berusaha membawa sesuatu di dalamnya, karena memang tidak ada barang-barang berharga.


Sumi masuk, menatap ruangan yang sudah terlihat begitu kotor. Kerusakan dimana-mana, juga dipenuhi debu yang begitu tebal.


Kakinya melangkah ke arah salah satu ruangan yang dulu dia jadikan sebagai kamar tidurnya, dia masuk, dan tidak ada yang berubah satu pun.


Sumi duduk di tepi ranjang tua, membuka sebuah laci kecil. Dan berapa heran nya dia saat mendapati beberapa amplop berwarna coklat, dan entah siapa yang menyimpannya disana.


Keningnya berkerut kencang.


"Apa ini? Siapa yang masuk dan menyimpan beberapa amplop di dalam laci?"


Satu lembar kertas Ayumi buka tanpa menaruh curiga, menatap sebuah tulisan tangan yang begitu rapih, namun terlihat sudah sedikit pudar.


Sumi membaca setiap catatan yang tertulis dengan hati bergetar.


Sebuah kata penyesalan, juga permohonan maaf dari setiap nama yang tertulis.


"Untuk apa dia mencariku? Huh? Untuk apa?" Sumi langsung menutupnya, kemudian kembali memasukan benda itu tanpa membaca isi surat yang lain.


"Bagus, setelah apa yang kalian lakukan, kalian mulai membuka komunikasi, meski itu hanya melalui sepucuk surat, tapi aku sudah tidak mau terhubung dengan kalian, tali kekeluargaan kita sudah terputus, lalu untuk apa ini semua."


Sumi segera bergegas, meninggalkan rumah itu dengan perasaan yang tidak menentu. Sedih, kecewa, juga marah yang lebih mendominasi.


"Tidak! Biarkan mereka hidup dengan rasa bersalah yang begitu besar. Tuhan maha adil, dan aku meminta keadilan itu sekarang, jangan pertemukan aku dengan mereka, … aku mohon jangan membuat mereka kembali kesini!" Gumam Sumi sambil terus berjalan.


Bahkan kakinya langkah lebih cepat, raut wajah terlihat seperti orang ketakutan, membuat beberapa orang yang Sumi lewati terheran-heran dengan keadaan wanita itu.


"Neng?" Seorang pria paruh baya menyapanya.


"Eh, Pak RT." Sumi tersenyum samar.


"Habis dari rumah?"


Sumi diam, dia bingung harus menjawab apa.


"Sekitar 3 bulan yang lalu ada yang datang ke rumah saya. Dia terkejut dengan keadaan rumah yang kosong juga rusak parah, sempat mencari alamat Neng Sumi. Tapi sesuai permintaan neng Sumi kepada saya, saya bilang saya tidak tahu."


"Terimakasih, Pak RT."

__ADS_1


"Sudah lihat surat yang dia tinggalkan?"


"Siapa?"


"Den Valter, siapa lagi. Dia yang datang dan meninggalkan empat surat di rumah itu, … saya tidak tahu pasti apa isinya, atau dimana dia menyimpannya, tapi dia bilang jika Neng Sumi kembali sudah pasti akan menemukan surat itu, … jadi sudah menemukan surat itu?"


Sumi menggelengkan kepala.


"Saya pulang dari rumah Bu Maria, tidak dari rumah Ayah dan Ibu. Saya tidak tahu dan tidak mau tahu. Jika dia datang lagi, atau menghubungi Pak RT via manapun, saya mohon untuk memberitahunya jika Sumi sudah meninggal dunia."


Pria tersebut mematung, menatap Sumi dengan mata membulat sempurna.


"Tidak boleh ngomong sembarangan, Neng."


"Maaf, Pak. Tapi saya benar-benar tidak mau di ganggu mereka lagi, saya sudah berdamai sekarang, saya juga sudah melewati masa-masa yang sangat sulit, dimana semua warga menuduh saya yang tidak-tidak."


"Kasian Neng, Valter sampai menginap tiga malam di rumah saya, dia menunggu Neng Sumi datang, dia datang kesini untuk memberi kabar."


"Tapi saya mohon jangan beri tahu."


"Sebaiknya kita berbicara soal ini di rumah saya saja. Biar istri saya yang menjelaskan, sepertinya wanita harus berbicara dengan wanita."


"Tapi …"


"Sudah sudah, mari mampir ke rumah sebentar." Sergahnya, dan dia melangkah terlebih dulu.


Tanpa ada pilihan Sumi mengikuti kemana pria itu melangkah, berjalan pelan di belakang pria yang Sumi ketahui sudah menjadi ketua RT selama satu tahun belakangan.


"Bu! Kita kedatangan tamu." Pria itu berteriak cukup kencang, setelah membukakan pintu rumahnya.


Seorang wanita segera berlari dari arah dalam, dia tersenyum saat mendapati Sumi berdiri di ambang pintu.


"Bu, Nur? Apa kabar?" Tanya Sumi pada Wanita yang juga sempat mengulurkan tangan di saat yang paling sulit.


Wanita itu tidak langsung menjawab, dia memegangi kedua lengan Sumi, menatap wanita itu dari ujung rambut hingga kaki, dengan tatapan tidak percaya.


Setelah Sumi meninggalkan desa itu, dan lebih memilih tinggal di desa sebelah, membuat keduanya sangat jarang bertemu, bahkan hampir tidak pernah karena Sumi yang memiliki kesibukan, seperti menjadi pegawai panggilan dari satu kota ke kota lain.


Ya, perempuan itu seperti sedang berusaha pergi dan bersembunyi dari siapapun.


"Tubuhmu kurus sekali!"


Sumi hanya tersenyum saat mendengar itu.


"Ada banyak yang harus kami bicarakan. Kami sempat mendatangi rumahmu, tapi tetangga setempat mengatakan jika kamu bekerja di kota!"


"Kapan Ibu ke rumah? Saya bekerja ke kota belum lama."


"Dua Minggu yang lalu."


"Oh, kalau itu memang saya sudah bekerja, setelah lama menjadi seorang pengangguran." Ucap Sumi sambil tersenyum.


"Ibu pikir kamu masih terima cuci gosok warga setempat."


Dia membawa Sumi masuk, lalu mempersilahkannya untuk duduk di sofa ruangan tamu.


"Emmm … saya mencari penghasilan yang lebih besar." Jawab Sumi bohong.


Karena tidak mungkin dia mengatakan jika dia pergi ke kota hanya untuk menemui putri kandungnya, yang sudah dia tunggu hingga 20 tahun, dan kesempatan itu datang secara tiba-tiba.


"Ibu buatkan minum dulu, setelah itu Ibu akan berbicara serius."

__ADS_1


Wanita itu segera bangkit, beranjak melangkahkan kaki ke arah dapur, meninggalkan Sumi sendiri, dengan perasaan was-was. Takut jika pria itu akan datang lagi tanpa dia duga, dan membuat semuanya semakin rumit.


__ADS_2