
"Selamat siang, apa benar ini kediaman Bapak Randy Danendra?" Seorang wanita bertanya sembari tersenyum ramah kepada Tutih yang tampak membukakan pintu setelah bell berbunyi beberapa kali.
Wanita paruh baya itu mengangguk, membuka pintu rumah menantunya semakin lebar, seraya mempersilahkan wanita cantik nan elegan itu untuk masuk.
"Silahkan masuk, saya panggilkan dulu." Tutih mempersilahkan, dia ikut tersenyum untuk membalas senyuman ramah wanita di hadapannya.
Wanita itu mengangguk, lalu melangkah masuk dan duduk di sofa besar yang tersedia. Sementara Tutih berjalan ke arah pintu kamar, mengetuknya beberapa kali sambil memanggil-manggil menantunya yang sedari tadi terus berada di dalam kamarnya bersama Ayumi.
Klek!
Ayumi membukakan pintu.
"Iya, Bu?"
"Ay, suami kamu mana? Ada tamu di depan."
"Ada, sedang menerima telepon dari Pak Raga." Jelas Ayumi.
"Ya sudah, nanti suruh kedepan." Ujar Tutih yang langsung di jawab anggukan oleh Ayumi.
Gadis itu mundur, kembali menutup pintu kamarnya, lalu berjalan ke arah Randy yang sedang duduk di atas sofa. Dia menengadahkan pandangan, menatap Ayumi setelah selesai mengakhiri telepon dari atasannya, Raga.
"Kata Ibu di depan ada tamu."
"Sudah datang?"
"Mungkin, makanya Ibu ngetuk pintu sampai beberapa kali."
Randy bangkit, mencium pipi Ayumi secara tiba-tiba, kemduain menghambur keluar kamar, untuk menemui seseorang yang sudah membuat janji dengannya.
Dia berjalan pelan, menuju ruang tamu dengan kedua tangan yang Randy sembunyikan di saku celananya.
"Selamat siang, Pak." Wanita itu berdiri.
"Siang, … silahkan duduk." Randy mempersilahkan.
"Terimakasih."
Wanita itu kembali duduk, begitupun dengan Randy.
"Bagaimana, Pak? Mau saya ukur sekarang? Atau Bapak masih mau bertanya seputar gaun yang kemarin di pilih dan setelah tuxedo yang akan Bapak kenakan?"
"Oh, kalau begitu mari. Mereka sedang ada di taman belakang." Randy bangkit, dia memutar tubuh.
Namun langkahnya terhenti saat mendapati Tutih membawa sebuah nampan dan bebrapa botol minuman di atasnya.
"Ibu kenapa repot-repot? Padahal biar aku saja nanti yang ambil."
"Sekalian." Tutih tersenyum. "Mau kemana lagi? Ini Ibu sudah bawakan minum untuk Mbak nya!"
Randy mengambil alih nampan itu.
"Ayo kebelakang, Bu. Kita ukur untuk kebaya nanti."
Tutih mengangguk, dia tersenyum kepada menantunya. Bagaimana tidak, dia benar-benar tidak membiarkan siapapun kesusahan.
__ADS_1
Mereka berjalan ke arah taman belakang, dimana sudah ada Ayumi yang terlihat berbicang bersama ayahnya, sementara Maria tengah asih mengurus bunga-bunga di dalam pot berukuran sedang yang sempat dia beli beberapa bulan lalu.
"Hari ini ada pengukuran untuk kebaya, dan setelah tuxedo untuk Bapak." Jelas Randy seraya meletakan nampan itu di atas meja kaca yang tersedia.
Ali, Maria dan Ayumi mengangguk.
"Apa hanya kita?" Maria heran.
"Ya, … yang lain kita berikan bahannya saja, biar mereka yang menentukan mau seperti apa desainnya.
Maria mengangguk, lalu duduk tepat di samping wanita dengan tampilan elegan itu. Pertama dia melakukan pengukuran untuk Maria, kemudian beralih kepada Tutih, dan setelah itu Ali.
"Baik, ukurannya sudah saya dapatkan." Jelasnya, dia mulai mencatat.
Lalu dia membuka tasnya, dan mengeluarkan sebuah buku, dengan gambar sekaligu contoh potongan bahan.
"Silahkan, untuk bahan dan warnanya bisa di rundingkan terlebih dahulu." Dia memberikan bukunya kepada Maria, yang langsung dia bawa mendekati besannya.
"Lihat, kebaya apa yang mau kita pakai nanti?" Ucap Maria.
Dengan sangat antusias Tutih mendekat, dan ikut melihat-lihat, sementara Ayumi, Randy dan Ali terlihat lebih santai.
"Bapak tidak mau pilih warna?" Ayumi menatap ayahnya.
"Emmm, … Bapak mah gimana Ibu-ibu saja! Nanti di sesuaikan." Ali tersenyum.
Ayumi mengangguk, lalu dia menoleh ke arah suaminya.
"Kamu telpon Bi Sumi gih! Kasian kalau nanti nggak kebagian kebayanya." Pinta Ayumi.
"Nanti aku telpon, oke?" Dia berkata dengan suara yang begitu lembut.
Membuat wanita yang berada duduk dihadapannya menatap kagum keduanya. Sikap dingin Randy, raut wajahnya yang sangat tidak ramah, namun dia berubah menjadi pria yang sangat manis kepada istrinya.
Dan setelah memilih, nerundingkan warna kebaya yang akan dua wanita paruh baya itu kenakan, akhirnya mereka menjatuhkan kepada satu pilihan warna.
"Sudah?" Perempuan itu bertanya kepada Tutih juga Maria.
"Ya, untuk atasan kami mau yang ini … dan untuk bawahannya batik yang ini!" Kata Maria, seraya menunjuk sampel bahan.
"Desainya?"
"Tidak tahu. Kami serahkan kepada ahlinya saja, tolong buatkan kami kebaya yang sangat bagus."
"Bapaknya? Untuk setelannya mau yang makan?"
"Ah, saya juga serahkan kepada ahlinya saja." Jelas Ali yang langsung membuat Ayumi tertawa kencang.
Dia merasa lucu dengan sikap ayahnya yang begitu pasrah.
***
Tuuutttt ….
Randy melakukan sambungan telepon, di temani Ayumi yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Tidak di angkat." Kata Randy sambil memperlihatkan layar ponselnya.
Ayumi diam.
"Coba sekali lagi!"
Randy menghela nafas, ini sudah kesekian kalinya dia mencoba menghubungi Sumi, namun wanita itu tak kunjung menerima telepon darinya.
"Tidak di angkat sayang!" Dia kembali memperlihatkan layar ponselnya kepada Ayumi.
Raut wajahnya terlihat kecewa. Entah kenapa, dia merasakan ada yang hilang dari bagian tubuhnya, sampai dia merasa cemas saat Sumi menghilang begitu saja tanpa sepengetahuan dirinya.
"Lagian kenapa Bi Sumi pergi sih! Kan jadi nggak kebagian kebaya nantinya, … terus nggak bisa hadirin resepsi kita!" Ayumi kembali berujar.
Membuat Randy menatap istrinya lekat-lekat, dengan pikiran yang mulai menerka-nerka.
Apa sekuat itu buhungan antara batin Ibu dan anak? Sampai Ayumi merasakan begitu takut jika Sumi tidak bisa merasakan kebahagiaannya? Bahkan saat dia belum tahu sosok Sumi itu siapa.
"Abang?" Panggil Ayumi, dia menepuk lengan suaminya. "Dih malah ngelamun, … makanya jangan keseringan bikin anak, cape kan? Sama aku juga." Kata Ayumi kencang.
Dan itu membuat Randy panik, sampai mengarahkan telunjuk di depan bibirnya, takut jika akan ada yang mendengar.
"Nanti mereka dengan, Ay!" Dia menatap sekeliling ruang tengah yang tampak kosong.
"Ah sudah pasti denger, … pura-pura nggak denger aja mereka. Memangnya kamu pikir mereka tuli? Semalam sampai tadi pagi kamu lupa aku bagaimana?" Ayumi mengingatkan.
Randy diam, dia mulai berpikir.
"Nanti aku pasang peredam suaralah. Agar aku bisa puas mendengar kamu teriak-teriak." Bisik Randy.
Ayumi mengangguk setuju.
"Lagian cara kamu membungkam aku itu sedikit tidak nyaman, sudah di hajar terus susah nafas pula." Kata Ayumi yang tak memelankan suaranya sedikitpun.
"Astaga!" Randy mengusap wajahnya.
"Kenapa?"
"Kamu mulai membuat aku frustasi." Tukas Randy.
Ayumi hanya tersenyum.
"Katanya malam ini mau ajak aku jalan!"
Ayumi menunjuk wajah suaminya yang terlihat memerah, dengan senyum penuh arti terus dia perlihatkan.
"Abang? Aku mau makan Japanese food."
"Baiklah, Ibu Negara. Cepat kerahkan pasukan, segeralah bersiap-siap, malam ini kita bawa para orang tua jalan-jalan."
Ayumi langsung bangkit, dia tersenyum sumringah, lalu berlari mencari Ali, Tutih dan Maria, untuk meminta mereka segera bersiap-siap.
"Ya, selain kamu, … yang ada di dalam pikiranya adalah makanan. Dan itu lebih baik dari pada pria lain yang dia pikirkan." Randy bermonolog.
Dia ikut bangkit, lalu berjalan memasuki kamarnya, untuk segera mempersiapkan diri.
__ADS_1