My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 13 (Rencana kencan)


__ADS_3

Sekitar pukul sepuluh siang, Ayumi menuruni sebuah bus yang selalu dia tumpangi saat akan pulang ke kampung halamannya yang bisa di bilang cukup jauh dari pusat kota.


Setelah itu dia menaiki angkutan umum, trasnportasi terakhir yang bisa mengantarkan dirinya sampai rumah.


Dan disanalah dia. Berdiri di depan pintu rumah yang tertutup dengan sangat rapat.


Klek!!


Tutih membukakan pintu rumah, saat beberapa ketukan bergitu jelas terdengar di telinga.


Tutih tersenyum, ketika pandangan mereka bertemu.


"Ayu pulang!" Gadis itu langsung menghambur kedalam pelukan ibunya.


"Ibu kira kamu tidak jadi pulang! siang sekali kamu sampai rumah." Ujar Tutih seraya mengusap-usap punggung putri bungsunya.


"Hemmm, ... ini hari Sabtu, Ayu harus kerja dulu setengah hari, Bu." Ayumi melepaskan dekapannya, sampai dua wanita berbeda usia itu dapat kembali saling memandang.


"Ibu kira sekarang Minggu."


Tutih mengusap kepala Ayumi, lalu pipi, dan terakhir menyelipkan beberapa rambut kepada daun telinga putrinya.


Betapa dia sangat merindukan Ayumi. Sosok gadis manja yang saat ini sudah menjadi mandiri, bahkan dia bisa mengandalkan gadis itu hingga hidupnya bisa lebih baik dari pada sebelum-sebelumnya.


Kecelakaan dimasa lalu, yang membuat kaki Ayumi kecil patah. Juga penyakit Tumberkulosis yang ia derita, membuat Tutih dan Ali memiliki hutang piutang yang cukup besar agar tetap bisa membuat Ayumi sehat seperti gadis normal lainnya. Tapi betapa beruntungnya mereka, kini hutang itu hanya tersisa sedikit, dan semua itu berkat kerja keras Ayumi yang mengorbankan segala cita-cita nya hanya untuk mengabdi kepada kedua orang tua.


"Ibu nangis?" Ayumi mengusap pipi Tutih, saat tiba-tiba saja air mata turun membasahi pipi.


Tutih hanya tersenyum.


"Ibu lupa mengajak mu masuk, padahal kamu tidak bisa berdiri lama yah!" Katanya, lalu menarik Ayumi masuk kedalam sebuah ruangan sederhana rumah masa kecilnya.


Ayumi tidak menjawab, dia hanya berjalan mengikuti kemana Tutih membawa tangannya, hingga wanita tua itu berhenti, dan mendorong pelan pundak Ayumi sampai gadis itu duduk di atas sofa yang terlihat masih terlihat baru.


Tentu saja, Ayumi pula yang mengganti sofa usang itu dengan sebuah sofa baru.


"Bapak dimana? nggak tau aku mau pulang yah?" Tanya Ayumi.


"Di warung kopi. Tahu kok, tapi kata Bapak dia akan pulang nanti sore saat warung kopi tutup."


Ayumi mengangguk.


"Mau minum? akan Ibu buatkan, kamu mau apa?"


"Tidak usah, Ibu duduk disini saja! aku lelah, aku ingin tidur diatas pangkuan Ibu."

__ADS_1


"Tidak mau minum terlebih dahulu? Ibu tahu kamu pasti haus, perjalanan dari kota kesini dua jam lho!"


Ayumi menggelengkan kepalanya.


"Ibu kira sudah mandiri tidak akan manja lagi, ... tapi tetap saja yah." Ujar Tutih.


"Kalo sama Ibu aku suka merasa masih kecil." Ayumi menjawab.


Wanita itu berjalan mendekat, duduk di samping Ayumi, membiarkan gadis itu berbaring diatas pangkuannya.


Pangkuan ternyaman yang seorang ibu miliki.


"Bang Amar masih seperti dulu, Bu?"


Mendengar pertanyaan itu, Tutih hanya tersenyum tipis. Namun raut wajahnya menyiratkan banyak kesedihan.


"Bu?" Ayumi menengadahkan pandangan.


"Kalau sekarang tidak terlalu parah."


Ya tidak terlalu parah, dia hanya memaki Bapak dan Ibu, tidak dengan kamu. Dan Ibu tidak akan membiarkan Amar terus menyakiti kamu.


Batin Tutih berbicara.


Tutih tak lagi bisa berkata-kata. Dia jelas kecewa kepada anak laki-laki nya itu, sosok yang harusnya dapat melindungi Ayumi selainn dia dan sang suami, justru selalu membuat Ayumi terluka, entah itu karena ucapan atau serangan fisik dari Amar.


"Kamu jangan khawatir lagi soal itu." Tutih mengulas senyum, dengan tangan yang tak hentinya mengusap-usap kepala Ayumi.


Gadis itu memiringkan tubuh, memeluk pinggang sang ibu dengan sangat erat, seraya memejamkan mata saat rasa kantuk tiba-tiba saja menyapa.


***


Waktu terus bergulir. Teriknya cahaya matahari mulai meredup, hamparan langit luas biru mulai berubah warna menjadi hijau, berhiaskan siluet kuning keemasan yang terlihat begitu mempesona, hingga membuat siapapun yang melihatnya berdecak kagum atas apa yang telah Tuhan ciptakan.


Seperti halnya Randy. Pria itu berdiri menghadap kaca besar di ruangannya. Memuji keindahan langit dengan perasaan yang terus terasa berbunga-bunga. Apalagi saat bayangan wajah Ayumi yang sedang tersenyum melintas, membuat dia ingin segera pulang dan menemui gadis pujaannya.


Cukup lama Randy menikmati pemandangan itu, akhirnya dia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Sabarlah, lima belas menit lagi kita akan bertemu." Randy tersenyum.


Dia kembali kearah meja kerjanya, duduk, lalu menggeser beberapa berkas yang harus segera di serahkan kepada Raga untuk pria itu tanda tangani.


Randy meraih ponsel yang sedari tadi terletak di meja sana. Mencari nomor Ayumi untuk memberi kabar setelah seharian dia mengabaikan gadis kesayanganya itu.


[Kamu tidak mengirimkan pesan, apa kamu tidak merindukan saya, Ayumi Kirana!?]

__ADS_1


Randy kembali tersenyum, saat pesan itu terkirim.


"Aih, dia sudah benar-benar mengubah dunia ku. Aku merasa seperti orang gila, tersenyum-senyum sendiri seperti ini." Dia terkekeh, lalu meletakan kembali ponsel miliknya.


Namun tak lama setelah itu ponsel miliknya kembali bergatar, menandakan sebuah pesan kembali masuk kedalam benda pipih itu.


Randy kembali tersenyum, saat mengira pesan itu berasal dari Ayumi, tapi perlahan senyumnya surut saat nama Raga yang tertera di layar ponsel sana.


[Kau masih di kantor?]


Randy menghela nafas.


"Yang benar saja. Kenapa dia masih bertanya, sementara aku sudah menunggu dia dari tadi." Pria itu bermonolog dengan nada yang terdengar sedikit kesal.


[Saya masih menunggu Bapak, ada tiga dokumen lagi yang harus Bapak tanda tangani.]


Balas Randy.


[Dokumen apa? tidak bisa besok? selesai pertandingan anak-anak saya langsung pulang, saya lelah.]


Randy menghela nafasnya lagi, dia merasa kesal. Entah karena ungkapan Raga atau hal lain yang membuatnya tidak bisa pulang cepat untuk menemui sang kekasih hati.


[Surat kontrak dari beberapa sponsor baru.]


[Besok saja oke?]


"Coba katakan itu dari tadi, agar aku bisa pulang dengan cepat." Dia menggerutu, dengan jari yang terus berkutik diatas layar ponsel.


[Baiklah, kalau begitu saya pulang juga Pak.]


[Ya pulang saja. Dan jangan lupa untuk segera mencari gadis agar tidak menjadi ABG tua.]


Seketika mata Randy membulat sempurna saat membaca isi pesan dari atasnnya itu.


"Senang sekali dia mengatai ku seperti itu!"


Randy bangkit dari duduknya, merapihkan meja kerja, dan membawa barang-barang miliknya lalu keluar dari ruangan tersebut.


Sambil berjalan dia kembali memeriksakan pesan yang dia kirimkan kepada Ayumi. Tidak ada tanda-tandan jika pesan itu di baca, bahkan gadis itu terlihat aktif lima jam yang lalu.


"Ini yang sibuk siapa? kamu atau saya?" Randy semakin kesal.


Tentu saja, rasa rindunya tak terbalaskan. Itu jelas akan membuat perasaan Randy sedikit campur aduk.


"Tidak usah di balas, aku sendiri yang akan pergi ke kamar kost mu. Kamu pasti sudah pulang bukan? ayok kita habiskan malam Minggu ini dengan berkencan." Randy terus berbicara sendiri, dengan raut wajah yang juga terlihat berseri-seri.

__ADS_1


Tadi kesel, sekarang senyum-senyum. Kata readers :)


__ADS_2