
Setelah selesai fitting, melihat-lihat hotel yang akan mereka jadikan tempat untuk acara resepsi pernikahan keduanya yang sempat tertunda, bertemu orang-orang dekorasi, akhirnya kini mereka pulang, pada hampir pukul empat sore hari.
Langit biru dengan siluet kuning keemasan, di tambah awan-awan putih yang begitu cantik terlihat di setiap titik, cahaya matahari yang mulai meredup dengan perlahan, membuat siapapun yang melihatnya berdecak kagum, memuji yang mahakuasa dengan segala nikmatnya.
Randy menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, fokus berkendara. Sementara Ayumi tampak tertidur tanpa terganggu sedikitpun.
Posisi kursi yang dibuat senyaman mungkin, tak lupa dengan tali seat belt yang melilit dengan sempurna, rambut panjang yang Ayumi biarkan terurai, ekspresi wajah polos juga begitu terlihat tenang dan menggemaskan, membuat perasaan Randy menghangat lagi dan lagi.
Seulas senyum terbit, lalu tangan kirinya terangkat, dan mengusap kepala Ayumi dengan sangat perlahan, takut jika istrinya akan terbangun.
Dan setelah mengarungi jalanan kota yang selalu padat, terjebak macet di beberapa titik, akhirnya mobil yang Randy dan Ayumi tumpangi berbelok memasuki garasi rumah yang bisa dibilang cukup besar.
Randy melepaskan sabuk pengamannya, lalu mengubah posisi duduknya menghadap Ayumi yang masih betah terlelap dengan posisi yang sama.
"Hey!" Panggil Randy dengan sangat lembut, seraya mengusap pipi Ayumi dengan punggung tangannya.
"Ay? Bangunlah. Kita sudah sampai, … atau mau aku gendong saja?" Ucapnya sambil menahan senyum.
Merasa ada sesuatu yang hangat menyentuh pipinya, mata Ayumi mengerjap, mencoba membuka mata meski rasa kantuk begitu mendominasi.
"Bangunlah!" Panggil Randy lagi.
"Kita dimana?" Suara Ayumi terdengar begitu berat.
"Kita di Mars." Tukas pria itu penuh candaan.
"Ah masa!" Ayumi merenggangkan otot-otot tubuhnya, lalu mengubah posisi menjadi duduk.
Menatap sekitar dengan raut wajah yang terlihat begitu serius.
"Kita di rumah." Ucap Ayumi dengan santainya, dia menoleh dan mendapati Randy yang tengah tersenyum.
Pria itu lagi-lagi merasa gemas.
"Baiklah ayo turun, aku lelah." Kata Randy.
Ayumi mengangguk, dan setelah itu keduanya turun, berjalan ke arah pintu masuk rumah yang terlihat terbuka dengan sangat lebar.
"Nah ini dia sang tuan rumah!" Maria datang menyambut, membuat Ayumi mematung tidak percaya.
__ADS_1
"Hah, … Ibu dan Bapak juga datang?" Cicit Ayumi saat kedua orang tuanya datang menyusul Maria.
Mereka hanya tersenyum, dan dengan segera Ayumi berlari, lalu memeluk tubuh Tutih dan Ali bergantian, sementara Randy dan Maria hanya tersenyum menatap pemandangan penuh haru itu.
"Aku kangen." Rengek Ayumi.
"Ya, kami juga." Ali mengusap kepala anak perempuannya yang dia besarkan sepenuh hati.
Ayumi mengurai pelukannya, lalu menatap mereka bergantian, dengan raut wajah berbinar.
"Benarkah? Tapi kenapa kalian tidak datang kesini? Untung ada Bu Sumi, … jadi aku nggak kesepian di rumah sebesar ini!"
"Ah kamu sudah besar, sebelum disini kamu tinggal di kamar kost sendiri juga." Tutih mencubit pipi anaknya.
Perempuan itu tersenyum.
"Bang Amar masih belum pulang?" Kemudian Ayumi bertanya.
Ali juga Tutiha diam, saling melempar pandangan satu sama lain, seolah mencari sebuah jawaban yang tepat, tanpa harus menyakiti perasaan Ayumi.
"Emmm, …"
Pria itu mengalihkan topik pembicaraan, saat mengetahui bagaimana Amar yang sampai saat ini masih menolak Ayumi, tentu saja. Apa yang dia tidak tahu, karena semua ada dalam pengawasannya.
seorang Randy Danendra tidak boleh lengah bukan? Dia Asisten kepercayaan Raga Biantara, mana mungkin dia memanglingkan penglihatannya, tanpa seseorang yang dia tunjuk untuk terus memberikan informasi agar semuanya berjalan sebagaimana mestinya.
"Duh, aku juga sampe lupa. Padahal Ibu ada di depan, kok aku malah peluk Bapak sama Ibu duluan yah!" Dia menggaruk kepalanya, lalu berjalan mendekat dan memeluk Maria tak kalah eratnya.
"Kalian boleh bersenang-senang, aku mau istirahat dulu." Pamit Randy.
"Mau aku temani?" Ayumi terlihat sedikit menggoda suaminya.
"Tidak usah, aku tahu kamu sedang rindu Bapak dan Ibu, maka berbincanglah dengan mereka sampai merasa puas, karena aku tidak akan mengizinkan kamu tidur dengan mereka malam ini, kamu milik aku jadi puas-puasin dulu sekarang." Kata Randy, membuat para orang tua tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku mau tidur dulu, jika ada apa-apa minta Ayumi untuk membangunkan aku." Pamit Randy, dia mendekati pintu kamar, menekan handle, lalu mendorong benda itu sampai terbuka dengan sangat lebar.
Sementara Ayumi mengikuti Maria, Ali dan Tutih yang kini berjalan melewati pintu taman belakang. Tak hentinya Ayumi memeluk tangan Tutih, bahkan dia membuat kepalanya bersandar di bahu wanita paruh baya itu.
Membuat sepasang mata yang mengintip dari arah belakang berkaca-kaca, dengan hati yang terasa di remas.
__ADS_1
Betapa sangat ingin dia mendekati Ayumi, memeluk perempuan itu dengan segenap cinta yang dia punya, hanya saja dia tidak mampu melakukan itu, larangan juga ancaman terpampang jelas di depan mata, dan jika satu langkah saja dia melakukan kesalahan, dia melanggar, maka selamanya dia akan dijauhkan dari Ayumi, sosok bayi yang sempat dia cari-cari dulu.
"Ini sudah lebih cukup! Kau tidak usah meminta lebih, Sumi!" Ucap wanita itu kepada dirinya sendiri.
***
Sementara di dalam kamar sana.
Randy mulai menaiki tempat tidur, setelah membasuh muka, tangan dan kaki terlebih dulu. Pria itu menata beberapa bantal, lalu berbaring terlentang, menatap lurus ke arah langit-langit kamar, dengan satu lengan dia letakan di atas kepala.
Dia menghirup udara sebanyak mungkin, lalu menghembuskannya perlahan.
Bayang-bayang kejadian itu kembali teringat. Sebisa mungkin Randy melupakannya, menutup rahasia ini rapat-rapat, tapi bukannya merasa tenang, dia justru merasa semakin bersalah.
Kepada Ayumi, juga kedua orang tuanya, belum lagi sang ibu yang akan kecewa jika dia tahu dengan kejadian sepuluh tahun silam.
"Astaga harus bagaimana aku menyelesaikan masalah yang satu ini." Ucap Randy pelan.
"Memang sebaiknya aku berkata jujur. Meminta maaf atas kesalahan terdahulu dengan benar." Ucapnya lagi dengan raut wajah gelisah.
Tapi apakah Ayumi akan menerima dia setelah ini? Setelah kejadian itu? Mungkin tidak apa-apa jika Randy hanya mematahkan tulang kaki kirinya, Ayumi cukup pemaaf bukan? Tapi yang dia hadapi adalah rasa sakit yang sangat luar biasa dari apa yang sudah Ayumi alami dari perlakuan buruk saudara-saudara nya, termasuk perubahan sikap Amar, yang menyalahkannya mengambil kasih sayang Tutih dan Ali, setelah kecelakaan itu terjadi.
Tali persaudaraan yang hancur hanya karena hutang piutang, belum lagi membuat Tutih dan Ali terlilit hutang kepada seorang rentenir hanya untuk biaya operasi yang begitu besar.
Ayumi yang harus berhenti sekolah hanya untuk bekerja dan membantu membangkitkan ekonomi keluarga, setelah Ali mendapat ancaman dari rentenir tersebut karena angsuran yang terus menunggak.
"Ah betapa bodohnya aku. Mungkin jika dulu aku bertanggung jawab, makan kejadiannya tidak akan serumit ini!" Suara pria itu terdengar lirih.
Dia merutuki dirinya sendiri.
"Dan kenapa anak itu adalah Ayumi? Kenapa bukan orang lain saja? Aku harus terlilit benar kusut seperti ini sekarang?" Randy menyapu wajahnya kasar.
Itulah jalan Tuhan. Sejauh apapun kamu pergi menghindari masalah, tidak akan berhasil jika Tuhan berkata tidak.
Beberapa orang berkata ini adalah sebuah kebetulan, tapi apakah kalian pernah berpikir? Bahwa hubungan yang terjalin saat ini adalah cara Tuhan agar Randy bisa bertanggung jawab atas hidup Ayumi, hidup yang sempat hancur, dan meminta Randy memberikan hidup yang lebih indah untuk istrinya.
Hati kecilnya berbicara.
......................
__ADS_1
Uy silent readers! kalian ini kenapa deh? jangan silent-silent amatlah, kasih komen sama like biar notifikasi masuk, othor di kasih like sama komen udah seneng banget padahal, apalagi di sawer, beuh bukan main :)