My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 66 (Good girl)


__ADS_3

Randy memasuki rumahnya pada hampir pukul enam sore. Pandangannya mengedar, mencari sosok yang kini mulai mengganggu pikirannya hampir setiap saat, bahkan perasaan itu terus muncul, saat rasa ingin pulang tiba-tiba saja terasa, padahal sebelumnya dia tidak begini, rumah adalah hal yang paling membosankan selama dia tinggal sendiri, tapi kali ini berbeda ketika gadis cantik bernama Ayumi masuk ke dalam hidupnya.


Dan disanalah istri cantiknya, duduk di sofa besar ruang tengah, memeluk bantal kecil. Ayumi menoleh sekilas saat menyadari kedatangan suaminya, kemudian mendelikan mata, dan kembali fokus pada drama kesukaannya.


Cih! Jam tiga katanya. Ayumi mengumpat.


Randy meletakkan kunci mobil diatas meja sana, juga beberapa barang yang tak pernah terlewatkan saat dia hendak bekerja, lalu duduk di samping Ayumi, perempuan yang terlihat lebih segar, dan menimbulkan bau wangi seperti bayi.


Pria itu sedikit mengendus, juga mengerutkan dahi dalam waktu bersamaan, ini hampir kesekian kalinya Ayumi berbau minyak telon yang sangat menyengat.


Meski sangat aneh, namun Randy jelas menyukainya.


"Kamu masuk angin?" Randy berusaha menarik perhatian Ayumi, istrinya yang terus bungkam.


Sepertinya dia merajuk.


"Ay?" Randy menggeser dirinya agar lebih merapat.


Namun perempuan itu tetap diam, fokus ke arah televisi, dengan bibir yang tampak sedikit mengerucut.


"Sayang!?"


Cup!


Randy mencium pipi Ayumi kencang, sampai membuat kepalanya bergerak ke samping cukup kencang.


Plak!


Refleks Ayumi menampar pipi suaminya.


Ayumi terkejut sampai matanya membulat dengan mulut menganga, begitupun dengan Randy, dia mematung seraya memegangi pipinya yang terasa sedikit memanas.


"Abang, aku nggak sengaja." Dia mengusap pipi suaminya.


Randy bungkam.


"Jangan tatap aku kaya gitulah! Aku takut." Kata Ayumi sambil terus mengusap-usap pipi Randy.


Pria itu tetap diam, dengan sorot mata yang terus mengikuti pergerakan Ayumi, dan itu terasa sangat menakutkan.


Ayumi meraup wajah Randy, menariknya dan mencium seluruh wajah pria itu dengan kecupan basah.


"Nah, pasti sudah sembuh." Ayumi tersenyum, berusaha mengusir rasa gugup, saat pria di hadapannya terus menatapnya tajam.


"Baru sehari kita menikah, … dan kamu sudah berani memukulku terus menerus? Bahkan saat luka cakaran ini belum membaik, sampai aku menjadi pusat perhatian tadi." Randy dengan suara rendahnya.


Dia menggigit bibirnya kencang, matanya bergerak-gerak, menelusuri wajah tegas milik suaminya yang begitu mempesona, meski baru saja menyelesaikan beberapa aktivitas padat pada hari ini.


"Aku nggak sengaja, itu cuma refleks … Abang!" Ayumi merengek.


Randy menggelengkan kepala, meraup tubuh Ayumi dengan sekali gerakan, dan membawanya masuk kedalam kamar, membuat Ayumi melilitkan kedua tangan di leher suaminya karena takut terjatuh.


Brak!


Randy menggunakan kaki untuk melempar pintu kamarnya.


Brugh!


Dengan entengnya dia melemparkan tubuh Ayumi keatas tempat tidur. Setelah itu dia berjalan ke arah ujung kamar miliknya, dan menarik gorden tebal sampai membentang, menutup kaca ruangan itu.

__ADS_1


Ayumi tak bereaksi apapun. Otaknya tiba-tiba saja terasa kosong, dia hanya mampu mengikuti kemana pun Randy bergerak, sehingga kini dia berada di bawah Kungkungan tubuh kekar suaminya.


Randy tersenyum, kemudian membukukan tubuh untuk meraih bibir Ayumi.


Perempuan itu masih diam, benar-benar membiarkan Randy melakukan apa saja yang dia inginkan.


Mata Ayumi mulai terpejam, saat lembutnya bibir Randy menyentuh bibirnya. Perlahan tangan Ayumi pun bergerak menyentuh lengan, Bergeser lebih ke atas, sampai dia benar-benar memeluk pundak kekar Randy sampai ciuman keduanya semakin dalam.


Tidak menunggu lama keadaan terasa semakin memanas. Saat Randy terus menuntut lebih dan lebih, sampai nafas keduanya terengah-engah.


Randy menjenda cumbuannta, menatap wajah Ayumi yang sudah memerah, mengusap bibir istrinya yang basah karena ulahnya, lalu menempelkan kening.


"Masih sakit?" Tanya Randy setengah berbisik, sampai suaranya terdengar begitu berat.


Ayumi mengangguk pelan, dia kembali menggigit bibirnya sendiri kencang, saat tangan Randy mulai terasa menelusup masuk, dan mengusap kulit perutnya, hingga menghadirkan getaran-getaran yang tidak bisa Ayumi ungkapkan dengan kata-kata.


Tangan Randy bergerak terus semakin jauh, sampai membuat pengait b*anya terlepas begitu saja.


"Pasrah sekali kamu sekarang!" Randy berbicara pelan, lalu terkekeh.


"Aku ingin menolak, apa aku bisa?" Matanya sudah terlihat sayu.


Randy tersenyum, dengan tangan yang tak diam, terus bergerak membuka satu persatu pakaian mereka.


"Menurutmu, bagaimana?" Randy balik bertanya, dan langsung dijawab Ayumi dengan gelengan kepala.


Senyum Randy semakin merekah, dia kembali membungkuk setelah melepaskan kemejanya.


"Good girl." Randy berbisik, dia hendak kembali melanjutkan sesuatu yang sempat terjeda, tapi Ayumi menahan dadanya sampai kegiatan itu benar-benar terjeda kembali.


"Abang?"


Pria itu menciumi lehernya.


"A-apa setelah ini aku akan hamil?" Ayumi memejamkan mata, saat merasakan geli yang luar biasa.


Randy menarik kepalanya, menatap wajah Ayumi lekat-lekat.


"Tidak tahu, tapi semoga saja."


"Bagaimana kalo aku hamil?" Pertanyaan konyol itu terlontar begitu saja tanpa Ayumi sadari.


Randy diam untuk beberapa saat, dengan keadaan saling menatap satu sama lain.


"Kalo aku hamil gimana? Tadi pagi kamu lepas di dalam?" Dia bertanya lagi, dan itu benar-benar membuat Randy tidak tahan karena merasa gemas.


Pria itu melirik ke arah lain, lalu kembali pada wanita di bawah Kungkungan tubuhnya.


"Aku akan tanggung jawab, tenang saja." Katanya sambil terkekeh.


Dan setelah itu Randy kembali memangut bibir Ayumi. Bahkan kali ini terasa semakin dalam, saat Ayumi mulai membalas setiap sentuhannya, dengan leguhan yang beberapa kali terdengar.


Randy terus melucuti setiap kain yang menempel, sampai mereka kini benar-benar polos tanpa apapun.


Dia menatap pemandangan indah di bawahnya, Rambut coklat panjang bergelombang, kulit putih mulus, dan segala sesuatu yang terlihat dengan takaran yang pas.


Tanpa merasa puas Randy kembali menelusuri setiap inci tubuh Ayumi, bermain-main tanpa merasa cukup.


"Nghhh!" Leguhan Ayumi tertahan.

__ADS_1


"Jangan ditahan, disini hanya kita berdua, kamu lupa?"


"Aku hanya malu." Kata Ayumi.


"Malu dengan siapa?"


"Kamu."


Randy mencium bibirnya singkat.


"Keluarkan saja, aku menyukai suaramu."


Randy menegakkan tubuhnya, menyentuh kedua kaki sang istri, dan menekuknya perlahan.


Wajah Ayumi mulai memucat, bahkan tubuhnya sedikit menggigil saat menatap sesuatu dibawah sana yang sudah siap tempur.


"Kali ini jangan menolak, biarkan aku melakukannya dengan benar, … agar tidak sakit, kamu mengerti?"


Dia mulai mendekat, dan mengarahkan miliknya.


"Sayang, … tapi …"


Mendengar ucapan itu Randy berhenti sebentar, lalu menatap Ayumi dan tersenyum, lalu meraih bibir ranumnya.


"It's okay! Kamu harus percaya kepadaku!"


Ayumi mulai memejamkan mata, mencengkram kedua tangan Randy cukup kencang, saat sesuatu kembali terasa memaksa memasuki dirinya.


Dia meringis, dan merintih pelan.


"Jangan tegang! Kamu membuat ku sulit lagi." Randy menggeram.


"Perih!" Ayumi meringis.


Randy terus mendorong, sampai miliknya benar-benar terbenam sempurna, dan membuat Ayumi me****h pelan.


"Masih sakit?"


Ayumi mengangguk dengan raut wajah sendu.


Randy mengerti, dia kembali menyentuh Ayumi, memberi sedikit Rang**n**n, saraya menggerakan tubuh bagian bawahnya.


"Emmmhhh!"


"Hanya sebentar, bertahanlah."


Ayumi memeluk pundak kekar milik Randy erat, mencakar punggungnya, dan mengigit bahunya saat pria itu mulai berbacu, berkuasa diatas tubuh Ayumi yang tak berdaya.


Suara erotis itu terdengar memenuhi langit-langit kamar berukuran besar itu. Menemani sejoli yang sedang memadu kasih, menyalurkan rasa cinta satu sama lain.


Ayumi terus berteriak, merintih, meringis. Diselingi suara-suara lainnya. Bahkan tak jarang perempuan itu meracau, mengatakan kata-kata yang tidak dapat Randy mengerti.


"Ngggh, … sayang … aku …" Ayumi berteriak.


Randy semakin mempercepat hentakannya, saat dirinya juga mulai merasakan sesuatu yang gila, mengalir dari atas kepala hingga seluruh badan.


"Astaga Ayumi." Randy menggeram, saat miliknya terasa dicengkram begitu kuat.


Lolongan keduanya mengudara, saat mereka hampir mencapai sebuah pelepasan.

__ADS_1


Dan akhirnya keadaan menjadi hening, menyisakan suara deru nafas yang tersengal-sengal, setelah beberapa detik lalu Randy kembali menanam saham pada istri cantiknya.


__ADS_2