
Waktu terus berputar, hingga sunyinya malam mulai menyapa seorang gadis yang saat ini tampak gelisah.
Dia terlihat beberapa kali menatap layar ponselnya, lalu menempelkan di telinga. Begitu terus sampai beberapa kali, saat Randy tak kunjung menjawab panggilan telfon atau membalas pesan singkat yang di kirimkan Ayumi.
"Hahhh!" Gadis itu menghela nafas untuk kesekian kalinya.
"Dia benar-benar pemarah. Hal sepele saja membuat dia kesal sampai mengabaikan aku seperti ini!" Ucap Ayumi seraya menatap layar ponsel yang memperlihatkan jejeran pesan yang belum Randy baca sama sekali.
Ayumi diam beberapa menit, memberi waktu pria itu untuk menenangkan diri yang mungkin saja masih di kuasai oleh amarah.
Setelah itu dia kembali mencoba untuk menghubungi Randy sang kekasih hati. Yang saat ini merajuk hanya karena sedikit kesalahan yang Ayumi lakukan.
Tuuut, ...
Suara itu kembali terdengar.
"Angkat, ... kumohon, ... ayok angkat!" Cicit Ayumi dengan suara pelan.
[Hemmm!?]
Suara Randy bergumam menjadi tanda jika kali ini pria itu menerima panggilannya.
"Halo?"
[Ya.]
"Masih marah?" Dia bertanya dengan suara yang sangat lembut, berusaha meluluhkan kerasnya hati pria itu.
[Menurut mu bagaimana?]
Randy balik bertanya, dengan suara yang terdengar ketus.
"Aih. Kenapa susah sekali meredakan kemarahan Bapak." Rengek Ayumi pelan.
Gadis itu mulai bingung.
[Bapak? kamu memanggil saya dengan sebutan itu lagi!]
Suaranya merendah, namun penuh penekanan.
Ayumi diam, dia menatap lengan, lalu mengusapnya saat merasa bulu-bulu halusnya berdiri.
Ayumi merasa sekujur tubuhnya merinding, hawa dingin jelas mendominasi suasana malam ini.
"Memang biasanya seperti itu!"
[Astaga, bahkan aku bukan Bapak mu.]
"Bapak rumit." Pekik Ayumi.
[Memang, lalu kenapa? kamu tidak suka? kamu mau menjauh lagi? silahkan saja ... saya tidak peduli.]
Ucapan itu sontak membuat mata Ayumi membulat sempurna, juga dada yang terasa sedikit sesak.
"Bapak sudah tidak peduli?" Ayumi berbisik lirih.
Randy bungkam, sepertinya dia baru saja mengucapkan kata-kata yang jelas itu di keluar kendalinya.
"Baiklah kalau Bapak tidak peduli. Silahkan saja, ... yang penting aku sudah berusaha untuk memperbaiki semuanya." Suara Ayumi bergetar.
Jelas dia menahan tangis, saat air mulai memenuhi pelupuk mata.
"Sepertinya kita memang tidak cocok. Sudah bagus kemarin kita saling menjauh, lalu kenapa kita seperti ini lagi!"
Ayumi menjauhkan ponsel dari telinganya, lalu menekan tombol merah dan melemparkan benda itu kearah samping tempat tidurnya yang kosong.
***
Keesokan harinya.
"Sudah mandi?" Tanya Ali saat putrinya keluar kamar, dan berjalan mendekat kearah dimana pria paruh baya itu duduk saat ini.
__ADS_1
Ayumi mengulum senyum, lalu mengangguk pelan.
"Bapak tumben belum ke warung." Ayumi duduk menghadap sang ayah, sampai pandangan dua orang berbeda usia itu saling betemu.
"Nanti sajalah, ... cari uang bisa kapan-kapan. Tapi waktu sama anak gadis Bapak ini sangat sulit di cari, terlebih dia sekarang sangat sibuk di kota sana, sampai lupa pulang." Aku tersenyum.
"Ayu nggak lupa pulang Pak, cuma memang lagi sibuk ngumpulin uang. Kan mau kuliah." Jelas Ayumi yang langsung mendapat angguka dari sang ayah.
"Apa tidak lelah? bukankah tugas SMA dulu saja sudah membuat kamu pusing." Tutih datang, kemudian dia meletakan satu mangkuk besar di hadapan Ali juga Ayumi.
"Ayam sayur." Ucap Ayumi semangat.
Tutih tersenyum, setelah itu membawa piring dan mengisinya dengan nasi putih untuk suami juga anaknya.
"Bapak minta Ibu memasak ini, katanya untuk kamu." Jelas sang ibu.
"Sesekali." Ali menatap Ayumi, lalu tersenyum.
"Terimakasih, aku senang sekali!" Raut wajah itu seketika terlihat berbinar.
"Selamat makan." Tutih berkata, lalu duduk bergabung di kursi meja makan sana.
***
"Apa tidak bisa libur sehari saja?" Tanya Ali saat dia memeluk Ayumi.
Gadis yang sedang memeluknya erat itu menggelengkan kepala.
"Tidak enak, Bu Balqis sudah sangat baik hati. Beliau bahkan memberi izin kerja setengah hari saat hari Sabtu, apalagi saat tahu aku selalu pulang kesini."
Ali menghembuskan nafasnya kencang. Saat merasa tidak rela anak gadinya pergi untuk kembali mengadu masih di Ibu kota tercinta.
"Pak! nanti Ayumi kesorean di jalan." Tutih menepuk bahu suaminya.
Ali melepaskan pelukannya, memegangi kedua bahu Ayumi sembari tersenyum tipis.
"Baru kemarin kamu pulang, sekarang harus kembali lagi. Rasanya baru kemarin juga Bapak memangku kamu setelah Ibu lahirkan, tapi sekarang sudah bisa bekerja dan membantu kami." Ali berkaca-kaca.
"Bapak berlebihan, kalau kangen tinggal tengok aku di kostan sana." Ayumi kembali memeluk Ali, dan melepaskannya kembali.
Lalu dia beralih kepada Tutih. Wanita yang tak hentinya menatap dia dengan tatapan sejuk penuh cinta.
"Aku pamit ya, ... doain aku sukses di kota sana agar bisa mengejar apa yang aku impikan."
"Kata-kata mu membuat Ibu merasa sedih, Ay. Maaf tidak bisa memberikan apa yang seharusnya kami berikan!"
Dia meraih tubuh putrinya, memeluk Ayumi erat seraya memberi usapan penuh kasih sayang di punggung sana.
"Apa yang kalian berikan sudah lebih dari cukup. Baiklah, aku harus berangkat." Ayumi mendorong tubuh ibunya perlahan.
Tutih mengangguk.
"Papay, ... baik-baik ya! nanti Sabtu-Minggu aku pulang lagi."
"Hati-hati, kabari Bapak dan Ibu jika sudah sampai." Pinta Ali yang langsung Ayumi jawab dengan sebuah anggukan kepala.
Ayumi mulai mundur, tersenyum manis sembari melambai-lambaikan tangan kearah Ali juga Tutih. Dua orang yang sangat dia sayangi.
Setelah itu dia berbalik arah, berjalan cepat meninggalkan kedua orang tuanya yang terus berdiri di ambang pintu dengan perasaan tak menentu.
Jelas. Pertengkaran Ayumi dengan Randy semalam saja sudah membuatnya sedih, apalagi di tambah dia harus kembali meninggalkan rumah juga kedua orang tuannya yang sangat dia cintai.
"Jangan menangis, jangan menangis ... jangan menangis!" Dia berbisik pelan, sambil terus berjalan kearah jalanan utama untuk mencari angkutan umum.
***
Sementara itu malam harinya di tempat lain.
Randy tampak kembali menemani Raga untuk melihat pertandingan Club sepak bola miliknya. Duduk di salah satu tribun, dengan pandangan yang fokus kedepan, sementara pikirannya melayang kemana-mana, hingga beberapa panggilan Raga dia abaikan.
Bahkan gemuruh teriakan seluruh menonton tampak tak mengganggu nya sama sekali.
__ADS_1
"Ran? kau baik-baik saja?"
Pria yang di maksud masih diam.
"Hey!" Akhirnya Raga menepuk pundak asisten nya cukup kencang, sampai membuat Randy tersentak bukan main.
Dia menatap Raga dengan ekspresi penuh keterkejutan.
"Bapak butuh sesuatu?"
"Kau tidak sehat? kenapa kau diam saja dari tadi? pertandingan selesai, kapan kau akan pulang?" Raga berdiri.
"Huh? pertandingan selesai? sekor berapa? kenapa saya tidak tahu." Katanya seperti orang linglung.
"Skornya sama, Minggu depan anak-anak harus bertanding ulang. Bagaimana mau tahu, dari awal kau sudah melamun, ... kamu ada masalah?" Jelas Raga.
Pandangan Randy langsung beralih pada salah satu monitor, yang memperlihatkan angka 1 diantara keduanya.
"Saya hanya mengantuk, Pak."
"Ayok pulang, kita istirahat di rumah masing-masing."
"Baik, Pak." Randy mengangguk, berjalan cepat mengikuti Raga yang saat ini terlihat bergegas.
Ya, setelah keberadaan Bara di rumahnya, pria itu selalu ingin pulang lebih cepat.
Sampai saat dirinya tiba di sebuah lahan dimana mobil-mobil terparkir dengan rapih, seseorang terdengar memanggil-manggil namanya.
"Yah, ada apa?" Sahut Randy.
"Boleh ikut? aku nggak bawa mobil, tadi juga berangkat nebeng anak-anak." Aleesa terus berjalan mendekat.
"Lalu kenapa tidak ikut lagi bersama mereka?" Randy mencoba menolak.
"Mereka pulang ke mess, ... beda arah kan."
Randy diam, menatap gadis yang saat ini terlihat memakai pakaian yang sama dengan beberapa staf lainnya.
"Aku pesankan taksi online, oke?" Randy hendak merogoh ponsel di dalam saku celananya.
Namun suara Raga membuat dia berhenti.
"Antar saja Ran. Jika saja saya sudah tidak di tunggu Bara dan Ibunya di rumah, maka saya yang akan mengantarkan Dokter Aleesa. Ini sudah malam, jangan biarkan dia menaiki kendaraan umum sendiri."
"Ahh, baiklah." Randy akhirnya mengangguk.
"Wahhh terimakasih, Bapak Randy. Kalau begitu saya pulang Pak Raga."
Aleesa langsung bergegas, berjalan menghampiri pintu mobil milik Randy kemudian masuk.
"Saya duluan." Pamit Raga, yang saat ini sudah berada di dalam mobil Mercedes hitam miliknya.
Randy hanya mengangguk.
Hah! dia itu orang berada. Memiliki beberapa mobil yang terparkir di garasi rumahnya, tapi kenapa selalu merepotkan ku? sementara Ayumi? dia kekasih ku, tapi aku selalu membiarkannya kemanapun sendirian.
Batinnya berbicara.
"Kekasih? apa ini masih bisa di katakan kekasih? sedangkan aku sudah berbicara bahwa aku tidak lagi peduli padanya." Randy berbisik pelan, dengan perasaan yang tidak dia jelaskan oleh kata-kata.
Tentu, dia takut Ayumi benar-benar akan menjauh dan memutuskan hubungan mereka.
"Ran? aku sudah kepanasan. Cepat masuk, hidupkan mobilnya lalu kita pulang." Aleesa memanggil.
"Ya ya ya, ... kau sangat merepotkan tahu!" Randy menggerutu.
"Nanti aku ganti uang bensinya, Pak! tenang saja."
"Tidak usah, uang ku masih banyak."
Dan setelah itu dia masuk, menyalakan mobilnya dan segera berlalu dari sana. Pulang bersama Aleesa, perempuan yang sudah terang-terangan memperlihatkan ketertarikannya.
__ADS_1