My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 51 (Kemarahan Randy)


__ADS_3

Randy berjalan memasuki ruangan Raga, membawa beberapa berkas yang harus atasannya itu tanda tangani.


"Selamat pagi, Pak?" Sapa Randy, lalu dia menutup pintu ruangan itu, dan berjalan kearah Raga, pria yang tengah menatap layar laptopnya dengan sangat serius.


Raga menengadahkan pandangan, dia tampak mengangguk.


"Pagi."


"Saya hanya ingin mengantar ini!" Randy meletakan tiga map berwarna coklat di hadapan Raga.


"Kontrak lagi?" Pria itu menatap asistennya.


"Sponsor baru." Randy menarik kursi di hadapannya, kemudian duduk.


Raga membawanya, lalu membuka satu persatu.


"Tidak harus saya tanda tangan sekarang? saya sedang mengerjakan beberapa hal."


Randy mengangguk.


"Apa saya boleh berbicara? atau nanti saja saat jam makan siang tiba."


"Kenapa? ada sesuatu?"


"Ya, ini tentang hal pribadi. Jika Bapak tidak keberatan saya akan meminta izin."


Raga menjauhkan kedua tangan dari keyboard laptop tersebut, dan menghempaskan punggung pada sandaran kursi kerjanya.


"Izin untuk apa?"


"Pernikahan. Saya rasa harus mengurus semuanya mulai dari sekarang, saya tidak akan meninggalkan semua pekerjaan, mungkin hanya meminta waktu setengah hari bekerja saja." Jelas Randy kepada sang atasan.


Raga menatap pria muda yang terpaut tidak terlalu jauh dari usianya, lalu tersenyum penuh arti.


Dan itu membuat Randy menatap Raga merasa heran juga aneh.


"Bapak kenapa?"


"Tidak ada. Hanya tidak menyangka saja! kamu benar-benar serius dengan Ayumi." Raga terkekeh.


"Bapak benar, di usia saya sekarang sudah tidak cocok untuk bermain-main. Dan saya memilih Ayumi sebagai pendamping hidup saja."


Randy berucap panjang lebar. Sementara Raga hanya mendengarkan, sembari mengangguk-anggukan kepala.


"Saya bahagia mendengar kabar ini!" Raga berujar. "Tapi apa Ayumi bersedia? kalian terpaut umur yang sangat jauh."


"Sepertinya bukan masalah." Randy menjawab dengan raut wajah datarnya seperti biasa.


"Benarkah? mungkin dia hanya sedang memanfaatkan mu, ... atau dia hanya tidak tahu harus menolak mu dengan cara apa. Kamu tahu? Ayumi itu gadis yang sedikit tidak enakan, ... itu kata Balqis." Raga terus menggoda.


"Apa menurut Bapak saya dan Ayumi tidak cocok karena terpaut usia yang sangat jauh?"


Raga mengendikan kedua bahunya, dengan raut wajah yang terlihat begitu menyebalkan.


"Lalu bagaimana dengan Bapak? bukankah usia anda dan Bu Balqis terpaut sangat jauh juga? sepuluh tahun? atau bahkan lebih?"


Sontak Raga diam, bahkan ekspresi wajahnya berubah masam.


"Usia Bapak juga jauh di atas Bu Balqis."


"Kok kamu jadi bahas saya!"


"Bapak yang mulai duluan, bicara soal umur saya dah Ayumi."


Raga memutar kedua bola matanya.


"Kau ini pendendam sekali!"


"Saya hanya ingin meminta izin, mungkin beberapa hari kedepan saya mulai sibuk karena akan menyiapkan semuanya."


Raga menimpali dengan anggukan.


"Pakailah waktu mu. Semua pekerjaan bisa aku tangani, ... tapi bagaimana dengan Ayumi? kabar itu saya sudah mendengarnya."


Randy menghembuskan nafasnya perlahan.


"Dia sempat down. Tapi keadaannya sekarang sudah jauh lebih baik, hanya saja terkadang dia melamun, dan memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak dia pikirkan." Katanya.

__ADS_1


"Apa dia butuh psikolog?"


"Entah. Dia hanya terus bertanya kenapa orang tua kandungnya membuang dia, apa menurut Bapak itu perlu?"


"Tapi sebaiknya jika masih bisa di tangani sendiri itu lebih bagus, ... dari pada harus mengonsumsi berbagai macam obat hanya untuk membuat pikiran kita tenang."


Randy mengangguk-anggukan kepala. Dia menyimak setiap ucapan yang atasannya katakan. Dan Raga benar, dia lebih paham karena dia sudah lebih tahu, juga merasakan bagaimana jika harus tergantung kepada beberapa jenis obat yang Dokter resepkan.


"Apa Bapak masih mengonsumsi obat-obatan itu?"


Raga mengangguk.


"Semuanya tidak bisa terlepas begitu saja. Meski Dokter mengatakan jika aku sudah lebih baik, tapi tidak segampang itu lepas dari pengawasan Dokter, karena memang ada beberapa hal yang membuat emosi ku tidak stabil."


Randy mengangguk.


"Baiklah, mulai besok mungkin saya hanya akan setengah hari kerja."


"Ya, tidak apa-apa."


"Bapak butuh sesuatu? jika tidak saya akan kembali keruangan saya."


"Tidak. Kembalilah!"


Randy pun segera bangkit.


"Jam berapa rapat akan di mulai?" Raga menghentikan langkah Randy.


Asisten pribadinya itu membalikan badan.


"Sore jam tiga."


"Baik." Raga mengangguk lagi.


Dan setelah itu Randy menekan handle pintu, menariknya perlahan, dan keluar dari ruangan pribadi milik atasannya.


***


Ayumi berjalan membawa beberapa peralatan kebersihan. Melewati beberapa karyawan, dan tanpa sengaja ujung tongkat pel mengenai bahu Tara cukup kencang.


"Ahh!" Wanita berteriak.


"Maaf, Bu Tara. Saya tidak sengaja!"


"Tidak sengaja kamu bilang!?" Dia berteriak semakin kencang.


Sementara orang-orang di sekelilingnya hanya diam, seolah enggan mencampuri urusan Tara dengan Official girl yang bekerja di lantai paling atas gedung tersebut.


"Maaf, Bu ... maaf!"


Tara mendekat, lalu mencengkram tangan Ayumi sampai gadis itu terlihat meringis kesakitan.


"Aw!"


"Lu tuh bener-bener yah! mentang-mentang kerja di bawah ketiak Papanya Pak Junior jadi seenaknya kaya gini, lalay banget!"


"Duh maaf!" Ayumi berusaha melepaskan diri, tapi cengkraman itu justru terasa semakin menguat.


"Kenapa? sakit? rasain nggak bakalan ada yang nolonginl! Mereka sedang ada pekerjaan di luar sampai sore nanti."


"Ra! sudah, nanti dia ngadu." Temannya berbicara.


"Nggak!"


"Tara kamu akan terkena masalah nanti." Gilang berbicara.


"Bang Gilang diem aja deh! aku tau Abang suka sama Ayumi, tapi jangan belain dia terus, ... kebiasaan."


"Saya tidak sengaja, Bu. Saya buru-buru tadi, mau ke kantin untuk makan siang, tadi pagi nggak sarapan." Ayumi memohon.


"Lu nggak bakalan lolos sekarang!" Tara menyeringai.


Di waktu yang bersamaan Randy turun dari dalam mobil miliknya, berjalan kearah pintu Lobby, untuk menjemput sang kekasih agar bisa melakukan makan siang bersama.


"Selamat siang, Pak Randy." Seorang satpam menyapa.


"Siang, Pak Umar. Saya mohon izin keatas sebentar mau menjemput Ayumi."

__ADS_1


Satpam itu mengangguk.


"Saya kira mau bertemu Bu Balqis, atau Pak Nior. Karena mereka sedang ada kerjaan di luar."


Randy mengangguk.


"Saya tahu, tadi sudah menghubungi Junior dan meminta izin untuk menjemput Ayumi."


"Baik, kalau begitu silahkan."


Randy segera berjalan masuk, melangkah cepat kearah pintu lift yang masih tertutup dengan sangat rapat.


Dia menekan satu tombol, lalu mundur untuk menunggu.


Beberapa detik menunggu, dan akhirnya pintu besi itu terbuka. Dia masuk, menekan tombol dan pintu itu kembali tertutup dengan perlahan.


Ting!!


Hampir semua karyawan melihat kearah suara terdengar. Dan betapa terkejutnya mereka saat melihat Randy keluar, berjalan penuh wibawa dengan pandangan mengedar keseluruh ruangan.


"Saya cari Ayumi." Tukas Randy tanpa basa-basi.


Mereka diam, dengan raut wajah paniknya.


"Kenapa? saya cari Ayumi."


"Emmm, ... Ayumi ..."


"Ganti bajunya cepat!" Tara berteriak saat hampir keluar dari salah satu pintu yang berada di sudut ruangan itu.


"Dan ingat! jangan ngadu. Atau riwayat lu abis sama gue."


Randy menjengit, dia memincingkan mata seraya mempertajam pendengaran, saat samar suara isakan tangis mulai terdengar.


"Sudah ku katakan, jangan terlalu berlebihan jika kita membenci seseorang." Gilang berbisik.


Beberapa orang di sampingnya bungkam.


Randy langsung berlari, mendekat kearah Tara yang masih betah berdiri di ambang pintu ruangan kecil itu.


"Awas!" Randy mendorong pundak Tara dengan sangat kencang, kemudian masuk menerobos.


Sementara wanita itu terhuyung kebelakang, dengan raut wajah yang mulai terlihat panik, apalagi saat dia mengetahui yang datang adalah sosok yang sangat dekat dengan Ayumi.


Tentu saja, kedekatan Randy dengan Ayumi sudah bukan rahasia lagi, hampir semua orang mengetahuinya.


Randy tertegun di depan pintu sebuah kamar mandi, menatap kekasihnya yang sedang menangis dengan keadaan basah kuyup, sembari memeluk lutut erat dan menyembunyikan wajahnya.


"Ay!" Randy masuk, lalu meraup tubuh Ayumi, dan membawanya keluar.


"Abang." Ayumi merintih pelan.


"Kenapa mereka melakukan itu!"


Pandangan Randy melihat sekitar, mencari handuk untuk mengeringkan rambut Ayumi, tapi dia tidak menemukannya.


"Dimana loker mu? biar aku ambilkan baju ganti."


Ayumi tidak menjawab, dia hanya terus menangis. Bukan perlakuan kasar yang menjadikannya serapuh ini, melainkan setiap ucapan yang terlontar dari mulut Tara.


Randy mengusap wajahnya kasar. Emosinya benar-benar memuncak, namun dia tidak bisa berbuat apapun.


"Sialan!" Randy menggeram.


"Baiklah ayok kita pulang." Randy mengangkat tubuh basah Ayumi, dan membawanya keluar dari ruangan itu.


Semua orang yang ada di sana berdiri, dengan kepala yang menunduk.


"Saya tidak bisa mentolerir ini!" Geram Randy saat melewati Tara, bahkan dia menatap perempuan itu tajam.


"Saya pastikan semua orang yang ada di sini habis, ... kalian harus di berhentikan secara tidak hormat." Ucap Randy penuh penekanan.


Randy sangat ingin berteriak, menucapkan kata-kata kasar kepada setiap orang yang ada di sana, tapi itu tidak mungkin, mengingat ada Ayumi bersamanya.


Pria itu terus berjalan, membawa Ayumi di dalam gendongannya, meninggalkan orang-orang yang mulai terlihat ketakutan.


"Kalian beruntung saya sedang berbaik hati. Jika tidak, aku akan menghabisi kalian sekarang juga!" Ucap Randy kencang.

__ADS_1


"Jangan!" Suara Ayumi terdengar semakin lirih, dengan kedua tangan yang memeluk pundak Randy semakin erat.


Randy tidak menjawab, dia hanya melangkah masuk kedalam kota besi itu, seraya menahan gejolak emosi yang semakin meluap-luap.


__ADS_2