
Setelah beberapa menit menempuh perjalanan. Akhirnya motor yang Ayumi tumpangi berhenti, tepat di depan halaman rumah berukuran kecil. Suasana di sekelilingnya begitu gelap, sunyi dan sepi, hanya ada beberapa rumah tetangga dengan jarak yang saling berjauhan.
Perempuan itu turun, membuka tas lalu mengeluarkan uang, dan memberikannya kepada tukang ojek yang tadi.
"Kembali 30rb ya, Neng!" Ucapnya sambil memberikan kembalian.
Ayumi mengangguk, lalu menerimanya.
"Ini beneran rumahnya, Mang?" Tanya Ayumi sedikit ragu.
"Iya ini. Tadi pagi saya lihat ada lagi bersih-bersih halaman, untung datangnya sekarang, kalo seminggu belakangan dia kerja di kota, dan pasti tidak ada di rumah."
Ayumi mengangguk.
"Eneng siapanya kalau boleh tahu?"
"Nggg, … saya … saya anaknya." Jelas Ayumi sedikit tergagap.
"Saya kesana dulu, Mang. Terimakasih!"
Pria itu terdiam dengan penuh keterkejutan, menatap Ayumi lekat-lekat yang mulai beranjak pergi dan mendekati pintu rumah tersebut.
Jelas dia mengetahui latar belakang Sumi. Meski dulu wanita itu tinggal di desa yang berbeda, hanya saja sebuah gosip akan sangat cepat menyebar jika salah satu dari tetangganya tahu.
Gadis yang di ketahui hamil tanpa menikah, setelah itu melahirkan dengan Bayi yang entah kemana, orang tua dan saudaranya berbondong-bondong pergi, membuat Sumi hidup sendirian di tengah gunjingan yang tiada hentinya.
"Neng, mari!" Pamitnya setelah tersadar dari lamunan.
Ayumi yang hampir mengetuk pintu rumah itu pun menoleh, tersenyum samar lalu menganggukan kepala.
Setelah itu Ayumi kembali menatap pintu rumah tersebut, mempersiapkan diri, saat dadanya kembali berdebar-debar dan menghadirkan sedikit rasa sesak.
Entah bagaimana Ayumi harus menggambarkan perasaannya saat ini, dia pun tidak tahu. Yang pasti ada rasa rindu yang begitu besar kepada sosok wanita yang baru saja dia ketahui sebagai ibu kandungnya.
Dan jangan lupakan rasa bahagia, ketika dirinya kini benar-benar dapat menemukan seorang wanita yang melahirkannya.
Tangan Ayumi terangkat, menghirup udara sebanyak mungkin, dan menghembuskannya perlahan.
Tok tok tok!!
Ayumi mengetuk pintu itu beberapa kali. Membuat sosok wanita yang sudah berbaring di atas tempat tidur menajamkan pendengarannya.
Sumi Bangkit, diam untuk kembali mendengarkan suara samar yang sempat dia dengar.
Tok tok tok!!
Pintunya benar-benar diketuk kembali. Namun tidak ada panggilan atau suara apapun.
Segera Sumi turun dari atas ranjang kecilnya, keluar kamar dan menyingkap gorden untuk melihat ke arah luar. Dan betapa terkejutnya Sumi, saat mendapati Ayumi yang berdiri di depan pintu rumah.
"Non!" Sumi memekik kencang, lalu memutar kunci dan menarik pintu kayu itu ke arah dalam, membuatnya terbuka begitu lebar.
Dua perempuan berbeda usia itu saling memandang, memperhatikan satu sama lain dengan perasaan masing-masing.
Sumi yang heran dengan keberadaan Ayumi. Sementara Ayumi terus memutar ingatan tentang sebuah kisah yang pernah dia baca.
Hidupnya yang dikelilingi orang-orang baik, menyayanginya tanpa sebuah alasan, lalu dipertemukan dengan sosok pria yang mampu mengubah hidupnya menjadi lebih mudah seperti sekarang, dan jangan lupakan sosok mertua yang begitu baik sampai menganggapnya seperti anak sendiri.
Itu semua terjadi karena doa ibunya yang selalu menyertai. Mereka memang hidup terpisah, tidak mengetahui keadaan satu sama lain, tapi lihatlah betapa kuatnya doa seorang ibu. Ayumi benar-benar hidup dengan layak atas doa yang selalu Sumi ucapkan.
"Non, kesini sama siapa?" Sumi celingukan, menatap sekeliling, berusaha menemukan Maria atau Randy bersama perempuan muda itu.
Tapi nihil, tidak ada siapapun selain Ayumi yang berdiri di hadapannya.
Ayumi bungkam seribu bahasa. Kakinya mulai melangkah perlahan untuk mendekat, dan tanpa Sumi duga Ayumi langsung menghambur ke dalam pelukannya.
"Non?" Sumi bingung.
Apalagi saat Ayumi menangis kencang, dalam keadaan memeluknya dengan sangat erat.
__ADS_1
"Ada apa? Non kesini sendirian?"
Namun Ayumi tetap tidak menjawab, dia benar-benar menangis tersedu-sedu, sampai benar-benar membuat Sumi sangat kebingungan dengan apa yang terjadi saat ini.
Dia benar-benar tidak berfikir jika Ayumi sudah mengetahui rahasia besarnya, melainkan ada sesuatu yang membuat perempuan itu menangis, entah masalah kesehatan mental yang membuat mood Ayumi naik turun, atau dia bertengkar dengan Randy sampai membuat Ayumi pergi mendatanginya sendirian.
"Ayo masuk, menangis di luar seperti ini tidak baik, nanti ada tetangga yang heran dan menyangka Bibi menyakitimu."
Ayumi mengangguk, dia melepaskan pelukannya, lalu memasuki rumah kecil yang terlihat begitu sederhana, namun begitu nyaman.
Ruangan dengan lampu bohlam berwarna kuning, membuat ruangan itu terasa begitu hangat, meski tidak ada barang-barang apapun selain televisi kecil yang tampak mati.
Suasana di rumahnya begitu terasa sepi. Tidak ada suara aktifitas seperti lalu-lalang kendaraan, atau teriakan seorang pedagang, disana hanya terdengar suara-suara jangkrik di malam hari.
Sumi menuntun Ayumi untuk duduk di salah satu kursi rotan. Meninggalkannya ke arah dapur untuk membawakan air agar perempuan itu sedikit tenang.
"Bibi tidak mempunyai apa-apa, hanya ada air teh hangat." Sumi meletakan gelasnya di atas meja. "Tapi besok pagi kita bisa cari gorengan ke depan."
Ayumi diam, dia terus mengusap kedua pipinya saat air mata terus mengalir tanpa henti.
"Minumlah."
Ayumi menggelengkan kepala.
"Ada apa?" Sumi duduk tepat di samping Ayumi, lalu mengusap-usap punggungnya.
Bibir Ayumi bergetar, dia ingin mengatakan sesuatu, tapi lidahnya terasa begitu kelu.
"Jangan terus menangis, nanti cantiknya hilang!" Wanita itu tersenyum seraya mengusap kedua pipi Ayumi.
"Mah!" Suara Ayumi terdengar begitu lirih.
"Hemm?"
"Mama!" Ayumi mengulangi ucapannya dengan suara sedikit kencang.
Degg!!
"Aku tahu kenapa buku itu menjadi satu-satunya barang yang selalu dibawa kemanapun, dijaga dengan sengat baik … aku tahu itu kisah kita bukan?"
Mata Sumi bergerak-gerak, menatap wajah seseorang di hadapannya dengan mata memerah dan berkaca-kaca.
"Kenapa kalian jahat sekali? Kalian sudah sama-sama tahu, tapi menyembunyikannya dari aku."
"Kamu sudah tahu?" Sumi berbisik.
Ayumi mengangguk, air matanya kembali deras mengalir, lalu mendekat dan memeluk Sumi.
Ibu kandungnya, setelah terpisah kurang lebih 20 tahun lamanya.
"Kenapa aku ini! Aku merasa hidup sangat tidak adil kepadaku, namun kenyataannya tidak seperti itu! Hidup lebih mempermainkan wanita yang sudah melahirkan ku."
Akhirnya Sumi pun menangis, membalas pelukan Ayumi tak kalah eratnya.
"Kenapa bisa begitu? Apa tidak ada keinginan untuk mengatakannya? Memberikan kasih sayang Mama yang sempat tertunda? Tapi kenapa Mama lebih memilih berpura-pura tidak mengenalku, selain seorang pekerja dengan majikannya."
Ayumi terus meracau di sela tangisannya.
"Maaf." Hanya kata itu yang mampu Sumi katakan.
***
Dan setelah berbicara banyak hal. Mengungkap rasa rindu satu sama lain, terutama Sumi yang terus menerus mengatakan kata maaf karena tidak bisa menjaganya, saat Ayumi dibawa kabur oleh beberapa keluarganya.
Ayumi berbaring di atas tempat tidur berukuran kecil, menatap Sumi yang saat ini duduk di tepi ranjang mengusap-usap kepalanya dengan senyum samar yang tak pernah surut.
"Sudah tengah malam, tidurlah!" Pinta Sumi yang langsung mendapat angukan dari Ayumi.
"Jangan kasih tahu siapa-siapa. Aku mau sendiri dulu, disini bersama Mama."
__ADS_1
"Ya, jangan khawatir. Sekarang pejamkan matanya, dan tidur."
Ayumi mengubah posisinya menjadi berbagi miring, tertidur dengan telapak tangan yang ia jadikan sebagai penyangga kepala.
"Apa setelah ini akan ada yang menghalangi kebersamaan kita lagi?" Kata Ayumi pelan.
"Tidak akan."
"Bagaimana kalau mereka kembali?"
"Tidak akan. Dua puluh tahun sudah cukup untuk dijadikan bukti, bahwa mereka sudah menganggap wanita malang ini tidak ada."
Ayumi diam.
"Tidurlah, jangan terus berbicara. Sudah tengah malam." Sumi menepuk-nepuk punggung Ayumi.
Hembusan nafasnya terdengar mulai teratur, membuat Sumi yakin jika putrinya kini sudah benar-benar terlelap.
"Kamu pasti lelah, pergi dengan jarak yang sangat jauh sendirian, hanya membawa sebuah nama untuk menemukan Ibumu ini." Dia tersenyum.
Sumi bangkit, dia berjalan keluar kamar, dan menutup pintu ruangan kecil itu rapat-rapat. Dia menggenggam ponselnya, duduk di atas kursi rotan, dan mulai melakukan panggilan suara kepada pria yang mungkin saat ini sedang mencari Ayumi dengan rasa khawatir yang begitu besar.
Tuuutttt …
"Ada apa, Bu? Saya sedang mencari Ayumi. Bu Sumi boleh hubungi saya besok pagi."
Suara Randy terdengar sangat gelisah.
"Ayumi ada disini!" Sumi berbisik, takut jika Ayumi akan mendengarnya.
"Ada di sana?" Randy berteriak.
"Iya. Sekitar tiga puluh menit yang lalu dia sampai, sendirian, dan sekarang sudah tidur! Datanglah dua hari lagi, dia meminta saya untuk tidak berbicara kepada siapapun."
Helaan nafas panjang terdengar begitu jelas. Seolah Randy sedang membuang rasa gundah gulana yang sedari tadi dia rasakan saat mengetahui Ayumi menghilang tanpa jejak.
"Syukurlah. Aku hampir gila mencari Ayumi disini, bahkan semua orang di rumah ikut bingung karena dia pergi dengan keadaan marah." Jelas Randy.
Sumi hanya mengangguk, seolah Randy dapat melihatnya dari kejauhan. Wanita itu benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi, kedatangan Ayumi sudah membuatnya terkejut, belum lagi pengakuannya yang berbicara jika dia memang benar-benar sudah mengetahui semua hal yang sempat disembunyikan.
"Bu Sumi?"
"Iya."
"Bagaimana keadaan Ayumi saat dia datang?" Randy tetap penasaran dengan keadaan istrinya.
"Sepertinya dia pergi dengan perjalanan yang begitu lancar. Hanya saja, … dia langsung menangis begitu dia menemukan saya."
"Sekarang saya kesana!"
"Jangan! Dia meminta saya tidak memberitahu siapapun. Datanglah dua hari lagi, bersikaplah seolah kalian yang menemukannya sendiri."
"Tapi, Bu …"
"Ayumi hanya butuh waktu untuk menenangkan diri. Dia sangat terkejut, setelah beberapa waktu lalu Ayumi mengetahui jika Bu Tutih dan Pak Ali bukan orang tua kandungnya, dan sekarang dia mendapati kenyataan jika saya adalah Ibu kandungnya."
"Ya, dia mendengarnya bahkan secara tidak sengaja."
"Maka dari itu biarkan dia tenang. Ayumi akan baik-baik saja disini … tentu saja Ibu mana yang akan membiarkan terjadi sesuatu yang buruk kepada anaknya sendiri."
"Baiklah." Akhirnya Randy mengalah, karena memang apa yang Sumi katakan ada benarnya, dan mungkin kali ini dia hanya harus sedikit lebih bersabar untuk menghadapi Ayumi.
"Kalau begitu teleponnya saya tutup dulu." Pamit Sumi.
"Tolong pastikan dia meminum obatnya, Bu."
"Iya."
Setelah sambungan telepon terputus, Sumi segera bangkit, berjalan memasuki kamar untuk segera tertidur.
__ADS_1
......................
Jangan lupa vote dan hadiahnya :)