
Hampir pukul 10:00 siang hari.
Ayumi tampak duduk di atas sofa yang terletak di sisi kaca besar yang langsung menyuguhkan pemandangan langsung ke arah pantai dan lautan yang sangat luas.
Pandangannya tertuju pada satu keluarga kecil, terlihat dua orang dewasa yang sedang menemani anak mereka bermain pasir.
Memang tidak terlalu jelas, namun Ayumi masih bisa melihat interaksi mereka bertiga yang tertawa-tawa, apalagi saat ada air laut yang datang menyapu mainan sang anak, membuat salah satunya berlari mengejar dan membawanya kembali ke tepi.
Di satu sisi hatinya begitu bahagia, mengingat dia akan segera memiliki seorang anak, dan itu akan menjadi gambaran menyenangkan bagi keluarga kecilnya.
Tapi disisi lain, hatinya begitu pedih. Mengingat ibu kandungnya yang tidak pernah merasakan kebahagiaan itu. Memiliki keluarga utuh, dan bahagia seperti yang Ayumi lihat saat ini.
Tidak peduli mereka mau menyebutnya tidak bisa menerima keadaan, tapi itu benar-benar sulit. Tumbuh besar dengan kasih sayang sepenuhnya, membuat Ayumi seperti anak-anak lain.
Lalu bagaimana dengan ibunya? Wanita yang sudah bersusah payah melahirkan dan mencarinya, bahkan baru bisa benar-benar berinteraksi setelah menunggu hampir 20 tahun lamanya.
Apa itu adil? Tentu saja tidak. Dan itu membuat perasaan Ayumi terhadap ibu kandungnya lebih besar, ada rasa dimana dia ingin benar-benar membahagiakan Sumi, menebus semua yang pernah hilang, sebelum perpisahan yang lebih jauh terjadi.
Syarat mati tidak harus tua, tidak juga harus sakit. Disinilah pikiran Ayumi berkelana, dia sangat takut jika itu akan segera terjadi, dan dia belum bisa membahagiakan perasaan ibunya yang sudah lama hancur karena keluarganya sendiri.
Klek!
Pintu kamar terbuka dari arah luar, kemudian munculah Randy menenteng beberapa paper bag, dengan keadaan yang sudah berganti pakaian juga.
Dia masuk, menatap Ayumi yang terlihat sedang melamun. Terbukti dari dia yang tidak bereaksi sedikitpun saat dirinya masuk.
Tubuh berbalut bathrobe, dengan gulungan handuk yang membungkus rambut basahnya, memandang ke arah luar dengan tatapan kosong.
"Sayang kamu baik-baik saja?" Randy meletakan barang belanjaan berisikan pakaian ganti untuk istrinya.
Ayumi masih diam, bahkan matanya tampak tidak berkedip sama sekali.
"Hey? Kamu sedang memikirkan sesuatu?"
Randy mendekat, lalu menepuk pundak Ayumi sampai perempuan itu terkejut bukan main.
"Abang!" Ayumi memegangi dadanya. "Kapan datang? Bikin aku kaget aja!" Cicit Ayumi dengan suara tersengal-sengal.
"Kamu kenapa? Lagi bayangin atau mikirin apa? Aku tanya dua kali tidak menjawab, ternyata kamu sedang melamun, … apa kepalamu terasa berisik lagi?" Dia menjawab dengan pertanyaan juga.
Ayumi menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Kepala aku lagi nggak berisik. Cuma aku kok jadi takut yah! Bagaimana setelah ini? Maksud aku bagaimana dengan Mama! Aku takut dia meninggalkan aku, dan kita belum sempat membahagiakan dia."
Kening Randy berkerut, pria itu tidak menyangka. Bagaimana bisa saat ini Ayumi berpikiran seperti itu, tapi dia kembali ingat, bahwa apapun bisa membuat Ayumi mengalami rasa panik kapan saja, dan pemicunya pun bisa apa saja.
"Kenapa berpikir seperti itu? Mama masih sangat muda, sehat juga. Jadi bisa di pastikan semuanya akan baik-baik saja!" Randy berusaha membuat rasa gelisah Ayumi berkurang.
Ayumi tidak menjawabnya. Namun segera menghela nafas begitu perlahan, seolah sedang membuat rasa gundah gulana yang sedang menguasai diri.
Randy menarik tangan Ayumi, membuat perempuan itu segera beringsut mendekat, dan tenggelam dalam pelukan Randy yang terasa begitu menenangkan dan nyaman.
Cup!
Randy mencium kening Ayumi, mengusap punggung, juga menempelkan pipi pada puncak kepada perempuan yang saat ini berada dalam pelukannya.
"Singkirkan semua pikiran buruk itu. Ada anak kita yang harus kita jaga, termasuk menjauhkannya dari pikiran-pikiran buruk yang akan menghambat tumbuh kembangnya karena kamu stres. Semuanya akan baik-baik saja, apalagi saat berita ini kita sampaikan, mereka pasti sangat bahagia, … dan kamu tahu? Kunci kesehatan tubuh ada dalam pikiran kita sendiri, jadi orang tua kita akan sehat karena mereka senang akan segera mempunyai cucu." Ucap Randy dengan suara yang begitu pelan, begitu lembut.
Tangan Ayumi segera terlepas, lalu mengurai pelukan, sampai mereka dapat saling menatap wajah satu sama lain.
"Apa, … aku boleh bawa tinggal Mama bersama kita?"
"Tentu saja boleh. Mau Mama, Ibu, Bapak atau Kaka laki-laki mu! Itu tidak masalah, rumah kita masih sangat luas, dan masih bisa menampung beberapa orang lagi."
"Ya!" Randy mengangguk.
"Setidaknya rumah kita akan ramai jika mereka ikut tinggal. Dan siapa tahu Ibuku juga mau, dia sangat susah aku ajak tinggal bersama, dia lebih memilih tinggal sendirian dan mengurus toko kuenya."
"Kamu tidak merasa keberatan?"
"Tidak."
Senyum di bibir Ayumi merekah, dia kembali mendekat dan memeluk Randy, dan kali ini semakin erat, disertai Ayumi yang tak hentinya menghirup aroma tubuh Randy, yang begitu terasa wangi, menurut Ayumi.
"Berhentilah melakukan itu. Ayo cepat pakai bajunya, sudah aku belikan lengkap dengan sepasang pakaian d***m."
Ayumi mengangguk, dia segera melompat dari atas sofa, dan membuka beberapa paper bag, dan mengeluarkan satu dress yang Randy belikan untuk dirinya.
Tentu saja! Apa yang tidak Randy lakukan, bahkan saat tak ada pakaian ganti pun dia memilih untuk membelikannya, dibandingkan membawa pakaian dari rumah orang tua Ayumi, yang bisa dibilang mempunyai jarak yang begitu dekat.
Ayumi membuka bathrobenya begitu saja, begitupun dia lakukan pada handuk yang melilit di atas kepala, membuat Randy membeku saat melihat pemandangan yang begitu mendebarkan.
Glek!!
__ADS_1
Dengan susah payah Randy menelan salivanya. Godaan yang akan sangat sulit ditolak, namun ia tidak bisa berbuat apapun, karena dia mengingat apa yang Ayumi rasakan setelah dia melakukannya kemarin malam.
Tubuh yang terlihat sedikit lebih berisi, kulit putih mulus, juga sesuatu yang begitu sangat ranum, membuat Randy tak dapat memalingkan pandangan sedikit pun.
Sementara Ayumi tidak menyadari itu. Dia hanya fokus berpakaian, kemudian beranjak memasuki kamar mandi.
Dia membuka salah satu laci, dimana terdapat sebuah pengering rambut, juga catokan yang membuat Ayumi tersenyum seketika, karena dapat mempercantik rambutnya dengan sedemikian rupa.
"Sudah selesai belum? Kita harus segera pulang, hari sudah semakin siang, orang tua kita sudah aku minta berkumpul di rumah, … aku sengaja mengumpulkannya untuk memberitahukan kehamilan mu!"
Randy datang setelah cukup lama Ayumi berada di dalam kamar mandi.
"Sudah." Ayumi mengangguk.
Dia segera menutup tempat kecil berisikan beberapa makeup miliknya.
Ayumi menoleh.
"Cantik sekali!" Puji Randy.
"Jangan lebay, aku hanya memakai maskara dan lip balm saja!" Ayumi terkekeh.
"Iya tapi kamu memang cantik."
Ayumi tersenyum, dia meraih tasnya, kemudian keluar dari sana.
"Pakaian kotornya sudah kamu masukan kedalam paper bag tadi?" Dia menoleh ke arah Randy, ketika mendapati tumpukan pakaian bekas pakai sudah tidak tersedia.
Pria itu mengangguk.
"Aku melakukannya sambil menunggu kamu selesai. Ayo kita pulang, jangan lupa dibawa vitamin dan susunya."
"Iya."
"Bagaimana? Beli tomatnya jadi?"
Tanya Randy, dia merentangkan tangan kepada Ayumi, yang langsung diraih sampai jemarinya saling bertautan.
"Jadi dong!" Jawab Ayumi penuh semangat.
Mereka berjalan mendekati pintu keluar, dengan Randy yang membawa paper bag berisikan pakaian kotor, semantara Ayumi membawa tas kecil miliknya, juga satu tempat berukuran kecil berisikan vitamin dan susu hamil.
__ADS_1