
Ayumi kembali, setelah beberapa menit perempuan itu pamit untuk pergi ke toilet. Dia berjalan cepat, mendekati Randy yang terlihat bercakap-cakap dengan dua orang di hadapannya, menatap ke arah sebuah layar laptop yang tampak menyala.
"Sudah selesai?" Pandangan Randy menengadah, dia tersenyum.
"Aku mau pulang!" Tanpa basa-basi Ayumi mengutarakan keinginannya.
Raut wajah Ayumi tampak berbeda, dia terlihat cemas, panik juga nafas memburu, dan dada yang naik turun dengan cepat.
"Apa? Kenapa begitu?" Dia menatap kedua orang yang duduk di hadapannya.
"Aku mau pulang!" Ayumi mengulangi ucapannya.
Reaksi tubuh Ayumi sungguh aneh, dia bahkan terus bergerak-gerak, meneliti sekitar, seolah sedang memantau ruangan itu dari hal yang sangat ditakutinya.
"Kamu baik-baik saja?" Randy bingung, tapi rasa khawatir lebih mendominasi.
"Aku harus minum obat." Cicit Ayumi.
"Tidak boleh. Kamu baru saja minum obat." Dia hampir membuka tasnya.
Randy berdiri, lalu menahan tangan Ayumi agar perempuan itu tak melakukannya, sementara dua orang di hadapan mereka diam memperhatikan.
"Stop doing like that!" Randy menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak boleh, kamu baru saja meminumnya, atau kamu akan Overdosis!"
Ayumi diam, hembusan nafasnya terdengar semakin cepat. Dan tidak lama setelah itu dia melepaskan diri, kemudian berlari ke arah luar, meninggalkan Randy begitu saja.
"Ay?" Randy memanggil dengan suara yang terdengar sedikit kencang.
"Aku mau pulang! Aku mau pulang! Kepalaku berisik sekali, aku mau pulang!" Dia meracau, kakinya terus melangkah, melewati beberapa orang yang tampak melihatnya dengan tatapan aneh.
"Sepertinya hal ini kita sambung lain waktu, nanti saya kabari via telepon. Saya permisi, terima kasih sebelumnya."
"Baik, Pak. Bapak bisa hubungi kamu via telepon."
"Baiklah."
Randy segera beranjak pergi, berlari mendekati pintu ruangan itu, hendak membuka nya, namun seseorang tampak menarik lebih dulu dari arah luar.
"Mau kemana?" Aleesa bertanya, dia terlihat sangat santai seolah tidak melakukan apapun.
Randy berhenti, dia menatap wajah Aleesa lekat-lekat.
"Apa kau mengatakan sesuatu kepada istriku!?" Randy menggeram.
Aleesa diam, dia terlihat sedikit gelagapan, dengan mata yang terus bergerak-gerak, seolah mencari sebuah alasan, dan itu jelas menjadi sebuah jawaban, jika perempuan itu sudah melakukan hal buruk, dan membuat Ayumi mengalami serangan panik, sampai dia merasa ketakutan.
"Aku tidak …."
"Sialan!" Katanya, lalu melewati Aleesa, hingga bahunya sedikit menabrak perempuan itu.
__ADS_1
Randy segera berlari setelah dia keluar dari pintu Lobby mencari keberadaan Ayumi yang sempat menghilang dari pandangan, hingga dia menemukan Ayumi berjongkok memeluk lutut di belakang mobil hitam miliknya itu.
Pria itu menghela nafas lega, segera menghampiri istrinya yang terlihat sedang gelisah. Bahkan dia menutupi telinga menggunakan kedua telapak tangannya.
"Hey?" Randy menyentuh tangan Ayumi.
"Aku mau pulang!"
"Baiklah, ayo pulang."
Dia mengeluarkan kunci mobil dari dalam saku celana, menekan salah satu tombol sampai lampu mobilnya berkedip, membuka pintu dan meraih tubuh Ayumi, membantunya sampai masuk dan duduk dengan nyaman.
Randy berjongkok, meraih tali sabuk pengaman, dan memasangkannya.
"Terjadi sesuatu? Tidak mau berbagi cerita?" Pandangan Randy menengadah, menatap wajah Ayumi dengan raut wajah sendunya.
"Aku mau pulang!" Lagi-lagi Ayumi mengucapkan itu.
Pria itu mengangguk, dia berdiri, menutup pintu di samping kursi Ayumi, berlari memutari mobil, kemudian masuk menyusul istrinya yang sudah lebih dulu berada di dalam sana.
Mobil Civic hitam itu mulai berderum, mulai melaju dengan kecepatan sedang saat keluar dari kawasan hotel tersebut, kemudian melaju dengan kecepatan tinggi, setelah berada di jalanan utama.
***
Sesampainya mereka di rumah. Randy terlebih dulu turun, menekan beberapa code rumah, kemudian membukanya.
Dreuk!
"Ayo kita masuk!" Ucap Randy seraya membuka seatbelt dan memangku tubuh Ayumi, hingga masuk kedalam kamar.
Perempuan itu merebahkan dirinya, berbaring meringkuk, dan mulai memejamkan matanya. Melihat itu Randy ikut naik, lalu memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat, tak lupa menarik selimut dan menutupi mereka berdua.
Cup!
Dia mencium pipi Ayumi.
"Kenapa?"
Ayumi menggelengkan kepala.
"Tidak apa-apa, ceritakan saja. Aku siap mendengarkan, jangan dipendam sendiri! Sekarang kamu mempunyai aku, … suamimu! Tempat untuk berbagi cerita."
"Kepala aku berisik! Ada dua orang yang ngomong. Aku capek!" Jawab Ayumi dengan suara lirih.
"Apa yang mereka katakan?" Randy mengusap-usap kepalanya dengan sangat pelan. "Katakan saja, apapun yang mengganggumu!" Sambungnya lagi.
"Aku mau obat! Aku mau tidur." Pintanya lagi, saat obat itu mampu membuatnya tenang dan merasa rileks, namun pil itu bukan sembarangan obat, Dokter hanya menganjurkan meminumnya dua kali dalam sehari, yaitu pagi dan malam.
"Tidak boleh, kamu sudah minum obatnya tadi!"
__ADS_1
Ayumi bergerak, meraih bantal guling dan memeluknya semakin erat.
"Yank? Ada aku!"
Isak tangis perempuan itu mulai terdengar, meski samar namun Randy jelas mengetahui jika istrinya kini tengah menangis. Dia menarik guling yang Ayumi peluk, membalikan tubuh Ayumi sampai perempuan itu kini memeluknya, membenamkan wajah di dada bidang itu.
"Aleesa mengatakan sesuatu kepadamu?"
"Iya."
Randy memejamkan mata, lalu menghela nafasnya kencang.
Sudah kuduga, dia memang tidak berniat baik. Ucapannya yang ingin berteman dan lebih dekat dengan Ayumi hanyalah sebuah bualan belaka! Nyatanya kini Ayumi kembali terpuruk, setelah dengan susah payahnya aku selalu berusaha membuat Ayumi sembuh dalam kurung waktu yang cukup singkat.
Batinya bermonolog.
"Katakan saja, belajar untuk mengungkapkan isi hati, agar semuanya bisa lebih baik, daripada memendamnya sendirian."
"Dokter Aleesa bilang kalau Abang tidak akan pernah mencintai siapapun. Abang pria bebas, dan entah sudah berapa puluh wanita yang Abang …."
Belum selesai Ayumi berbicara, Randy semakin mengeratkan pelukannya, sampai membuat perempuan itu berhenti berbicara
"Dia mengatakan hal itu?" Dia berbisik.
"Iya, … dan apakah Dokter Aleesa termasuk?"
"Tidak. Dia tidak pernah dekat, meski hanya hubungan tanpa status. Kita dekat hanya sebagai rekan kerja saja, tidak lebih."
Ayumi diam.
"Itu yang membuat kepalamu berisik? Dan terdengar seperti ada dua orang yang sedang berdebat?"
"Bukan."
"Lalu apa?"
"Di satu sisi aku ingin marah karena kamu memiliki banyak teman wanita. Namun disisi lain aku harus mengerti karena itu hanya bagian dari masa lalu kamu!" Ayumi menjelaskan dengan suara pelan.
Randy memejamkan mata, menghirup udara sebanyak mungkin, lalu menghembuskannya perlahan.
"Aku tidak marah, … aku cuma mengatakan apa yang sedang berisik di dalam kepalaku."
Cup!
Randy kembali mencium kening istrinya.
"Itu bagus, setidaknya kamu tidak memendamnya sendirian lagi. Dan untuk hal itu aku minta maaf, karena sudah mempunyai masalalu yang buruk, sementara kamu, … kamu gadis baik yang belum terjamah, aku pria pertama bagimu, tapi aku … maafkan aku Ayumi, aku menyesal."
Ayumi diam, dengan posisi yang tidak berubah sama sekali. Pelukan Randy membuat dirinya benar-benar nyaman, hingga mampu mengusir rasa gelisah dan ketakutan itu, tanpa harus meminum obat penenang yang Dokter resepkan.
__ADS_1
Akhirnya Ayumi diam, nafasnya mulai teratur dengan mata tertutup rapat.
Dia tertidur di dalam dekapan hangat suaminya, sementara Randy terjaga, mengusap kepalanya Ayumi, memandang wajah cantik itu dengan perasaan tak menentu.