
Klek!!
Salah satu pintu kamar yang berada di rumah Randy terbuka, dan keluarlah Ayumi mengenakan celana pendek, juga kaos kedodoran yang Randy pinjamkan untuknya.
Gadis itu terlihat lebih fresh dengan rambut panjang yang dibiarkan terurai begitu saja.
Randy yang sedang menyiapkan beberapa bahan masakan pun menoleh, saat indra penciumannya menghirup aroma perpaduan lemon dan mint yang sangat segar.
Ayumi tersenyum, dia bergegas mendekat.
"Sudah selesai?" Randy menatap Ayumi, dia tersenyum merekah.
"Sudah," Ayumi mengangguk. "Jadi, ... apa yang harus aku masak?" Ayumi balik bertanya.
Randy tidak menjawab.
"Oh, ... mau bikin spaghetti ya?" Ayumi menengadahkan pandangan, sesaat setelah menatap bahan-bahan yang sudah Randy siapkan.
Pria yang di maksud masih diam, dengan pandangan yang terus tertuju kepada gadis cantik dihadapannya.
"Abang?" Panggilnya.
"Bajunya masih kebesaran? padahal ini baju terkecil yang aku miliki. Mungkin sudah satu tahun tidak aku pakai."
"Hmmm?" Ayumi menundukan pandangan untuk melihat dirinya sendiri. "Ya wajarlah, otot tubuh kamu kan besar. Baju ini nggak akan cukup, kalau cukupun pasti ngetat banget, nanti mirip bapak-bapak senam aerobik." Ayumi terkekeh.
"Ya, ... tubuh mu kecil sekali!" Kata Randy dengan suara rendahnya.
Ayumi mematung, dadanya bergemuruh saat Randy menatapnya dengan sedemikian rupa.
Mata tajam, bulu mata yang lentik, juga bibir tebal merah alami.
"Aku tampan, ya? kenapa diam seperti ini?" Randy terus berbisik.
"Tentu saja, kenapa bertanya? apa kamu tidak mempunyai cermin di kamar, hmm?" Ayumi mulai terbawa suasana.
Dia maju satu langkah.
"Kamu mulai berani sekarang?" Randy meraih pinggang ramping Ayumi, kemudian menariknya sampai mereka tak berjarak sedikit pun.
Sejoli itu terdiam.
Dengan susah payah Ayumi menelan ludahnya, saat tatapan mata itu terasa semakin tajam dan mengintimidasi.
Hembusan nafas hangat mulai terasa menyapu wajah Ayumi. Dia berusaha menjauh, tapi Randy terus mencondongkan diri untuk meraih bibir tipis yang terlihat sangat menggemaskan.
"Ah iya aku punya sesuatu!" Ucap Ayumi dengan suara tinggi, dia berusaha menghentikan Randy.
Atau suasana tidak akan terkendali.
Kening Randy menjengit.
"Ini!" Gadis itu mengeluarkan sesuatu di dalam saku celananya, lalu menempelkan di dada bidang Randy.
Ah, aku sedang tidak pamer, sungguh!
"Apa ini?!" Raut wajah Randy berubah.
Pria itu terlihat sangat bingung.
"Uang."
"Iya, aku tahu ini uang. Lalu untuk apa? apa uang jajan yang ku berikan sudah mau habis?"
Gadis itu berhasil membuat pikiran Randy teralihkan.
"Tidak. Uang dari kamu masih banyak!"
"Terus ini apa?"
__ADS_1
Randy menundukan pandangan, menatap uang yang berada di dalam genggaman Ayumi, lalu melepaskan lilitan tangan di pinggang rampingnya.
"Ini dari Bu Balqis." Ayumi tersenyum gugup.
"Kau bertele-tele!" Randy menggeram pelan, seraya menggelengkan kepalanya tidak percaya.
Ayumi tergelak, dia berusaha mati-matian untuk menghalau rasa aneh yang mulai memenuhi dirinya.
Berduaan seperti ini membuat pikiran ku mulai aneh.
Batin Ayumi menjerit.
"Aku di kasih lima ratus ribu. Katanya cara kerja aku bagus, aku rajin." Dia masih berusaha menjelaskan.
Meski jelas-jelas Randy seperti tidak peduli dengan itu.
"Lalu?" Suara itu semakin rendah, terdengar menakutkan, tapi Ayumi tidak merasa demikian, gadis itu justru tergoda dengan suara berat milik pria yang kini sedang menatapnya penuh tantangan.
Perlahan Ayumi mundur, berusaha menghindar. Namun tangan kekar itu sudah lebih dulu meraihnya, sampai dia kembali mendekat, bahkan tak berjarak sama sekali.
"Apa itu? kamu berusaha mengalihkan permbicaraan? atau bahkan pikiran ku?"
Ayumi menggelengkan kepala. Gadis itu terlihat sedikit ketakutan.
"Bu-bukannya, tadi mau masak ya? terus ke-kenapa malah seperti ini? Abang tahu? kita suka ngaco kalau terlalu berdekatan seperti ini." Ayumi menatap manik indah di hadapannya dengan perasaan tak karuan.
Hatinya berdebar, perasaannya berbunga-bunga. Bahkan terasa di penuhi ribuan kupu-kupu beterbangan didalamnya.
"Itu bisa nanti, laparnya tiba-tiba hilang." Bisiknya dengan senyuk tipis sangat menggoda.
"Oh ya?"
Randy mengangguk.
"T-tapi aku yang lapar sekarang."
"Diamlah, aku hanya ingin seperti ini."
"Tidak boleh." Pekik Ayumi.
"Why? aku tidak akan berbuat lebih. Hanya kecupan seperti ini." Katanya, lalu mencium bibir Ayumi singkat.
Seketika Ayumi memejamkan matanya. Dan itu membuat Randy tersenyum, dengan perasaan aneh yang mulai meningkat lebih jauh lagi.
"Seandainya saja kamu mau aku nikahi secepatnya, maka kita tidak usah susah payah menahan rasa ini."
Kening keduanya menyatu, dengan mata yang saling terpejam.
"Aku mencintai mu, Ayumi. Salahkan jika aku ingin memiliki mu seutuhnya?" Randy berbisik.
Mata Ayumi perlahan terbuka. Hingga dia mampu menatap wajah tampan kekasihnya dari jarang yang sangat dekat.
Tangan kanan Ayumi terangkat, menyentuh pipi Randy, dan mengusapnya lembut. Sementara satu tangan lainnya memegangi lengan Randy, seolah takut akan terjatuh jika Ayumi tidak melakukannya.
"Aku juga sama. Bahkan aku kacau saat melihat Abang bersama Dokter itu, tapi aku belum mau menikah bukan karena tidak cinta, tapi ada sesuatu yang harus aku wujudkan. Aku mau kuliah, aku mau memantaskan diri, agar tidak ada yang merendahkan kamu, karena kamu memilih aku, ... yang hanya seorang Office Girl ini." Iris kecoklatan itu bergerak-gerak.
"Kamu takut?" Randy mulai membuka mata.
Ayumi menjawab dengan anggukan pelan, kemudian tersenyum tipis.
"Apa salah? jika seorang Office Girl mencintai Asisten pribadi?" Raut wajah Randy berubah sendu.
Kini Ayumi menggelangkan kepalanya. Dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Apa aku harus membekap mulut mereka dengan uang? jika ya, ... akan aku lakukan."
"Bukan begitu, aku hanya ingin membuktikan jika ..."
Belum selesai Ayumi berbicara, pria itu segera membungkam mulut Ayumi dengan ciuman yang lebih dalam dan menggebu-gebu.
__ADS_1
Bahkan saking semangatnya, tubuh Ayumi perlahan mundur, dan berhenti saat tubuh semampai itu membentur meja marmer yang berada disana.
Tidak ada penolakan dari Ayumi, bahkan kali ini dia sudah benar-benar terbawa suasana, terlihat dari kedua tangan yang kini sudah melilit erat di pundak Randy.
Suara decapan jelas terdengar, memenuhi ruangan itu, yang hanya ada mereka berdua.
Randy melepaskan ciuman keduanya.
"Astaga!" Ayumi memeluk tubuh Randy sangat erat, saat pria itu mengangkatnya, sampai duduk diatas meja sana.
Randy tersenyum.
"Aku takut!"
Cup!
Randy mencium singkat bibir Ayumi.
"Ada aku, peluk dan berpeganganlah!" Dia berujar.
Ayumi terkekeh kencang.
"Kenapa disini? aku takut ketinggian!" Rengek Ayumi. "Turunkan aku, ayok kita masak." Pinta Ayumi penuh permohonan.
"Masak spaghetti bisa?"
"Bisa."
"Baik, ayok kita masak spaghetti."
"Ah, ... tapi aku belum makan nasi." Gadis itu terus merengek.
Randy tertawa kencang, sampai kepalanya mendongak keatas dengan mata yang juga ikut terpejam.
Dia benar-benar sangat menggemaskan.
"Sepertinya spaghetti tidak cocok dengan nasi."
"Memang."
"Jadi mau masaka apa?" Randy membingkai wajah canti itu.
"Yang gampang saja, ... nasi ada?"
Randy mengangguk.
"Ada."
"Di kulkas ada apa?"
"Banyak, kamu maunya apa."
"Telur ada?" Ayumi memegangi kedua pipi Randy, lalu mencubitnya perlahan.
"Ada sayang, jangan bawel atau ..."
Ayumi segera menutup mulut Randy.
"Turunkan aku, ayok kita masak terlur dadar."
"Baiklah, ... baiklah!" Randy menurunkan Ayumi. "Minggu depan kita akan pergi liburan, jangan menolak, apalagi banyak alasan!" Randy memperingati, saat Ayumi baru saja berniat membual mulut.
"Ish!" Ayumi mencebikan bibir, sembari memutar kedua bola matanya. "Tukang paksa!" Pekik Ayumi sedikit kesal.
Haih, bersabarlah Randy. Habisi dia jika memang sudah benar-benar menjadi milik mu, sekarang tahan dulu.
......................
Eh eh eh, kok gitu bang๐๐๐
__ADS_1