
Klek!!
Ayumi yang sedang duduk di atas lantai menengadahkan pandangan, saat tiba-tiba saja seseorang membuka pintu ruangan tempatnya melakukan segala hal yang harus dia kerjakan.
Terlihat Junior berdiri di ambang pintu.
"Kamu baik-baik saja?" Dia mendekat.
Gadis itu mengangguk, kemudian berdiri.
"Kemarin ada masalah?" Junior kembali bertanya, meski sesungguhnya dia sudah mengetahui itu dari Randy dan seorang satpam yang melaporkan kejadian tersebut, juga keterangan beberapa pekerja.
Gadis itu diam menundukan kepala. Sepertinya dia sedang ketakutan saat ini.
"Kalau begitu ayo, Bu Balqis memanggil, mu. Jangan takut! Jawab semua pertanyaan Bu Balqis, dan katakan apapun yang Tara katakan kepadamu kemarin siang, oke? Agar dia mendapatkan balasan setimpal."
Ayumi mengangguk.
Junior berbalik badan, berjalan ke arah luar terlebih dahulu, di susul Ayumi yang berjalan di belakangnya sambil menundukan kepala.
Perasaannya campur aduk. Dia merasa cemas dan malu di saat yang bersamaan, karena orang-orang sekitar terlihat menatapnya, juga merasa takut, takut setelah ini Tara akan semakin menjadi-jadi dan banyak melakukan hal buruk kepada dirinya.
Langkah Ayumi terhenti, saat mereka sampai di depan pintu ruangan Balqis yang tampak tertutup dengan rapat.
Tok tok tok!!
Junior mengetuk pintu beberapa kali, menekan handle, kemudian mendorongnya perlahan sampai terbuka cukup lebar.
"Kemarilah." Seorang perempuan pemimpin perusahaan itu membuka suara.
Ayumi menatap lurus kedepan, melihat Balqis yang tengah menatap layar iPad dengan sangat serius.
Dia berjalan masuk, mendekat kearah kursi di hadapan Balqis, dan berdiri di sana dengan perasaan berdebar.
Balqis menggeser iPadnya terlebih dulu, kemudian menatap Ayumi, dia tersenyum dan mengulurkan tangan, seraya mempersilahkan Ayumi untuk duduk.
"Bagaimana keadaanmu?" Wanita itu tersenyum.
"Saya baik, Bu."
"Ada yang terluka?"
Ayumi menggelengkan kepalanya.
"Apa yang Tara lakukan? Apa yang dia katakan? Dan karyawan lain tidak ada yang berniat membela mu?" Balqis mencerca Ayumi dengan banyak pertanyaan.
Dia tidak langsung menjawab, Ayumi hanya terus memainkan jemarinya satu sama lain, saat rasa gugup tiba-tiba saja menguasai diri.
Mata Balqis seketika melihat kearah belakang, dimana Junior berdiri di ambang pintu, dengan pandangan yang terus tertuju pada Ayumi yang sedari tadi terus menundukan kepala.
"Tidak usah takut, katakan saja." Junior berkata.
"Takut? Memangnya Tara mengancam kamu?"
__ADS_1
Gadis itu masih bungkam, tapi kali ini dirinya terlihat menangis, meski terkesan diam, isakan itu terdengar begitu jelas oleh Balqis.
Junior beranjak mendekat, lalu berjongkok di samping Ayumi, dia mengangkat pandangan agar bisa melihat wajah gadis itu yang sedari tadi terus di sembunyikan.
"Sebaiknya kamu pulang, dan istirahat." Ujar pria itu kepada Ayumi.
Tangisan Ayumi semakin terdengar kencang.
"Keadaan Ayumi tidak baik-baik saja." Junior beralih pada Balqis.
Wanita itu mengangguk, menghempaskan punggung pada sandaran kursi kerjanya, dan helaan nafas terdengar.
"Sepertinya kamu harus membawa Ayumi ke rumah sakit, konsultasikan keadaannya dengan Dokter Psikiater. Semua pekerjaan biar aku yang menangani! Termasuk desain yang sedang kamu selesaikan hari ini. Pergilah antar Ayumi, masalah Tara dan yang lain akan aku serahkan kepada Raga, apalagi dia menghapus rekaman cctv, … dan itu benar-benar sudah menyalahi aturan kantor kita."
Junior menganggukan kepala, dia meraih tangan Ayumi, dan membawanya keluar dari ruangan sana, meninggalkan Balqis sendirian dengan perasaan bersalah yang cukup besar.
Kenapa dia bisa seceroboh ini? Kenapa tidak menyadari jika salah satu pegawainya mendapatkan perlakuan yang kurang baik dari pegawai lain.
Ditambah Ayumi yang saat ini terlihat sangat tertekan, membuat Balqis merasa gagal sebagai seorang atasan.
Menjadi sasaran kemarahan sang Kakak sejak dia masih kecil. Mendapatkan bully-an saat sekolah, benar-benar membuat Ayumi menjadi seorang yang sangat tertutup, ditambah kejadian beberapa waktu lalu yang sangat mengejutkan semua orang, termasuk dirinya saat Alvaro memberitahu kabar jika Ayumi hanyalah seorang anak angkat, yang pernah dia temukan di tempat yang sangat sepi di desa sana.
Balqis benar-benar tak habis pikir, bagaimana beratnya menjadi Ayumi, yang harus tetap kuat diterpa badai sendirian, dan jauh dari keluarga seperti saat ini.
"Malang sekali dia ini. Dan aku merasa bersalah karena tidak bisa melindungi dia." Gumam Balqis.
Dia memejamkan matanya, lalu memijat kening yang mulai terasa sangat pusing.
***
"Dari hasil pemeriksaan. Sepertinya Ayumi mengalami Anxiety Disorder. Gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan perasaan khawatir, cemas, atau takut yang cukup kuat untuk mengganggu aktivitasnya sehari-hari."
Dokter menjelaskan kepada Junior yang saat ini duduk di hadapannya.
Junior sangat terkejut mendengar penuturan Dokter. Bagaimana bisa Ayumi mengalaminya, karena setahu dia gadis itu tidak pernah memperlihatkan gejala apapun, yang lebih menonjol akhir-akhir ini adalah sifatnya yang berubah murung dan menjadi sangat pendiam.
"Saya kurang mengerti, Dok. Boleh berikan saya satu contoh?"
Dokter pria itu mengangguk seraya tersenyum simpul.
"Salah satu contohnya, pasien akan merasakan; Serangan panik, gangguan obsesif-kompulsif, dan gangguan stress pasca trauma."
Junior diam, dia berusaha memahami meski sesungguhnya dia pun masih merasa pusing walau Dokter sudah menjelaskannya.
"Apa Ayumi adalah gadis yang sangat tertutup?" Dokter bertanya.
Junior berpikir sebentar, mencoba mengingat, lalu menganggukan kepala.
"Dia tidak terlalu mempunyai banyak teman, dia cenderung tertutup kepada orang baru, tapi dia juga tidak pernah mau berbagi cerita, bahkan bisa dibilang menyimpan masalahnya sendiri, apalagi sekarang dia sudah bekerja, hidup jauh dari orang tua, dan … mungkin dia tidak mempunyai teman untuk saling mengungkapkan masalah dan saling berkeluh kesah."
"Baik. Kalau begitu saya akan memberikan Ayumi obat antidepresan."
"Apa ada jadwal konseling selanjutnya, Dok?"
__ADS_1
"Tentu saja harus, kami juga menyarankan Ayumi untuk mengikuti terapi, seperti; perilaku kognitif, meditasi dan Psikoterapi." Jelasnya sembari memberikan sebuah kertas kepada Junior.
Junior mengangguk, dan meraih kertas tersebut.
"Anda bisa menebus di apotek rumah sakit, atau apotek mana pun yang Anda inginkan." Dokter itu bergurau, berusaha membuat suasana sedikit mencair.
"Terimakasih, Dok. Kalau begitu saya pamit, mari."
"Silahkan."
Junior bangkit dari duduknya, lalu keluar dari ruangan Dokter tersebut. Dia segera menebus obat, melakukan transaksi pembayaran konsultasi, lalu pergi ke arah salah satu ruangan dimana Ayumi berada.
"Ayumi?" Panggil Junior, seraya menyibakan tirai yang tampak tertutup.
Dia menoleh, melihat ke arah Junior dan mengubah posisinya menjadi duduk.
"Bagaimana? Apa setelah pemeriksaan tadi kamu merasa lebih baik?"
Ayumi mengangguk.
"Saya antar ke rumah Papa yah! Kamu tidak boleh tinggal sendirian sampai kau pulih."
"Ke rumah Om Al?" Tanya Ayumi, dia turun dari atas tempat tidur sana.
"Iya, Abang nggak ngizinin kamu tinggal sendiri dulu." Kata Junior.
"Aku pulang ke rumah Ibu saja." Tolak Ayumi.
"Jika pulang, … bagaimana mana dengan terapinya? Kamu mengalami sesuatu yang sangat serius."
Mereka berdua berjalan beriringan, keluar dari dalam rumah sakit menuju parkiran mobil yang berada tidak terlalu jauh.
"Apa tidak merepotkan?"
"Tidak, rumah Papa sudah kekurangan satu personil. Jadi tenang saja!" Junior tersenyum.
"Yasudah kalau begitu. Setidaknya aku masih bisa bekerja kalau tinggal di rumah Bapak."
"Kok Bapak? Ini di luar kantor!"
Ayumi menggelengkan kepala.
"Nanti kalau manggil Abang, Ka Eca pasti makin nggak suka, jadi biarkan seperti ini saja!"
Junior menghentikan langkahnya, lalu melihat ke arah Ayumi.
"Maaf. Dia hanya tidak mengerti, … jangan di masukan kedalam hati, dan jangan memikirkan apapun, agar kamu segera sehat. Bercerita lah kepada Mama, nanti. Jangan menyimpannya sendirian, atau kau tidak akan pernah sembuh."
Seperti magnet, ucapan itu mampu menarik sebuah ingatan. Dimana Amar yang kini tak pernah bersikap baik kepada dirinya, memaki dan melontarkan kata-kata kasar, begitu pun dengan para seniornya di tempatnya bekerja, lalu sebuah kenyataan hidup membuat dirinya benar-benar terpukul dan kehilangan sebuah arah kehidupan yang akan mendatang, tapi itu kembali dia pendam, agar orang-orang disekitarnya tidak terlalu khawatir dan melihatnya bahagia, terutama kedua orang tuanya, Tutih dan Ali.
Namun kejadian itu membuat Ayumi mengalami hal yang tidak disangka-sangka. Kini gadis periang itu mengidap Anxiety Disorder salah satu gangguan mental yang mungkin saja, bisa mengganggu aktivitasnya sehari-hari.
......................
__ADS_1
Jangan lupa hadiah dan votenya buat Ayumi🥴