My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 112 (Sunrise)


__ADS_3

Randy mengerjapkan mata, saat sesuatu terus bergerak-gerak dan menelusup semakin mendekati ketiaknya.


"Ay?" Suara bariton itu terdengar parau.


Dia memanggil istrinya di sela kesadaran yang belum sepenuhnya kembali.


"Kamu ini kenapa?" Randy semakin bingung saat hidung Ayumi terus mengendus-endus, memberikan rasa hangat sekaligus geli di ketiak sana.


Perempuan itu tidak menjawab, pergerakannya pun tiba-tiba berhenti saat wajahnya benar-benar terbenam di dalam ketiak sana.


Pandangan Randy menunduk, menatap wajah yang begitu tenang, dengan hembusan nafas teratur, dan tanpa Randy sadari kedua sudut bibirnya melengkung, membentuk sebuah senyuman samar.


"Tempatnya masih sangat luas, tapi tidur mu terus mendesak ke arah sini sampai-sampai aku hampir terjatuh." Ucapnya pelan, seraya membenarkan posisinya yang saat ini benar-benar sudah berada di tepi ranjang.


Tangannya bergerak, menyentuh pipi Ayumi dengan sangat pelan, lalu menunduk dan mencium kening istrinya singkat.


"Bagaimana bisa? Anak kecil akan segera mempunyai anak kecil." Dia mengusap kening Ayumi, menyingkirkan beberapa rambut yang terurai menghalangi, dan mengaitkannya di daun telinga.


"Aku mencintaimu, Ayumi Kirana. Entah bagaimana aku harus mengungkapkan rasa ini yang sudah semakin besar." Ucap Randy sambil terus menatap wajah Ayumi.


Tubuh Ayumi kembali bergerak lagi, dia semakin merapatkan diri.


"Sayang, nanti kita akan jatuh!" Randy terkekeh, berusaha menahan tubuhnya yang terus Ayumi seret sampai benar-benar hampir terjatuh.


Mendengar itu Ayumi segera mengerjapkan mata, terbangun dan segera bangkit dengan mata yang menatap ranjang tidur itu.


Dan betapa tertegunnya dia, saat sisi kiri yang awalnya dia tempati kini kosong melompong. Sementara dirinya terus menempel pada tubuh sang suami yang hampir terjatuh.


"Kita hampir jatuh, sayang!" Randy menatap Ayumi sambil tersenyum.


"Oh, aku nggak sadar. Maaf!"


Ayumi segera bergeser, lalu menarik suaminya agar berbaring lebih ketengah. Dan setelah itu Ayumi kembali merebahkan tubuh, menelusupkan wajah pada ketiak Randy kembali, sampai membuat pria itu terheran-heran.


"Ay, apa tidurnya tidak di bantal saja? agar lebih nyaman?" Suaranya terdengar begitu lembut.


"Aku nyaman disini." Gumam Ayumi.


Perempuan itu mulai memejamkan matanya kembali.


"Tapi kenapa? Nanti leher kamu sakit kalau tidur dengan posisi ini?"


"Nggak akan, aku nyaman tidur seperti ini." Katanya lalu menarik nafas panjang, menghirup aroma Randy lagi dan lagi.


"Kamu aneh sekarang!"


"Masa? Aneh apanya? Aku cuma suka sama parfum kamu, … biasanya juga kan begitu!" Jawab Ayumi tanpa membuka matanya sedikit pun.


Randy bergerak, menggeser tubuhnya sedikit menjauh agar dapat melihat wajah istrinya dengan sangat jelas. Namun dengan cepat Ayumi mengikis jarak di antara keduanya.


"Abang ish!" Dia membuka mata, menatap suaminya dengan raut kesal.

__ADS_1


"Apa tidak bau? Dari tadi kamu mencium-cium ketiak aku!" Randy tertawa pelan.


"Mana ada bau!" Balasnya ketus.


Akhirnya Randy diam, membiarkan Ayumi melakukan apapun yang dia sukai. Sekilas Randy melirik ke arah jarum jam yang menempel di dinding kamar hotel.


"Baru jam 3, pantas saja masih sangat sepi!" Gumam Randy, kemudian dia kembali memejamkan mata.


***


"Abang?"


Ayumi mengguncang tubuh suaminya yang terus terlelap, bahkan sudah beberapa kali dia memanggil, namun tetap saja pria itu tak menghiraukan panggilannya.


"Abang sudah pagi, … ayo kita berburu sunrise!" Panggilnya lagi.


Dan kali ini lebih keras, agar Randy segera tersadar menepi dari lautan mimpinya.


"Abang!" Teriak Ayumi kesal. "Nggak tau ah, aku males!" Suaranya memekik kencang.


Dan kali ini berhasil, mata Randy mengerjap dengan tubuh yang bergerak, berbalik menghadap Ayumi yang sedari tadi duduk di atas ranjang dengan raut wajah masam.


"Kenapa?" Tanya Randy, sambil mengusak matanya yang masih terasa begitu lengket.


Kantungnya masih terus menyelimuti, hingga butuh usaha ekstra agar dia mampu benar-benar membuat kesadarannya kembali sepenuhnya.


"Kesel banget deh! Aku bangunin dari tadi, nggak bangun-bangun, aku mau keluar lihat sunrise." Cicit Ayumi dengan suara bergetar.


"Jangan nangis, maaf aku nggak denger sayang!"


Seketika Randy mengubah posisinya menjadi duduk, untuk kemudian mengusap air mata yang mulai berjatuhan membasahi pipi.


"Aku kesel!" Ayumi memukul-mukul dada Randy saat pria itu hendak memeluknya dengan suara yang begitu lirih.


"Iya iya maaf, … sekarang aku bangun, ayo kita lihat sunrise nya, tapi aku cuci muka sama gosok gigi dulu yah!?" Randy mencoba menghentikan kesedihan istrinya.


Ayumi tidak menjawab, namun dia menundukan kepala dan mengusap kedua matanya. Randy segera turun, kemudian berjalan memasuki kamar mandi.


Dan setelah tiga menit berlalu. Akhirnya mereka berjalan keluar dari dalam kamar tempatnya menginap, masuk ke dalam lift untuk turun, lalu menuju pantai pasir putih yang berada di area sekitaran hotel.


Deburan ombak kembali terdengar begitu kencang, hilir angin menerpa, membuat rambut Ayumi bergerak-gerak tak tentu arah.


Suasana masih begitu pagi, jam baru saja menunjukan pukul 05:20 pagi hari, membuat langit luas masih menampakan warna kehitaman. Mereka berjalan mendekati sebuah kursi pantai yang terbuat dari kayu, kemudian duduk di sana untuk menunggu matahari muncul.


"Uhhh, segar!" Ucap Ayumi dengan ekspresi wajah berbinar.


"Kamu senang?"


Ayumi mengangguk, kemudian memeluk lengan Randy, dan menyandarkan kepalanya pada bahu pria itu.


Apa ini bawaan Bayi? Aku kira hanya mitos, nyatanya orang hamil bisa berubah moodnya dengan seketika. Tadi dia marah sambil menangis, lalu dengan sangat mudahnya dia tersenyum bahagia.

__ADS_1


Batin Randy berucap.


"Abang?" Pandangan Ayumi menengadah.


"Ya?" Randy menyahut, lalu tersenyum dan mengusap pipi Ayumi, untuk menyingkirkan rambut yang terus bergerak-gerak menghalangi wajah cantik istrinya.


"Kita kapan pulang?" Tanya Ayumi pelan.


"Pulang kemana? Ke rumah Ibu atau ke rumah kita?" Randy memperjelas.


"Memangnya kalau ke rumah Ibu, … Abang masih libur kerja?"


Randy mengangguk.


"Sampai kapan?"


"Mungkin Minggu depan sudah masuk, ini juga tidak sepenuhnya libur, kadang membantu memeriksakan beberapa berkas yang Pak Raga kirimkan via emai." Jelas Randy.


Ayumi diam, dia menatap wajah suaminya lekat-lekat, dengan senyum tipis yang tak pernah surut.


"Kok kamu makin ganteng yah!"


Kening Randy berkerut.


"Iya, kamu makin ganteng. Makin wangi, aku kangen Abang terus sekarang, kayaknya jauh sedikit aja tuh rasanya aneh." Ungkap Ayumi dengan senyum yang terlihat semakin lebar.


Ya, tapi kamu terus mengomel kepadaku.


Randy tertawa di dalam hatinya.


"Pulang dari sini boleh mampir ke supermarket?"


Randy menjawab dengan anggukan.


"Sepertinya kita harus segera membeli susu hamil agar dia tumbuh dengan sehat." Randy segera meraih perut Ayumi, dan mengusapnya dengan sangat lembut.


Hatinya kembali menghangat, perasaannya begitu bahagia, bahkan dadanya terasa bergetar lebih kencang saat pikirannya memberitahu jika ada janinnya yang sedang tumbuh.


"Bukan. Aku mau beli tomat apel! Kayanya enak di rujak pakai gula pasir."


"Tomat?"


"Iya, tomat apel, … bukan tomat sayur!"


"Bedanya apa?"


"Nggak tahu, tapi tomat apel di jualnya cuma di supermarket market, di pasar kebanyakan tomat sayur." Jelas Ayumi.


"Baiklah, apa yang tidak untukmu." Randy mengangguk, dan semakin mengeratkan dekapannya pada tubuh Ayumi.


Setelah itu mereka terdiam. Menikmati suasana pantai pada pagi hari. Langit luas mulai berubah warna, saat cahaya matahari mulai menyapa, dan beberapa orang mulai berdatangan untuk menikmati indahnya fenomena alam yang selalu terlihat begitu indah.

__ADS_1


__ADS_2