My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 86 (Bermain dengan Rambo)


__ADS_3

Setelah kejadian itu. Kini Laras semakin menutup diri, menjauh sebisa mungkin dari Alex, pria yang sudah merebut kesuciannya secara paksa. Bahkan tak jarang Laras tidak pulang ke rumah, dengan berbagai macam alasan yang dia katakan kepada kedua orang tuanya, juga Nurma sang Kaka perempuan, yang terpaut 5 tahun lebih tua darinya.


Tatapan penuh cinta, perlakuan yang begitu istimewa yang Nurma lakukan untuk sang suami, membuat Laras merasa semakin bersalah, walaupun bisa dikatakan pecundang dan penjahat sebenarnya adalah Alex.


Dan hari-hari yang Nurma tunggu pun tiba. Dia hendak terbang bersama Alex, menuju Jerman sana, tinggal sampai waktu yang tidak bisa ditentukan.


"Kami pergi dulu ya, Ras. Jaga Ayah sama Ibu, nanti aku kirim surat." Raut wajahnya tampak sumringah, dia terlihat sangat bahagia.


Laras mengulum senyum, lalu mengangguk.


"Ayah, Ibu … Nurma berangkat yah, nanti kalau Alex dapat cuti lagi dari kerjaannya, kita pulang kesini."


"Iya, baik-baik disana." Perempuan tua itu berujar.


"Ayah tidak bisa berkata apa-apa lagi, hanya saja jangan pernah lupakan tanah kelahiran mu, meski Ayah tahu kehidupan disana pasti sudah lebih maju, … dan kamu pasti merasa nyaman."


Nurma menoleh ke arah suaminya, kemudian tersenyum. Sementara Alex, dia hanya memaksakan senyumnya. Jelas ini hal terberat untuknya, sikap Laras yang kini berubah, bahkan semakin susah dijangkau, membuatnya sedikit ketakutan, apa yang akan dia lakukan jika dia benar pergi nantinya.


Apa Laras akan baik-baik saja? Atau bahkan dia semakin terpuruk?


"Baik, ayo …" Nurma menepuk lengan Alex, lalu mereka menarik 2 koper berukuran besar, berisikan pakaian masing-masing.


Ayah dan Ibu Nurma mengantarkan, bahkan sampai keduanya memasuki sebuah mobil travel untuk melakukan perjalanan menuju bandara internasional.


Berbeda dengan Laras, perempuan itu kembali masuk kedalam kamarnya, dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


Sedih, merasa bersalah, terpukul, hancur, semuanya beradu padu menjadi satu.


Waktu terus beranjak, detik jarum jam juga terus berputar.


1 bulan terasa berlalu dengan begitu cepat.


Laras mulai merasakan gejala-gejala aneh pada tubuhnya. Indra penciuman mulai lebih sensitif, pusing dan mual dia rasakan setiap hari, sampai gadis itu benar-benar tidak bisa melakukan aktivitas se-normal biasanya.


Dan perubahan itu jelas kedua orang tua Laras sadari, mereka tampak curiga, dengan gejala yang Laras alami seperti seorang perempuan yang tengah hamil muda.


Laras terus didesak oleh kedua orang tuanya. Untuk segera memeriksakan diri kepada Bidan setempat. Gadis itu sempat menolak, namun dia tidak bisa melakukan apapun lagi saat sang ibu memanggil Bidan tersebut ke rumahnya langsung.


"Bagaimana, Bu? Apa dugaan kami benar?" Tanya Wanita itu setelah Bidan selesai melakukan pemeriksaan, bertanya berbagai macam hal, yang Laras jawab sejujur-jujurnya.


Bidan tersebut menatap Laras, lalu kedua orang tuanya bergantian, dengan raut wajah sedikit ragu.


"Bu Bidan? Apa dugaan kami benar? Laras mengalami mual muntah setiap di pagi hari, dia tidak mau makan nasi, bahkan dia tidak bisa mencium bau-bau makanan tertentu. Apa dia hamil?"


"Mmmm …" Bidan itu semakin bingung, saat melihat raut wajah ketakutan dari Laras.


"Berapa bulan kira-kira?" Wanita tua itu langsung bertanya, tentu saja insting seorang ibu memanglah kuat, dia bahkan mengetahui keadaan Laras meski tanpa bantuan Bidan atau alat apapun.


"Usia kandungannya sudah 9 Minggu."


Deg!!


Tulang-tulang di seluruh tubuhnya terasa patah, tubuhnya melemas, jantungnya terasa berhenti berdetak, juga dunia yang tiba-tiba saja terasa berhenti.


"Anak siapa itu?"


Laras diam.

__ADS_1


"Bayu?"


"B-bukan." Laras menggeleng-gelengkan kepala.


Kenyataan pahit itu akhirnya diketahui oleh kedua orangtuanya.


Laras di tatap ibunya dengan sangat tajam, raut wajah tak suka sudah pasti dia perlihatkan, sampai-sampai dia berkata kepada sosok Bidan tersebut;


"Tolong gugurkan kandungannya, … keluarkan bayi itu! Dia aib keluarga, pembawa sial!" Ibu Laras berucap demikian.


Laras menggelengkan kepala untuk menolak, bagaimanapun dia tahu jika bayi di dalam kandungannya tidaklah berdosa.


Sementara sang ayah terdiam, dengan perasaan yang begitu hancur. Bagaimana bisa dia mendapati putri bungsunya mengandung sebelum menikah.


"Bu? Saya mohon, berikan kami obat untuk mengeluarkan janin itu!"


"Tidak!" Serga Laras.


"Yang berdosa aku, bayinya tidak."


"Bu Bidan? Saya mohon."


"Tida aku tidak mau, … jika kalian akan membunuh bayi ini, maka Ibu harus membunuh aku juga."


Laras mulai menangis, lalu bangkit untuk segera pergi, berlindung dari hal dan kemungkinan terburuk yang Ibunya lakukan.


"Laras?!" Wanita tua itu hendak mengejar.


"Aku tidak mau."


Laras terus berlari, berusaha menjauh dari kejaran sang ibu.


"Kalau begitu aku tidak mau menikah saja."


Sekuat tenaga Laras terus melangkahkan kakinya, menjauh dari sang ibu yang mempunyai niat tak baik, bahkan kepada calon cucunya sendiri.


***


Klek!


Randy mendorong pintu kamarnya perlahan, pandangannya langsung tertuju pada perempuan yang tengah berbaring tengkurap, mengacungkan kedua kaki yang terus bergerak-gerak, sambil membaca sebuah buku di hadapannya.


Ayumi tak terganggu sedikitpun, bahkan saat Randy berjalan masuk, membuka dasi, jas, dan tas kerjanya, perempuan tetap fokus pada sesuatu yang disimpan di atas bantal.


Randy memelankan langkah kakinya, mendekati tempat tidur, naik dengan sangat perlahan, lalu memeluk tubuh istrinya sampai Ayumi memekik penuh keterkejutan.


Cup!


Randy mencium tengkuk Ayumi.


"Kamu bikin aku kaget." Cicit Ayumi, dia memegangi dadanya sendiri.


Randy tersenyum, dan kembali mengecup leher Ayumi tanpa merasa puas.


"Abangh!"


"Hemmm? Diamlah, aku hanya merindukan istriku."

__ADS_1


"Nghhh, … geli!" Dia mendesah pelan, berbalik badan dan menyingkirkan tubuh Randy di atas tubuhnya.


Randy tersenyum.


"Sibuk sekali! Sampai aku masuk pun kamu tidak menggubrisnya."


Ayumi bangkit, menutup buku yang sedari tadi menemaninya, kemudian menyimpan di bawah bantal.


"Aku lagi baca novel tadi, sampai lupa semuanya." Kata Ayumi.


"Sudah makan? Sudah minum obat?"


"Sudah, … kamu awal sekali pulang?"


"Semuanya sudah selesai. Termasuk agenda untuk acara kita."


Ayumi mengangguk, dengan senyum indah merekah.


"Abang sudah makan?"


"Makan nasinya sudah, … makan kamu yang belum."


"Iya nanti makan aku yang puas yah, sekarang aku siapkan air untuk mandi Abang, oke?"


Ayumi bergerak ke arah ujung ranjang, menurunkan kedua kakinya, lalu beranjak memasuki pintu kamar mandi yang sedari tadi terbuka.


Randy menahan senyumnya, ikut turun dari atas ranjang sana, lalu berjalan mengikuti Ayumi.


Klek!


Trek!


Ayumi memutar tubuh saat mendengar pintu tertutup, dan terkunci bersamaan. Dan betapa terkejutnya dia saat mendapati Randy yang sudah berjalan mendekatinya, dengan senyuman yang sangat menyeramkan.


Astaga, bahkan dia sudah mulai membuka kancing kemejanya satu-persatu.


Batin Ayumi menjerit.


"Nggg, … bathtub nya sedang aku isi air, kamu tinggal nunggu penuh!" Ayumi tersenyum gugup.


Dia berniat keluar, namun Randy menahan tangannya.


"Butuh sesuatu? Biar aku ambilkan."


Randy tidak menjawab, dia justru menarik Ayumi sampai benar-benar mendekat, menunduk untuk meraih ujung dress rumahan yang Ayumi kenakan, dan menariknya lepas, sampai hanya menyisakan sepasang pakaian da**m berwarna kuning, yang terlihat begitu menggoda.


"Aku butuh kamu."


"Eh, tapi belum selesai."


"Tidak apa-apa, kita hanya akan bermain-main saja, dan aku butuh bantuan kamu kali ini."


"Tapi …"


"Shutttt, … Rambo sedang ingin bermain dengan Mommy nya, ayolah!"


Randy mematikan kran air yang sedang mengisi bathtub, kemudian menarik Ayumi sampai mereka benar-benar berada di bawah shower.

__ADS_1


Ayumi terhenyak saat air yang begitu dingin menyentuhnya, dan mengalir sampai keseluruhan tubuh, sementara pria itu hanya tersenyum, menikmati ekspresi wajah yang begitu cantik, dan mempesona.


__ADS_2