
"Sebaiknya, … kita mulai terbuka dengan keluarga masing-masing. Mau sampai kapan seperti ini? Menjalin hubungan dengan sembunyi-sembunyi, seperti sedang berselingkuh saja."
Amar menatap gadis cantik yang duduk di hadapannya. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah sahabat dari adik angkatnya sendiri. Pertemuan tidak sengaja di halte bis selama 2 tahun terakhir secara intens, membuat keduanya memiliki ketertarikan satu sama lain.
"Kayaknya aku belum siap kalau soal ini. Mungkin hanya aku yang akan memperkenalkan kamu kepada ayah dan ibu, … tapi sungguh aku belum siap untuk melihat reaksi kedua orang tua kamu, apalagi reaksi Ayumi. Dia pasti melayangkan banyak pertanyaan dalam waktu yang bersamaan!" Una berujar.
Dia menatap pria yang sudah menjadi kekasihnya itu lekat-lekat. Ada rasa tidak menyangka, ketidak sukaannya terhadap sikap amar kepada sahabatnya, justru mengantarkan ia sampai berada di titik ini.
Aneh, tapi itulah hati. Kadang tidak pernah bisa di tebak.
"Kau tahu? Ayumi mungkin akan bahagia dengan kabar ini?"
Tangan Amar bergerak meraih tangan Una yang berada di atas meja, lalu menggenggam.
Gadis itu diam.
"Umurku sudah tidak bisa lagi untuk bermain-main, Una. Dua tahun sepertinya cukup untuk membuat kamu yakin dengan kata-kataku yang satu ini!"
"Iya, aku tahu!"
"Lalu apa yang membuat kamu masih harus berpikir tentang hubungan kita? Apa menurutmu Ayumi akan menjadikan ini sebagai guyonan? Aku rasa tidak, dia sudah lebih dewasa sekarang."
Una kembali diam, tapi dengan sorot mata yang ditujukan kepada Amar. Pria pertama yang menjadi kekasihnya.
"Atau soal pekerjaanku? Yang hanya seorang house kuping? Kamu malu bersuamikan aku?"
"Aku hanya belum siap," Una tampak menyakinkan.
Amar memejamkan matanya, kemudian menghela nafas cukup kencang. Tidak tahu kenapa, Una masih tidak mau hubungan mereka diketahui orang lain, meskipun hubungan itu sudah berjalan hampir dua tahun lebih.
"Lalu kapan? Usiaku tiga puluh tiga tahun, sekarang!" Desak Amar.
Una menggelengkan kepala.
"Sepertinya aku butuh satu tahun lagi, untuk benar-benar meyakinkan diri jika …"
"Setahun lagi?" Gumam Amar, dengan raut wajah kecewa.
Una mengangguk pelan. Dia pun ragu dengan apa yang baru saja keluar dari mulutnya, namun desakan Amar juga jelas membuat Una bingung.
Bukan tidak mengerti kekhawatiran Amar, tapi menikah di usianya sekarang sungguh membuat dirinya belum benar-benar siap. Tidak hanya soal mempersatukan keluarga, berita perselingkuhan yang terekspos di sosial media membuat Una benar-benar takut melangkah ke arah sana.
"Lalu setelah satu tahun, kamu akan meminta satu tahun lagi? Dan satu tahun untuk selanjutnya?"
"Tidak, hanya satu tahun lagi. Tahun depan kita beritahu orang-orang," Una beralih memegangi tangan Amar.
Namun dengan segera pria itu tepis karena rasa kecewanya yang sungguh besar.
"Apa yang membuat kamu tidak yakin?"
"Bukan tidak yakin, aku hanya takut."
__ADS_1
Kening Amar mengkerut, dan dia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran kekasihnya.
"Aku hanya butuh waktu untuk meyakinkan diri, jika tidak semua pasangan menikah akan berakhir karena orang ketiga."
Amar semakin bingung.
"Una yakin Abang tahu pemberitaan di luar sana sekarang. Hampir semua laki-laki berselingkuh, tidak ada yang kurang, bahkan mereka memiliki istri yang cantik, anak yang lucu, tapi sepertinya itu tidak cukup membuat para suami bertahan untuk satu wanita saja. Dan aku takut itu terjadi kepada kita."
Mata Amar memicing, jelas dia mulai paham kemana arah pembicaraan Una.
"Kamu berpikir jika aku akan begitu?"
"Aku hanya takut."
Amar menatap Una dengan rasa kecewa yang sangat besar. Apa yang dia lakukan, apa yang dirinya perlihatkan, nyatanya itu tidak membuat Una yakin kepada dirinya. Gadis itu memang tidak mengatakan jika Amar sama seperti laki-laki yang melakukan hal gila di luaran sana, tapi secara tidak langsung Una berpikir jika Amar juga pasti melakukan hal yang sama, sehingga membuat Una takut melangkah ke jenjang yang lebih serius.
"Takut aku berbuat seperti apa yang mereka lakukan? Oh ayolah aku tidak segila itu!"
"Una tahu, … tapi Una beneran belum siap!"
"Aku tidak segila itu, Aruna!" Sergah Amar.
Una mengangguk, dia berusaha memperlihatkan senyum, agar membuat Amar tidak kecewa. Meskipun pada kenyataannya, ketakutan ia untuk melakukan apa yang Amar mau sudah jelas membuat pria itu merasakan kecewa yang amat dalam.
"Hanya satu tahun lagi, setelah itu terserah Abang."
Namun, Amar menggelengkan kepala.
"Hanya satu tahun."
"Apa katamu? Hanya? Lalu apa yang kau janjikan satu tahun yang lalu? Kau hanya mengulangi kata-kata yang sama tanpa melakukan keputusan apa-apa setelahnya."
"Aku janji."
Amar menatap Una penuh kecewa, kemudian dia bangkit dari duduknya, membuat sang kekasih terlihat sedikit panik.
"Abang tunggu! Duduklah lagi!" Pintanya.
"Kau juga berjanji satu tahun yang lalu. Tapi apa kamu menepati janji itu sekarang?" Amar bersungut-sungut, seraya menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Aruna. Sudah bisa aku pastikan satu tahun yang akan mendatang pun, kamu masih akan meminta hal yang sama."
Amar hampir pergi, jika saja Una tidak menahan lengannya.
"Kita bertemu tidak untuk bertengkar bukan? Seharusnya kita baik-baik saja, … sama halnya sebelum kita membahas ini!"
"Ya, tapi aku mulai lelah dengan alasan-alasanmu, Aruna!"
"Duduklah dulu, jangan dibiasakan seperti ini. Kamu apa-apa emosi duluan."
Una kembali menarik Amar, sehingga pria itu duduk di kursi semula.
__ADS_1
"Minuman kamu bahkan masih utuh, … di minum dulu, sayang uang kamunya kalau udah dibayar tapi malah nggak diminum."
Dia meraih cup berisikan iced coffee milik kekasihnya, lalu mendekatkan benda itu pada Amar.
Orang yang di maksud hanya diam sambil menatap wajah gadis di hadapannya.
"Minum, biar kamunya tenang."
Namun, Amar masih tidak menggubris permintaan Aruna, sehingga membuat gadis itu menghela nafasnya dan berusaha tetap sabar menghadapi pria berusia 33 tahun itu.
"Gini kan? Abang kalau udah kesel tuh sulit banget redanya. Padahal sudah aku jelasin, kita jalanin aja dulu, biarkan mengalir. Soal keluarga nanti mereka juga tahu sendiri, tidak usah terburu-buru kenapa sih? Jadinya kita bertengkar setiap kali membahasnya."
Amar segera meraih cup minumannya yang sedang Una genggam. Lalu menyesap es kopi miliknya perlahan-lahan.
"Aku hanya takut, … aku tidak dapat menemani masa pertumbuhan anak-anaku jika menikah terlalu tua."
"Iya aku mengerti, tapi pelan-pelan. Jangan grasak-grusuk kayak begini! Nggak semuanya yang Abang mau bisa langsung terwujud, aku cuma butuh waktu aja kok."
"Tapi, …"
Amar hendak kembali berbicara, tapi Una menggelengkan kepalanya, sambil memasang ekspresi wajah menggemaskan, sampai membuat Amar tidak dapat melakukan apapun selain menurut pada gadis yang sudah menjadi kekasihnya itu.
"Jangan bahas, nanti kita berantem lagi!" Una meraih minuman miliknya.
"Tapi ini harus diselesaikan, kalau tidak pasti akan berlarut-larut. Aku akan memberimu waktu, tapi tidak setahun juga, … itu terlalu lama. Ambilah waktu yang kamu mau, berpikirlah sepuas hatimu, setelah itu kamu boleh memutuskan."
"Iya iya, … tapi habis ini jangan marah melulu, aku bingung ngupahinnya gimana!"
Amar menatap Una lekat-lekat, kemudian mengetuk-ngetuk pipinya menggunakan jari telunjuk.
"Apa?"
"Salah satu cara yang sangat ampuh meredakan kesalahan kekasihmu, … ya ini!" Amar menggerakan alisnya naik turun.
Una mendelik, lalu mengalihkan pandangan ke arah lain, berusaha menyembunyikan wajah cantiknya yang bersemu merah.
Amar terkekeh.
"Setelah ini aku harus pergi menyusul orang tuaku yang sudah ada di rumah Ayumi."
Amar kembali membuka obrolan setelah beberapa menit mengheningkan cipta dengan pikiran dan perasaan masing-masing.
Una pun mengangguk.
"Tidak apa-apa aku hanya akan mengantar sampai halte?"
Una mengangguk lagi.
"Tadinya aku mau membawamu ke rumah Ayumi dulu, tapi karena kamu menolak, … ya aku tidak bisa apa-apa."
"Aku janji tidak akan lama, aku hanya perlu menghilangkan rasa gugup. Abang tahu sendiri bagaimana Ayumi, kalau dia sudah tahu, maka dia akan menguliti aku habis-habisan, bertanya tanpa ada habisnya."
__ADS_1
"Ya ya ya, … aku akan memberimu waktu, seperti yang aku katakan tadi."