My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 184 (Tiket)


__ADS_3

Ayumi merasa tubuhnya terayun-ayun, diselingi suara-suara perdebatan antara tiga orang dengan suara yang sangat dia kenal. Dengan susah payah Ayumi menarik kesadarannya, mencoba membuka mata walaupun sulit, dan menormalkan rasa kantuknya dengan cara mengerjap-ngerjapkan mata beberapa kali.


"Bibi pegang kakinya yang bener!" Kata Una.


"Kamu juga megangin punggungnya yang bener, Una!" Aira menyahut.


Sementara Ayumi menatap ketiganya bergantian tanpa ada yang menyadari.


"Kalian ngapain?" Ayumi dengan santainya, bahkan ketika melihat dua teman juga asisten rumah tampak keberatan.


Aira, Una dan Dini tampak mematung, mereka saling menatap satu sama lain.


"Haih!" Una mendengus kesal, mendelikan pelana dan melepaskan Ayumi yang mulai berdiri.


"Nyusahin banget, dari tadi di bangunin malah nggak bangun-bangun, giliran mau di bawa masuk kamar malah bangun sendiri." Aira berdecak pinggang.


"Jadi mau ke kamar? Apa kembali ke sofa nih! Jujur aku haus." Una mengusap tengkuknya.


"Ya sudah Bibi buatkan minuman dulu." Dini meraih jendela pintu kamar Ayumi, menariknya sampai tertutup rapat.


Setelah itu Dini berjalan ke arah dapur, meninggalkan tiga perempuan seumuran yang masih berdiri di dekat pintu masuk kamar.


"Cape!" Una kembali ke arah sofa lebih dulu, disusul Aira dan Ayumi setelahnya.


Nafas keduanya tersengal-sengal, dengan keringat yang sudah terlihat bercucuran, mengalir dari kening sampai ke pipi.


Sementara Ayumi hanya tersenyum tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Kok bisa sih, Ay. Tidur kaya gitu, modal nyender doang sampe susah banget di bangunin." Aira sedikit menggerutu.


"Ngantuk, Ra!"


"Sumpah nggak habis thinking aku, … bisa-bisanya kamu ngerjain kita semua." Aira bersungut-sungut.


"Nggak niat, aku nggak tau kalau aku tidur."


Una bersandar sambil memejamkan mata, berusaha menetralisir rasa lelah. Sementara Ayumi dan Aira terus berdebat. Tidak, lebih tepatnya Aira yang terus menggerutu, sementara Ayumi hanya tertawa pelan beberapa kali ketika merasa lucu dengan apa yang baru saja terjadi.


Hingga Dini pun datang, membawa teko berbahan kaca. Memperlihatkan sebuah minuman yang terlihat menyegarkan.


Minuman berwarna putih bening, dengan buih-buih menempel di permukaan kaca, di lengkapi irisan lemon dan daun mint.


"Lemon mojitonya, silahkan."


"Bibi tidak mau gabung? Di belakang terus apa nggak bosan?" Kata Aira.


Dini tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya.


"Bibi kebelakang yah. Mau lipat pakaian yang sudah kering." Kemudian wanita itu bangkit, dan kembali pergi meninggalkan Ayumi, Una dan Aira.


***


Dan setelah sehari menghabiskan waktu bersama. Akhirnya kedua teman Ayumi berpamitan, berniat segera pulang pada hampir pukul empat sore hari.


Mereka berjalan beriringan ke arah luar. Dengan Ayumi yang berjalan di posisi paling belakang, mengantar kedua sahabatnya mendatangi taksi online yang sudah Ayumi pesan beberapa menit lalu.


"Pulang ya, Ay. Makasih bingkisannya, ini cukup sampai nanti tengah malam, … bisa irit uang gaji." Kata Una seraya mengangkat paper bag yang Ayumi berikan.


Berisi makanan-makanan yang tidak sempat tersentuh.


"Sama-sama, … sering-sering main kesini. Aku jamin uang makan kalian irit."


"Ogah ah, nanti kamu ketiduran lagi. Ngerepotin!" Celetuk Aira.


Yang seketika membuat tawa Una dan Ayumi menyembur.


"Bercanda yah! Jangan masukin ke hati." Aira langsung mendekat, kemudian memeluk Ayumi bergantian dengan Una.


Setelah itu keduanya masuk kedalam taksi online yang sudah menunggunya sejak dari tadi. Melaju dengan perlahan, meninggalkan kediaman Ayumi pada tepat pukul empat sore.


Perempuan itu kembali memasuki rumahnya. Yang seketika mendapati Dini di ruang tengah, membenahi meja dari bekas-bekas makanan tadi.


"Bi, nanti aja kalau cape."


"Nggak apa-apa, Non! Biar kalau Pak Randy datang keadaan rumah sudah rapi." Kata Dini.


Ayumi tersenyum.


"Aku ke kamar ya, Bi. Maaf sudah nambah pekerjaan Bibi. Nanti aku minta Abang buat kasih bonus yang banyak."


"Ah, Non Ayumi bisa aja."


"Aku masuk yah!"


Ayumi mengusap perut bulatnya, berjalan mendekati pintu kamar, membukanya, masuk dan menutup kembali. Kakinya melangkah mendekati ranjang tidur, entah kenapa rasanya begitu lelah, sampai rasa kantuk berkali-kali datang, dan tidak bisa dia tahan.


"Ah tapi mending mandi dulu deh, kayaknya berendam air hangat bisa bikin fresh."


Ayumi masuk kedalam kamar mandi sana. Menutup pintu kamar mandinya tanpa memutar kunci, membuka pakaian satu persatu, kemudian membuka kran air hangat untuk memenuhi bathtub. Dia duduk di atas kloset, menunggu hingga air hangatnya terisi penuh.


Bayi di dalam perutnya mulai bergerak. Awalnya pelan, namun setelahnya memberikan tendangan yang sangat kencang, membuat Ayumi sedikit terkejut sampai menundukan kepalanya.


"Ya? Kenapa? Kita mandi yah. Berendam air hangat supaya segar." Ayumi mengusap-usap perutnya ambil tersenyum.


Bayi itu menendang lagi.


"Kenapa? Mau minum susu? Tapi Daddy nya belum pulang."

__ADS_1


Dia berbicara lagi kepada bayinya, sampai tidak menyadari jika pintu kamar mandi sudah terbuka, dan muncullah sosok tampan dengan lengan kemeja yang sudah tergulung hingga sikut.


"Kalau Mommy yang bikin. Susunya terasa tidak enak, Mommy yakin kamu suka Susu Vanila buatan Daddy."


"Nanti Daddy buatkan!" Dia membungkuk, lalu memeluk tubuh Ayumi yang polos tanpa sehelai benangpun, mengusap perut besar yang memang terlihat sedang ada yang bergerak di dalam sana.


Plak!!


Ayumi menepuk lengan kekar suaminya.


"Abang bikin aku jantungan." Pandangannya menengadah, menatap pria yang baru saja pulang bekerja, dengan keadaan yang masih sama, masih tampan seperti biasa, hanya pakaian yang tidak serapi ketika pria itu hendak pergi.


Randy mencium kening Ayumi, lalu pipi, dan berakhir di atas bibir mungil istrinya.


"Dia terus bergerak-gerak." Randy terus menatap perutnya.


"Baru bergerak, tadi hanya diam. Mungkin tahu Daddy nya sudah pulang."


"Benarkan? Apa dia juga mau bertemu?"


Ayumi tersenyum malu, ketika melihat Randy mulai tersenyum penuh arti.


Randu menatap ke arah bathtub, air yang sedang Ayumi isi sudah benar-benar penuh, membuat pria itu bangkit dan mendekati bathtub untuk segera dia tutup kran air hangat yang sedari tadi dibiarkan terbuka.


"Ayo mandi bersama." Dia mendekati Ayumi, menuntun istrinya sampai benar-benar masuk kedalam bak mandi, yang sudah dibubuhkan essential oil dengan aroma bunga Lavender.


Ayumi masuk lebih dulu, duduk bersandar menatap Randy yang mulai menanggalkan pakaiannya satu-persatu. Hingga tampaklah otot-otot lengan, perut yang sangat menggoda. Dan jangan lupakan sesuatu yang sudah terlihat berdiri tegak, bahkan tanpa mereka melakukan sebuah pemanasan apapun.


"Apa ini tidak terlalu panas?" Ucap Randy ketika dia bergabung bersama Ayumi.


Ayumi menggelengkan kepala, dia tersenyum.


"Ini pas. Baby-nya langsung diam, sepertinya dia nyaman."


Randy menarik Ayumi, sampai perempuan itu kini bersandar di dadanya.


"Kalian membuat aku tidak bisa kalau tidak pulang cepat. Rasanya sangat rindu, padahal aku bekerja dari pukul sembilan sampai pukul lima sore, … ah bahkan hari ini aku pulang pukul empat." Randy terkekeh.


Ayumi menoleh, berusaha melihat wajah suaminya lebih jelas lagi. Sesuatu yang tadi terasa mengganjal, kini terasa hilang begitu saja, dan itu membuat Ayumi heran karena tidak biasanya Randy seperti itu.


"Abang?"


"Ya?"


"Tadi ada yang bangun. Sekarang tidur lagi?"


Ucapan itu jelas membuat Randy tertawa.


"Aku biarkan sampai dia tertidur lagi."


"Aku tidak tega." Katanya, lalu kembali menggerakkan tangan, mengusap perut Ayumi dengan sangat lembut.


Kening Ayumi mengkerut, dengan ekspresi wajah herannya.


"Kenapa? Kok kebalik? Dulu pas Dokter larang malah suka maksa, sekarang sudah boleh malah nggak mau."


"Kata Dokter masih sama, Ay. Tidak boleh terlalu sering."


"Jadi kita benar-benar hanya berendam, mandi bersama. Dan setelahnya main salon-salonan lagi?"


"Iya." Randy mengangguk sambil tertawa.


"Baiklah. Terus usap-usap yah! Rasanya sangat nyaman."


Ayumi semakin merapatkan punggungnya, dengan kepala yang dia sandarkan di bahu Randy, kemudian memejamkan mata. Randy tidak menjawab apapun lagi, dia hanya mengikuti apa keinginan Ayumi, sampai setelah beberapa menit deru nafasnya terdengar berhembus teratur.


"Ay?"


Perempuan itu tidak menjawab, bahkan matanya terus terpejam.


"Sayang kamu tidur?"


"Hemmm, … rasanya sangat nyaman, boleh aku tidur sebentar." Ayumi masih sempat menjawab, kesadarannya masih tersisa meski sudah setipis tisu.


"Jangan tidur disini, nanti kamu demam."


"Aku ngantuk."


"Baiklah, tunggu sebentar."


Randy bangkit, berjalan mendekati shower, membiarkan air mengalir hampir seluruh tubuhnya, kemudian mengaplikasikan sabun dan shampo seperti biasa.


Dan setelah selesai, Randy melilitkan handuk di bagian bawah tubuhnya, kembali kepada Ayumi, yang terlihat sudah benar-benar terlelap.


Pria itu membawa kursi, dan duduk disana. Untuk kemudian membasahi rambut Ayumi, menambahkan shampoo, lalu mengusaknya dengan perlahan, seraya memberikan pijatan halus.


Kedua sudut bibirnya melengkung, membuat sebuah senyuman tipis.


"Kenapa aku senang sekali melakukan ini? Mencuci rambutmu, setelah itu mengeringkannya, memberikan vitamin, dan menatanya serapih mungkin." Randy bergumam.


Dengan sangat hati-hati Randy membasuh rambut Ayumi sampai benar-benar bersih dari busa shampoo. Dia menekan penyumbat bathtub, membiarkan air itu surut.


"Sayang, kamu tidak mau bangun dulu?"


"Tidak."


Ayumi masih menjawab, namun dengan keadaan mata yang terus tertutup.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan sabunnya?"


"Bilas saja, aku ngantuk." Suara Ayumi terdengar serak.


Randy mengangguk.


Dia segera membilas tubuh Ayumi, setelah merasa cukup, Randy segera membawa handuk, meraih tubuh Ayumi agar segera berdiri, dan melilitkan handuk di tubuhnya.


"Haih, kenapa rasanya susah sekali untuk membuka mata. Dari tadi ngantuk terus kenapa yah!?" Tanya Ayumi saat suaminya mendudukan dia di atas kursi meja rias, yang segera menyalakan mesin pengering rambut dan mengatakan kepada rambut basahnya.


"Mungkin bawaan Bayi." Kata Randy sambil terus mengarahkan hair dryer ke arah rambut panjang Ayumi.


Mata Ayumi terus terpejam. Namun dengan kesadaran yang masih berusaha dia sisakan. Suara mesin hair dryer mulai mati, kemudian Randy terdengar membuka pintu lemari pakaian, dan kembali dengan sehelai dress rumahan tanpa membawa pakaian dalamnya.


"Ayo pakai bajunya. Tidak usah pakai dalemannya, kamu sudah ngantuk berat, dan jangan ditahan nanti malam pusing."


Randy memakaikan baju Ayumi, dan setelah itu mengangkatnya untuk dia pindahkan ke atas tempat tidur.


Ayumi langsung mencari posisi senyaman mungkin, dengan cara berbaring miring, memeluk bantal guling dengan sangat erat.


"Selamat tidur sayang." Randy menarik selimut sampai menutupi pundaknya, membungkuk lalu mencium pipi Ayumi.


Ayumi menepuk tempat kosong di sampingnya.


"Sini." Titah Ayumi.


"Baik, Abang pakai baju dulu."


Randy berjalan ke arah lemari pakaiannya, menarik kaos rumahan dan celana pendek, lalu mengenakannya. Setelah itu Randy kembali, naik ke atas tempat tidur, ikut masuk kedalam selimut dan berbaring miring, memeluk Ayumi sambil memejamkan mata, hingga keduanya sama-sama terlelap pada sore hari ini.


***


Tring!!


Lonceng yang terletak di atas pintu masuk rumahnya berbunyi. Membuat Sumi yang sedang bermalas-malasan di atas sofa segera bangkit, dan mengarahkan pandangannya ke arah suara berada.


Terlihat Valter baru saja masuk, membuka mantel dan sepatunya.


"Kamu sudah pulang?" Senyum Sumi merekah, apalagi saat melihat Valter menenteng sesuatu di tangannya.


Cup!!


Valter mencium kening Sumi, sementara wanita itu segera meraih bungkusan yang suaminya bawa. Dengan wajah berbinar Sumi membuka nya.


Ada burger, kentang goreng, dan ayam goreng.


"Kamu mampir untuk beli ini dulu?"


"Aku tidak tahu harus beli apa selain makanan itu. Aku rasa kamu masih bisa memakannya, karena gerai cepat saji itu banyak sekali di Indonesia."


Sumi mengangguk.


"Aku suka." Dia langsung membawa satu burger, dan menyantapnya.


Valter duduk di sampingnya, dia tersenyum bahagia melihat Sumi.


"Aku sudah dapat tiketnya. Awal bulan kamu sudah bisa terbang, … jadi persiapkan apa yang mau kamu bawa dari sini untuk putriku." Jelas Valter.


Sumi menoleh, matanya membulat sempurna.


"Benarkah?"


"Iya, aku sudah membelinya tadi sebelum pulang dari cafe."


Wanita itu meletakan burgernya lebih dulu, merangsek lebih mendekat, lalu memeluk suaminya dengan sangat erat. Bahkan beberapa kali dia memberikan ciuman basah di pipi Valter, dan berakhir di bibirnya, hingga mampu saling merasai satu sama lain saat Valter membalasnya.


"Kamu ikut?" Tanya Sumi saat keduanya saling melepaskan tautan bibir.


Valter hanya tersenyum. Dia tidak menjawab iya ataupun tidak.


"Valter apa kamu ikut pulang? Aku tanya, kamu harus jawab."


"Ngggg, … mungkin menyusul saja! Itupun kalau semua pekerjaan sudah selesai, jika tidak. Maafkan aku dan sampaikan kepada Ayumi oke?"


Sumi langsung diam, dia menatap Valter dengan perasaan yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata. Di satu sisi Sumi bahagia karena akan segera pulang dan menghadiri acara putrinya, namun disisi lain dia sedih karena Valter mengatakan hal itu. Dan bisa Sumi jamin jika suaminya memang benar-benar tidak bisa datang, mengingat renovasi cafe miliknya masih jauh sampai benar-benar rampung, hujan salju memang sudah berhenti, namun suhu dingin ya masih tersisa membuat semuanya menjadi lambat, termasuk beberapa pegawai yang tidak masuk jika hujan salju kembali turun meski dalam sekali kecil.


"Kamu benar-benar akan membiarkan aku pulang sendiri?"


"Mudah-mudahan tidak. Aku sedang berusaha mengusahakan semuanya, namun untuk sementara aku sudah membelikan tiket untukmu dulu."


Sumi menarik nafasnya sebanyak mungkin, lalu menghembuskannya perlahan.


"Mana bisa begitu? Aku pergi tanpa suamiku?"


Valter mengulum senyum, dia meraup wajah Sumi, dan menyentuh ujung hidung Ayumi dengan ujung hidungnya.


"Tidak usah sedih. Kamu mau bertemu dengan Ayumi, bahkan dengan calon cucu kita, … jadi berangkatlah tanpa merasa sedih."


"Tapi kamu tidak ikut, lalu bagaimana aku? Sekarang aku sudah terbiasa bersamamu!"


Valter tertawa bahagia.


"Benarkah? Dulu juga kamu tidak biasa saat aku baru saja menjadi suamimu."


"Ya, dan sekarang aku tidak bisa jika tidak ada teman. Aku takut pulang sendirian ke Indonesia."


"Mana ada sendiri. Satu pesawat itu ada puluhan orang sayang." Valter mencubit pipi istrinya dengan perasaan gemas.

__ADS_1


__ADS_2