
"Ya, nanti saya coba berbicara dengan Ayumi. Menjelaskan semua akar dari masalah ini, karena tidak bisa di pungkiri, … semuanya berawal dari saya! Mungkin jika dulu langsung memberikan Ayumi kepada Ibunya, masalah tidak akan serumit ini. Hanya saja saya juga bingung, saya tidak bisa merusak kebahagiaan Pak Ali juga Bu Tuti, mereka sangat mengharapkan seorang anak perempuan, dan betapa bahagianya mereka saat mempunyai Ayumi, siapapun tidak akan tega memisahkan mereka dari Bayi cantik dan menggemaskan itu, termasuk saya."
Itu kata-kata terakhir yang Alvaro utarakan, sebelum Randy berpamitan untuk pulang, karena hari memang sudah semakin larut.
Dia memutar setir mobilnya, melewati sebuah gerbang utama cluster elite dimana rumahnya berada, sampai mobil itu benar-benar berhenti setelah memasuki garasi luas dimana terdapat beberapa mobil lain yang terparkir di sana.
Randy segera turun, berlari ke arah pintu, menekan beberapa kode kemudian masuk.
Suasana terasa begitu sepi. Mungkin kejadian tadi sore membuat dampak begitu besar, sampai mereka berusaha menenangkan diri masing-masing, termasuk istrinya Ayumi.
Lampu-lampu ruangan menyala, tak terkecuali lampu taman belakang rumah dengan ke adaan pintu yang terbuka, dan ternyata Ali berada disana, diam menatap langit yang sudah menghitam, dengan hiasan bintang-bintang di sekelilingnya.
Randy segera berjalan menuju pintu kamarnya yang tertutup rapat. Dan betapa terkejutnya dia saat mendapati ruangan itu yang tampak temaran, tidak ada cahaya lampu di dalam sana, hanya sedikit cahaya dari luar saat gorden kamarnya belum tertutup.
Ayumi pasti belum kembali, pikirnya.
Randy membiarkan pintu kamarnya terbuka begitu saja, sementara dia kembali berbalik badan, berjalan mendekati pintu kamar Maria, kemudian mengetuknya beberapa kali.
"Bu?" Panggilnya dengan jarak yang begitu dekat.
Tok tok tok!!
"Bu?"
Dan setelah memanggilnya beberapa kali, akhirnya pintu ruangan itu terbuka.
"Ya? Ada apa, Ran?" Dia berdiri di ambang pintu, menatap wajah putranya penuh tanya.
"Ayumi masih di dalam? Bagaimana ke adaannya? Apa dia sudah membaik?" Cerca Randy dengan beberapa pertanyaa.
Maria terdiam, dia menoleh ke arah pintu kamar putranya, lalu beralih ke arah pintu kamar Tutih.
"Tadi Ayumi sudah keluar, mungkin di kamar Ibunya, atau sudah ada di dalam kamar kalian."
"Di kamar tidak ada. Bahkan lampunya belum menyala, mungkin Ayumi belum kembali." Jelas Randy, dia mulai gusar.
"Oh, … coba periksa kamar Bu Tutih, atau taman belakang! Baru satu jam yang lalu Ayumi keluar dari kamar Ibu."
Randy mengangguk, dia berjalan menuju kamar Tutih, kemudian mengetuknya.
"Bu? Ayumi ada di dalam?" Panggilnya dengan perasaan harap-harap cemas.
Klek!
Pintu kamar itu terbuka, kemduain munculah Tutih.
"Ayumi?" Wanita itu justru balik bertanya.
Dan jelas membuat Randy semakin takut.
"Iya, apa ada di dalam?"
"Tidak ada, bukankah tadi dia masuk ke kamar Bu Maria?"
Deg!!
Dadanya bergemuruh, tubuhnya bergetar, dengan nafas memburu dan pikiran yang mulai melanglang buana ke mana-mana, dengan prasangka buruk.
Randy berlari menuju taman belakang.
"Kenapa?" Seketika Aku bangkit, dia sedikit terkejut dengan kedatang Randy yang begitu tiba-tiba.
"Ayumi! Bapak lihat Ayumi?" Tanya Randy dengan perasaan panik.
"Lho! Bukannya dia bersama Bu Maria tadi?" Ali balik bertanya.
Dia bingung sekaligus khawatir.
Randy segera kembali memasuki rumah.
"Ayumi?" Teriakan itu menggelegar, menggema hampir keseluruhan ruangan.
Klek!
Trek!
__ADS_1
Pria itu memasuki kamar, menyalakan lampu, dan mencari keberadaan Ayumi, sampai memeriksakan kamar mandi. Namun dia tetap dia menemukan keberadaan istrinya.
"Sayang?" Randy kembali memanggil, meski jelas-jelas Ayumi tidak berada di dalam ruangan sana.
"Ayumi tidak ada?"
Ucap Maria dan Tutih bersamaan.
Randy menggelengkan kepalanya. Dengan lemas dia terduduk di tepi ranjang, lalu meraih sebuah benda pipih yang tergeletak di atas tempat tidur sana.
Kemudian dia mengedarkan pandangan mencari sesuatu yang mungkin masih tertinggal disana, agar mampu membuat pikirannya jernih. Randy berharap Ayumi hanya pergi berjalan-jalan ke luar.
Namun, nyatanya dia salah. Sebuah tas kecil yang selalu Ayumi bawa kemana pun tidak tergantung di tempatnya.
"Ayumi pergi tanpa membawa handphone!" Tukas Randy kepada Maria juga Tutih.
"Bapak akan cari di sekitaran komplek." Ali yang berdiri di belakang dua wanita pun segera beranjak pergi, berniat mencari Ayumi yang menghilang entah sejak dari kapan.
"Pak, Ibu ikut!" Tutih segera menyusul suaminya.
Sementara Maria dan Randy hanya saling menatap, dengan pikiran masing-masing.
"Kenapa Ibu membiarkan Ayumi keluar dari kamar!?" Suara pria itu bergetar.
Terlihat begitu jelas jika dia sedang menahan rasa kesal juga, tangisannya.
"Ibu tidak tahu. Ayumi berpamitan untuk beristirahat di kamarnya, … Ibu tidak curiga sama sekali jika dia akan pergi."
"Astaga!" Randy menyapu wajahnya kasar.
"Ibu tunggu disini! Aku akan mencarinya."
"Baiklah, hati-hati. Gunakan akal sehatmu! Jika tidak maka semuanya akan semakin runyam."
Randy mengangguk, dia menyambar kunci mobilnya, lalu berlari ke arah garasi mobil, dan menunggangi salah satu mobilnya.
***
"Mang, seblak ketiwaw nya satu. Ayam tulang, pedes jangan pake kecap."
"Kwetiau, Neng!"
"Iya mang, itu."
"Apa?"
"Ketiwaw mang."
Penjual seblak gerobakan itu terkekeh.
"Apa dulu, harus hafal kalau mau Mamang bikinin."
"Ish atuh, Mang!" Ayumi merengek.
"Iya sebut dulu."
"Aku nggak bisa Mang, aku lagi sedih. Cepetan bikinin, nggak lihat ini mata aku bengkak?" Ayumi menunjuk wajahnya sendiri.
Pria itu tersenyum.
"Maka dari itu!"
"Ketiwaw Mang, … ayo bikinin cepet, aku laper."
"Kwe!"
Ayumi menatap penjual seblak itu jengah.
"Idih mau nggak?"
"Iya iya, … kwe." Ayumi mengikuti ucapan penjual seblak itu.
"Tiau!"
"Tiau."
__ADS_1
"Kwetiau."
"Ketiwaw."
Beberapa orang yang ada di sana tertawa terbahak-bahak, begitupun dengan Ayumi yang merasa lucu dengan kekurangan dirinya sendiri.
"Mang!"
"Iya tunggu yah, satu lagi ini baru bikin seblak punya Eneng."
Ayumi mengangguk, dia merapatkan jaket milik Randy yang di kenakan nya, saat hawa dingin terasa semakin menusuk. Perempuan itu mendekati salah satu bangku yang kosong, kemudian duduk, tepat di samping seorang wanita yang tengah memangku seorang balita yang terlelap begitu dalam.
Wanita itu terus menatap wajah putranya, tersenyum bahkan sesekali jemarinya mempermainkan pipi gembul yang begitu menggemaskan.
Beruntung sekali anak itu. Terlahir dan di besarkan oleh wanita yang sama. Sementara dirinya? Dia benar-benar hidup dengan jalan yang sudah Tuhan gariskan.
Dan terasa begitu rumit, juga berat untuk dia jalani.
"Umur berapa Teh?" Tanya Ayumi saat wanita di sampingnya melirik, dan mendapati dirinya yang terus memperhatikan interaksi ibu dan anak itu.
"Satu tahu setengah." Dia tersenyum.
Ayumi mengangguk.
"Mau kemana malem-malem?"
"Tadi habis dari taman, bawa jalan-jalan sore, ini sebelum pulang mau jajan seblak dulu."
Ayumi mengangguk.
Rasanya begitu ingin menangis. Rasa kesal dan kecewa itu terus terasa, bayang-bayang obrolan sore antara suami juga kedua orang tuanya terus terngiang-ngiang, membuat kepalanya kembali berisik, seperti ada dua orang yang sedang berdebat.
Jangan begitu. Mereka sangat menyayangimu, makanya mereka tidak tega memberi tahukan kebenaran yang ada.
Tidak, mereka tidak adil. Mereka tidak menganggap keberadaanmu, hingga dengan sampai hati mereka menyembunyikan semua kebenaran.
"Neng?"
"Neng?"
Ayumi terus diam dengan lamunannya.
"Neng!?" Panggil sang penjual lagi, tapi Ayumi masih menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong.
"Teh?" Wanita di samping Ayumi menepuk lenggangnya, membuat perempuan itu tersadar, sedikit terkejut.
"Iya, Teh? Kenapa?"
"Itu, … Mamang nya tanya mau di bungkus atau makan disini!?"
"Ohh, … di bungkus aja mang." Jawab Ayumi yang langsung mendapatkan sebuah anggukan, juga acungan kedua ibu jari.
Dan setelah lima belas menit menunggu, akhirnya seblak pesanan Ayumi selesai. Ayumi membuka tasnya, mengeluarkan uang pecahan dua puluh ribu, lalu memberikan kepada pria tadi.
"Kembali 5rb, terimakasih."
"Iya, mang."
Ayumi segera pergi, menenteng sebuah pelastik bening berisikan satu porsi makanan yang begitu dia gemari.
Kakinya terus melangkah, menyusuri trotoar pada malam hari ini dengan suasana jalanan yang begitu ramai.
Dia segera berhenti di salah satu halte, duduk menunggu kendaraan yang akan dia tumpangi malam hari ini.
"Ah sesaknya dada ini!" Ucap Ayumi pelan, seraya mengusap dadanya dengan sangat lembut, berusaha menahan air mata yang terasa terus mendesak untuk keluar.
Ayumi segera berdiri, melambaikan tangan saat sebuah bus terlihat melaju dari kajauhan.
"Om, … telolet Om!" Ayumi berteriak konyol.
Perempuan itu berusaha menghibur dirinya sendiri, mengatakan jika semuanya baik-baik saja, walaupun kenyataan hatinya tidak seperti itu.
Bus itu berhenti, pintunya segera terbuka, dan dengan langkah lebar Ayumi memasuki kendaraan tersebut, melihat-lihat beberapa bangku, hingga akhirnya dia memilih kursi paling sudut yang terletak di ujung.
Dia duduk, menatap ke arah luar, dan tanpa dia sadari air manatanya kembali terjatuh.
__ADS_1