
"Mami!?" Teriakan seorang gadis kecil terdengar di balik pintu kamar, disusul dengan suara ketukan pintu beberapa kali.
Tok tok tok!
"Masuk saja, Ka. Tidak Mami kunci." Balqi yang kini sedang memakaikan pakaian untuk Bara, menjawab setelah mengetahui suara milik Sara memanggil.
Handle pintu kamar tersebut tampak bergerak perlahan ke bawah, dan tidak lama setelahnya, pintu itu terbuka, kemudian munculah Sara. Dia menyembulkan kepala, tersenyum dengan raut wajah berbinar.
"Hay? Siapa yang antar?" Balqis tersenyum.
"Papi Suryo."
Gadis itu terus berjalan, lalu duduk di tepi ranjang, memperhatikan Bara yang sedang Balqis pakaikan baby cream pada wajahnya.
"Dedek sudah mandi?" Sara bertanya.
"Sudah, Ka. Kaka sudah mandi?" Balqis menatap wajah anak sambungnya, kemudian tersenyum lagi.
"Sudah. Sekarang aku mandinya sendiri!" Dia tampak berbangga diri.
"Bukannya sudah biasa mandi sendiri?"
Sara menggelengkan kepalanya.
"Biasanya ada bantuan mbak Lala. Kalau sekarang aku benar-benar sendiri, … oh iya Mam! Papi kemana? Apa Papi bekerja di hari Minggu?"
Klek!
Dua perempuan berbeda usia itu menoleh, menatap ke arah pintu kamar mandi, dimana Raga keluar dari dalam sana dengan keadaan segar, dan hanya berbalut handuk.
"Nah, itu Papi."
"Papi!!" Sara melambaikan tangannya kepada Raga.
"Hai, kamu sudah sampai saja! Kenapa tidak minta Papi untuk jemput? Siapa yang antar?" Cerca Raga dengan banyak pertanyaan.
Sementara pria itu mulai berjalan ke arah pintu ruangan lain, dimana baju-bajunya di tempatkan di sana.
"Aku diantar Papi Suryo. Tadinya memang mau nungguin dijemput, Papi. Tapi aku udah kangen Adek, udah lama nggak main bareng." Sara menjelaskan.
Sekitar lima menit Raga berada di dalam ruangan sana. Akhirnya dia keluar, dengan pakaian santainya seperti biasa saat dia ada di rumah. Kaos polos berwarna hitam, juga celana pendekat berwarna senada.
Pria itu tersenyum, saat melihat interaksi istri juga kedua anaknya. Mereka terlihat bermain dan bercanda diatas ranjang tidurnya.
Apalagi celotehan Bara, suara itu benar-benar membuatnya merasa gemas.
"Ayo sarapan." Kata Raga sambil berjalan mendekat.
Balqis yang tengah berbaring pun menatap ke arah suaminya, mengangguk, kemudian mengubah posisinya menjadi duduk.
"Baik, ayo sarapan dulu, Ka. Nanti siang baru kita main." Ajak Balqis.
Sara tersenyum, kemudian dia segera turun dari sana.
"Mau main? Kemana?" Tanya Raga kepada anak sulungnya, lalu meraih Bara, menggendongnya, kemudian berjalan ke luar kamar.
"Kemana aja boleh." Sara segera meraih kaos yang Raga kenakan, menjadikan sebagai pegangan saat mereka berjalan menuruni setiap anak tangga.
Sementara Balqis hanya terus tersenyum-senyum, saat melihat bagaimana dua anak itu bisa sangat dekat dengan suaminya. Padahal mereka sangat jarang bertemu, pergi bekerja saat Bara masih tertidur, dan pulang saat anak itu juga tertidur, untuk Sara jangan tanyakan lagi, anak itu memang tidak tinggal bersama mereka.
"Santi? Tolong kursi buat Bara yah!" Pinta Balqis.
"Iya Bu." Gadis itu menjawab dari arah belakang.
Dan tidak lama setelah itu, Santi datang membawa baby chair, lalu meletakkannya di samping kursi meja makan yang akan Balqis duduki.
Tok tok tok!
Suara ketukan pintu rumah itu seketika membuat pandangan semua orang tertuju kesana.
Klek!
"Selamat pagi!" Anna masuk, dia tersenyum sumringah, disusul David yang berjalan di belakangnya.
Balqis tersenyum, dan segera berjalan mendekati kedua orang tuanya yang datang tak terduga.
"Kalian datang?" Ucap Balqis, lalu memeluk keduanya bergantian.
"Mama mu itu, … tidak sabaran sekali! Sudah Papa bilang tunggu agak siang sedikit, tapi tetap memaksa pergi sekarang." David sedikit menggerutu.
Sementara Anna hanya tersenyum.
"Kalian bawa apa?" Balqis menatap sebuah tempat berukuran sedang yang Anna bawa.
"Mama bawa sup makaroni." Tukas Anna.
Senyum merekah terpancar dari bibir Balqis.
__ADS_1
"Aih aku kangen masakan, Mama." Katanya.
"Ya sudah, ayo kebetulan kami juga mau makan."
Mereka berjalan ke arah meja makan, dimana Raga, Bara dan Sara berada.
"Mah, … Pah?!" Raga mendekat, lalu memeluk ibu dan ayah mertuanya bergantian.
"Ada Sara?" Anna bertanya.
Raga mengangguk.
"Baru saja datang." Balqis menjawab.
Anna tersenyum, kemudian dia segera duduk di kursi samping Bara, begitu pun dengan David, dia duduk di sisi lain, sampai Bara duduk di tengah-tengah Nenek dan Kakeknya.
"Satu Minggu kita tidak bertemu. Tapi Bara terus tumbuh sampai kami merasa pangling." Ujar David.
"Ya begitulah, ASI nya sangat bagus. Jadi Bara tidak pernah kekurangan sama sekali." Raga terkekeh.
"Sara mau menginap?" Anna beralih pada gadis kecil yang sedari tadi memperhatikan.
"Mau. Tapi kata Papi Suryo nanti sore di jemput, tidak boleh menginap, besok sekolah."
"Kenapa tidak bawa baju sekolahnya? Kan bisa berangkat dari sini."
Tiba-tiba saja Balqis muncul dari arah dapur, membawa beberapa piring, dan meletakkannya di atas meja makan.
Sara tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepala, dan tersenyum samar.
"Bahas itu nya nanti dulu, sayang. Kita sarapan dulu!" Raga berbicara.
"Baiklah."
Balqis membawa satu piring kosong, mengisinya dengan nasi putih dengan porsi kecil, kemudian menoleh kepada Sara.
"Kaka mau pakai apa?"
"Sup buatan Oma." Katanya.
"Oh." Perempuan itu mengangguk paham.
Balqis meletakan piring itu, lalu membuka penutup wadah yang lupa ia buka. Wangi kuah sup makaroni itu seketika mengudara. Daun bawang, seledri, juga sedikit aroma merica.
Potongan kecil daging ayam, juga berbagai sayuran seperti jagung, brokoli, wortel, tomat dan kacang polong.
"Nah, makanlah." Balqis meletakan piring di hadapan Sara.
Gadis itu mengangguk.
"Terimakasih, Mami." Ucapnya yang langsung dijawab anggukan oleh Balqis.
Dan setelah itu Balqis melakukan hal yang sama, kepada suami juga kedua orang tuanya, menyiapkan nasi, lalu memasukan beberapa lauk yang sudah bibi masak.
"Selamat makan." Kata Balqis.
Suami dan kedua orang tuanya mengangguk. Mereka pun segera menyantap sarapannya dengan sedikit obrolan santai, sementara Balqis, selain menyuapi dirinya sendiri, dia juga melakukannya kepada Bara, dengan nasi tim yang sudah Santi siapkan sebelumnya.
***
"Baik kalau begitu." Randy berbicara dengan seseorang di dalam sambungan telepon nya.
Dia mengangguk-anggukan kepala, kemudian menjauhkan benda pipih itu dari daun telinganya, dan meletakan ponsel di atas meja setelah sambungan itu terputus.
Ayumi diam menyimak.
"Ibu datang hari ini, bersama Asisten rumah baru."
Ayumi mengangguk.
"Sarapannya sudah selesai?" Tanya Randy.
"Sudah, aku kenyang." Dia menutup styrofoam yang masih menyisakan banyak bubur ayam kesukaanya.
"Kenapa tidak habiskan?"
"Kenyang, udah nggak bisa di paksa."
Randy bungkam, menatap wajah yang tengah tersenyum itu cukup lama.
"Aku ada pertemuan. Kamu tidak apa-apa aku tinggal?"
"Pertemuan lagi?" Ayumi meracau, raut wajahnya terlihat sangat terkejut. "Bahkan ini hari Minggu! Kamu masih bekerja terus dan terus seperti saat ini?"
Melihat reaksi Ayumi dia hanya tersenyum, menggerakan tangannya, lalu mengusap kelapa, turun ke pipi, dan menyingkirkan beberapa helai anak rambut yang sedikit mengganggu wajah cantik istrinya.
"Sekarang bukan kerja, tapi mengurus persiapan resepsi kita."
__ADS_1
"Aku nggak boleh ikut?"
"Boleh kalau mau, tapi aku takut kamu bosan. Ada banyak pertanyaan yang selalu aku pastikan setiap kali ingin memakai jasa mereka. Kamu tahu? Aku ingin hal yang sangat sempurna untuk resepsi pernikahan kita nantinya."
"Kamu lagi ngerjain apa? Kok aku nggak dibawa-bawa. Padahal bukannya kalau mau resepsi itu pasti ada gaunnya yah? Kok nggak ada fitting baju!"
"Belum, mungkin dua atau sampai tiga hari kedepan. Aku harus urus gedung dan katering nya dulu, … aku belum menemukan yang cocok,"
"Aku mau ikut."
"Beneran? Ada Aleesa disana, dia yang membantu."
Degg!
Hatinya mencelos.
"Aku tidak mengajakmu karena aku takut kamu merasa tidak nyaman kalau bertemu dia."
"Bohong! Pasti Abang …."
"Shuttt!"
Randy menempatkan jari telunjuk di bibirnya.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh, aku hanya meminta bantuan dia."
Ayumi diam, dengan mata yang menatap tajam.
"Ay?" Panggil Randy, dia hendak meraih tangan istrinya, namun Ayumi segera menepis dan beranjak pergi dari ruang tengah sana.
Randy tertegun, menatap kepergian Ayumi dengan langkah cepat memasuki kamar, tapi setelahnya seulas senyum tipis terbit.
Dia mulai cemburuan. Batin Randy bersorak bahagia.
"Yank?" Dia kembali memanggil.
Dengan cepat dia bangkit, kemudian berlari masuk kedalam kamar.
"Kamu ini kenapa? Jika mau ikut, ya ikut saja." Kata Randy seraya berjalan ke arah sofa besar kamarnya, yang terletak di sudut ruangan dekat jendela.
Ayumi diam, dengan pandangan lurus keluar.
"Ay?" Randy duduk.
"Sana, pergi. Biarin aku disini sendiri, toh Ibu mau Dateng juga." Katanya tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun.
Randy menahan senyum, dia bergeser lebih mendekat.
"Ayo mandi dan siap-siap kalau mau ikut." Randy menyentuh bahu Ayumi.
"Nggak, sana aja pergi. Tidak usah bawa aku, kan enak berduaan sama Dokter Aleesa!" Jawabnya ketus.
Pria itu terkekeh, memiringkan kepala, sampai dapat menatap wajah Ayumi lebih leluasa.
"Cemburu yah!?" Randy menusuk-nusuk pipi Ayumi dengan jemarinya. "Mana ada berdua, memangnya pemilik catering, atau petugas gedung kemana? Aku pergi berniat menemui mereka, orang-orang yang Aleesa pilih atas rekomendasi dari Kakanya yang dulu menikah."
"Nggak, siapa bilang." Sergah Ayumi, dia tidak mau mengutarakan perasaannya, yang sedikit lain dan kurang sedikit dimengerti.
Rasanya aneh. Gumam Ayumi.
"Itu ngambek, berarti cemburu."
Ayumi menoleh.
"Kamu pergi saja, urus semuanya dengan Dokter Aleesa, aku juga tidak mau diam disini, aku mau ke kosan, ada Bag Gani disana yang bisa nemenin aku!"
Ayumi beranjak pergi, dan masuk kedalam kamar mandi, meninggalkan Randy yang tampak terkejut setelah perempuan itu mengucapkan kata-kata yang terakhir.
Brak!!
"Apa itu? Kenapa harus bawa-bawa pria lain?" Randy mulai gelisah, dia bangkit dan berjalan mendekati pintu kamar mandi yang sudah tertutup dengan sangat rapat.
"Ay buka!" Randy menggedor pintunya.
Tidak ada sahutan, hanya terdengar suara gemericik air.
"Sayang! Aku tidak mengizinkan kamu pergi."
Randy menekan handle pintu, berusaha untuk masuk, namun tampaknya Ayumi mengunci dari arah dalam.
"Yank? Buka! Aku tidak mengizinkan kamu pergi ke kost apalagi sendirian."
"Bodo amat." Suara itu terdengar dari arah dalam.
"Ay? Buka? Aku mau ikut mandi."
Randy terus menggerak-gerakan handle pintu, meminta agar Ayumi segera membukakannya.
__ADS_1