My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 202 (Persiapan masuk sekolah)


__ADS_3

Tepat pukul 20.30 malam.


Ayumi mendorong pintu kamarnya, kemudian masuk. Yang langsung mendapati suaminya duduk di atas sofa, dengan laptop menyala seperti biasa.


Pandanganya fokus ke arah monitor, dengan jemari yang menari-nari di atas keyboard.


"Dad? Kamu belum selesai?" Ayumi bertanya, sembari berjalan ke arah tempat tidur, dan naik kesana untuk segera mengistirahatkan diri.


Dari segala aktivitas yang bisa dibilang cukup melelahkan, apalagi saat dirinya menghadapi Raizel, yang benar-benar tidak bisa jauh darinya, meski di rumah sudah ada beberapa orang pekerja, termasuk Babysitter untuk menjaga gadis kecil itu, namun dia tetap tidak mau, bahkan hanya untuk bermain boneka pun harus Ayumi yang turun tangan. Dan jika tidak, maka Raizel akan menangis dan sangat sulit untuk diredakan.


Randy melirik, dan mengalihkan pandangannya ke arah dimana Ayumi berada. Dan disanalah seorang wanita dengan gaun tidurnya, berbaring di atas tempat tidur, menatap ke arah televisi yang menyala, seraya menggenggam remot televisi dan mencari-cari siaran yang ingin dia tonton.


"Sedikit lagi, ada beberapa surat kontrak yang harus aku buat. Besok ada pertemuan penting, … Pak Raga membeli pemain luar, dan itu membuat banyak hal yang harus dicatat." Jelas Randy.


Dan Ayumi hanya menjawab dengan sebuah anggukan pelan.


"El sudah tidur?" Pria itu kembali bertanya, seolah membuat Ayumi terus terjaga, dan tidak meninggalkannya tertidur.


"Sudah, makanya aku kesini. Besok El mulai sekolah, dan aku harus bangun ekstra pagi, … menyiapkan semuanya."


Ayumi menekan tombol power, sampai televisi besar yang ada di dalam kamarnya mati. Perlahan Ayumi merebahkan tubuhnya, kemudian menarik selimut sampai menutupi setengah dari tubuhnya.


"Sayang? Aku belum selesai!" Randy memanggil.


"Hmmmm, … selesaikan saja aku tidak akan mengganggumu."


Ayumi menjawab dengan mata yang mulai terpejam.


Randy terlihat gelisah, apalagi saat melihat Ayumi sudah berbaring membelakanginya. Hingga dengan segera dia menyelesaikan pekerjaannya, lalu beranjak untuk bergegas mendekati Ayumi.


"Sayang?" Randy naik ke atas tempat tidur, menyibak selimut, kemudian masuk.


Pria itu bergerak-gerak, beringsut mendekati tubuh Ayumi, dan menggoyangkan pundak istrinya.


"Mom? Are you sleeping?" Tanya Randy lagi.


"Ish kamu berisik!" Ayumi menggerutu dengan suara pelan.


Randy menyeringai ketika masih mendapatkan respon dari istrinya. Dia segera berbalik badan, meraih sebuah remote kecil berwarna abu-abu, lalu menekannya sampai lampu ruangan itu berubah menjadi redup. Lampu-lampu putih terang benderang, digantikan dengan lampu kecil berwarna kuning, yang menyala hanya di beberapa sudut saja.


Tangannya mulai terukur, lalu meraih pinggang Ayumi, menariknya sampai mereka benar-benar tidak berjarak sedikitpun.


Cup!!

__ADS_1


Randy mencium bagian belakang telinga, membuat Ayumi mengedikkan bahu karena merasa geli.


"Dad! Jangan ganggu. Besok aku harus bangun pagi-pagi sekali, … menyiapkan kebutuhanmu, kebutuhan El juga! Apalagi sekolah hari pertama akan sangat menguras energi, terlebih El yang sangat sulit berbaur dengan orang baru."


"Ya, kamu benar. Selain mengurus kebutuhan El, kamu juga memenuhi kebutuhan aku! Jadi, … coba penuhi kebutuhan aku yang satu ini."


Randy kembali mendekatkan diri kepada Ayumi, menyusuri tengkuk belakang, ke arah daun telinga, memberikan gigitan kecil di sana, dan berakhir meny*sap lehernya.


"Dad!" Cicit Ayumi, dia berusaha menjauhkan Randy darinya.


Nahas, tenaga Randy sangatlah kuat. Membuat Ayumi tak mampu mengimbangi apa yang Randy miliki, hingga setelah beberapa menit mempertahankan diri, akhirnya dia benar-benar polos tanpa sehelai benangpun, di dalam gulungan selimut, di bawah kungkungan tubuh Randy yang kini juga hanya tersisa boxer yang masih melekat di tubuhnya.


Rintihan pelan Ayumi terdengar, kala tangan Randy tak hentinya mempermainkan bulatan kembar yang tentu saja size-nya sudah lebih membesar, hal yang sama dengan tubuhnya, ketika berat badannya naik beberapa kilo, dan tak kunjung turun sampai berat badan ideal saat sebelum dia hamil.


Membuat Ayumi terlihat sedikit berisi, dan tentu saja kecantikan wanita itu bertambah berkali-kali lipat.


Randy mulai membuka sisa pakaiannya. Dan setelah itu tampaklah sesuatu yang sudah sangat menegang. Berdiri tegap, seolah melambai-lambai ke arah Ayumi.


Ayumi menatap benda itu dengan wajah suaminya bergantian. Membuat debaran di dadanya terus meningkat, meskipun mereka sudah menikah 5 tahun lamanya, namun tentu saja selalu membuat Ayumi gugup, apalagi dengan keadaan seperti sekarang.


Randy meraih kedua kaki istrinya, lalu menarik wanita itu sampai benar-benar mendekat, dan inti tubuh keduanya mulai saling bersentuhan.


Namun, ketika Randy hendak mendorongnya, tangan Ayumi segera menyentuh perut, dan menahan Randy sampai pria itu benar-benar berhenti.


"Mmmm, … sarungnya di siapin dulu."


Randy terdiam untuk beberapa saat.


"Itu nanti saja, gampang jika sudah mau out baru aku pakai." Kata Randy.


Ayumi tidak dapat berkelit lagi, dan membiarkan Randy melakukan apapun yang dia inginkan.


Mata Ayumi terpejam, dengan mulut yang sedikit terbuka. Bahkan tangannya mencengkram kuat kain pelapis bantal di atasnya, ketika pria itu terus mendorongnya, dan dengan sedikit kencang.


"Ngggghhh!!" Ayumi mengerang.


Sementara Randy terus menatap Ayumi dengan ekspresi wajah datarnya. Dimana raut wajah menggemaskan terlihat begitu jelas, di balik lampu temaram ruangan itu.


"Emmmm sayang! Kenapa kamu terlihat sangat menggemaskan?"


Randy membungkuk, mendekatkan wajahnya pada Ayumi, dan kembali mencumbu istrinya dengan perasaan lebih menggebu-gebu.


Pinggulnya maju mundur, tangan kanannya terus bergerak menyentuh setiap senti tubuh Ayumi yang ingin dia sentuh, sementara tangan kirinya, Randy gunakan untuk bertumpu agar tidak membuat Ayumi merasa keberatan kala keduanya saling menindih satu sama lain..

__ADS_1


Erangan, rintihan, bahkan des*han beradu-padu menjadi satu, memenuhi ruang kamar itu pada hampir tengah malam.


"Oh sayang!" Randy meracau dengan suara rendahnya.


Bahkan kepala pria itu mendongak, dengan kedua bola mata yang terpejam, merasakan sesuatu yang sangat luar biasa, mencengkram miliknya dengan sangat kuat.


"Abanghhh!"


Tangan Ayumi menggapai pundak Randy, dan berpegangan disana, ketika pria itu terus menghujam dari atas tanpa rasa ampun.


Teriakan Ayumi semakin kentara, beruntung Randy sudah melapisi ruang kamarnya dengan peredam suara, hingga dia tak perlu lagi membekap mulut Ayumi hanya karena berusaha menahan suara-suara indah yang keluar dari mulut istrinya.


"Ngghhhh, … sayang … ah …. Aku …"


Tubuh Ayumi menggelinjang hebat, reaksi tubuhnya terlihat sangat luar biasa. Terkadang dia meliuk-liuk, lalu mengangkat kepalanya untuk melihat aktivitas di bawah sana. Bahkan tak jarang dadanya membusung, hingga membuat Randy terus menerus melahap buahnya, karena sesuatu dari dalam dirinya tahu, jika Ayumi menginginkan lebih dan lebih lagi.


Randy semakin tidak terkendali. Dan Ayumi berusaha mendorong Randy, meminta pria itu untuk segera memakai pengamannya seperti biasa. Namun, dia seolah tidak peduli, hingga terus berpacu tanpa berniat menjeda kegiatannya sedikitpun.


"Sayang, … stopp!"


Teriak Ayumi.


"Diamlah, sebentar lagi!" Randy menyahut dengan nafas tersengal-sengal.


"Tidak, …. Jangan di dalam kalau begitu." Ayumi berusaha menyadarkan Randy.


Pria itu tak bereaksi apapun, dia hanya terus mengejar sesuatu yang sudah sangat terasa, menatap wajah Ayumi yang memperlihatkan ekspresi wajah berbeda-beda setiap Hujaman yang dia berikan.


Tangan Ayumi bergerak, dan menatah perut Randy, sampai dia benar-benar berhenti untuk beberapa saat.


"Kenapa? Aku bilang sebentar lagi! Kamu tidak mendengar?" Randy dengan suara rendahnya.


"Bukan, … aku tidak pakai kabe. Jadi pakailah dulu agar semuanya aman." Ayumi membalas dengan nafas tersengal-sengal, sama halnya dengan Randy.


"Memangnya kenapa? El sudah 4 tahun. Apa kamu masih belum siap?" Dia memperlihatkan seringainya.


Dan tanpa aba-aba Randy kembali bergerak, mengejar sesuatu yang sudah sangat susah payah dia tahan. Membuat Ayumi terus berteriak, meminta Randy melakukan sesuatu sebelum dia benar-benar melepaskannya.


"Dad, … no!"


Terlambat, Randy menekan pinggulnya, bersamaan dengan sesuatu yang membludak di dalam sana. Menghadirkan rasa panas, yang seketika mengalir kembali ke arah luar.


"Emmmmmhhhh!!" Keduanya mengerang bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2