My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 45 (disappointment)


__ADS_3

Ayumi terus berlari, berusaha pergi setelah mendapati kenyataan jika dia bukanlah anak kandung dari kedua orang yang sudah dia kenali bahkan mungkin saat ia masih sangat kecil.


Meski tidak ada penjelasan siapa dirinya, tapi dia benar-benar mengerti maksud Alvaro, juga di tambah sikap Ali yang berbeda, dan Tutih yang terus menangis tanpa henti.


Hari ini dia mendapati kejutan sebesar ini dalam sejarah hidupnya, lalu setelah ini apa? mungkin saja Randy akan mundur setelah mengetahui dirinya yang tak jelas asal-usulnya.


"Kau memang tidak akan beruntung dalam hal apapun Ayumi! jadi jangan terkejut, dunia memang tidak akan pernah berpihak kepada mu." Ucapnya sambil menangis lirih.


Bahkan dia tidak menghiraukan beberapa orang yang tampak menatapnya saat Ayumi melewati mereka. Dia hanya terus melangkah cepat dengan isak tangis yang terus terdengar.


"Penyakit Tuberkulosis, ... tulang kaki yang patah karena di tabrak mobil, ... lalu apa lagi setelah ini? apa tidak sebaiknya aku mati saja, Tuhan? sekarang aku benar-benar tidak siap melewati ujian hidup selanjutnya." Katanya lagi.


Kakinya terus melangkah cepat, tidak ada niatan untuk berhenti, hingga tiba-tiba saja rasa ngilu mulai terasa di kaki sebelah kirinya.


Ayumi meringis, mengigit bibirnya kencang untuk menahan rasa nyeri yang mulai menjalar.


"Hahh! astaga kenapa harus terasa sakit sekarang? saat kamu benar-benar aku butuhkan untuk pergi dari sini." Ayumi berdecak sebal. "Atau mungkin kita mau lari dari kenyataan!" Lanjutnya lagi.


Ayumi berhenti sebentar, bahkan tubuhnya sedikit membungkuk saat tanggan mengusap pelan kakinya, berusaha mengusir rasa sakit yang mulai intens terasa.


Pim pim ...


Suara itu membuat Ayumi tersentak, lalu menoleh dan menatap kearah belakang, dimana Mobil tampak sedang melaju kearahnya.


Mengetahui siapa yang datang, dia kembali berniat untuk pergi, tapi kakinya benar-benar sudah terasa sangat sakit.


"Astaga!" Pekik Ayumi, dia meringis lagi.


"Kamu mau kemana? pulang? ayok aku antar, jangan seperti ini!" Randy datang menghampiri.


Ayumi diam, dia berusaha menepi dan mendudukkan diri saat kakinya sudah tak sanggup berdiri.


"Kenapa? kau menginjak sesuatu?" Pria itu berjalan mendekat.


Randy berjongkok dihadapannya, lalu menyentuh kaki sebelah kiri Ayumi.


"Jangan!" Ayumi menyentuh tangan Randy.


"Agar rasa pegalnya sedikit terobati." Dia menatap Ayumi.


Gadis itu menggelengkan kepala.


"Jangan di pijat."


Randy menjengit, juga raut wajahnya tampak berubah.


"Apa kamu juga marah kepada ku? padahal aku tidak melakukan apapun, Ayumi?"

__ADS_1


Ayumi tidak menjawab, dia mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Aku tidak melakukan apa-apa, aku juga terkejut, lalu kenapa kamu marah kepada ku?"


"Aku tidak marah! kakinya memang tidak boleh di pijat, ... itu tidak akan membantu apapu." Ayumi mengusap pipinya lagi, saat buliran air mata terus mengalir tanpa henti.


"Jangan begini. Ayok kembali dan temui Ibu mu, dia menangis." Dia mencoba meluluhkan hati kekasihnya itu.


Namun Ayumi menggelengkan kepalanya. Gadis itu menolah, karena tidak sanggup mendengar kenyataan apapun lagi.


"Aku mau sendiri." Tukas Ayumi.


"Sebaiknya kita selesaikan dulu. Tanyakan apa yang mau kamu tanyakan, mereka mempunyai alasan tersendiri kenapa menguak kenyataan ini sekarang." Jelas Randy.


Dia meraih tangan Ayumi, lalu berdiri untuk membawanya kearah mobil yang terparkir tidak terlalu jauh dari mereka berada saat ini.


"Aku butuh waktu sendiri dulu. Aku tidak mau kembali!" Ayumi menolak.


"Ay ..." Randy menatapnya penuh permohonan.


"Aku tidak mau, kalau Abang mau kembali silahkan. Aku mau pulang!" Dia menghentakkan tangannya, sampai genggaman tangan itu terlepas.


Randy mengusap wajahnya kasar.


"Baiklah ayok kita pulang." Akhirnya dia mengalah, berusaha menuruti keinginan Ayumi.


***


Randy menoleh, dia kembali memastikan keadaan kekasihnya yang terus terdiam sejak mereka melakukan perjalanan pulang.


Sesekali dia tampak mengusap sudut matanya, dan merintih pelan ketika dia benar-benar tidak bisa lagi menahan kesedihannya.


"Mereka tetap orang tua mu!" Randy mencoba memulai pembicaraan.


Namun bukannya menjawab, tangisan itu justru terdengar semakin kencang.


"Ay, ... tidak akan ada yang berubah, mereka hanya jujur ..."


"Jelas semuanya berubah." Sergah Ayumi.


Suaranya terdengar bergetar pilu.


"Mungkin jika bisa, mereka tidak akan pernah mengatakan ini. Tapi karena keadaannya sudah berbeda, kita akan menikah, ... mau tidak mau mereka harus mengatakan itu! memang menyakitkan, tapi mereka tetaplah orang tua mu, orang yang terus menyayangi mu tanpa sebuah alasan."


"Aku kira Bang Amar berbohong, atau hanya kesal. Nyatanya aku memang anak pungut yang dia maksud! aku bukan anak kandung Bapak dan Ibu."


Randy tidak langsung menjawab, dia fokus memutar setir mobilnya, saat mereka sampai di kediaman Randy, dan kendaraan roda empatnya benar-benar berhenti.

__ADS_1


Dia menatap Ayumi, membuka seatbelt yang terus melingkar di tubuhnya, lalu turun, dan berlari memutari mobil.


"Apa salah ku? kenapa mereka membuang ku?" Kata Ayumi dengan suara yang sangat pelan.


Pikirannya mulai bertanya-tanya, kenapa ada manusia yang begitu tega, memberikan bayinya kepada orang lain.


Dreuk!


Randy menarik pintu mobilnya sampai benar-benar terbuka, lalu memeluk tubuh Ayumi dengan sangat erat.


"Kenapa aku di buang?" Tangisan itu terdengar semakin kencang.


Randy diam, dia semakin mengeratkan pelukannya.


"Apa salah ku? kenapa aku di buang?" Dia mengulangi ucapannya.


"Kita belum tahu penjelasannya!" Randy mengusap setiap bulir air mata yang terjatuh membasahi pipi Ayumi. "Kenapa kamu langsung menyimpul kan jika kamu di buang. Siapa tahu orang tua mu meninggal, dan mereka menitipkan kamu kepada Bapak dan Ibu." Randy mengulum senyum, sementara Ayumi menatapnya sambil terus menangis.


Randy mengusap punggung Ayumi pelan.


"Tapi apa yang Bang Amar katakan benar, aku anak pungut, aku juga merebut rasa sayang Ibu sama Bapak, ... pantas saja dia benci aku. Aku selalu nanya salah aku apa, ternyata salah aku udah masuk kedalam dunia mereka."


Randy semakin mengeratkan pelukannya.


"Menangislah, keluarkan segala beban di benak mu. Setelah kau siap, kita kembali temui orang tua mu, dengarkan dia, dan jangan seperti tadi, oke?"


Randy mencium kening Ayumu.


Dan gadis itu pun menganggukan kepala di sela tangisannya yang semakin terdengar lirih.


Dan Ayumi kembali menenggelamkan wajah di dada bidang yang selalu membuatnya merasa nyaman.


"Kakinya masih sakit?" Randy berbisik.


Ayumi mengangguk lagi.


"Mau aku bopong atau ..." Randy menggantung ucapannya.


Ayumi menggelengkan kepala.


"Gendong." Rengek Ayumi, dengan wajah yang terus di sembunyikan di dada bidang sana.


Pria itu tersenyum.


"Baiklah tuan putri, sesuai perintah mu. Asal jangan sedih dan menangis lagi!"


Randy menekan salah satu tombol sampai tali seatbeltnya terbuka, dan meraih tubuh kecil Ayumi, lalu membawanya kearah pintu masuk rumah besar miliknya.

__ADS_1


......................


Mohon mangap ini kontrak belum lulus juga, jadi baru crazy nya aja, updatenya masih nanti🙈🙈


__ADS_2