My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 08 (Perasaan)


__ADS_3

Randy memasukan mobilnya kedalam pekarangan sebuah rumah yang bisa di bilang cukup besar. Pria itu terus diam, memfokuskan diri, sementara Ayumi menoleh, menatap Randy dengan seksama. Dan jangan lupakan dengan rasa kagumnya terhadap Randy yang malam ini terlihat sangat tampan dengan pakaian santainya.


"Kayanya aku harus pulang, ... ini sudah mau jam sebelas malam!" Ucap Ayumi kepada Randy.


Ini gila. Kenapa aku mau di bawa kerumahnya!


Randy hanya menoleh, lalu mematikan mesin mobil dan segera turun saat mobilnya berhenti.


"Di dalam ada anak-anak." Pria itu berkelakar, seolah tahu ketatukan gadis yang saat ini duduk di kursi samping kemudi.


Ayumi diam, pandangannya menatap kearah rumah, lalu kembali kepada Randy.


"Sepertinya kita harus bicara, dan jika kita bicara di kostan mu tidak mungkin. Mereka akan berfikir yang tidak-tidak terhadap saya dan kamu." Jelas Randy.


Gadis itu tampak berfikir.


"Cepat, ... nanti semakin malam! habiskan sate mu, setelah itu saya antar pulang." Sambungnya kembali.


Akhirnya Ayumi menganggukan kepala, dia meraih handle pintu mobil di sampingnya, lalu keluar. Dan berjalan mengikuti Randy.


Pandangan Ayumi meneliti sekitar, melihat rumah besar yang terdengar masih sangat ramai, meski waktu sudah semakin larut.


Klek!


Randy membuka pintu rumahnya lebar-lebar, mempersilahkan Ayumi untuk segera masuk kedalam rumahnya.


"Ada anak-anak, selesai pertandingan mereka mampir kesini." Randy berujar, menjawab rasa keingintahuan Ayumi meski gadis itu tidak mengucapkannya.


Beberapa orang yang sedang bermain game di Play Station (PS) menoleh, melihat kearah Ayumi juga Randy yang saat ini berdiri di dekat pintu masuk.


Mereka menatap dengan raut wajah keheranan. Jelas, memang banyak perempuan yang selalu mencuri perhatian Randy, tapi baru kali ini pria itu membawa seorang gadis kedalam rumahnya.


"Lanjutkanlah, ... jangan menatapnya seperti itu!" Randy memperingati.


"Cepat masuk!" Randy kembali menatap Ayumi. "Dan berikan satu porsi sate ayamnya kepada saya, biar saya berikan kepada mereka."


Ayumi mengangguk, dia memberikan satu bungkusa kepada Randy.


"Kesana!" Randy menunjuk salah satu pintu. "Itu taman belakang, nanti saya menyusul." Tukas Randy yang langsung mendapat anggukan dari Ayumi.


"Baik, Pak." Katanya sembari berjalan pelan kearah pintu kaca yang masih terbuka sangat lebar.


Walau jantungnya terasa akan copot saat para pria menatapnya, bersyukur Ayumi masih bisa mengendalikan dirinya sendiri, sampai dia berhasil keluar dari rumah itu, dan duduk di sofa teras luar yang tersedia di rumah sana.


"Tumben bawa anak gadis?" Salah satu dari mereka bertanya saat Randy memberikan bungkusan berisi satu porsi sate ayam itu.


Randy bungkam, dia tidak berniat menjawab sedikit pun.


"Aleesa ngamuk kalau tau!" Sindir seseorang.


"Hah kalian ini, ... sudah saya jelaskan tidak ada apapun antara saya dengan Aleesa!" Randy berdecak sebal.


"Benarkah? tidak ada apa-apa tapi nempel meluku!"


Mendengar itu Randy memutar kedua bola matanya.


"Makanlah, ... sate ayam bagus untuk membersihkan sifat ingin tahu kalian yang berlebihan itu." Katanya lalu pergi.


***


Setelah menunggu cukup lama. Akhirnya Ayumi melihat Randy yang kembali datang dengan dua botol air mineral di tangan kiri dan kanannya.


"Kenapa satenya belum di buka?" Pria itu bertanya, seraya meletakan botol itu di meja yang juga berada di sana.

__ADS_1


Kemudian dia duduk tepat di hadapan Ayumi, hingga pandangan mereka kembali beradu.


"Bapak ikut makan nggak? kalau nggak aku juga nggak mau makan." Gadis itu berujar.


"Saya tidak makan selarut ini, lagi pula saya sudah makan. Jadi makan saja, ini milik mu."


Randy meraih bungkusan itu, lalu membukakannya, dan kembali menggeser sampai berada tepat di hadapan Ayu.


"Emmm, ... ada air ..."


"Dingin?" Randy memotong ucapan Ayumi.


Gadis itu mengangguk.


"Tidak ada!" Tegas Randy.


Ayumi terdiam.


"Kamu ini! jangan terlalu sering minum-minuman dingin, nanti tenggorokannya sakit lagi."


"Baru kali ini, Pak. Belum minum dingin lagi, ... haus!" Ayumi sedikit merengek.


Dan itu menjadi pertanda hubungan mereka kembali menghangat seperti dulu.


"Makanlah dulu." Tegas Randy.


Ayumi tidak menjawab lagi, dia hanya menurut dan mulai memakan sate ayam yang Randy belikan untu dirinya.


Randy menatap gadis di hadapannya dalam diam. Wajah sembab dengan mata dan hidung yang masih menyisakan kemerahan.


Ayumi menyantap satu porsi sate ayam di hadapannya dengan semangat. Sampai dia tidak sadar, saat bumbu kacangnya belepotan di sudut bibir gadis itu.


Randy menghela nafasnya pelan, sedikit mencondongkan tubuh dengan tangan yang terulur, lalu mengusap sudut bibir Ayumi dengan ibu jarinya.


"Makannya pelan-pelan, saya tidak akan minta. Kamu boleh menghabiskannya!" Suara itu terdengar rendah, tapi tetap lembut.


Dia ingin membuat ku mati mendadak yah!


Batin Ayumi berbicara.


"Ayumi?" Panggil Randy saat gadis itu terus mematung.


"Hemmm?" Ayumi bergumam.


"Kamu tidak ingin bercerita? kenapa kamu senekad itu?"


"Maksud Bapak apa? nekad bagaimana?" Dia berusaha menarik kesadarannya yang sempat hilang beberapa detik lamanya.


Randy membenarkan duduknya, duduk tegap bersandar pada sofa di belakangnya dengan kedua tangan yang di lipat diatas dada.


"Kenapa wajah mu? membengkak juga mata dan hidung yang memerah. Kamu menangis?"


Ayumi bungkam.


"Jawab!"


"Aku, ...."


"Apa karena kejadian tadi sore?" Randy memotong ucapannya.


Deg!!


Tubuh Ayumi menegang.

__ADS_1


Sorot mata pria itu semakin tajam juga penuh selidik, bahkan hampir tidak berkedip.


"Saya tanya sekali lagi. Apa keadaan mu seperti ini gara-gara tadi sore?"


"Keadaan yang bagaimana, maksud Bapak?" Ayumi berusaha mengalihkan pembicaraan.


Lalu dia mengalihkan pandangan kearah lain, menghindari Randy yang terus melihatnya penuh selidik.


"Kamu menangis, dan seberantakan itu hanya karena melihat aku bersama Aleesa?" Tanya Randy penuh penekanan.


Ayumi mengatupkan kedua bibirnya hingga merapat, lalu menggelengkan kepala.


"Lalu kenapa?"


Randy mencondongkan tubuhnya, meletakan kedua tangan diatas meja sampai jarak keduanya semakin dekat.


"Ngg, ... itu ... itu ..." Ayumi menjadi gelagapan, saat otaknya tiba-tiba saja terasa kosong dan tidak mampu memberikan alasan yang tepat kepada pria di hadapannya.


"Kamu kesal?"


"Tidak!" Ayumi mengelak.


"Kamu marah?"


"Sudah aku katakan tid ..."


"Kamu cemburu!" Cecar Randy penuh keyakinan. Saat sorot mata Ayumi jelas memperlihatkan itu.


"Kamu ini curang tahu! kamu tidak menerima sebuah pernyataan cinta, tapi kamu cemburu dan marah saat aku bersama perempuan lain. Jadi mau kamu bagaimana? saya menjauh salah, mendekat juga lebih salah." Ekspresi Randy terlihat sangat serius.


Sementara Ayumi mengigit bibirnya kuat. Apa yang di katakan Randy benar adanya, sampai dia tidak mampu menyangkal setiap ucapan yang pria itu ungkapkan.


"Katakan jika kamu mau saya menjauh. Katakan juga jika kamu mau saya tetap berada di dekat mu seperti dulu! jangan membuat saya bingung dengan sikap mu ...."


Ayumi mencondongkan tubuhnya. Mencium bibir Randy untuk membungkam pria itu dari cercaan yang terus menerus terdengar.


Cup!


"Bapak berisik!" Kata Ayumi.


Dia berusaha bersikap biasa saja, walau hatinya menjerit dan merutuki apa yang baru saja dia lakukan.


Kamu ngaco Ayumi! Gadis itu membatin.


...----------------...


...Ayumi udah berani nyosor🤧🤧...


...Jangan lupa like, komen, Hadiah dan vote ya guys ya .....


...Klik favorit juga biar notifikasi berbunyi saat eps baru gentayangan :)...


...~Bonus visual~...


Randy Danendra





Ayumi ******Kirana******

__ADS_1




__ADS_2