
"Bagaimana? Kamu suka?" Tanya Sumi saat Ayumi mulai menikmati sarapannya.
"Suka. Buburnya enak, … terus rasa sayurnya ada asem-asemnya gitu ya?" Ucap Ayumi dengan mulut yang terus mengunyah.
Sumi mengangguk.
"Disini sudah terkenal. Bahkan saking berbeda dari Bubur lainnya, Bubur 'Raden' ini paling laku!" Sumi menjelaskan.
"Mama benar, … aku sangat suka!"
Perempuan itu tersenyum, seraya kembali menikmati satu porsi Bubur Ayam miliknya dengan begitu semangat.
"Ya ampun, minumnya sampai lupa." Sumi menepuk keningnya, dia berdiri dan langsung berjalan ke arah dapur.
Sumi langsung membawa dua gelas plastik, meraih teko kuning dan setelah itu, Sumi segera kembali ke arah ruang tengah dimana Ayumi berada. Dia meletakkannya di atas meja, kemudian mengisi gelas itu dengan air teh hangat yang dia buat beberapa waktu lalu.
"Habiskan Buburnya, setelah itu kamu minum obat!" Sumi mengingatkan.
Dia hampir saja meraih sendok untuk melahap sarapannya, namun dia berhenti saat mengingat sesuatu.
"Apa obatnya kamu bawa?" Cicit Sumi kencang.
Ayumi mengangguk.
"Obat, dompet, uang aku bawa … cuma hape yang aku tinggalin." Ujar Ayumi seraya mengusap kedua sudut bibirnya.
Sumi tersenyum.
"Lain kali jangan seperti ini! Bagaimana kalau orang-orang di rumah khawatir? Atau terjadi sesuatu yang buruk, kamu mau menghubungi siapa?"
"Aku … cuma nggak mau Abang cepet nemuin aku! Aku mau marah yang lama."
"Memangnya bisa begitu? Tidak rindu?"
"Kangen sih. Cuma aku kesel! Abang, Om Al, Ibu, Bapak, … semuanya tahu, tapi aku? Aku di biarkan buta dengan semua kebenaran yang ada."
Sumi mengulum senyum, dia bergeser untuk duduk lebih dekat lagi, lalu menyentuh punggung tangan Ayumi.
"Karena kamu yang menjelaskan tidak mau tahu dari mana kamu berasal. Dan Pak Al menuruti kemauanmu, sampai jalan untuk Mama mendekat yang sudah sedikit terbuka karena kamu tahu bukan anak kandung Pak Ali dan Bu Tutih, kembali tertutup … dan Mama hanya bisa menerima waktu itu."
Ayumi menggeser styrofoam yang masih menyisakan sedikit Bubur, membawa gelas plastik di hadapannya, lalu meminum perlahan setelah meniup-niupnya terlebih dahulu.
"Apa buku itu kisah nyata? Atau hanya sebuah fiksi yang Mama gabungkan dengan kisah Mama sendiri, dan bagaimana awalnya kita berpisah?" Sedikit ragu Ayumi untuk bertanya, tapi dia tidak menahan diri karena rasa ingin tahunya begitu tinggi.
Sumi menggeser sarapannya terlebih dulu, meminum air teh hangatnya, lalu menegakan tubuh, membuat posisi saling berhadapan dengan putrinya.
"Itu memang kisah kita. Hanya saja Mama menyamarkan setiap nama-nama tokohnya."
"Penulisnya Mama juga?"
Namun, Sumi segera menggelengkan kepala.
"Mama hanya bercerita kepada seorang teman. Dia menuliskannya untuk Mama, dia meminta Mama untuk bercerita waktu itu, … awalnya memang hanya ingin berbagi sebuah kisah agar beban ini tidak terlalu berat. Namun, tidak lama setelahnya dia memberi Mama buku itu setelah terbit."
Ayumi diam, menatap wajah Ibu kandungnya lekat-lekat. Perasaannya kali ini benar-benar seperti sudah terbebas, hatinya menghangat saat melihat raut wajah Sumi yang juga berubah tak semurung waktu pertama kali Ayumi menemuinya.
"Apa aku boleh bertanya? Maksud aku …"
"Tanyakan saja. Itu bagus karena kita belum mengenal satu sama lain, Mama memang mengandungmu sembilan bulan. Sangat mencintaimu walaupun kita belum bertemu, bahkan takdir memisahkan kita sampai 20 tahun lamanya."
Hati Ayumi bergetar.
"Si-siapa Alex?"
"Dia Valter. Namanya Valter, kamu memiliki ketampanannya dalam versi seorang perempuan." Sumi tersenyum.
Manik Ayumi bergerak-gerak, menyelami mata ibunya yang dipenuhi kesedihan yang begitu mendalam. Bayangkan saja, di tinggal sang kekasih hati tanpa sebuah kabar, dan setelah dia menyerah dan membuka hati untuk orang lain pria itu segera kembali, dan tanpa banyak bicara dia langsung menikahi Kakaknya sendiri, setelah itu dihamili secara paksa, dan meninggalkannya sendirian setelah memisahkan Bayinya bersama wanita tangguh itu.
Ayumi mendekat, segera memeluk Sumi dan menangis.
"Sudah. Yang penting kita sudah bersama, kamu bisa menemui Mama mu disini, Mama tidak kemana-mana. Kapanpun kamu bisa mampir bersama Randy, tapi jika menginap belum bisa, rumahnya masih terlalu kecil!" Sumi terkekeh.
__ADS_1
Sementara Ayumi.
Perempuan itu terus menangis tersedu-sedu, sampai Sumi dapat merasakan pakaiannya mulai basah.
"Jangan menangis terus, mata kamu sudah bengkak!"
"Kenapa mereka jahat?"
"Karena mereka merasa malu. Mereka malu anak gadisnya hamil di luar nikah, dan hal yang paling memalukan adalah Kakak iparnya sendiri yang menghamili 'Laras'."
Sumi berusaha menjelaskan dengan begitu tenang, meski hatinya kembali hancur saat mengingat itu, tapi dia berusaha kuat di hadapan Ayumi yang saat ini sedang terlihat begitu lemah.
"Tapi kenapa dibuang? Salah aku apa?" Suaranya terdengar terputus-putus.
"Tidak salah. Yang salah kan Mama! Mereka malu saat Mama melahirkan kamu, mereka memakan setiap omongan para tetangga. Pikirannya sudah buruk, makanya mereka berpikir kamu adalah bukti nyata dari sebuah keburukan yang Mama lakukan."
Tangis Ayumi semakin kencang.
"Sudah-sudah." Sumi menepuk-nepuk punggung Ayumi.
"Aku mau marah, tapi tidak tahu kepada siapa!"
"Marahlah kepada Mama, karena Mama tidak bisa menjagamu sebagaimana mestinya."
Ayumi mengurai pelukannya, lalu menggelengkan kepala.
"Jika mereka datang. Aku tidak mau memaafkan mereka, aku tidak izinkan Mama berbuat baik kepada mereka!"
Sumi menimpali dengan gelengan kepala, meraup wajah Ayumi, mengusap setiap bulir air mata yang terjatuh dengan ibu jari, dan menatapnya dengan sangat dalam.
"Mereka memang salah. Mereka juga keterlaluan sudah memisahkan kita, … tapi hidup kita tidak akan tenang jika amarah dan dendam terus bersarang di dalam hati. Kamu Ayumi Kirana, gadis dengan segala kelembutan hati yang Mama tahu, tidak boleh berubah hanya karena sebuah cerita kelam di masa lalu. Kamu tahu? Mama bangga kepada kedua orang tuamu, mereka merawatmu dengan cinta yang sangat besar, mengajarkan kamu menjadi anak yang begitu baik, hati mu lembut, … jadi jangan pernah berubah hanya karena mereka berbuat salah kepada kita. Kita tidak tahu Tuhan sudah membalas apa saja kepada Valter dan Ayah Ibu, juga Ka Susi, jadi biarkan saja."
Mendengar itu Ayumi kembali menangis. Hatinya terasa di remas begitu kencang, bahkan setelah apa yang keluarga lakukan punya, Sumi masih bisa berkata demikian.
"Harus kamu tahu! Mungkin jika Mama tidak menemukanmu. Maka sudah sangat lama Mama tidak akan ada di dunia ini, Mama pasti sudah menyerah, tapi ada Pak Al, dia meminta Mama menunggu sampai kamu besar, … dan ini berhasil, Mama bertahan hanya untuk melihat kamu tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik."
"Mama salah. Ibu dan Bapak memang membesarkan aku dengan penuh cinta, tapi kelembutan hatiku, itu berasal dari Mama."
***
"Ayumi pergi menemui Bu Sumi?" Tutih bereaksi.
Wanita itu terlihat sedikit takut. Takut jika sudut pandang Ayumi terhadapnya akan berbeda, apalagi kini Ayumi sudah benar-benar menemukan ibu kandungnya.
"Dia baik-baik saja. Ibu dan Bapak tidak usah khawatir!" Kata Randy dengan santai.
Beberapa orang yang baru menyelesaikan makan siangnya pun terdiam, mengangguk-anggukan kepala.
"Sore ini kita harus benar-benar pulang, apa bisa kami meminta tolong agar tetap mengawasi Ayumi? Mungkin saat ini dia sangat kecewa kepada saya, dan Ibunya." Pinta Ali kepada menantu juga besannya.
Dua orang yang di maksud mengangguk, mengiyakan permintaan Ali yang kali ini terlihat lebih khawatir.
"Apa tidak sebaiknya kita menyusul ke rumahnya Bu Sumi saja?" Ucap Tutih.
"Sebaiknya kita biarkan dulu, mungkin Ayumi memang ingin menghabiskan waktu berdua bersama Ibu kandungnya." Maria menimpali.
Namun ucapan itu membuat Tutih semakin was-was, dia belum siap jika Ayumi akan meninggalkannya dengan sekejap mata hanya karena sudah menemukan sosok wanita yang melahirkannya.
"Apa Ayumi masih akan menganggap kita Ibu dan Bapaknya?" Tutih mengutarakan kegelisahan nya.
"Itu pasti." Randy menjawab.
"Tapi sekarang dia sedang menghindar, Ayumi kecewa, dan Ibu takut kekecewaannya berlarut-larut."
"Tidak akan, percaya lah!" Randy meyakinkan.
Tutih pun akhirnya terdiam. Sementara Randy meraih ponselnya yang beberapa kali bergetar, menandakan ada beberapa pesan.
"Lihat, … Ayumi sedang tertidur! Dia baru saja selesai memakan buah markisa, dan Obatnya."
Randy segera memperlihatkan sebuah foto dimana Ayumi berbaring memunggungi, yang Sumi kirimkan kepada dirinya.
__ADS_1
"Buah markisa?" Maria membeo.
Randy mengangguk.
"Yang asam itu?" Maria menatap wajah putranya yang kini terus memperhatikan foto Ayumi yang sedang terlelap.
Satu malam Randy tidak tidur bersama perempuan itu. Rasanya begitu hampa, dan dia sangat merindukannya.
"Katanya pakai garam, … dia aneh sekali yah!" Randy terkekeh.
"Markisa? Setahu Bapak dia suka Markisa yang rasanya manis, kalau yang asam …"
"Mungkin dia sedang pusing, makannya makan yang asam-asam." Sergah Tutih.
"Lihatlah."
Randy memperlihatkan gambar sebelumnya yang Sumi kirim.
Terlihat Ayumi yang duduk di teras depan, memegangi sebuah gelas bening, berisikan markisa dengan warna kuning yang begitu mencolok.
"Iya. Ayumi suka Markisa memang, tapi yang warna putih dan rasanya manis, bukan markisa berwarna kuning seperti ini."
"Mungkin memang sedang ingin." Maria tersenyum kepada kedua orang tua Ayumi.
"Iya, walaupun tidak suka, Ayumi adalah tipikal orang yang suka mencoba, Pak. Jadi jangan terlalu khawatir." Tutih berujar
"Bapak takut kejadian ini membuatnya menjadi Ayumi yang berbeda."
"Sejauh ini tidak ada yang aneh. Jadi tidak ada hal yang sangat serius."
Randy berdiri, kemudian memasukan ponsel ke dalam saku celana nya.
"Nanti kalian pulang aku yang antar. Sekalian mau jemput Ayumi." Katanya.
"Ibu ikut pulang jugalah!" Maria bereaksi.
Randy yang mulai berjalan mendekati pintu pun menoleh, lalu menganggukan kepala.
***
Dan sore hari pun tiba. Ali, Tutih, dan Maria yang hendak pulang pun sudah siap, semua barang bawaan sudah Randy masukan ke dalam bagasi mobilnya.
"Ayo masuk, kita berangkat sekarang." Titah Randy, dan langsung mendapat angguka dari ketiga orang tuanya.
Tutih dan Ali duduk di kursi belakang, sementara Maria Duduk di kursi samping kemudi.
Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, akhirnya Randy berjalan mendekati pintu mobilnya, segera masuk, duduk di belakang kemudian dan memasangkan sabuk pengaman seperti biasa.
Dia mulai memutar kunci, membuat derum mesin mobil terdengar begitu nyaring.
"Baiklah ayo kita berangkat." Randy memutar setir mobilnya, melajukan mesin beroda empat itu dengan perlahan meninggalkan rumah besarnya.
"Kamu mau menemui Ayumi malam ini juga?" Maria menatap Randy yang sedang fokus melihat ke arah depan.
"Tidak tahu, aku juga takut Ayumi menolak dan justru meminta ku untuk segera pulang." Sahut Randy tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun.
"Mau bermalam di rumah kami, Bu?" Tawar Tutih kepada Maria.
Wanita yang di maksud pun segera menoleh, melihat Tutih yang saat ini duduk tepat di belakang kursinya.
"Mungkin saya berkunjung saat Ayumi pulang saja. Kalau sekarang saya harus mempersiapkan segala sesuatu, toko kue sudah lama saya tutup, kasian para pegawai."
"Begitu yah?"
"Mereka sangat takut jika toko tidak saya buka lagi!" Maria tertawa.
"Mungkin mereka menggantungkan pendapatan sehari-hari mereka dari toko kue yang Bu Maria punya."
"Begitulah, Bu. Yang bekerja rata-rata orang tua semua, yang mencari tambahan selain uang gaji suaminya."
Tutih mengangguk. Dan perjalanan pada sore hari itu ditemani oleh obrolan-obrolan santai, seperti membahas beberapa resep kue dan masih banyak lagi.
__ADS_1
Sementara dua pria hanya terdiam, mendengarkan dan menyimak setiap ucapan para wanita yang duduk di kursi samping masing-masing.