
Setelah drama yang cukup memakan waktu.
Akhirnya Randy, Ayumi dan Raizel berada di salah satu kawasan yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal mereka. Randy dan putrinya tampak berjalan beriringan, saling menggenggam satu sama lain seolah tidak mau terpisahkan, walau hanya sebentar saja.
Sementara Ayumi berada di belakang tubuh mungil putrinya, tersenyum merekah saat melihat kelakuan manis dua orang yang sangat dirinya cinta.
"Jadi kita mau kemana dulu?" Ayumi sedikit berteriak, sampai membuat Randy dan Raizel menoleh secara bersamaan.
"Aku mau ke toko mainan dulu, Mom. Setelah itu baru kita ke atas, … main Timezone sana makan sushi yah!?" Wajar Raizel tampak berbinar.
Dan Ayumi hanya mengulum senyum, sambil menganggukan kepala. Mereka kembali melangkahkan kaki, berjalan terus hingga tidak lama setelahnya Raizel menarik Randy masuk ke dalam toko berbagai macam mainan yang cukup terkenal.
Ruangan yang terlihat sangat luas, dimana terdapat beberapa rak besar, berisikan berbagaimacam jenis alat masak-masakan, Lego, Play-Doh dan lain-lain. Entah itu untuk anak kecil, maupun dewasa. Dari yang berukuran paling kecil, sampai berukuran besar, semuanya ada di dalam sana.
"Dad, aku mau itu!" Raizel menunjuk lilin mainan, yang di bungkus kotak dengan gambar-gambar menggemaskan.
Randy tidak langsung menjawab, dia justru menoleh ke arah Ayumi, sebelum akhirnya kembali saling memandangan dengan gadis cantik yang terus menggenggam jari manis dan jari kelingkingnya.
"Coba tanya Mommy." Kata Randy kepada putrinya.
"Kenapa harus tanya Mommy?" Raizel mendongak, menatap wajah ayahnya lekat-lekat.
"Soalnya Play-Doh dibrumah sudah sangat banyak. Coba tanya Mommy, siapa tahu Mommy punya rekomendasi mainan yang lain." Jelas Randy.
Raizel segera berbalik badan, kemudian berlari ke arah Ayumi berada. Yang saat ini juga tengah asik melihat-lihat beberapa boneka Barbie di dekatnya.
"Mommy?" Suara menggemaskan itu langsung menyita perhatian Ayumi.
Perempuan itu menoleh, lalu tersenyum saat mendapati Raizel menyentuh lengannya, dan menguncang cukup kencang.
"Ya, kenapa? Bukannya mau beli mainan? Ayo di pilih!"
"Kata Daddy aku harus izin sama Mommy dulu." Jelas Raizel.
"Izin?" Ayumi mengulangi ucapan putrinya.
Lalu kemudian dia mengalihkan pandangan ke arah Randy. Dan pria itu hanya tersenyum sambil beringsut mendekat.
"El minta Play-Doh lagi." Akhirnya pria itu berbicara.
Dua wanita berbeda usia itu saling memandang satu sama lain. Raizel menatap wajah serius ibunya dengan seksama dan perasaan berdebar-debar. Dan setelah itu kedua sudut bibir itu saling tertarik ke arah berlawanan, memperlihatkan senyuman tipis yang Ayumi berikan kepada putrinya.
"Bukannya Play-Doh kamu masih banyak?" Terlebih dulu Ayumi bertanya.
Namun, El segera menggelengkan kepala.
"Warnanya sudah tercampur satu sama lain. Jelek, aku mau yang baru!" El berusaha menjelaskan. "Mommy? Boleh yah? Aku mau Play-Doh, satuuu aja!"
"Baiklah. Ambil saja apa yang El mau, … tapi harus tanya Daddy juga! Soalnya nanti Daddy yang akan bayar mainannya."
Senyuman manis segera gadis cantik itu perlihatkan. Dia meraih tangan Randy, lalu membawa ayahnya ke tempat semula. Jari lentiknya menunjuk ke arah atas, dengan pandangan menengadah, bahkan tak jarang Raizel melompat-lompat karena merasa begitu bahagia.
"Thank you, Daddy." Ucap Raizel saat menerima satu kota berisikan lilin mainan tadi.
"Hemmm, … tapi janji! Besok kalau sekolah tidak boleh menangis." Kata Randy dan langsung di jawab anggukan oleh putrinya.
"Baik, Dady!" Katanya sambil tersenyum sumringah.
__ADS_1
"Ya sudah, … cepat mau apa lagi? Setelah ini kita makan di atas."
Raizel menoleh ke arah Ayumi.
"Mom, boleh minta tolong ambilkan keranjang?" Raizel memanggil ibunya.
"Memangnya berapa banyak mainan yang mau El beli? Sampai Mommy harus membawa keranjang?" Tanya Ayumi.
"Beberapa saja, Mom!"
Ayumi mengangguk. Wanita itu berjalan mendekati pintu masuk yang terbuka lebar, lalu membawa satu keranjang yang memang di sediakan disana, dan memberikannya dengan segera kepada Randy.
"Kamu mau beli juga? Boleh pilih-pilih kalau mau?" Randy menatap istrinya sambil tertawa pelan.
"Tidak. Untuk apa?"
"Siapa tahu kamu mau nyusun Lego?" Randy terus melanjutkan kekonyolannya, sementara Ayumi hanya terus tersenyum.
Raizel meletakan kotak Play-Doh, yang sempat Randy ambilkan tadi kedalam keranjang sana. Lalu dia berjalan mendekati rak-rak mainan yang lain.
"Emmm, … aku boleh izin sebentar?"
"Izin?"
"Iya. Aku mau cari baju tidur buat El, … sama buat aku sekalian." Jelas Ayumi.
Dua orang itu saling menatap, namun beberapa kali mengalihkan pandangan ke arah Raizel yang tengah asik memilah beberapa miniatur Minions, di salah satu rak khusus.
"Kemana?"
Ayumi menatap wajah suaminya lekat-lekat. Bahkan senyuman paling manis dia perlihatkan, agar dirinya dapat mengantongi izin dari Randy.
"Biasanya kamu belanja via online. Sama saja kan?"
"Feel-nya beda, sayang. Disini aku bisa pilih langsung! Boleh yah? Cuma sebentar kok. Nanti aku sekalian beliin Hadian buat kamu."
"Kan kita kesini mau ajak El jalan-jalan."
Randy terlihat sedikit keberatan, apalagi untuk membiarkan Ayumi pergi sendiri.
"Ish ayolah. Setiap bulan pasti ada desain terbaru, dan Minggu kemari baru launching. Aku tidak mau kehabisan lagi!" Ayumi memohon.
Lama Randy tidak menjawab, sampai akhirnya pria itu menganggukan kepala, memberikan izin pergi kepada istrinya.
"Pakai dulu uangmu, nanti aku ganti, oke?" Randy berujar.
Ayumi tersenyum, dia menganggukan kepala. Lalu kemudian berlari keluar dari toko mainan sana. Menuju salah satu outlet yang terletak tidak jauh dari tangga berjalan, membuat siapapun yang baru saja menapakan kaki di lantai tiga mall tersebut, dapat melihat keberadaan satu toko dengan desain interior yang telihat sangat elegan.
"Selamat sore, selamat datang di Fia's Secret." Seorang keryawan toko datang menghampiri.
Dia menyapa dengan senyum ramah, kala beberapa orang masuk kedalam sana secara bersamaan, yang salah satunya adalah Ayumi. Dan suasana di dalam sana seketika menjadi sangat ramai, membuat Ayumi sedikit merasa gugup, mengingat dirinya sedang pergi sendiri tanpa suaminya atau siapapun.
Meskipun sudah jelas Randy dan putrinya masih berada di dalam satu kawasan. Tetap saja, Ayumi selalu merasa gugup jika mendatangi tempat-tempat ramai sendirian.
Ayumi membalas senyuman para pelayan toko itu tak kalah manisnya, lalu sedikit menganggukan kepala.
"Boleh, Ka. Ada yang bisa kami bantu?"
__ADS_1
"Saya mau pakaian tidur untuk anak perempuan usia 4-5 tahunan, Mbak. Beberapa model baru launching kan yah?"
"Iya, Ka. Kalau begitu sebelah sini … mari!"
Ayumi mengangguk, dia berjalan mengikuti kemana pelayan toko itu pergi.
"Untuk pakaian anak perempuan disebelah sini, yang anak laki-laki disebelah sana." Wanita itu menunjuk beberapa tempat.
Pandangan Ayumi mengedar, menatap banyaknya pakaian disana. Dengan warna-warna cerah, dan berbagai macam model yang terlihat begitu menggemaskan.
Setelan baju dan celana pendek, piyama, juga gaun tidur dengan warna-warna cerah dan movit bunga, yang tampak di gantung. Belum lagi beberapa pakaian yang di lipat di atas sebuah meja, membuat Ayumi sedikit kebingungan.
Tidak, lebih tepatnya dia sedang berpikir keras, jika dirinya membeli satu dari setiap model, apa Randy akan memarahinya.
"Tapi kalo nggak. Raizel nggak akan punya, edisinya terbatas, dan hanya di keluarkan sekali. Setelah itu ganti dengan desain baru." Kata Ayumi sedikit berbisik.
Namun, pada kenyataannya Ayumi tidak bisa menolak pakaian-pakaian anak perempuan yang sangat menggemaskan itu. Akhirnya dia membawa beberapa model, dengan ukuran yang sama.
Yang tentu saja di bantu oleh para pekerja dengan penuh semangat.
Setelah itu Ayumi beralih pada bagian pakaian perempuan dewasa. Melihat-lihat beberapa diantaranya, sebelum akhirnya dia menetapkan pilihan pada dua gaun minum berwarna maroon dan hitam, juga satu piama tidur dengan celana super mini.
"Pakaian anak laki-lakinya tidak sekalian, Ka?" Mereka bertanya sambil tersenyum ramah seperti biasa.
"Emmm, … mungkin nanti saja."
"Memangnya keponakan Kakak cuma perempuan? Nanti yang cowok sirik."
Ayumi yang sedang membuka tasnya pun hanya tersenyum.
"Bukan untuk keponakan, Mbak. Tapi untuk anak saya! Kebetulan anak saya baru perempuan saja, laki-lakinya mungkin nanti, … itu pun kalau beruntung, kalau tidak ya coba lagi." Ayumi terkekeh, lalu meletakan kartu miliknya di atas meja kasir sana untuk segera melakukan transaksi pembayaran.
"Ya ampun. Kami kira belum menikah, … ternyata sudah, ya?"
Ayumi mengangguk.
"Bayarnya pakai debit yah."
"Iya." Jawab Ayumi.
Dengan sabar ibu satu anak itu menunggu. Melihat para keryawan toko yang sedang melipat setiap pakaian yang Ayumi beli, kemudian memasukannya kedalam sebuah Tote bag.
"Terimakasih. Jangan lupa untuk mampir kembali!"
Ayumi menerima kartunya kembali setelah selesai melakukan transaksi pembayaran, lalu meraih tas belanja yang segera di berikan.
"Terimakaih, Mbak." Katanya.
Ayumi segera berbalik badan, kemudian berjalan keluar. Meninggalkan toko pakaian brand lokal yang sangat terkenal di kalangan-kalangan menengah atas.
......................
Eh, othor punya Duda lho. Yang belum mampir boleh mampir, tinggal klik profil othor, nanti ada judul yang lagi on going. Sambil nungguin Dede El update, nangkring di sana yah🤭
Jangan lupa Like, komen, hadiah!!
Cuyung kalian ♥️♥️
__ADS_1