
Klek!!
Seseorang membuka pintu dari dalam sana, setelah Randy mengetuk pintu ruang rawat inap beberapa kali.
"Eh, Ayumi sama Randy datang!" Balqis menyambut.
"Ayo masuk, kebetulan ada Mama sama Papa." Perempuan itu membukakan pintu semakin lebar.
"Terimakasih." Ucap Randy seraya melangkah masuk, menganggandeng satu tangan Ayumi, sementara tangan Ayumi yang lain menenteng sebuah paper bag berisikan kado, untuk seorang bayi mungil yang baru saja si lahirkan.
Anna dan David yang tengah sibuk memperhatikan cucu mereka segera beralih melihat tamu yang baru saja datang.
Dua orang itu tersenyum kala mendapati Ayumi melakukan hal yang sama, namun lebih manis.
"Kalian datang juga akhirnya." Bianca yang sedang berada di atas tempat tidur menyambut.
Dia segera turun, kemudian memeluk Ayumi.
"Selamat, kau sudah menjadi ayah sekarang!" Randy menepuk-nepuk pundak Junior.
Pria yang terus berdiri di samping bayinya hampir setiap saat.
"Anda juga. Berarti tinggal nunggu berapa bulan?" Junior balik bertanya.
"Enam bulan lagi mungkin." Dengan bangga Randy menjawab.
"Ayumi sedang hamil? Ya ampun waktu bertemu di acara Junior dulu rasanya masih sangat lugu, sekarang sudah mau jadi calon Mama saja." Celetuk Anna, wanita itu terkekeh.
Sementara David menepuk lengan istrinya, ketika melihat wajah Ayumi yang berubah menjadi sangat merah karena menahan malu.
"Mungkin Ayumi masih sama lugunya, yang tidak lugu bisa saja Randy." David berbisik.
"Ah iya juga yah."
"Ini!" Ayumi memberikan paper bag kepada Bianca, yang di terima dengan sangat baik.
"Jadi, … baby nya laki-laki atau perempuan? Aku mencoba mencari tanda-tanda tapi tetap tidak ketemu. Balon-balon disini berwarna kuning emas, dan hanya ada tulisan Welcome, tidak ada inisial sama sekali." Dengan antusiasnya Ayumi bertanya. Menatap Bianca dan Junior bergantian.
Bianca melirik, melihat kearah suaminya yang sedang duduk di atas kursi, di dekat box bayi.
"Laki-laki."
"Whoaaa!! Sudah ada namanya?"
Junior mengangguk.
"Siapa?" Tanya Ayumi dan Randy bersamaan.
"Bryan Alexander." Kata Bianca.
Ayumi menoleh ke arah suaminya, lalu tersenyum penuh arti. Tiba-tiba saja rasa tidak sabar menyeruak memenuhi diri, apalagi ketika melihat bayi mungil yang terus terlelap di dalam box sana, dengan sehelai kelambu yang menjadi sebuah pelindung dari nyamuk atau serangga lain.
"Mau gendong boleh?" Ayumi maju lebih mendekat.
"Memangnya bisa?" Balqis terkekeh karenanya.
Namun Ayumi justru melirik suaminya, seolah meminta Randy untuk menggendong bayi menggemaskan itu.
"Apa?"
"Kamu yang gendong, aku takut. Baby nya sangat kecil!" Kata Ayumi.
Dan ucapan itu benar-benar membuat beberapa orang terkekeh geli.
"Aku juga takut." Cicit Randy.
Ayumi menghembuskan nafas penuh kekecewaan.
"Ayo duduk sofa sana. Nanti saya bawakan baby nya agar kamu bisa menggendong nya." Kata Balqis.
"Oh iya, Bara?"
"Barusan di antar pulang Papi nya, dia mulai rese kalau ngantuk!" Balqis mendekati bayi itu, mengangkatnya dengan sangat hati-hati.
"Cepat duduk."
Ayumi menuruti permintaan Balqis, dia segera duduk di sofa yang sama dengan Anna juga David, mempersiapkan diri sampai bayi itu kini benar-benar ada di dalam dekapannya.
"Sudah cocok." Kata Anna.
"Sebentar lagi Oma." Kata Ayumi sambil tersenyum.
"Abang? Sini deh lihat. Baby-nya mirip siapa."
Ayumi memanggil suaminya yang mulai asik berbincang-bincang dengan Junior. Namun ketika Ayumi memanggilnya, dia segera mendekat, kemudian berjongkok untuk melihat bayi mungil itu lebih jelas lagi.
Mereka berdua menundukan pandangan, menyentuh pipi bayi mungil itu setelah menggunakan hand sanitizer terlebih dahulu. Perasaan Randy begitu bahagia, bayang-bayang bayinya yang sudah lahir sudah terlihat, dan tentu saja kebahagiaan itu pasti bertambah berkali-kali lipat.
"Mirip Junior sekali!" Randy berujar dengan kekehan khasnya.
"Memang, aku hanya menampung saja selama sembilan bulan. Pusing, mual, muntah semuanya aku rasakan sendiri, dan setelah lahir dia hanya mirip kepada Papanya." Bianca terdengar sedikit kesal.
Sementara yang lainnya hanya tertawa. Termasuk Junior yang merasa begitu bangga kepada dirinya sendiri.
***
Setelah menghabiskan cukup lama untuk bermain-main dengan bayi mungil yang begitu menggemaskan. Akhirnya Randy dan Ayumi undur diri, mereka keluar dari gedung rumah sakit ketika langit sudah berubah menjadi gelap.
Randy melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Memutari jalanan tengah kota yang sedikit lenggang. Lampu-lampu jalanan sudah menyala, dan beberapa tenda makanan yang sudah terlihat didirikan.
__ADS_1
Sekilas dia menoleh ke arah Ayumi. Perempuan yang tengah asik melihat ke arah samping, dengan tangan kanan yang terus mengusap-usap perut bulatnya yang masih kecil.
Dimana janin sedang tumbuh disana.
"Mau beli sesuatu? Atau kita mau berhenti di taman jajan?" Randy bertanya.
Ayumi segera menoleh. Dia tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya.
"Mau makan di teras Jepang boleh?"
"Teras Jepang?" Randy mengulangi ucapan istrinya.
"Iya, BBQ an."
"Mau yang dimana?"
"Yang terdekat saja." Kata Ayumi.
Randy pun mengangguk. Dia semakin mempercepat laju mobilnya, berusaha mencari gerai makanan yang Ayumi inginkan saat ini.
Hingga setelah lima belas menit mencari. Akhirnya mereka sampai di salah satu kedai makanan Jepang yang terlihat cukup ramai. Bahkan asap-asap berbau nikmat langsung tercium, kala Randy membuka pintu mobilnya.
Senyum Ayumi merekah. Dia terlihat begitu senang, padahal hanya karena sebuah makanan. Namun dia benar-benar bersyukur, mungkin jika tidak bersama Randy, dia tidak akan mendapatkan apa yang dia mau secara langsung.
Langkah Randy memutari mobil, menghampiri Ayumi sambil merentangkan tangan, yang langsung Ayumi sambut sampai tangan keduanya saling menggenggam. Mereka berjalan ke arah gerai sana, sambil mengedarkan pandangan, mencari-cari meja kosong yang akan mereka tempati.
"Boleh, Ka. Untuk berapa orang?" Seorang waiter wanita menghampiri Ayumi juga Randy, dengan memeluk sebuah buku menu di dadanya.
"Dua orang, Mbak." Kata Ayumi sedikit merasa tidak sabar. "Penuh ya?" Raut wajah Ayumi tampak kecewa.
"Kalau yang outdoor penuh, Ka. Yang di dalam kosong, sama ada private room juga kalau mau."
Ayumi sedikit menengadahkan pandangan, ketika dia menoleh dan berusaha menatap wajah suaminya.
"Apa?" Tanya Randy.
"Di luar kosong, adanya di dalam. Sama ada ruangan private juga. Mau yang mana?"
"Private aja." Kata Randy langsung tanpa berpikir terlebih dahulu.
"Jadi gimana, Ka?"
"Di private room saja, Mbak. Sama boleh minta antar nggak?"
"Baik, mari saya antar." Waiter itu tersenyum ramah, berjalan terlebih dahulu.
Randy kembali menggenggam tangan istrinya, setelah dia lepaskan beberapa detik lalu, merematnya erat seolah takut jika Ayumi akan terluka jika dia tak menjaganya.
Suasana di dalam tak kalah ramainya. Beberapa pasang anak muda tampak menikmati daging yang mereka bakar sendiri, yang disantap dengan berbagai macam bumbu juga sayuran.
"Silahkan." Waiter tadi mendorong sebuah pintu ruangan yang terbuat dari kayu.
Dan tampaklah ruangan yang cukup luas, dan terdapat beberapa tempat pembakaran disana.
"Silahkan menunya. Mau ditunggu atau nanti saya kembali lagi?"
"Nanti saya panggil lagi ya, Mbak." Ayumi tersenyum, yang langsung dijawab anggukan oleh waiters tersebut.
***
Valter kembali berdiri di hadapan pintu rumah Sumi yang tertutup. Menatap cukup lama untuk memberanikan diri, akan penolakan yang mungkin saja Sumi lakukan.
Terlebih dulu Valter menghirup nafas sebanyak mungkin, mengangkat tangan kanannya, kemudian mengetuk pintu rumah itu beberapa kali.
Tok tok tok!!
Pria itu mundur beberapa langkah, menunggu sang pemilik rumah membukakan pintu untuk dirinya. Padahal mereka baru berpisah siang hari tadi sepulang dari rumah Ayumi juga Randy, namun hatinya terus berkata jika dia harus kembali menemui wanita itu.
Cukup lama Valter berdiri disana. Menunggu dengan suasana sekitar yang begitu sunyi, hanya terdengar riuh daun-daun tertiup angin, juga jangkrik yang sepertinya ada hampir di setiap tempat.
Trek.
Klek.
Sumi membuka pintu rumahnya.
"Kamu kembali lagi?" Kening Sumi mengkerut.
Wanita itu terlihat begitu heran.
Sementara Valter mengangguk dan tersenyum, lalu duduk tanpa Sumi memintanya terlebih dulu.
"Apa lagi?" Kini wanita itu mulai melembut.
Dia ikut duduk di kursi kosong tepat di samping Valter, hanya dipisahkan oleh meja yang terletak di tengah-tengah.
"Tidak tahu. Aku hanya ingin kesini, mungkin untuk melakukan perpisahan karena besok pagi aku sudah harus pergi ke bandara." Jelas Valter.
Suaranya terdengar sedikit bergetar, menahan sesuatu di dalam dada sana yang membuat pria itu merasa berat untuk pergi.
Sumi menoleh, begitupun dengan Valter. Sampai tatapan mata keduanya kembali beradu pandangan, dengan raut wajah yang terlihat sama-sama sendu.
"Jadi benar? Aku kira kamu hanya berbohong." Sumi mengulum senyumnya, dengan hati yang terasa begitu ngilu.
Penyebabnya apa? Sumi pun tidak tahu. Disatu sisi dia memang selalu menolak, pikirannya menolak keras jika dia mengingat Valter adalah suami dari Kakanya, namun disisi lain hatinya seolah meronta-ronta, ingin kembali bersama pria yang begitu sangat dia cintai, bahkan saking besarnya rasa cinta itu, Sumi sampai memutuskan untuk tidak pernah menikah, karena dia takut satu nama di dalam hatinya akan tergantikan.
"Benar tidak mau ikut?" Valter kembali bertanya, seolah ingin meyakinkan lagi, karena dia pun tahu Larasnya sedang merasa ragu.
Wanita itu mengangguk, dengan senyum yang sedikit dipaksakan.
__ADS_1
"Pulanglah, aku tetap disini bersama Ayumi." Kata Sumi pelan.
Valter menatap wajah Sumi lekat-lekat. Dan mendapatkan banyak kesedihan di dalam manik sana.
"Kalau mau …"
"Tidak usah. Aku disini saja, nanti Ayumi akan sedih kalau aku tidak ada! Tahu sendiri dia bagaimana terhadap kita, terutama aku." Sumi terus menekan perasaannya.
Valter menghela nafas. Benteng pertahanan Sumi begitu kuat, sampai dia harus benar-benar berusaha keras untuk menaklukkan hatinya.
"Coba dengarkan sampai aku selesai berbicara. Jangan terus di potong seperti itu, … aku tahu kamu sedang menghindar, dan menekan dengan keras perasaanmu! Berhentilah bersikap egois kepada dirimu sendiri."
Sumi bungkam, kata-kata Valter seperti menusuk sesuatu di dalam dirinya. Menyakitkan namun itu kebenaran yang dia tutup-tutupi.
"Banyak yang harus diurus. Tidak mungkin aku bisa ikut bersamamu besok pagi." Kata Sumi.
"Jadi kau mau ikut?"
"Emm, … ini hanya berandai-andai saja." Sumi kembali mengelak.
Entah kenapa susah sekali menurunkan egonya. Dia benar-benar sudah tidak bisa bersikap gampangan. Ada banyak hal yang harus di pertimbangkan, terutama kembali dekat dengan pria itu.
Valter memang ayah biologis putrinya. Namun secara agama mereka tidak ada hubungan apapun, dan itu yang sangat dia hindari selain omongan orang-orang, yang kini menjadi salah satu pemicu traumanya.
"Kau ini! Kenapa sulit sekali berbicara jujur." Valter berujar dengan nada sedikit frustasi.
"Tidak, aku biasa-biasa saja. Jika mau pulang, maka pulanglah. Aku dan Ayumi tetap disini jika kamu ingin kembali maka berkunjunglah."
"Mana nomor rekening bank milikmu? Nanti aku kirim uangnya, dan kamu berangkat sendiri setelah selesai mengurus semua persyaratan untuk pergi kesana." Valter menadahkan telapak tangan ke arah Sumi.
Wanita itu menggelengkan kepala, lalu mendorong lengan besar milik Valter di dekatnya.
"Tidak usah. Aku tidak akan pergi kemana-mana!"
"Astaga Tuhan! Tolong lembutkanlah hati dan isi kepalanya. Kenapa dia keras kepala sekali, harus bagaimana mana lagi aku berbicara, aku sudah putus asa maka aku serahkan semuanya kepada dirimu." Kata Valter kesal.
Sementara Sumi hanya tertawa karenanya.
"Jadi kamu datang hanya ingin menumpahkan rasa kesalmu?" Sumi terkekeh.
"No! Tentu saja tidak, aku datang baik-baik, memintamu untuk datang kesana. Setidaknya bukan untukku, tapi untuk keluargamu."
"Tapi …"
"Ah aku harus bicara kepada Ayumi soal ini. Dia lebih lembut, dan aku bisa menggunakan dia untuk membujukmu."
"Dia sudah memintaku. Bahkan sempat meminta kita kembali, … tapi aku tetap menolaknya." Sumi tertawa lagi.
"Astaga Tuhan, dia ini benar-benar!" Valter menyapu wajahnya kasar.
"Mau aku ambilkan minum?"
Sumi menawarkan, namun Valter menolaknya dengan gelengan kepala. Tentu saja, dia hanya ingin Sumi mengerti dengan keinginannya saat ini.
"Sungguh?"
"Ya. Aku tidak haus, aku hanya sedang berusaha membuat kamu berubah pikiran dan ikut ke Jerman. Sebenarnya apa yang kau masalahkan? Biaya? Nanti aku tanggung, omongan orang? Apa aku harus menutup mulut mereka dengan uang?"
Sumi diam, dia menatap Valter yang sudah benar-benar putus asa.
"Begini saja …"
"Apa?!" Sergah Valter, dia memotong ucapan Sumi dengan rasa tidak sabar.
"Aku belum selesai berbicara." Kata Sumi dengan suara lembutnya.
"Cepat katakan, atau aku akan benar-benar gila hanya karena tidak bisa membujukmu untuk ikut."
Sumi mengubah posisi duduknya menjadi sedikit miring. Sampai tatapan keduanya saling beradu.
Valter tampak tak sabar.
"Apa?"
"Kamu pulang dulu saja. Nanti kalau Ayumi sudah melahirkan, kamu kembalilah. Lihat cucumu, dan setelah itu aku akan ikut pergi." Kata Sumi.
"Itu masih lama!"
"Enam bulan lagi. Tunggu aku sampai datang mengumpulkan uang!"
"Kau ini!"
"Kamu mau mengatakan aku keras kepala? Silahkan saja, tapi aku merasa kamu belum memiliki kewajiban apapun untuk menanggung biayaku pergi kesana." Jelas Sumi.
"Memangnya harus ada kewajiban dulu?"
"Tentu saja, karena aku akan merasa mempunyai hutang Budi jika kamu melakukan itu, … untuk aku yang bukan siapa-siapa bagimu. Aku hanya secuil masa lalu yang masih ada sampai saat ini."
Valter mengangguk-anggukan kepalanya.
"Harus ada kewajiban dulu yah!?" Valter mengulangi kata-katanya.
"Iya setidaknya …"
"Baik. Aku tunda kepulanganku! Masalah pekerjaan aku bisa tangani nanti, besok aku akan menemui Bu Nur, dan meminta agar segera menikahkan aku dengan kamu!"
Setelah mengatakan itu Valter berdiri, dan pergi begitu saja. Sementara Sumi tertegun dengan tindakan yang pria itu lakukan.
"Valter?" Panggil Sumi.
__ADS_1
Pria itu tidak menyahut, dia hanya terus berjalan meninggalkan kediamannya semakin jauh.
"Kenapa dia itu!?" Sumi terkekeh kencang.