My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 123 (Kecurigaan Ayumi)


__ADS_3

"Mbak siapa tadi?" Tanya Ayumi.


"Saya Dini, Non." Wanita itu tersenyum.


Ayumi mengangguk-anggukan kepalanya, menatap ke arah dua wanita yang tengah bungkam, duduk berdampingan di sofa teras belakang rumah.


"Ibu sudah memberi arahan?" Ayumi beralih kepada Tutih.


"Belum, Ibu serahkan kepada kalian. Ibu tidak tahu apa-apa." Balas Tutih.


"Baiklah kalau begitu biar aku jelaskan. Bi Dini cuma harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, seperti bersih-bersih, cuci baju dan perabotan kotor, kalau masak biar Mama dan Ibu yang pegang, … itu pun untuk sementara, tapi jika sudah pulang Bi Dini juga yang masak." Jelas Ayumi.


Wanita yang di maksud hanya mengangguk tanpa menjawab sepatah katapun. Bahkan dia lebih banyak menunduk, sepertinya belum terbiasa hingga Dini masih terlihat sungkan dan malu.


"Kalau begitu Bibi boleh istirahat dulu, kerjanya mulai besok." Kata Ayumi.


"Iya Non."


Dini segera beranjak pergi, masuk ke dalam rumah dan berjalan ke arah salah satu ruangan yang sempat Sumi tempati.


Ayumi diam menatap ayah juga suaminya yang duduk di bangku taman tidak jauh darinya, mereka terlihat berbincang-bincang santai, terlihat dari tawa keduanya yang beberapa kali terdengar. Namun berbeda dengan Sumi dan Tutih, dua wanita berbeda usia itu saling terdiam, membuat Ayumi menatap keduanya bergantian.


"Ada sesuatu?" Tanya Ayumi.


Sumi menggelengkan kepala, sementara Tutih masih bungkam terdiam seribu bahasa.


"Tidak. Ini ada sesuatu, aku tahu! Kalian aneh." Kata Ayumi yakin.


"Tidak ada." Sergah Sumi.


"Ibu ada masalah?" Kini Ayumi beralih kepada Ibu asuhnya, yang memperlihatkan sikap yang begitu berbeda.


"Ibu hanya lelah, Ay. Benar kata Bu Sumi, tidak ada apa-apa di antara kami, … selain kita yang memang belum akrab." Jelasnya, hanya saja gestur tubuh dan ekspresi nya tampak berbanding terbalik dengan apa yang Tutih katakan.


Ayumi menyelami lebih dalam manik kelam Tutih, mencoba mencari sesuatu yang juga terasa mengganjal di dalam hatinya.


"Awalnya aku tidak mau bertanya. Aku pikir ini hanya reaksi sebuah keterkejutan saja, tapi makin kesini sepertinya masalahnya bukan itu! Aku tumbuh besar bersama Ibu, dan yang saat ini aku lihat bukan Ibuku yang sangat mencintai aku."

__ADS_1


Tutih menatap Ayumi sendu.


"Ada apa? Coba katakan, jangan seperti ini karena aku akan sangat kebingungan."


Mereka terdiam untuk beberapa menit. Sumi yang bingung harus bereaksi seperti apa, Tutih dengan segala pikiran yang mengganggunya, juga Ayumi yang terlihat begitu bingung, bahkan calon ibu muda itu terus menatap keduanya silih berganti.


Ali yang menyadari ketegangan di antara para perempuan pun segera menoleh, dia bangkit kemudian mendekat. Begitu juga dengan Randy, dia segera mendekati istrinya yang saat ini sedang menatap tajam ke arah Ibu asuhnya.


"Ada apa ini?" Ali langsung bertanya.


"Bapak tahu Ibu kenapa?" Ayumi balik bertanya. Kepalanya menengadah, menatap Ali yang saat ini berdiri di samping sang istri.


Pria itu tidak menjawab, dia menundukan kepala, menatap Tutih yang saat ini juga tengah menatapnya.


"Aku semakin yakin, jika memang ada sesuatu dari perubahan sikap Ibu yang begitu signifikan."


"Ay?" Randy mengusap pundaknya.


"Sebentar, sepertinya ada kekeliruan yang harus segera diluruskan." Seru Ayumi.


"Kekeliruan apa?" Randy menatap Ali.


"Tidak begitu, Nak!" Sergah Sumi, dia berusaha membantah tudingan Ayumi terhadap ibu asuhnya.


Tentu saja, ini tidak boleh terjadi. Hanya karena kesalahpahaman kecil sampai membuat hubungan mereka memburuk, kali ini Sumi tidak mau di kambing hitamkan dan menjadi sasaran untuk disalahkan oleh siapapun.


Sudah cukup!


"Kami memang belum seakrab itu, jadi jangan salah artikan!" Sumi tersenyum, berusaha meyakinkan putri kandungnya.


Ayumi bungkam, dia kembali menatap Tutih setelah mendengar ucapan Sumi, kemudian bertanya;


"Benarkah, Bu? Apa Ibu tidak bisa seakrab seperti Ibu dengan Bu Maria? Atau Bu Maria dengan Mama Sumi? Jika ada sesuatu yang mengganjal maka katakan saja, jangan dibiarkan berlarut-larut, … lihat hasil dari masalah yang selalu ditutupi. Semuanya benar-benar kacau bahkan menimbulkan masalah baru!"


"Emm, … begini, Nak. Memang sebaiknya ada yang kita bicarakan agar hati Ibumu ini menjadi yakin." Kata Ali.


"Pak?" Tutih bereaksi, dia mulai takut.

__ADS_1


"Tidak Bu. Sepertinya hari ini kita harus benar-benar menyelesaikan kesalah pahaman ini, bahkan kalau bisa panggil Pak Al juga Amar agar semuanya selesai hari ini juga."


Ayumi memejamkan matanya, dia semakin yakin jika ada sesuatu yang masih belum bisa di luruskan. Entah itu tentang kedua ibunya, atau bahkan sampai merambat ke hal lain.


"Ya sudah. Abang tolong telepon Om Al, jika tidak sibuk minta beliau datang kesini … dan Bapak, coba telepon Bang Amar, aku tidak mau masalah terus bermunculan dan membuat aku semakin tidak merasa tenang." Pinta Ayumi dengan suara lirih.


Kini Sumi terdiam, tidak ada lagi yang bisa dia bantah. Karena Ayumi sudah menyadari perbedaan sikap sang Ibu meski dirinya terus berusaha menutupi agar terlihat baik-baik saja.


Tentu saja tidak etis. Jika harus ada masalah antara ibu kandung dan ibu asuh, sangat aneh jika kedua ibu berebut perhatian atau siapa yang paling disayangi, bukankah seharusnya mereka bersatu untuk kebahagiaan Ayumi setelah semua yang sudah Ayumi alami.


***


"Ada apa?" Sisil menatap wajah suaminya, setelah pria itu selesai menutup telepon yang sempat terhubung.


Alvaro meletakan ponselnya di atas meja yang ada di hadapannya, lalu merubah posisi duduk sampai kini mereka berdua saling berhadapan.


"Kita harus ke rumah Randy sekarang juga." Jelas Alvaro kepada istrinya.


Sementara Sisil menatap suaminya penuh tanya.


"Kenapa dadakan? Ada acara lagi?" Wanita itu bertanya.


Namun, Alvaro menggelengkan kepala.


"Sepertinya ada yang harus kita jelaskan."


"Jelaskan apa?" Sisil semakin bingung.


"Kita tidak tahu hubungan Bu Tutih dengan Sumi bagaimana setelah mengetahui jika mereka adalah ibu dari satu putri yang sama. Entah apa yang terjadi sampai Ayumi meminta Randy untuk menghubungi aku, dan meminta datang ke rumahnya." Jelas Alvaro.


Sisil terdiam, menatap iris kelam suaminya lekat-lekat. Dia mendapatkan banyak ketakutan di dalam sana, dan Sisil dapat merasakan itu.


"Sudah aku katakan!" Tukas Sisil. "Ini akan menjadi sangat rumit jika saatnya sudah tiba. Jika dulu kita memberikan Ayumi kepada Ibu nya, maka masalah tidak akan serumit ini! Bu Tutih akan berusaha menerima, … tapi sekarang? Kita membuat dua wanita berusaha menjadi salah satu yang lebih dominan. Entah itu Bu Tutih yang merasa harus mempertahankan Ayumi karena dialah yang mengurus Ayumi sejak dari Bayi, atau Sumi yang berusaha meminta haknya sebagai seorang Ibu kandung yang sudah merasa kita dzolimi karena meminta dia agar menunggu sampai waktu yang tepat." Jelas Sisil panjang lebar.


Wanita itu kembali menarik ingatannya mundur jauh kebelakang. Dimana mereka sempat beradu argumen tentang satu Bayi yang sempat mereka temukan.


Memang tidak salah jika suaminya memberikan Ayumi kecil kepada Bu Tutih. Selain orang yang sudah mengabdi lama di keluarganya, juga keluarga itu menginginkan seorang putri.

__ADS_1


Namun mereka melupakan jika ada satu wanita yang sudah mereka rusak kebahagiaannya hanya karena keegoisan Alvaro, kedekatan Ali dengan keluarganya membuat Alvaro tidak bisa berbuat apapun, termasuk kembali meminta bayi yang sudah mereka berikan.


__ADS_2