
Randy segera berlari cepat ke arah pintu masuk yang terbuka cukup lebar, ketika mendengar suara tangisan dua perempuan yang saling bersahutan.
Dan benar saja, ibu dan anak itu tengah saling memeluk, menangis tersedu-sedu sampai tak menyadari kedatangan Randy.
"Ada apa?" Raut wajahnya terlihat sangat panik.
Dia segera mendekat, kemudian duduk tepat di samping Ayumi. Perempuan yang seketika melepaskan pelukannya kepada sang ibu, dan beralih memeluk suaminya.
"Terjadi sesuatu? Dia menyakiti kalian?" Randy menatap ibu mertuanya.
Sumi menyeka air matanya dengan punggung tangan. Berusaha menenangkan diri dan menghentikan tangisannya.
Wanita itu menggelengkan kepala.
"Lalu kenapa kalian sampai menangis seperti ini? Hari sudah malam, suara kalian bisa saja menakut-nakuti orang-orang." Ujar Randy.
"Kami membaca itu!" Ayumi menunjuk selembar kertas dengan tulisan tangan yang berada di atas meja.
Randy mengurai dekapan Ayumi, meraih benda itu kemudian mendekatkannya untuk dia baca.
Untuk adikku; Sumi Larasati.
Hay apa kabar? Ah pertanyaan yang monoton bukan? Tapi ketahuilah jika Kakakmu ini sekarang sedang bingung sekaligus malu. Jadi tidak apa-apa jika aku berbasa basi bukan? Aku harap kabar kamu baik, selalu baik.
Kamu tahu? Kakak menulis surat ini dengan tangan yang bergetar. Kankernya semakin menyebar, dan sudah tidak ada lagi harapan Kakak untuk sembuh. Beberapa bulan yang lalu Kakak meminta Valter untuk datang ke Indonesia, meminta dia mencarimu agar Valter dapat membawa kamu kesini.
Namun sayang, dia memberi kabar jika kamu sudah pergi dan tidak ada di desa. Dia bahkan menemukan rumah Ibu dan Ayah sudah rusak, hanya satu orang yang dapat dia temui sampai akhirnya mengantar Valter untuk menyimpan beberapa sutra di rumah itu.
Mungkin ini sudah sangat terlambat. Tapi Kakak mohon maaf untuk segala hal yang Kakak lakukan. Sungguh Kakak di butakan oleh cinta, sampai dengan teganya memisahkan kamu dengan Bayi mungil tanpa dosa. Selain merasa cemburu, aku juga merasa malu. Beberapa tetangga menggunjing, aku yang menikah tapi kamu yang melahirkan, dan kemarahan itu semakin memuncak, saat Bayi itu benar-benar mirip dengan suamiku waktu itu.
Tapi kamu jangan khawatir. Tuhan benar-benar sudah menghukumku. Dia tidak mengizinkan aku untuk memiliki anak, dan setelah itu aku divonis kanker serviks yang sudah cukup parah. Sekali lagi maafkan aku, aku memohon ketulusan hatimu sekarang, agar aku bisa pulang dengan tenang. Begitu juga untuk ayah dan ibu, mereka tidak bersalah, mereka korban ke egois aku, … Sumi. Jadi jangan membenci mereka.
Kakak doakan kamu segera menemukan putrimu. Mendapatkan kehidupan yang lebih bahagia dari sebelumnya.
Satu kebenaran yang harus kamu tahu. Aku dan Valter sudah sangat lama bercerai, tapi dengan baik hatinya dia membantu aku menjalani pengobatan, membantu aku dalam segala hal. Kamu tahu apa yang dia katakan saat aku bertanya? Valter berkata jika dia melakukannya karena aku adalah kakakmu, wanita yang sangat dia cintai.
Disini aku belajar, memaksakan sesuatu juga tidak baik. Tidak semua apa yang kita mau pasti berjalan sebagaimana mestinya. Dulu aku berusaha membuat kalian menjauh, mencoba berbagai cara agar Valter mencintai aku.
Namun, nyatanya tidak bisa. Dia tetap mencintaimu, bahkan setelah apa yang aku lakukan, dia hanya melakukan sesuatu karena takut akan setiap ancaman yang aku berikan. Aku selalu menodongkan pisau kepada diriku sendiri agar mereka tidak pergi.
Ayah, Ibu, Valter. Melakukan semua itu karena takut aku mati. Bahkan Valter tetap bertahan agar tidak terjadi pertumpahan darah. Aku memang gila, aku bodoh, aku penjahat, tapi maukah kamu memaafkan aku? Aku sedang memohon sekarang, tapi aku tahu ini tidak mudah.
Ah tanganku semakin lemas rasanya :)
Ada banyak yang ingin aku tulis, bahkan aku ingin banyak menulis kata maaf, meminta ampunanmu. Tapi aku sudah tidak sanggup.
Jika surat ini sudah kamu baca, maka itu artinya aku sudah menyerah dengan penyakit yang terus menggerogoti aku selama sepuluh tahun lamanya. Aku mencoba terus bertahan, namun akhirnya sekarang aku harus menyerah.
Aku mencintaimu Sumi Larasati. Kau adiku, maaf jika aku sudah tenggelam di dalam rasa cemburu. Maaf karena aku hidupmu hancur, maaf karena aku sudah serakah, maaf maaf maaf. Maafkan aku!
Jika tidak keberatan aku meminta sedikit doa darimu. Mintalah kepada Tuhan, agar dia tidak menghukumku lagi.
Kakakmu; Susilawati.
Randy meletakan kertas itu, kemudian menatap wajah Sumi dengan seksama. Wanita yang hampir berusaha 40 tahun itu diam, sesekali mengusap sudut matanya yang terus mengeluarkan air.
Marah sudah pasti, kecewa apalagi. Namun Susi tetaplah keluarganya, orang yang pernah sangat dekat, bahkan menjadi sosok pendukung saat segalanya terasa sangat sulit. Dan kali ini Sumi benar-benar menyesal, karena amarahnya yang tak kunjung hilang, dia tak dapat melihat Susi untuk yang terakhir kalinya.
__ADS_1
"Mah?" Ayumi kembali kepada ibunya.
"Mama menyesal, Ay. Kenapa Mama tidak bisa memaafkan mereka lebih awal, kenapa rasanya sangat sulit mengikhlaskan semuanya, … meski kita sudah bertemu dan berkumpul sekarang." Wanita itu berbicara dengan suara yang sangat lirih.
"Kita doakan saja. Semoga Tante Susi tenang di sana, setidaknya Tante Susi tidak harus merasakan penderitaan lagi, … bayangkan saja, sepuluh tahun berjuang melawan kanker itu tidak mudah, jadi mungkin Tante Susi sudah bahagia dan tidak merasakan sakit lagi."
Sumi menatap putrinya.
"Kamu tidak benci? Kenapa kamu sebaik ini? Kenapa hatimu sangat lapang?"
Ayumi menggelengkan kepalanya.
"Karena aku anak Mama. Wanita yang sangat luar biasa, menghadapi badai kehidupan sendiri dan tidak pernah merasa takut."
"Oh putriku sayang."
Sumi kembali memeluk Ayumi, bahkan kali ini lebih erat lagi, tak jarang juga Sumi memberikan ciuman di pipi Ayumi.
"Jangan terus bersedih. Ada aku, ada Abang. Kita bisa sama-sama sekarang, … jadi jangan merasa sendiri." Kata Ayumi, kemudian dia menoleh ke arah suaminya yang terus terdiam. "Iya kan sayang? Kita ada untuk Mama."
Randy mengulum senyum, dia mengangguk.
"Lalu apa yang mereka bicarakan tadi? Maksudku, … ayahnya Ayumi bicara apa? Apa dia tahu Ayumi sudah bertemu dengan Mama sekarang?" Tanya Randy.
Sumi diam, dengan kepala yang mulai menunduk perlahan.
"Mama masih belum mau mempertemukan Ayumi Kepada ayahnya? Aku bukan sedang membela siapapun, tapi apakah tidak akan menjadi penyesalan lagi jika suatu saat nanti dia tidak dapat bertemu dengan anak kandungnya?"
"Tadi Ayumi mengalami serangan panik. Mama minta dia diam di dalam kamar."
Randy beralih menatap istrinya.
Pria itu menatap istrinya lekat-lekat, mencoba untuk meyakinkan Ayumi. Karena Randy berpikir jika saat ini dirinyalah satu-satunya harapan untuk segera mengurai benang kusut ini, agar masalah tidak semakin berlarut-larut, dan tidak lagi ada dendam di antara Sumi juga pria yang dia cintai dulu.
Ayumi tidak menjawab. Dia beralih menatap ibunya seolah sedang meminta izin.
"Kamu mau bertemu dengan Valter?" Tanya Sumi sembari menahan tangis.
Akhirnya setelah sekian lama, dia dapat memperlihatkan anaknya yang begitu cantik. Sumi hanya ingin membuktikan jika kekuatan cintanya mampu membawa Ayumi kembali dengan sendirinya.
"Kalau Mama tidak mengizinkan, aku tidak akan menemui dia. Mama sudah cukup, tidak perlu orang lain." Kata Ayumi.
"Jika kamu ingin. Maka tidak ada lagi alasan Mama untuk menahan kamu. Maka kita temui dia, pria yang mengalirkan darahnya di dalam tubuhmu."
Mendengar itu Randy tersenyum. Tangannya bergerak, lalu menyentuh perut Ayumi.
"Aku harap setelah ini semuanya membaik. Setiap hubungan yang merenggang kembali seperti semula. Kamu tahu? Setiap anak pasti membutuhkan ayah." Kata Randy, matanya berkaca-kaca. "Mungkin aku berkesan seperti sedang mendukungmu untuk menemui dia, … satu hal yang harus kamu tahu, aku bahagia karena mampu membawa seseorang yang sangat aku cintai menemui ayahnya."
Mata Ayumi bergerak-gerak. Menatap lekat-lekat wajah suaminya, dan tentu saja dia merasakan hal yang sama.
"Kamu juga ingin?" Tanya Ayumi.
Randy tersenyum.
"Tidak perlu, aku tidak mau tahu siapa ayahku. Tapi aku berjanji akan menjadi ayah yang baik untuk anak kita, aku tidak akan mengecewakan dia nantinya, … ini janjiku untuk kalian."
Senyum Ayumi merekah, dia pun kembali menghambur ke dalam pelukan Randy.
__ADS_1
"You must be a really great Daddy." Ucap Ayumi.
"Kamu menggombal terus akhir-akhir ini." Dia terkekeh saat mendengar penuturan istrinya.
"Mau bertemu dengan Valter sekarang? Dia masih ada disini, dan waktunya masih sangat lama. Kalian bisa menghabiskan waktu bersama nantinya."
Sumi segera bangkit, dia memungut satu lembar kertas tadi, memasukannya kembali ke dalam amplop, dan memeluknya begitu erat.
"Satu-satunya kenangan terakhir dari keluarga Mama. Dan Mama akan menyimpannya, jika suatu saat nanti rindu Mama akan membacanya kembali." Jelas Sumi.
Wanita itu berjalan ke arah kamar.
"Bersiaplah, kita temui ayahmu hari ini, Ayumi. Temui dia, dan lakukan apapun yang kamu mau. Menampar, menendang atau apapun itu, luapkan semua rasa kecewamu."
Setelah itu Sumi masuk, membiarkan Ayumi dan Randy duduk disana.
Keduanya saling memandang.
"Baru saja aku menemukan identitas ayahmu. Dia sudah lebih dulu datang kesini ternyata." Randy tertawa kecil.
"Benarkah?" Raut wajah Ayumi berbinar.
Dia terlihat begitu antusias.
"Hemmm, … dan yang paling membuat aku terkejut adalah …"
Randy menggantung kata-katanya, lalu dia tersenyum lagi dan lagi.
"Apa?" Ayumi mengguncang lengan suaminya.
"Dia, … sangat mirip denganmu. Aku sempat kaget, karena melihat istriku versi lain, laki-laki dengan usia matang."
"Benarkah? Dia tampan?"
Randy mengangguk lagi.
"Berarti aku cantik?"
"Ya, bahkan setelah menangis seperti ini. Hidung merah, wajah sembab, tapi kenapa kau terlihat sangat cantik, huh? Aku semakin bangga sekarang, menikahi wanita berdarah Indonesia Jerman."
"Aku juga sempat berpikir, … kamu adalah blasteran. Apa kamu tidak menyadari itu?"
"Aku memang tampan bukan?" Randy dengan percaya dirinya.
Ayumi mengendikan kedua bahunya, menahan senyum saat mendengar ucapan sang suami yang begitu percaya diri. Rasa sedihnya seolah menghilang begitu saja. Keberadaan Randy membuat senyum Ayumi kembali, setelah menangis cukup lama.
"Kita berangkat sekarang?"
Sumi kembali keluar dari dalam kamarnya.
"Iya. Mama bawa baju gantilah, kita menginap juga disana, nanti aku kasih kabar kepada yang lain." Kata Randy.
"Ah, Mama hanya mengantar Ayumi menemui ayahnya."
"Kali ini aku tidak mau dibantah. Maaf bukannya lancang, tapi biasakan menerima sedikit pemberian dariku? Aku ini membuat para orang tua bahagia, dengan cara berkumpul bersama." Tegas Randy.
"Baiklah baiklah, ternyata Ayumi meniru setiap ucapanmu. Jika Mama menolak dia pasti berbicara seperti itu."
__ADS_1
Randy hanya tersenyum. Sementara Sumi kembali memasuki kamarnya untuk membawa baju ganti yang Randy minta.