My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 109 (Hukuman)


__ADS_3

Ayumi terdiam. Menatap pergelangan tangannya yang di genggam sangat erat, seolah takut jika dirinya akan pergi lagi. Sementara pria itu sibuk mencari nomor kamar yang akan mereka tempati malam hari ini.


"Ini dia!" Tukas Randy sembari mendekati satu pintu dan menempelkan access card nya.


"Aku mau tidur di rumah Mama saja lah, udah nggak mood!" Ujar Ayumi dengan nada sedikit ketus.


Randy mendorong pintunya yang sudah terbuka menggunakan lengan kekarnya, lalu menarik Ayumi tanpa mengatakan sepatah kata pun, meski sudah dipastikan Randy mendengar ucapan istrinya dengan sangat jelas.


Dia menempatkan access card tepat di dekat stopkontak, membuat kamar yang tadinya gelap gulita pun menyala.


Ayumi berdiri memperhatikannya, dengan raut wajah masam.


"Apa? Kamu yang memulai, kamu juga yang merasa kesal sendiri." Randy menyindir.


Pria itu berjalan melewati Ayumi, lalu menarik Hoodie yang dia kenakan, dan melemparkannya begitu saja ke atas sofa.


"Kok kamu gitu! Nggak mau bujuk aku atau gimana gitu." Ayumi merengek.


Randy hanya mengendikan kedua bahunya, kemudian menaiki tempat tidur, menyandarkan punggung pada beberapa bantal di belakang tubuhnya.


"Ish!" Perempuan itu tampak semakin kesal, berjalan mendekati kaca, kemudian menyingkap gorden dengan sekali tarikan.


Dan betapa terkejutnya Ayumi saat kamar yang dia tempati mempunyai view yang langsung menuju ke arah bibir pantai, hingga dia bisa melihat dengan sangat jelas bibir pantai yang begitu terang saat lampu-lampu kecil berwarna kuning menghiasi hampir seluruh are sana.


Ayumi memutar kunci, membuka pintu kaca itu dan segera keluar.


Seketika angin menerpa dirinya, menyapu seluruh kulit tubuh. Keningnya berkerut, matanya memicing, seraya merapatkan lengan untuk memeluk tubuhnya sendiri saat hawa dingin mulai terasa.


Pandangannya tertuju ke arah pantai, dimana masih banyak orang yang duduk dan menikmati suasana malam dengan berbagai hidangan.


Beberapa anak terlihat berlarian, bersahutan dengan suara alunan musik pelan, membuat suasana begitu syahdu, apalagi saat Ayumi melihat beberapa pasangan yang terlihat menghabiskan waktu bersama.


Amarah, juga rasa kesalnya tiba-tiba sirna. Berubah menjadi rasa lain yang membuat jantungnya berpacu dengan bibir yang tersenyum simpul.


"Apa masih kesal?" Tanya Randy dengan suara pelan.


Tiba-tiba saja tangan kekar milik suaminya melilit pinggang, dengan dagu yang bertumpu pada bahunya.


"Hemm, … ya!" Ayumi mengangguk.


Cup!

__ADS_1


Randy mencium tengkuknya, membuat Ayumi memejamkan mata, dengan desiran-desiran yang mulai terasa menyebar hampir ke seluruh tubuh.


"Aku merindukanmu, … kau tahu? Malam kemarin terasa begitu berat, tidak ada yang memelukku seperti biasanya." Randy berbisik tepat di telinga Ayumi, lalu memberi sebuah gigit kecil, membuat Ayumi mendesah pelan dengan jemari lentik tertancap di kulit lengannya.


Randy tersenyum miring.


"Ayo kita masuk, disini anginnya sangat kencang!"


Randy menarik tangan Ayumi sampai tubuhnya berputar. Untuk beberapa saat saling menatap, berbalas senyum dengan perasaan yang sudah tidak bisa dibendung lagi.


Dia meraih paha Ayumi, dan mengangkatnya untuk dia bawa kembali dalam kamar.


"Jangan dilempar, bahaya!" Pinta Ayumi, yang tiba-tiba saja merasa takut akan terjadi sesuatu. Bukan kepada dirinya, melainkan pada sosok lain yang belum Ayumi mengerti.


Randy pun menuruti apa yang Ayumi katakan, dia naik ke atas tempat tidur, dan menjatuhkan Ayumi dengan sangat hati-hati, sampai perempuan itu melepaskan lilitan tangannya.


Setelah itu Randy kembali untuk menutup pintu juga gorden yang sedikit terbuka.


Pria itu menarik lepas kaos ketat yang masih melekat di tubuhnya, melempar ke arah sofa yang sama, kemudian naik dan mengungkung Ayumi yang sudah terlihat begitu pasrah.


Ayumi menatap wajah suaminya, beralih pada otot perut, dan bermain-main disana. Sementara Randy memperhatikan dalam diam, sampai pandangannya kembali beradu ketika Ayumi mengangkat kembali pandangannya.


Netra indahnya mengkilat, menatap pria di atasnya dengan penuh kekaguman.


Ayumi mengangguk, matanya bergerak-gerak menatap wajah pria di atasnya.


Randy mulai membungkuk, membuat wajah keduanya semakin mendekat, sampai bibir mereka pun beradu dengan mata yang sudah saling terpejam.


Sikutnya mulai bertumpu, menahan bobot tubuh, dan satu tangannya lagi mulai menyingkap daster yang Ayumi kemakan malam ini.


Lenguhan kecil mulai terdengar, yang seketika membuat Randy semakin bersemangat untuk segera melakukan hal yang sangat dia sukai setelah mereka menikah hampir sebulan lamanya.


Mereka melepaskan pagutan bibirnya. Randy bangkit, berusaha melepaskan Jaket miliknya yang Ayumi kenakan. Kemudian beralih pada pakaian, dan terakhir menanggal sepasang kain berenda yang selalu Ayumi kenakan sampai istrinya benar-benar tak terhalang apapun.


Randy kembali membungkuk, melanjutkan cumbuan yang sempat tertunda, dan kini semuanya terasa semakin panas. Apalagi saat tangan Ayumi meremat rambutnya, menekan tengkuk, dengan satu tangan yang terus bergerak-gerak menyentuh otot perutnya, membuat Randy benar-benar tidak bisa bersabar lagi.


Dia segera melakukan hal yang sama, melepaskan sisa pakaian sampai kini keduanya sama-sama polos tanpa apapun, di dalam sebuah kamar dengan keadaan yang begitu terang.


Ayumi sudah terlihat begitu pasrah, menatap dirinya dengan ekspresi wajah yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata.


Randy merangkak, dan dengan tidak sabarnya dia bermain-main dengan dua bulatan kembar yang saat ini terlihat lebih menggoda, lebih padat dengan ukuran yang sepertinya juga ikut berubah.

__ADS_1


Perempuan itu menggeram, tubuhnya bergerak-gerak saat sentuhan yang suaminya berikan semakin menggila.


"Abang jangan!" Ayumi menjerit kencang saat Randy menggigit puncak gunung kembarnya cukup kencang.


Pria itu berhenti, dia mempersiapkan diri. Menyentuh kedua kaki Ayumi, dan mulai menekuknya perlahan.


Namun, Ayumi segera mengulurkan tangan, menahan perut Randy saat dia hendak melancarkan aksinya.


"Kenapa?"


"Bisa pelan-pelan?" Pinta Ayumi, saat beberapa ingatan berputar di dalam kepala.


Randy mendengus kencang, dia segera menekan pangkal paha Ayumi, dan menerjang tanpa aba-aba, hingga membuat perempuan itu membuka mulutnya.


"Hhhhheuhh!"


Randy menunduk, meraih bibir Ayumi dan mengecupnya beberapa kali.


"Ini hukuman. Karena satu malam kamu tidak tidur bersamaku!" Dia berbisik pelan, kemudian menyeringai.


Randy mulai menarik, kemudian mendorong perlahan-lahan. Membuat Ayumi mencengkram bahu suaminya dengan sangat kuat.


Terkadang matanya terbuka, lalu terpejam. Keningnya menjengit kencang, juga mulut yang terus terbuka, membuat Randy semakin gemas dengan ekspresi wajah istrinya.


Suara-suara erotis dari kegiatan panas keduanya saling bersahutan. Memenuhi kamar itu pada malam hari ini, setelah keduanya menahan rindu karena satu malam tidak bersama.


Geraman Randy terus terdengar, saat miliknya terasa begitu di cengkram, membuat sesuatu di dalam dirinya hampir saja meledak. Apalagi saat Ayumi terus merancau, memanggil-manggil dan meneriaki namanya, membuat Randy benar-benar tidak bisa bertahan lagi.


Dia berpacu semakin kencang, berusaha mengimbangi Ayumi yang juga sudah sampai pada ujung kenikmatan.


Tentu saja dia mengetahui dari setiap respon yang perempuan itu perlihatkan. Dan sesuatu di sana berkedut luar biasa, menandakan pelepasan sudah hampir Ayumi gapai.


Dan keduanya mengeram kencang, melepaskan sesuatu yang terus mendesak hingga benar-benar pecah.


Nafas Randy terengah-engah. Dadanya naik turun dengan sangat kencang, juga keringat yang bercucuran begitu deras.


"Sakit!" Ayumi meringis.


"Apa?"


Randy mengusap kening Ayumi yang berkeringat.

__ADS_1


"Perut aku sakit." Dia mengusap perut bagian bawahnya.


Randy terdiam, menatapnya bergantian dengan ekspresi bingung, sekaligus menormalkan dirinya setelah berpacu dan melepaskan sesuatu yang begitu indah.


__ADS_2