My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Raline soul's art and design & kisah dua sejoli


__ADS_3

"Usianya sudah memasuki Minggu ke enam belas yah. Janin sehat, semuanya juga normal," tutur Dokter sambil terus menggerak-gerakkan sebuah alat di atas permukaan kulit perut Ayumi.


Sementara pandangan Ayumi dan juga Randy terus tertuju pada layar monitor. Menatap janin mereka, dimana kepala dan semuanya sudah terbentuk dengan baik dan sempurna.


"Apa jenis kelaminnya sudah bisa di lihat, Dok?" Tanya Randy dengan antusias.


Dokter cantik itu mengalihkan pandangan dari monitor, menatap Randy juga Ayumi bergantian dengan senyuman yang tampak terlihat menghiasi kedua sudut bibir.


"Sebenarnya bisa, tapi terkadang sulit juga. Dari pada merasa kesal terkadang kita tidak terus mendapat itu, bagaimana kalau menggu sampai tujuh Minggu lagi?"


Randy menatap Ayumi. Dan perempuan itu memberinya senyuman, menautkan tangan sampai saling menggenggam erat.


"Tapi kayaknya yang sekarang aku mau kejutan aja," kata Ayumi.


"Kejutan? Bukannya waktu Raizel juga kejutan?"


"Bukan, maksud aku. Biarkan kita mengetahui siapa dia, setelah ia lahir nanti. Gimana? Kayaknya lebih seru!" Ayumi dengan wajah berbinar.


Randy tampak berpikir untuk beberapa saat.


"Itu akan lebih mendebarkan, Dad!"


"Jadi tidak mau ada Gender reveal?" Pria itu terlihat ingin meyakinkan.


Dan ya, tampaknya Ayumi sangatlah yakin. Sehingga perempuan itu segera mengangguk dengan raut penuh keyakinan.


"Baiklah Dokter, sepertinya anda harus merahasiakan jenis kelaminnya sampai dia lahir nanti."


Dokter tersenyum, lalu mengangguk pelan.


"Boleh dibantu, sus?" Pinta Dokter pada seorang asisten yang berjaga.


Perempuan yang terlihat lebih muda itu pun mendekat, membawa beberapa helai tisu, lalu membersihkan sisa gel di atas permukaan perut Ayumi.


Randy membantunya untuk bangkit, menuntun turun dari atas tempat tidur dengan hati-hati, tentunya setelah memastikan jika keadaan pakaian Ayumi sudah benar-benar baik.


"Saya kasih vitamin saja kalau begitu. Karena sejauh ini anda tidak mengalami mual-mual yang berlebihan, atau sesuatu yang membuat anda menjadi merasa lemas, sehingga tidak perlu obat-obatan yang lain. Susu ibu hamilnya jangan lupa diminum, boleh rasa apa saja yang penting mengandung asam folat yang bagus," kata Dokter sambil mencatat.


Lalu setelah itu memberikan secarik kertas tersebut kepada Randy.


"Ini resepnya, boleh ditebus di apotek mana saja. Dan ini hasil USG tadi."


Pandangan Randy tertuju pada sebuah amplop berwarna putih berukuran sedang, kemudian mengambil keduanya secara bersamaan.


"Terimakasih, Dokter." Kata Randy.


"Sama-sama, Pak Randy. Semoga Nyonya Ayumi sehat-sehat sampai lahiran nanti yah."


Ayumi mengangguk.


"Bertemu lagi bulan depan, sekarang anda boleh mengelilingi taman kota. Itu pun kalau mau!" Dokter perempuan itu kembali melayangkan gurauan.


Ayumi tertawa pelan, sementara Randy tampak menahan senyum.


"Kalau begitu kami pamit pulang, terima kasih untuk pemeriksaan hari ini, Dok!" Pamit Randy.


"Baik, terima kasih kembali."


***


"Bagaimana? Apa tim di resort membuat kamu pusing? Atau justru lebih semangat lagi bekerja?" Balqis bertanya, menatap pria di hadapannya dengan senyuman penuh arti.


Sebuah ruangan dengan desain yang terlihat sangat elegan, menggambar jati diri dari sang pemilik perusahaan yang sudah beralih nama menjadi Raline Soul's Art And Design.


Halah, padahal mah author lupa nama perusahaan Om David dulu. 🤣


Tidak ada sentuhan feminin, atau kesan menggemaskan, bahkan hampir di setiap sudut ruangan yang terletak di lantai tertinggi gedung tersebut.


"Sebenarnya saya masih berusaha membiasakan diri. Satu bulan ini cukup membuat saya terkejut, Bu. Tapi masih bisa saya tangani dengan baik, entah itu memantau para karyawan, atau menyelesaikan tugas lainnya," tutur Amar kepada istri atasan dari iparnya.


Balqis mengangguk, lalu tersenyum.


"Tapi Randy membantumu kan?"


Amar hanya mengangguk.

__ADS_1


"Bagus, dan saya tidak akan membiarkan dia pergi sebelum kamu menguasai bidang yang kamu kerjakan sekarang."


Amar mengangguk lagi. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba saja dirinya merasa gugup saat berhadapan dengan Balqis, apalagi saat melihat sorot matanya yang terlihat tajam. Wanita itu terlihat sangat berwibawa, sehingga membuat siapapun yang ada di dekatnya, tidak akan pernah berani berlama-lama melakukan kontak mata.


"Jika menurut Ibu kinerja saya kurang bagus, tolong katakan agar saya mampu memperbaikinya."


"Baik, saya tidak akan pernah sungkan menegurmu, Amar."


Balqis menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, lalu menaikan salah satu kakinya, seraya terus menatap Amar dengan seksama.


"Ada yang mau kamu katakan? Mungkin tentang gaji atau hal lain?"


Amar menatap Balqis sekilas.


"Tidak ada, apa yang anda tawarkan saja sudah lebih dari cukup, Bu. Sepertinya pertanyaan itu juga terbalik, bukankah seharusnya saya yang bertanya kepada ibu, apa saja yang ingin Bu Balqis perintahkan kepada saya, agar semuanya bisa berjalan seperti yang anda inginkan."


Balqis tersenyum.


"Saya hanya ingin kamu jujur."


Amar diam.


"Apa saya bisa percaya kepadamu? Untuk mengendalikan semuanya? Dan bisakah kamu membuat saya yakin, jika latar belakang seseorang tidak akan berpengaruh sedikitpun?"


Tanya Balqis, dengan ingatan yang berputar kebelakang. Dimana kabar cukup mengejutkan terdengar oleh dirinya, tentang seorang kakak laki-laki yang tidak pernah bisa bersikap baik terhadap adik perempuan yang sudah hidup bersama dalam waktu yang tidak sebentar.


"Saya tidak akan pernah merasa ragu untuk mempercayai seseorang, tapi jika saya sudah dibuat kecewa. Jangankan kesempatan kedua, kesempatan pertama saja saya tidak akan pernah memberikannya."


"Maka jika saya melakukan itu, jangan pernah ragu untuk memecat saya."


Dengan penuh keyakinan Amar mengatakan itu, sehingga membuat Balqis tertawa pelan.


"Ya sudah, kalau begitu kau sudah benar-benar resmi saya angkat sebagai manajer. Saya percayakan semuanya kepada kamu, oke? Untuk surat kontraknya nanti menyusul, sekarang Nior sedang banyak menerima pesanan pembuatan desain."


"Baik," Amar mengangguk-anggukan kepalanya.


Balqis mengubah posisi duduknya, sambil mengarahkan pandangan ke arah pintu ruangan yang terbuka lebar.


"Mau minum apa? Kopi? Atau teh?"


"Oh, … tidak perlu Bu!"


"Sungguh, Bu. Tidak usah!"


Balqis menatap Amar.


"Ini sudah masuk jam makan istirahat, jadi santai saja!"


"Kalau tidak ada lagi yang mau dibahas, mungkin saya akan meminta izin pamit undur diri."


"Yakin?"


Amar tersenyum.


"Ya sudah, silahkan."


Balqis mempersilahkan. Wanita itu bahkan ikut bangkit, dan mengantarkan Amar sampai pria itu benar-benar keluar dari dalam ruangan miliknya.


"Sudah selesai?" Junior bertanya kepada pria yang dia kenal sebagai kakak dari teman kecilnya.


"Sudah, kalau begitu duluan ya Bro?" Pamit Amar, yang langsung mendapatkan anggukan dari Junior.


Amar berjalan mendekati pintu lift, lalu masuk setelah benda itu berbunyi nyaring, dan pintu besinya benar-benar terbuka lebar.


Setelah beberapa detik berada di dalam kotak sana, Amar pun keluar. Kakinya melangkah perlahan, memindai area yang benar-benar sepi karena jam makan siang sudah tiba.


Lalu pandangannya terpaku pada seorang gadis yang tampak akan segera menaiki tangga, dengan perkakas kebersihan tersimpan di dalam sabuk yang melingkar di pinggangnya.


Dan Amar tahu betul siapa perempuan itu, meskipun hanya melihat dari arah belakang.


"Hey? Sedang apa kamu?" Tanya Amar.


Ekspresi wajahnya terlihat berbinar, kala merasakan debaran di dalam dada yang sangat luar biasa.


Orang yang di maksud terlihat cukup terkejut, sehingga membuat tangga yang dia naiki nya sedikit bergerak, saat hampir saja Una tidak dapat menyeimbangkan diri.

__ADS_1


"Abang!?" Katanya pelan sambil mengusap-usap dada, karena masih merasa terkejut.


"Sedang apa?" Pandangan Amar menengadah, menatap sang kekasih yang sedang menyemprotkan cairan pembersih pada langit-langit ruangan itu.


Una tidak langsung menjawab, dia hanya mengerjakan tugasnya yang sudah hampir selesai.


"Abang lagi apa disini? Masa sengaja buat nemuin aku? Mana pake kemeja sama jas lagi, rapih bener!" Una malah balik bertanya.


Tanpa merasa takut Una berdiri di pijakan paling atas, membersihkan sedikit sarang laba-laba yang berada di sana.


"Turunlah, kita makan siang bersama."


Una menundukan pandangan.


"Nggak mau, nanti semua orang bertanya-tanya!" Tolak Una.


"Hanya makan siang, kenapa mereka harus bertanya-tanya."


"Ya takut aja, nanti Pak Nior lihat. Terus di aduin sama Ayumi, … kan malu!"


Amar terdiam, dengan pandangan yang tak hentinya tertuju pada kekasihnya.


"Jadi benar-benar belum ada yang tahu yah?" Amar kecewa.


Una menghela nafasnya cukup kencang, menyimpan kanebo, juga cairan pembersih pada tempat yang menempel di sabuknya, lalu turun dengan sangat hati-hati.


"Ada," ujar Una seraya menatap mata Amar.


"Oh ya?"


Una mengangguk.


"Bu Balqis?"


"Bukan, … tapi Aira."


Una membenahi tangga lipat itu, lalu membawanya ke arah lain. Sementara Amar berjalan mengikuti dari belakang.


"Dengan Aira kamu berani berbicara, kenapa dengan Ayumi tidak?"


Una tidak langsung menjawab.


"Sudah dua bulan? Apa bisa kita segera menemui orang tua kita?"


"Aku nggak bilang, Aira sendiri yang curiga. Dan tidak ada alasan lagi untuk mengelak, dia sudah beberapa kali melihat kita kencan di luar," jelas Una, kemudian dia berjalan mendekati Amar.


Amar menatap kekasihnya dengan perasaan tidak menentu. Gadis itu selalu terlihat cantik, meskipun dalam keadaan berkeringat karena harus melakukan pekerjaan yang tidak mudah.


"Abang lagi apa disini?"


"Nanti aku ceritakan, … cukup memakan waktu kalau harus memberitahukan ini sekarang."


Una mengangguk.


"Bisa kita bertemu nanti malam?"


Una mengangguk lagi, dan kali ini menyertakan senyuman tipis di bibirnya.


"Bisa."


"Ya sudah, ayo kita makan siang saja."


Amar hampir menggenggam tangan Una, jika saja perempuan itu tidak mundur untuk menghindar.


"Jangan melakukan itu disini, nanti akan banyak gosip. Aku udah capek sama berita murah yang selalu tersebar."


"Tapi kita harus makan bersama."


"Tidak bisa, terlalu menonjol."


"Bukan disini!"


Amar mendekat, dan meraih tangan Una dengan segera, menariknya ke arah luar sampai gadis itu tidak dapat menghindar. Beruntung, keadaan yang cukup sepi tentunya tidak akan menimbulkan banyak pertanyaan dari orang-orang sekitarnya.


......................

__ADS_1


Masih ada beberapa bab lagi sampai benar-benar selesai. Udah itu lanjut tamatin yang lain 😘


Cuyung kalian pokonya 💙💜


__ADS_2