
Beberapa hari kemudian.
Brakk!!
Pintu rumah itu membentur dinding dengan sangat kencang, sampai menimbulkan suara yang sangat nyaring.
Tutih yang sedang sedikit merapihkan rumahnya cukup tersentak, sampai dia berlari kearah ruangan depan.
"Amar!" Ujar Tutih dengan raut wajah sendu.
"Uang." Katanya.
Dia berjalan mendekat, dengan satu tangan terulur.
"Uang apa?"
"Uang untuk ku! pasti anak pungut itu sudah mengirimkan kalian uang." Amar menatap mata Tutih tajam.
Kilatan amarah jelas terlihat. Dan itu selalu Tutih lihat setiap anak sulungnya datang kerumah. Tidak pernah ada raut wajah sumringah atau tutur kata lembut.
Dan wanita paruh baya itu merindukan sosok Amar yang dulu. Laki-laki kedua yang sangat menyayanginya selain Ali sang suami.
"Ayumi tidak lagi memberikan kita uang, dia sedang fokus menabung untuk uang kuliahnya." Suara Tutih terdengar bergetar.
Amar diam, tapi tatapan matanya penuh selidik, mencari kebohongan yang mungkin bisa saja ibunya lakukan.
"Kalian berbohong!" Cicit Amar dengan suara rendah.
Jelas dia tidak akan percaya.
"Kami tidak bohong. Bahkan Ayumi sudah jarang pulang, kau tahu sendiri sekarang dia sibuk dengan pekerjaannya."
Mendengar itu, seketika Amar tersenyum. Seringai yang terlihat begitu menyeramkan.
"Ada apa dengan kamu ini? kembalilah seperti dulu, kembalilah menjadi anak Ibu dan Bapak. Bukan seperti ini, kamu hidup terlunta-lunta, menjadi seorang pemabuk, apa sebenarnya yang kamu inginkan? apa kamu mau kami mati? baru kamu akan merasa puas, Amar?!"
Suara Tutih terdengar bergetar. Wanita itu menahan tangis juga amarah yang juga sudah hampir meledak.
"Aku bukan mau kalian yang mati! tapi anak itu." Bentak Amara dengan suara tinggi.
Sementara Tutih memejamkan mata, menghirup udara sebanyak mungkin, lalu menghembuskannya perlahan.
"Sebenarnya apa yang membuat mu sangat membenci Ayumi?" Tutih menatap anak laki-lakinya dengan air mata yang mulai berjatuhan membasahi pipi.
Amar bungkam.
"Katakan kepala Ibu! apa yang memmbuat mu sangat membenci Ayumi?"
Laki-laki itu masih diam, dengan sorot mata yang terus tertuju kepada ibunya.
"Amar?" Panggil Tutih lagi.
"Karena Ibu dan Bapak sangat menyayangi dia. Kalian melupakan aku, kalian terlalu fokus kepada anak itu."
"Kami tidak melupakan kamu, kami sangat merindukan kamu, Amar anak kami yang memiliki sifat lemah-lembut di setiap tutur katanya."
"Tidak!" Sergah Amar, pria itu menyangkal. "Kalian mengabaikan aku, hanya karena dia adalah seorang anak pembawa sial dan penyakitan ..."
"Amar!" Tutih mulai meninggikan suaranya. "Jaga ucapan mu." Wanita paruh baya itu berteriak.
Lalu mengangkat tangannya, hendak menampar Amar agar segera tersadar, tapi dia tak mampu menyentuh pipi anak laki-laki yang dia besarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang.
"Apa? kenapa Ibu berhenti? tampar saja! karena saat ini anak Ibu itu cuma si anak pungut, bukan aku lagi. Hidup aku udah berantakan, nggak ada yang peduli, jadi berikan saja apa yang sudah aku minta, toh tidak setiap hari aku meminta uang."
__ADS_1
Tutih menggelengkan kepalanya, hatinya terasa benar-benar hancur. Dia kecewa pada dirinya sendiri, saat tak mampu lagi menarik Amar kejalan yang seharusnya.
Dia kembali menarik tangannya. Namun bukannya segera menjauh, justru Tutih memeluk tubuh tinggi milik Amar.
"Berhentilah membenci Ayumi. Bukan keinginan dia hidup seperti itu, ... dan lagi, tumberkulosisnya bukan sebuah petaka dan kesialan, tuhan menitipkan dia agar kita jaga sama-sama! mengertilah, Ibu tahu hati kecil kamu masih sangat mempedulikan dia, hanya karena Ibu dan Bapak lebih memperhatikannya, bukan berarti kamu tidak lagi menyayangimu." Perempuan itu menangis.
Amar bungkam, dia berusaha menahan diri agar tidak menangis, meski bibirnya bergetar, juga air yang sudah menggenang di pelupuk mata.
Dia memang pernah sangat dekat dengan Ayumi. Memberikan gadis itu kasih sayang layaknya seorang Kaka kepada adik kandungnya, tapi rasa itu berubah, saat Ayumi mengalami beberapa musibah sampai membuat Ali dan Tutih hanya mempedulikannya, dan terlilit hutang besar hanya untuk membuat Ayumi tetap tumbuh seperti anak normal pada umumnya.
"Sudahlah, aku harus pergi lagi." Amar langsung mendorong tubuh renta Ibunya.
"Tetaplah disini, Bapak sudah mulai membutuhkan bantuan mu."
Amar tersenyum mengejek.
"Benarkah? aku rasa tidak. Kalian terlihat baik-baik saja, bahkan tanpa aku." Amar melangkahkan kaki kearah luar.
"Ini sudah sore, setidaknya tunggu Bapak. Kita makan bersama, setelah itu kamu boleh pergi, kemana pun yang kamu mau."
Namun Amar tidak mendengarkan. Pria dengan kisaran usia 28 tahun itu tetap pergi, meninggalkan sang Ibu yang masih menangis pelan pada hampir petang hari itu.
"Amar!?"
Amar hanya terus berjalan, tanpa memperdulikan panggilan dari ibunya.
"Amar pulanglah, tidak baik hidup seperti itu! keluarga kamu masih ada, lalu kenapa harus hidup di tempat lain, bersama orang lain juga."
Dia tetap tidak manjawab, pergi dengan perasaan yang tak menentu. Hatinya jelas tidak tega saat ibunya memohon dan menangis, tapi ada sisi lain yang membuat Amar membulatkan tekad untuk tetap pergi, dan menjauh dari rumah kedua orang tuanya, hanya karena amarah di masa lalu yang tak kunjung padam.
Maafkan Amar Bu. Tapi Amar tidak bisa, anak itu sudah merebut semuanya, bahkan sejak dia baru saja di bawa ke rumah kita.
***
Di dalam kamar kost milik Ayumi.
"Tidak di angkat?" Randy yang saat ini duduk di sampingnya bertanya.
Ayumi mengangguk.
"Tidak biasanya Ibu seperti ini." Tukas gadis itu, kemudian menoleh, dan menatap Randy.
Raut wajah itu terlihat sendu, guratan ketakutan juga rasa khawatir jelas terlihat.
"Tidak apa, mungkin mereka sibuk. Coba besok hubungi lagi, dan katakan aku mau bertemu mereka, oke?"
Randy meraih pundak Ayumi, lalu membawa dia sampai masuk kedalam pelukannya.
"Abang?" Ayumi menengadahkan pandangan.
Sementara Randy, menunduk untuk menatap wajah itu.
"Ya?" Dia tersenyum, dengan satu tangan yang bergerak menyingkirkan helaian anak rambut, dan menyelipkan di daun telinga.
"Perasaan aku nggak enak, kenapa yah?"
"Tidak apa-apa, kamu ini sedang lelah. Jadi, ... bisa saja pikiran mu kacau."
"Apa begitu? Abang pernah merasakan hal seperti ini?"
Randy mengulum senyum, lalu mengangguk.
"Sudah mulai gelap, Abang harus pulang. Kamu tidak apa-apa disini sendiri? atau mau ikut? masih ada Ibu di rumah, dia bisa menemani mu jika kamu mau."
__ADS_1
Ayumi menarik diri, sampai Randy membuat melepaskan pelukannya.
"Tidak usah, aku akan baik-baik saja disini, salam buat Ibu yah!"
"Kamu yakin? aku sedikit khawatir, apalagi sepertinya kamu sangat mengkhawatirkan sesuatu."
"Sedikit. Tidak biasanya Ibu melewatkan panggilan dari aku."
"It's oke, tidak akan ada hal buruk. Percayalah."
"Humm." Ayumi mengangguk.
"Baik." Randy mulai bangkit. "Saya pulang dulu, jangan lupa kunci pintunya rapat-rapat, menurut ku keadaan disini kurang aman." Sindir Randy, saat sudut matanya melihat kearah kaca.
"Aman, kalau ada apa-apa tinggal teriak dan memanggil Bu Amel."
"Tidak!" Tegas Randy.
Pria itu kembali mendekat, dan meraup tubuh yang tingginya hanya sedada itu, lalu memeluk Ayumi erat, dan memhujani wajah Ayumi dengan ciuman singkat.
Dasar laki-laki kepo!
Randy mengumpat, saat Gani terus mengintip diantar celan gorden tipis yang melintang menutupi jendela kamar Ayumi.
"Hati-hati yah, nanti telfon lagi, ... sampai aku tidur!" Pinta Ayumi.
Mendengar itu Randy hanya diam, menatap wajah Ayumi dengan raut wajah berbinar, juga menahan senyumnya.
"Kok ditahan." Ayumi menyentuh ujung hidung kekasihnya.
"Kalo tidak di tahan ..."
"Shuutttt!" Ayumi menutup mulut Randy. "Sebentar lagi Abang pasti ngaco, cepat pulang."
Gadis itu menarik tangannya, dan suara tawa kencang jelas terdengar menggema memenuhi ruangan berukuran kecil itu.
"Itu tahu, lalu kenapa terus beralasan saat aku mau menikahi mu?"
"Ish nantilah, tunggu sampai aku siap dulu."
"Kapan kira-kira?" Randy memiringkan wajahnya, sampai wajah merona itu bisa terlihat dengan sangat jelas.
"Jika sudah waktunya, semua akan berjalan bahkan tanpa kita kira, jadi bersabarlah, aku tidak akan kemana pun." Katanya, lalu berjinjit dan merangkul pundak Randy.
Cup!
Randy berniat meraih pinggang Ayumi, tapi dia urungkan saat menyadari jika dirinya kini tak hanya berdua dengan sang kekasih, tapi ada dua mata yang juga sedang mengawasi keduanya dari arah luar.
"Jangan mulai!" Suara pria itu terdengar rendah.
"Tidak akan, cepat pulang. Kasian Ibu menunggu kamu terlalu lama."
"Cemilan mu masih ada?"
"Ada."
"Uang jajan?"
"Ada juga."
"Baiklah, nanti sampai di rumah aku pesankan gofood ya."
"Apa aku boleh menolak?"
__ADS_1
"Tidak."
Lalu mereka tertawa bersama-sama.