PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
Mencintai Orang yang Sama


__ADS_3

Dilara Majeed. Aku terkekeh saat melihat sebuah akun dengan foto profil gadis sedang memonyongkan bibir di kolom tambahkan teman. Gemes, sih. Pengen langsung memberi tahunya untuk ganti foto. Tak rela jika laki-laki lain merasa seperti yang kurasa. Berdenyar saat melihatnya.


Segera kutekan aplikasi seperti simbol tak terhingga di pelajaran matematika, lalu menulis sesuatu di sana.


"Ganti PP-nya."


Beberapa saat kemudian, datang balasan darinya.


"Sape, nih?"


Jelas dia tak kenal, karena nama akunku jauh berbeda dengan nama asli. Juga, aku jarang memposting foto pribadi.


"Ganti aja."


"Ogah! Aku nggak kenal situ, kok, main suruh ganti."


"Ck! Ngeyel."


"Biarin."


"Dasar, bocah! Pasti cuma cari perhatian cowok."


"Siapa, sih, lo?"


"Kenapa? Mau kenalan?"


"Nggak!"


Tak berapa lama, dia off. Aku tertawa geli dan segera beranjak keluar. Di sana, di depanku tampak seorang gadis tengah bersungut-sungut. Tangannya sibuk memetik daun pada tumbuhan yang ditanam ibunya. Aku bersedekap sambil menyandarkan bahu pada tembok rumah. Terus menatap ke arah gadis itu.


Tak berapa lama, mata kami saling beradu.


"Kamu lagi kesel?"


Dia mengangguk. Hubungan kami sangat dekat. Selain karena aku teman kakaknya, rumah kami pun berdampingan. Aku sudah mengenalnya sejak dia belum diproses. Eh!


"Iya, Kak. Ada cowok nyuruh aku ganti PP. Padahal kami nggak berteman."


"Kenapa nggak ganti aja? Mungkin dia males lihat wajah kamu yang jelek."


"Enak aja! Kalau nggak suka liat wajahku skip aja." Dilara bersedekap, bibirnya masih manyun.


Aku masih menatapnya, merasakan detak yang tak biasa kala melihat wajah cantik khas remaja itu. Sedikit berdebar saat kami berdekatan, bahkan ketika dia bergelayut manja di bahuku. Memang, gadis itu sudah memperlakukanku seperti kakaknya. Namun, tidak bagiku. Dia tetap seorang gadis yang bisa menggetarkan dinding hatiku hanya dengan seulas senyum yang dihadirkan.


Semenjak tahu nama akunnya, aku mulai stalking. Sering berkomentar saat postingannya di-setting publik. Atau sengaja membuat puisi dan ku-tag namanya. Awalnya dia cuek dan menanggapi ketus, tetapi seiring berjalannya waktu, dia luluh. Kami berteman dan mulai berbalas komentar. Bahkan sering ngobrol di inbox.


Satu lagi, apa pun yang kularang, dia patuh. Misalkan menghapus foto yang di mataku tampak cantik atau seksi, berhenti bersikap ramah dengan teman prianya hingga menerima pertemanan pria lain. Dilara sering bicara masalah pribadi. Tentang Galih, orang tuanya, juga teman-temannya. Namun, tak sedikit pun membahas tentang aku.


"Malam penuh bintang. Asyik main gitar di luar," tulisku sebelum memetik gitar yang kubawa.


Ponsel kuletakkan, dan mulai bernyanyi saat satu komentar muncul.


"Rekues lagu Andmesh, dong," tulis Dilara.


Aku tersenyum.


"Oke." Cepat kubalas.


Melantunlah lagu Cinta Luar Biasa, tak berapa lama, Dilara membuka jendela kamar dan menatap ke arahku. Aku memberi isyarat gerakan kepala kepadanya, tanda bertanya ada apa? Lalu, gadis itu segera menutup kembali jendelanya.

__ADS_1


Aku terkekeh. Kalau dia peka, harusnya sudah tahu. Aku memang menyukai gadis itu semenjak dia beranjak dewasa. Tubuh yang mulai membentuk disertai wajah cantik, cukup membuatku mabuk kepayang. Namun, rasa itu hanya kupendam sendiri. Takut jika dirinya menolak.


Malam semakin larut dan mengantarkan udara dingin. Gadis itu tiba-tiba keluar dan duduk di sebelah.


"Belum tidur, Kak?"


"Belum. Ada apa?"


"Kakak pernah jatuh cinta sama orang yang Kakak nggak kenal?"


"Belum. Ngapain jatuh cinta ama orang yang nggak dikenal? Aneh."


"Maksud aku cinta ama temen online."


"Kamu jatuh cinta sama siapa?" tanyaku penasaran. Dada sudah bergemuruh menahan rasa kesal. Juga ... sakit.


"Mmm temen, Kak."


"Namanya?!" tanyaku tegas.


"Rizaul Kaffi."


Aku memejamkan mata saat nama itu disebut. Jantung yang tadi berdebar, mulai berirama normal. Rasa sakit yang tadi mampir, hilang. Berganti bahagia yang meletup-letup.


"Nggak apa-apa. Terusin aja," kataku kembali memetik senar gitar.


"Tapi, Kak. Kalau dia bukan orang baik gimana?"


"Ajak ketemuan."


"Ih, baru juga kenal masak langsung diajak ketemuan."


"Aku VC-an aja ama dia dulu, deh."


Aku berhenti dan menatapnya dalam diam. Terus menatap wajah yang kini telah ditutupi sebagian rambutnya yang tergerai. Merasakan gelenyar asing yang begitu nikmat. Mengalir bersama darah ke jantung hingga benda itu bedetak dengan irama tak beraturan. Jika, dia tahu Rizaul Kaffi itu aku, apa masih seantusias ini?


Ponselku berbunyi. Dilara tampak terkejut dan menatap ponsel yang tergeletak begitu saja di antara kami.


"Kok, HP Kakak yang bunyi? Aku, kan, lagi telepon Bang Aul."


Aku diam, terus menatap ke arahnya. Tak lama, dahinya berkerut. Matanya bergantian menatap aku dan ponsel.


"Kakak ...?"


Dilara berdiri, memandang tak percaya ke arahku.


"Di ...." Aku ikut beranjak dan mencoba meraih tangannya.


"Kakak si akun Rizaul Kaffi?"


Aku mengangguk. Terus berjalan mendekati.


"Kenapa nggak bilang?"


"Sengaja."


"Buat mempermainkan perasaan aku, lalu dipakai bahan olokan sama kak Galih?"


Aku menggeleng, menolak tuduhannya.

__ADS_1


"Lalu, buat apa?"


"Biar deket sama kamu."


"Bohong! Kita, kan, emang udah deket."


"Tapi, aku belum pernah dianggap spesial sama kamu. Beda dengan Rizaul Kaffi. Kamu bisa bercanda bebas, tertawa bahkan mengirim emot love."


"Aku kayak orang bodoh bilang suka ama dia ke Kakak. Padahal, kalian orang yang sama."


"Aku nggak nganggap kamu bodoh, bersyukur malah," ucapku tersenyum manis. Cepat, menggapai tangannya, tapi dengan cepat juga dia tepis.


"Aku nggak bisa, Kak."


Dilara berlari masuk rumah. Meninggalkan aku dengan hati yang terkoyak. Perih. Aku mengusap wajah. Tersenyum sinis sedikit rendah diri, siapakah aku hingga bisa mendapat gadis cantik sepertinya?


Semenjak saat itu, akun Rizaul Kaffi milikku diblokir. Saat kami berpapasan juga, Dilara sering menghindar. Sampai suatu waktu, saat dirinya merengek pada Galih minta diantar ke sekolah.


"Ogah! Pan biasanya berangkat sendiri. Apa-apaan, sih?"


"Temen aku mau ngajak barengan, Kak."


"Nah, itu udah ada yang mau jemput. Kenapa ngerepotin kakak, sih?"


"Aku nggak mau."


"Kenapa nggak mau?"


"Dia suka sama aku."


Aku mendengar hal itu langsung menghela napas lega dan tersenyum. Senang saat gadis yang kucintai tak begitu saja menerima cinta pria lain. Atau ... jangan-jangan dia masih menyukai sosok Rizaul Kaffi? Aku mengulum senyum.


Saat motor Galih meninggalkan halaman, saat itu pula anak yang berseragam sama dengan Dilara datang. Gegas, kudekati mereka.


"Beb, udah siap?" tanyaku merangkul bahu Dilara. Dilara dan laki-laki bertubuh kurus itu terkejut.


"Lu udah cowok, Dil?"


"Udah. Ngapain lu ke sini?" tanyaku ketus.


Tanpa menjawab apa-apa, laki-laki itu langsung pergi. Begitu pun denganku, langsung memutar tubuh tanpa mengatakan apa pun pada Dilara.


"Pacar macam apa yang langsung pergi gitu aja?"


Aku tehenyak dan berhenti melangkah.


"Apa?" tanyaku seraya membalikan badan.


Gadis itu mengerucutkan bibir, khas wanita yang merajuk. Dasar cewek, susah dimengerti.


"Pacar?" tanyaku sambil mendekat.


"Kakak, 'kan, tadi yang bilang pacar."


"Kamu mau?" Aku bertanya lembut.


Dilara diam, tapi pipinya bersemu merah. Bibirnya mengulum senyum. Aku tertawa dan mengacak rambutnya. "Ayo, kita pacaran."


Ah, jantung, detakmu begitu keras. Kalau sampai Dilara tahu, aku bisa maluuu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2