PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 182


__ADS_3

Jevo langsung menarik lengan Jeno begitu handle pintu kamar dimana Bulan dan sang mama berada terlihat bergerak, menandakan pintu akan di buka dari dalam.


Jevo memandang dengan senyum manis penuh makna pada sang papa. Tentu saja Tuan David paham apa yang diinginkan oleh sang putra.


"Kemana perginya otak Jevo. Melakukan permainan yang sudah bisa ditebak hasilnya." batin Tuan David merasa gemas dengan apa yang dilakukan Jevo.


Pasalnya, pekerjaan Bulan bukanlah pekerjaan yang mudah dilakukan sembarang orang. Terlebih Bulan sudah berhasil menyelesaikan setiap misi yang di dapatnya dengan baik tanpa cela.


Bagaimana bisa Jevo berpikir jika Bulan akan salah mengenali Jeno. Dan mengira dirinya adalah Jeno. Atau dengan kata lain salah menebak.


Tuan David hanya bisa meluluskan apa yang diinginkan sang putra. Hanya untuk sekedar menyenangkan hati Jevo.


Juga dengan Jeno yang terasa kesal dengan kelakukan saudara kembarnya. Bahkan, karena perkataan Jevo yang mengatakan jika bisa saja Bulan salah mengenalinya, pikiran Jeno juga menjadi kacau.


Dia yang sudah termakan omongan Jevo menjadi tidak setenang biasanya. Sehingga lupa siapa kekasihnya. Perempuan yang tidak bisa diremehkan dan dipandang sebelah mata.


"Pa...." panggil Jevo, mengingatkan sang papa tentang apa yang harus dilakukannya. Dengan malas Tuan David mengangguk.


"Bagus." Jevo mengangkat tangan sebelah kirinya sembari mengacungkan jari jempolnya.


Jevo melepaskan cekalan tangannya di lengan Jeno. "Ingat. Tenang. Dan jangan berusaha memberitahu Bulan. Jika itu terjadi, maka elo akan kalah." bisiknya pada Jeno.


"Iya." sahut Jeno dengan malas.


Jeno menghela nafas dengan panjang. Menenangkan diri. Menyakinkan dirinya jika Bulan pasti tidak akan salah menebak. Mana dirinya dan mana Jeno.


Ceklek...


Daun pintu terbuka lebar. Nyonya Rindi dengan senyum sempurnanya terlihat di ambang pintu. "My moon mana?" batin Jeno bertanya, sebab belum melihat Bulan.


Kedua sudut bibir Nyonya Rindi masih setia terangkat ke atas. Melangkahkan kakinya beberapa langkah ke depan. Lalu berhenti, memberi ruang serta tempat bagi Bulan untuk berjalan dan keluar dari dalam kamar.


"Kalian bertiga pasti akan terkejut. Bulan sangat cantik. Persis seperti mama waktu masih muda dulu." cicitnya penuh percaya diri menyelipkan kalimat pujian untuk dirinya.


Jevo dan Jeno menoleh untuk saling pandang sejenak. Keduanya sudah tahu bagaimana watak sang mama.


Berbeda dengan Tuan David yang membalas senyum sang istri dengan tersenyum juga dan mengangkat kedua tangannya ke atas, untuk mengacungkan kedua jempol tangannya.


"Silahkan keluar sayang...." seru Nyonya Rindi dengan nada yang dibuat-buat. Membuat Jeno semakin penasaran bagaimana sempurnanya sang kekasih.


Dari belakang tubuh Nyonya Rindi, Bulan muncul. Tampak begitu anggun, cantik, dan juga seksi. "Gila..!! Dia benar Bulan." batin Jevo.


Kedua bibir Jeno sedikit terangkat ke atas, dengan kedua mata menatap Bulan penuh cinta. Tentu saja Jeno terpesona dengan apa yang ada pada Bulan.


Tangan Jevo menjawab lengan Jevo, mengingatkan jika mereka sedang melakukan permainan. "Ckk,,,, iya,,," lirih Jeno dengan sebal.


Senyum di bibir Nyonya Rindi menghilang, Nyonya Rindi menatap kedua putranya dengan tatapan bingung. Kenapa mereka malah diam tak bereaksi, terlebih pada Jeno yang pasti terpesona dengan Bulan.


Sebelum Nyonya Rindi mengeluarkan suaranya, Tuan David terlebih dahulu mengatakan apa yang mereka lakukan.


"Bulan,,,, Lihatlah mereka berdua. Jevo dan Jeno. Papa ingin kamu memilih, siapa diantara mereka yang menjadi calon suami kamu." pinta Tuan David tersenyum sembari menggeleng.


Nyonya Rindi dan Bulan saling pandang, lalu mengalihkan pandangan mereka pada Jevo dan Jeno. "Apa-apaan papa ini. Malah main tebak-tebakan. Kalian juga. Bisa-bisanya setuju dengan permainan konyol ini." tegur Nyonya Rindi, mengira jika semua yang Jevo dan Jeno lakukan karena perintah sang suami.


"Tante. Tidak apa-apa. Jangan marah pada om. Nanti make-upnya luntur loh." sahut Bulan menenangkan emosi Nyonya Rindi.


"Benar juga." sahut Nyonya Rindi menghembuskan nafas panjang secara perlahan. Padahal tak ada sangkut pautnya antara amarah dan make-up yang ada di wajah Nyonya Rindi.


Bulan pastinya bisa menebak siapa dalang dibalik permainan konyol mereka. "Jevo. Apa coba mau dia. Dasar anak kecil. Permainan yang nggak bermutu." gerutu Bulan dalam hati.


Bulan berjalan mendekat ke tempat Jevo dan Jeno berada. "Sumpah sayang. Ingin rasanya aku membawa kamu kembali masuk ke dalam kamar." ucap Jeno dalam hati.


"Jaga mata elo." lirih Jeno dengan nada menekan, memperingatkan Jevo. Sementara Jevo malah tersenyum samar dengan mengacuhkan peringatan yang diberikan saudara kembarnya.


Dalam hati, Jeno selalu mengeluh. Kenapa Bulan bisa secantik ini, padahal wajahnya hanya dipoles tipis dengan make-up. Gaunnya pun juga tertutup.


"Tertutup. Memang sih tertutup. Tapi lihatlah, mata mana yang akan bisa berpaling dari kemolekan tubuhnya. Ukuran dua benda yang menempel di dada, begitu pas. Tidak besar dan tidak kecil. Pinggangnya yang sungguh ramping. Perut datarnya. Tuhan.... Sempurna sekali perempuan ini." batin Jeno memuji kecantikan dan bentuk tubuh sang kekasih.


Bulan berhenti tepat di depan Jevo dan Jeno. Lalu kembali melangkahkan kaki secara perlahan. Memutari keduanya dengan tatapan seolah dirinya sedang menyelidik. Menebak siapa diantara mereka yang akan dia pilih.

__ADS_1


Bulan berhenti kembali di depan keduanya. "Sayang,,, ini aku. Calon suami kamu. Awas saja jika sampai salah. Aku akan menikahi kamu langsung malam ini juga. Persetan dengan penolakan kamu." batin Jeno yang sudah gregetan bercampur rasa cemas. Seandainya Bulan salah memilih.


Bulan mengulurkan tangannya. Memegang telapak tangan Jevo dengan lembut. Tentu saja hal tersebut membuat Jevo tersenyum senang.


Jevo melirik ke arah Jeno yang mengeraskan rahangnya. "Kali ini elo pasti akan kalah." batin Jevo merasa dirinya keluar sebagai pemenang. Menatap Jeno dengan sombong.


Cup.....


Dengan tangan masih memegang lengan Jevo, Bulan mengecup singkat pipi Jeno. Membuat Jevo dan Jeno tercengang dengan apa yang dilakukan Bulan.


Jevo melihat ke arah tangannya yang masih di pegang Bulan. Sedangkan Jeno mengelus pipinya, dimana Bulan baru saja mendaratkan kecupan singkatnya di sana.


"Mana mungkin aku tidak mengenali mana kekasihku. Meski ada seribu kembaran atau orang yang mirip kamu. Aku pasti akan dengan mudah mengenali kamu. Walau kedua mataku dalam keadaan terpejam sekalipun." tutur Bulan dengan lembut, menatap ke arah Jeno.


"Tapi,,, tangan kamu." cicit Jeno, dimana Bulan masih memegang lengan Jevo.


"Hanya memegang. Kenapa? Lagi pula dia calon saudara ipar aku. Apa tidak boleh. Yang terpenting, hati ini untuk kamu." tukas Bulan melepaskan cekalan tangannya di lengan Jevo.


"Sudah aku lepaskan? Sekarang kamu tahu, aku bisa mudah melepas siapapun yang aku pegang. Tapi tidak melepas hati ini untuk mereka. Sebab sudah ada nama kamu di dalamnya." tutur Bulan membuat Jeno sangat bahagia.


Dan ini pertama kalinya Jeno mendengarkan Bulan mengatakan hal seromantis itu. Kupu-kupu seakan berterbangan memenuhi seluruh rumah. Membuat semua begitu indah di mata Jeno.


Nyonya Rindi yang bergelayut di lengan sang suami tersenyum melihat ketiganya. Juga dengan Tuan David. Apalagi saat keduanya mendengar kalimat yang baru saja Bulan ucapkan.


"Sayang." Jeno memegang kedua bahu Bulan lalu mencium kening Bulan dengan lembut. Kedua mata Jeno menatap Bulan dengan penuh cinta.


"Jangan asal cium. Nanti bedak aku luntur." tolak Bulan bercanda, dengan cara bicara yang menggemaskan. Membuat semua tertawa.


Jevo masih tidak percaya dengan kemampuan Bulan saat membedakan antara dirinya dan Jeno. Dia masih belum terima. "Tunggu. Bagaimana elo bisa tahu, jika itu Jeno?" tanya Jevo menatap tajam ke arah Bulan.


"Kenapa? Elo nggak terima?" ejek Jeno sembari meletakkan tangannya dengan posesif di pinggang Bulan.


Kini, giliran Jeno yang tersenyum sombong sembari menatap kepada Jevo. Jeno juga mengejek saudara kembarnya tersebut dengan ekspresinya yang menyebalkan dimata Jevo.


"Jevo,,,, kemana otak kamu sayang. Masa kamu lupa pekerjaan Bulan. Itu hal mudah bagi Bulan. Hanya membedakan dua orang saja. Apalagi setiap hari kalian selalu bertemu." tutur Nyonya Rindi disertai kekehan kecil.


"Lebih baik sekarang kita berangkat. Ini saja kita sudah terlambat." ajak Tuan David sembari melihat ke arah pergelangan tangannya. Dimana ada sebuah jam mahal melingkar di sana.


"Pa,,,, bisa tidak Jeno dan Bulan tidak ikut?" tanya Jeno.


"Jeno...!! Jangan macam-macam. Lalu untuk apa Bulan lebih dari satu jam berada di dalam bersama mama." tukas Nyonya Rindi.


Jeno memandang ke arah Bulan dengan tatapan tak rela. "Sudah,,, ayo kita berangkat. Percuma aku dandan cantik." goda Bulan membuat Jeno semakin tak rela Bulan pergi ke pesta.


"Posesif banget jadi lelaki. Yang ada Bulan malah kabur." celetuk Jevo kembali memanasi Jeno.


Tapi Jeno hanya acuh. Tak mengganggap apa yang dikatakan Jevo. "Tapi jangan pernah menjauh dari aku." pinta Jeno pada Bulan.


"Iya." sahut Bulan mengelus lengan sang kekasih.


Mereka akhirnya berangkat ke pesta. Dengan menggunakan satu mobil, selain Jevo yang memilih untuk mengendarai motornya seorang diri.


Di dalam mobil, pandangan Jeno tak lepas dari wajah cantik sang kekasih. "Apa aku jelek?" tanya Bulan sadar jika sedari tadi Jeno terus menatapnya sembari tersenyum.


Jeno menggeleng. "Sama sekali tidak. Kamu benar-benar seperti rembulan. Bersinar terang." gombal Jeno.


"Cie... Cie... Dah jago gombal nih..." goda Nyonya Rindi, mendengar apa yang dikatakan Jeno.


Bulan hanya tersenyum melihat Jeno serta tanggapan sang mama. Jeno memutar kedua matanya dengan malas. Sang mama benar-benar merusak momen romantis yang akan dia bangun.


"Hama." lirih Jeno.


Bulan menepuk pelan paha Jeno mendengar Jeno menyamakan Nyonya Rindi seperti hewan pengganggu, sedangkan Jeno hanya tersenyum manis.


"Oh iya sayang,,, bagaimana kamu bisa membedakan kami. Bahkan banyak orang yang tidak bisa membedakan kami, saat aku dan Jevo memakai pakaian serta model rambut yang sama?" tanya Jeno penasaran.


Bukan Bulan yang menjawab apa yang ditanyakan Jeno, melainkan Nyonya Rindi. "Itu namanya jodoh. Bukankah Bulan tadi mengatakan, meski ada seribu lelaki mempunyai wajah yang sama seperti kamu, Bulan akan tetap bisa mengenali kamu."


"Mama.... Kenapa mama seperti nyamuk saja." geram Jeno.

__ADS_1


"Jeno..." tegur Bulan dengan lembut.


"Mama memang nyamuk. Nyamuk syantik....." tutur Nyonya Rindi dengan gaya yang manja.


Tuan David dan Bulan hanya menggeleng seraya tersenyum melihat perdebatan Jeno dan Nyonya Rindi.


Jeno memilih untuk menutup mulutnya selama di dalam mobil. Dirinya tidak ingin kepalanya memanas karena sang mama selalu menyahuti apa yang dia katakan.


Meski mulutnya terkatup rapat, tidak dengan tangan Jeno yang tanpa bosan tetap berada di telapak tangan Bulan. Memainkan setiap jemari Bulan.


"Sudah sampai...!" seru Nyonya Rindi dengan antusias.


Dilihatnya Jevo sudah berdiri di samping motor sportnya, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Dengan pandangan menatap ke mobil mereka.


"Ayo sayang..." ajak Nyonya Rindi, menatap ke arah Jevo.


Semuanya berjalan menuju ke dalam gedung tempat pesta digelar. "Siapa yang mengadakan pesta ini?" tanya Bulan berbisik pada Jeno.


"Bergilir. Jika tidak salah, papa kebagian bulan depan.'' sahut Jeno dengan suara lirih.


Bulan mengangguk paham. "Pasti banyak sekali mereka menghabiskan uang untuk acara seperti ini." batin Bulan.


Di depan saja, sudah terlihat beberapa petugas pengaman. Bahkan saat mobil yang Bulan naiki bersama yang lain berhenti, langsung ada beberapa petugas keamanan yang bersiap di samping mobil.


Bulan serta yang lain mulai menginjakkan kakinya di lantai gedung. "Apa semuanya pebisnis?" tanya Bulan yang memang masih pertama kali menghadiri acara semacam ini.


"Tidak. Ada juga pejabat atau politisi serta para pekerja di bidang seperti kamu. Hanya saja, mereka memang menyisihkan sebagian uang mereka untuk bisnis. Jadi mau tak mau mereka harus berbaur dengan para pebisnis murni." jelas Jevo yang berjalan di samping Bulan.


Tuan David dan Nyonya Rindi, keduanya berjalan di depan mereka. Meski Bulan melihat keduanya dari belakang, mereka tampak serasi dan mesra dalam porsinya.


Sedangkan Bulan berjalan di tengah. Dengan Jevo dan Jeno berjalan di sisi kanan serta kirinya. Hanya saja, Jevo berjalan dengan kedua tangan melenggang bebas.


Berbeda dengan Jeno, dimana salah satu tangannya melingkar posesif di pinggang ramping Bulan. Seakan dirinya ingin mengatakan jika perempuan cantik di sebelahnya adalah miliknya.


"Ingat. Selalu di samping aku. Jangan pernah pergi menjauh." bisik Jeno mengingatkan Bulan untuk kesekian kalinya, dan mendapat anggukan dari Bulan.


"Apa Arya dan Mikel sudah datang?" tanya Bulan.


"Kedua orang tua mereka sudah. Tapi katanya mereka akan menyusul. Dan sekarang masih berada di jalan." sahut Jevo menjelaskan.


Begitu mereka masuk ke ruangan yang penuh tamu undangan, seperti biasa, mereka langsung menjadi pusat perhatian.


Apalagi kehadiran Jevo dan Jeno yang berpenampilan sama. Mereka pasti merasa terkejut. Pasalnya selama ini Jeno selalu berpenampilan culun dan cupu. Ditambah kehadiran seorang perempuan cantik di tengah-tengah keduanya.


"Angkat dagu elo Bulan. Ingat. Jangan membuat malu keluarga Jeno." batin Bulan.


Meski Bulan tidak menampilkan senyum di bibirnya. Tapi kecantikan serta gestur tubuhnya mampu mencuri perhatian banyak orang. Terutama lawan jenis.


"Sial...!! Ini yang gue tidak suka. Mereka menatap Bulan bagai serigala kelaparan." batin Jeno benar-benar ingin mencukil banyak mata lelaki yang menatap Bulan penuh minat.


Bulan tersenyum samar. Diantar para tamu yang masih sebagian dia lihat, ada beberapa yang dia kenal. "Tenyata suasana berbeda. Tapi rasanya sama seperti saat menjalankan misi." batin Bulan, menenangkan dirinya agar tidak membuat keluarga Jeno malu.


Jevo tersenyum samar melihat ke arah lain. Dimana dia melihat seorang perempuan dengan seorang lelaki menatap ke arah keluarganya dan Bulan dengan tatapan penuh benci dan dendam.


Jevo menjawil pundak Jeno. "Ada Rio." ucap Jevo hanya membuka mulutnya tanpa mengeluarkan suaranya.


Jeno mengangguk, sebah sedari tadi dia melihat sosok Rio yang terang-terangan menatap Bulan tanpa berkedip.


"Jaga emosi." ujar Jevo lagi, hanya membuka mulutnya tanpa mengeluarkan suara.


"Oke." sahut Jeno lirih.


Jeno tersenyum samar. Tangannya yang bebas menyingkirkan anak rambut di dahi Bulan. Tampak begitu perhatian. "Makasih." cicit Bulan.


"Tidak masalah." Jeno mengecup singkat kening Bulan.


Mereka masih berada di belakang kedua orang tuanya. Dan sepertinya baik Jevo maupun Jeno tahu kemana sang papa dan sang mama akan membawa mereka.


Meski pada beberapa kesempatan mereka menghentikan langkah kaki, hanya untuk bersalaman dengan beberapa kenalan yang menyapa mereka.

__ADS_1


__ADS_2