
Seluruh tamu yang sudah hadir langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu utama. Dimana keluarga Tuan David baru saja melewati pintu tersebut untuk masuk.
Seperti biasa, kehadiran keluarga tersebut memang selalu menyita perhatian publik sejak dulu. Hanya saja, ada sesuatu yang berbeda kali ini.
Kedua putra kembar mereka tampil dengan pakaian serta dandanan yang sama. Sehingga membuat keduanya bak pinang dibelah dua. Sangat sulit bagi mereka untuk mengenali, mana Jevo dan mana Jeno. Apalagi postur tubuh keduanya yang memang sama.
Satu lagi yang tak kalah menjadi pusat perhatian tersendiri bagi tamu yang hadir. Yakni kehadiran seorang perempuan yang cantik dan seksi di antara keluarga Tuan David, mampu menyedot perhatian dan rasa penasaran mereka semua.
Sebab ini pertama kalinya Tuan David mengajak orang luar, selain keluarga inti. Dan yang lebih membuat mereka penasaran, mereka sama sekali belum pernah melihat wajah sang perempuan ini sebelumnya. Baik di acara sebelum ini.
Terlebih, salah satu putra Tuan David, memperlihatkan kedekatannya dengan sang perempuan dengan menaruh tangannya secara posesif di pinggang ramping sang perempuan. Entah itu Jevo atau Jeno. Mereka sulit untuk menebaknya.
Banyak pasang mata para wanita muda yang melihat sang perempuan yang datang bersama keluarga Tuan David dengan tatapan iri bercampur penasaran. Namun mereka tak menampik jika paras sang perempuan memanglah memiliki kecantikan di atas rata-rata.
"Bukankah dia,,,," ujar Revan menghentikan kalimatnya, manakala melihat sosok cantik yang berada di tengah keluarga Tuan David. Berjalan di tengah, antara Jevo dan Jeno.
"Bulan." sahut Claudia dengan geram, memegang gelas yang ada di tangannya dengan erat. Jika saja kaca gelas tersebut sangat tipis, pasti sudah pecah karena genggaman Claudia yang terlalu erat.
Tampak ekspresi wajah Claudia terlihat begitu kesal. Berbeda dengan Revan yang masih belum mengerti, kenapa Bulan bisa berada di antara mereka.
"Lalu siapa yang melingkarkan tangannya di pinggang bu Bulan?" tanya Revan penasaran, pasalnya Revan juga tidak bisa membedakan mana Jevo dan mana Jeno.
"Sial. Kenapa si cupu berubah sangat drastis." batin Revan tak menyangka jika si cupu berubah menjadi lelaki setampan Jevo. Seakan Revan lupa, jika keduanya memanglah kembar identik.
Jujur, Revan juga lelaki normal. Tentu saja dirinya terpesona dengan kecantikan Bulan. Tak munafik, bahkan kedua mata Revan tak bisa berpaling dari sosok Bulan yang menurutnya sangatlah menawan.
"Bodoh. Kenapa elo mesti bertanya. Jika bukan Jevo,,, pasti Jeno." sahut Claudia dengan ketus.
Revan menyesap pelan air di dalam gelas yang sedang dia pegang. Revan tersenyum penuh makna. "Masa elo nggak bisa membedakan, mana Jevo, mana Jeno." sindir Revan seolah sedang mengolok Claudia. Sebab selama ini dia tahu jika Claudia sangat menggilai Jevo.
"Lebih baik tutup mulut elo. Gue nggak peduli, mau dia Jevo, atau Jeno. Yang gue inginkan hanya membuat Bulan menyingkir dari sisi mereka." kesal Claudia.
Revan tertawa pelan. "Menyingkirkan bu Bulan. Mimpi. Jika gue jadi Jevo, gue tentu akan memilih bu Bulan dari pada elo. Lihatlah, betapa sempurnanya dia." ejek Revan membandingkan Claudia dan Bulan.
"Tutup mulut busuk elo. Berisik." pinta Claudia dengan penuh penekanan. Indera pendengarannya sungguh tak sudi mendengarkan kalimat yang menurutnya sangat membuat dirinya semakin kesal.
"Oke." sahut Revan dengan kedua mata masih setia menatap ke arah Bulan. Juga dengan Claudia. Hanya saja, apa yang Claudia dan Revan pikirkan dalam otak mereka tentu saja berbeda.
Jika otak Revan penuh dengan pikiran mesum dan kotornya, berbeda dengan Claudia yang sedang memikirkan sebuah rencana untuk mempermalukan Bulan di hadapan banyak orang.
"Gue harus membuat dia malu. Sehingga dengan begitu, keluarga om David akan merasa jika Bulan bukan perempuan yang spesial. Dan tak layak berada di dalam keluarga mereka." batin Claudia sembari memutar otaknya.
Hanya dengan melihat cara keluarga Tuan David menerima kehadiran Bulan, bahkan mengajak Bulan datang ke acara pesta sebesar ini, Claudia bisa dengan mudah menebak apa yang terjadi.
"Entah dengan Jevo, atau Jeno. Elo nggak akan pernah bisa masuk ke dalam keluarga itu." batin Claudia menyeringai licik.
Dari arah lain, seorang perempuan cantik duduk lemas di kursi. Terlihat badannya sedikit bergetar karena rasa keterkejutannya. "Bukankah itu bu Bulan? Lalu,,, yang mana Jeno?" cicit Sella yang juga berada di pesta tersebut.
Sella merasa bingung dengan apa yang terjadi. Ada Bulan di antara keluarga Tuan David. "Ada apa ini? Lalu, Jeno...." tukas Sella tersenyum samar.
"Ternyata benar firasat gue. Jika ketampanan Jeno sama dengan ketampanan Jevo." batinnya merasa senang, sebab dirinya tak salah pilih.
"Tapi,,, mana yang Jevo, dan mana yang Jeno. Siapa yang sedari tadi bertingkah posesif pada bu Bulan?" banyak sekali pertanyaan dalam benak Sella. Sebab Sella sama seperti yang lain. Dimana dia tidak bisa membedakan antara Jevo dan Jeno.
Sella memutuskan untuk beranjak dari duduknya. Mendekat ke tempat Tuan David berada, dirinya ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan cara menguping pembicaraan mereka.
Tak jauh dari tempat Claudia dan Revan berada, ada sosok Rio di sana. Bersama dengan temannya. Rio malam ini datang tanpa sang mama. Sebab sang mama mengeluh tak enak badan. Sehingga Rio terpaksa pergi dengan mengajak temannya.
"Bukankah dia Bulan?" tanya sang teman memastikan apa yang dia lihat. Rio mengangguk membenarkan apa yang ditanyakan temannya tersebut.
__ADS_1
"Pucuk dicita ulampun tiba. Ini kesempatan elo untuk membuat nama Bulan jelek di mata keluarga Jeno. Sehingga elo akan mempunyai kesempatan mendekati dia." saran teman Rio dengan semangat.
Rio memandang temannya dengan tatapan datar. "Kenapa?" tanya teman Rio, melihat Rio seakan enggan bergerak.
"Jangan melakukan hal yang tidak gue setujui. Elo sama sekali tidak mempunyai hak apapun atas hidup gue. Jadi jangan sekali-kali melakukan apapun. Jika elo menentang, elo pastinya sudah tahu apa konsekuensinya." tutur Rio, dengan tatapan mengancam.
"Maksud elo apa?" tanya teman Rio menjadi bingung. Pasalnya, Rio sendiri yang mengatakan jika ingin mendekati Bulan. Menginginkan Bulan menjadi miliknya.
Namun sekarang apa yang Rio katakan malah mempunyai makna berbeda seratus persen. Seakan Rio ingin menjauh dari Bulan, sejauh mungkin.
"Maksud gue. Jangan campuri urusan gue. Paham. Tetap berada di posisi elo. Dan jangan melakukan apapun tanpa perintah dari gue." tekan Rio.
Teman Rio mengeratkan rahangnya dengan keras. Tapi dirinya sadar dimana dia sekarang berada. Dan dia bukan lelaki bodoh yang menjerumuskan diri sendiri untuk membuat keributan di tempat ini.
Selain itu, dia masih membutuhkan Rio berada di sampingnya. "Jika saja perusahaan bokap baik-baik saja, gue nggak sudi menjadi kacung elo." batinnya.
Padahal Rio selama ini tidak pernah memperlakukan temannya tersebut sebagai pembantunya. Meski dia membantu perusahaan papa dari temannya tersebut, Rip tetap memperlakukannya layaknya teman seperti sebelumnya.
Rio teringat apa yang sang mama katakan. Jika Rio tidak boleh mendengarkan apapun yang orang lain katakan, siapapun itu. Dan untuk tetap percaya dengan kata hati.
Rio berpikir dengan jernih. Dan dia yakin, jika dirinya hanya mengangumi kecantikan Bulan. Bukan mencintai Bulan. Sehingga Rio memutuskan untuk tidak mengejar sesuatu yang akan malah membuat kehancuran bagi dirinya.
"Apalagi Bulan sudah berada di tangan yang tepat. Lagi pula, jika gue tetap ngotot untuk mendekati Bulan. Merusak hubungan dia dan Jeno, yang ada semua apa yang almarhum papa tinggalkan untuk gue dan mama akan dengan mudah dihancurkan Tuan David dengan sekali ucap." batin Rio berpikir jauh.
Teman Rio hanya bisa diam. Meskipun di dalam hati dia terus mengumpat. Menyebutkan semua nama binatang yang ada di muka bumi, terkait keputusan Rio yang malah menjauhi Bulan.
Tapi memang aneh. Rio yang mempunyai masalah hati. Dan dia sudah memutuskan apa yang terbaik bagi dirinya, yakni berhenti mengejar Bulan. Tapi teman Rio seakan tidak rela jika Rio berhenti mengejar Bulan.
Atau memang ada udang di balik batu. Sehingga dia berpura-pura ingin membantu Rio mendapatkan Bulan. Padahal sesungguhnya dirinya punya maksud lain di belakang Rio atas apa yang akan diperbuatnya, dengan dalih membantu.
Tuan David tak menggubris banyaknya pasang mata yang memandang ke arah mereka, beliau beserta Nyonya Rindi tetap melangkahkan kakinya untuk mengajak kedua putranya beserta Bulan untuk dia kenalkan pada seseorang.
Seorang lelaki tua dengan sebuah tongkat di tangan berdiri dan segera menyambut kedatangan Tuan David berserta keluarganya.
Bulan mengernyitkan keningnya. "Dia." batin Bulan, kenal dengan sosok tersebut. Bulan tersenyum samar sembari memandang Tuan David.
"Kamu datang dengan anggota lengkap David." sahut lelaki tua tersebut.
"Benar. Malah saya membawa anggota satu lagi. Sebentar lagi, dia akan menjadi menantu keluarga kami." tutur Tuan David menatap Bulan.
Nyonya Rindi hanya diam dengan wajah datar, tangannya masih setia menggandeng lengan sang suami. Ekspresi wajah Nyonya Rindi tak luput dari pandangan Bulan. Dan Bulan menduga jika Nyonya Rindi tidak nyaman berada di lingkungan ini.
Begitu Tuan David mengatakan jika dirinya membawa calon menantunya, semua mata menatap ke arah Bulan. Bukan hanya mereka yang duduk di kursi dengan melingkari meja.
Tapi juga dengan banyak orang di sekitar mereka yang pastinya mendengarkan apa yang Tuan David katakan. Sebab Tuan David mengatakan dengan suara sedikit keras.
Seakan merupakan sebuah kesengajaan yang Tuan David inginkan. Secara tidak langsung mengumumkan jika Bulan akan menjadi menantunya.
Jevo dan Jeno saling menatap sekilas. Keduanya juga merasa ada yang diinginkan sang papa dengan langsung mengenalkan Bulan pada mereka.
"Calon menantu." lirih Sella segera memegang sudut meja untuk membuat kakinya tetap terjaga seimbang.
Sella tersenyum pahit. Dirinya mencari kursi terdekat. Sebab tak mungkin dia tetap berdiri. Yang ada di malah akan terjatuh. Sella tentu saja masih ingin mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
"Pasti bu Bulan berhubungan dengan Jevo. Iya benar. Mana mungkin Jeno." batin Sella menyangkalnya sendiri. Berharap bukan Jeno hang dimaksud Tuan David.
Bulan melepaskan tangan Jeno di pinggangnya. Membuat Jeno menatap Bulan dengan aneh. Bulan melangkah maju. Mendekat pada lelaki tua yang baru saja berjabat tangan dengan Tuan David.
Bulan mengulurkan tangannya seraya tersenyum dengan sempurna. "Bulan. Bulan Maheswari." ucap Bulan memperkenalkan dirinya, setelah lelaki tua di depannya menyambut uluran tangannya.
__ADS_1
Sekilas terlihat raut wajah tegang pada lelaki tua tersebut. Tapi segera dia tersenyum. Menyembunyikan apa yang dia rasakan. "Bukankah kedua putramu masih duduk di bangku SMA. Kenapa terlihat sangat tergesa sekali kamu mengenalkan calon menantumu, David." tutur lelaki tua tersebut.
"Sekarang putraku sudah kelas tiga SMA. Tidak ada setahun dia sudah akan berada di universitas." jelas Tuan David dengan singkat.
"Kalian kenapa berdiri. Silahkan duduk." pinta seorang perempuan paruh baya.
"Ambilkan satu kursi lagi." lanjutnya menyuruh pada pelayan.
"Maaf Rindi, saya tidak tahu jika kamu akan membawa calon menantu kamu. Jadi saya tidak menyiapkan kursi tambahan." sambungnya dengan ramah.
"Tidak apa-apa." sahut Nyonya Rindi, mendaratkan pantatnya di kursi sebelah Tuan David.
Sedangkan Bulan duduk di antara Nyonya Rindi dan Jeno. Sementara Jevo duduk di sebelah Jeno. "Apakah kamu juga masih sekolah, Bulan?" tanya salah satu dari mereka.
"Tidak. Dia sudah bekerja." sahut Nyonya Rindi, menjawab pertanyaan tersebut.
"Waoww... Berarti usia kamu di atas Jevo,,, maaf atau Jeno."
"Jeno. Saya Jeno. Dan Bulan adalah calon istri saya." tekan Jeno dengan santai, mendekatkan sebuah gelas berisi minuman di meja ke depan Bulan. Tersenyum memandang ke arah Bulan.
Deg....
Sella yang duduk tepat di belakang Jeno, merasa pasokan udara ke paru-parunya berhenti sejenak. Dia menggeleng tak percaya.
"Gue pasti salah dengar. Iya. Pasti. Lebih baik gue tunggu di sini dulu. Memastikan apa yang gue dengar." batin Sella, mengambil segelas air minum di depannya. Meneguknya hingga tandas.
Juga dengan Claudia dan Revan yang juga berada di dekat mereka. Dengan jelas mendengar apa yang dikatakan oleh Jeno. "Gue nggak salah dengarkan? Jeno. Bukan Jevo?" lirih Revan berbisik di telinga Claudia.
"Gue nggak peduli." sahutnya dengan lirih dan terdengar kesal.
Revan hanya mencebik. Baginya, tak masalah Bulan berhubungan dengan Jevo maupun Jeno. Sebab dirinya sudah menargetkan Sapna.
"Ternyata kamu suka daun tua ya, Jeno?" tanya salah satu dari mereka bermaksud mengejek Jeno dan Bulan.
"Tapi jika dilihat, Bulan lebih muda dari pada putri tante." sahut Jeno dengan nada santai, tapi sangat menusuk dada.
Perempuan yang baru saja mengatakan jika Jeno suka daun muda langsung memasang wajah masam bercampur kesal.
"Memangnya calon istri kamu berasal dari keluarga mana? Kenapa kita tidak pernah melihat wajahnya berseliweran di dunia bisnis?" tanya seorang lelaki ingin mengetahui asal-usul Bulan.
"Keluarga saya bukan dari kalangan atas. Kedua orang tua saya hanya seorang petani di desa. Dan saya merantau di kota mencari uang, untuk kebutuhan saya sendiri." jelas Bulan tersenyum.
"Beruntung sekali kamu. Bisa mendapatkan calon suami seperti Jeno. Kehidupannya yang sudah terjamin. Sehingga kamu tidak perlu bekerja lagi, jika menjadi menantu keluarga David." sindir salah satu dari mereka.
"Memang itu yang saya harapkan. Saya hidup untuk mencari kesenangan dan hidup enak. Bukan kesedihan atau hidup susah." sahut Bulan terdengar begitu tenang.
"Saya mencari istri untuk membantu saya menghabiskan harta kekayaan keluarga saya yang tidak akan habis tujuh turunan. Sebab saya yang akan bekerja. Bukan menjadikan keluarga istri saya partner kerja." timpal Jeno menohok, dan terdengar begitu angkuh.
Sebab kebanyakan mereka yang berasal dari kalangan pebisnis menginginkan anak mereka juga menikah dengan kalangan pebisnis. Guna mengkokohkan kerajaan bisnis mereka. Serta menjadikan besan mereka sebagai partner kerja.
"Lagi pula, calon saudara ipar saya bahkan lebih cantik dari putri om." celetuk Jevo tanpa beban.
Tuan David berpura-pura mengusap mulutnya, padahal dia sedang tersenyum. Bagaimana tidak. Bulan dan Jeno menjawab sesuai apa yang dia ingin dengar. Juga kalimat Jevo yang sangat lucu terdengar di telinga beliau.
Semua yang ada di meja tersenyum penuh makna mendengar apa yang mereka katakan. "Memang sekarang kamu bekerja di mana?" tanya salah satu dari mereka.
Belum sempat Bulan menjawab, terdengar seseorang memanggil namanya. Bulan dan semua yang ada di meja menoleh ke arah sumber suara. Semua terkejut, melihat siapa yang memanggil Bulan.
"Sebentar lagi kalian akan tahu, dimana calon menantu saya bekerja." tukas Nyonya Rindi, tersenyum ramah, memandang orang yang memanggil Bulan.
__ADS_1