PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
Tersiksa


__ADS_3

Kau sebagai candu bagiku


Meski hati tekoyak karena abaimu


Kau sebagai candu bagiku


Hingga terseok aku melalui hari tanpamu


Kau sebagai candu bagiku


Meski tangis tertahan ini menggugu


Kau sebagai candu bagiku


Hadirmu kurindu


Klik!


Kutekan tulisan kirim. Sudah puisi kelima yang hari ini kuposting. Kebiasaan. Di saat sakit hati begini, lancar banget otak. Setelah memposting, segera log out dari platform berlogo huruf F. Tak mau melihat komentar maupun like yang mampir. Terlebih, Dilara. Karena aku tahu gadis itu pasti akan memberikan jempolnya. Teringat perkataan dia yang menusuk saat mengatakan lebih menyukai sosok Rizaul Kaffi daripada aku, Irham Dirgantara.


Aku menghela napas panjang dan berat. Tanpa sadar tangan mengusap dada yang berdenyut nyeri. Segera kuambil gitar dan keluar menuju balai bambu yang terletak di antara rumahku dan Dilara, tempat biasanya aku nongkrong bersama Galih.


Baru mulai pemanasan, tiba-tiba Galih menghampiri.


"Napa lu? Galau? Karena Dila?" Laki-laki yang gagal menjadi kakak iparku itu tertawa penuh ejekan. Kalau tak ingat Tante Lisa--mamanya--suka memberi uang jajan, sudah kubungkam mulut gatelnya itu pakai sandal.


"Ganggu aja lu. Mending lu akurin kita lagi."


"Dih! Ogah! Mending punya adik ipar tu bocah, kaya. Nggak kayak elu. Miskin. Nih, harta lu cuma ini." Galih menunjuk gitar keramat warisan kakek dengan gemas.


"Gini gini juga bikin otak gue encer," sanggahku tak terima. Belum tahu dia, dari genjrengan gitar ini, banyak gadis yang klepek-klepek minta dipacari. Kecuali Dilara. Susah memang menaklukkan hatinya.


'Lihat aku sayang


Yang telah berjuang


Menunggumu datang


Menjemputku pulang'


Tawa Galih kembali terdengar, kali ini lebih membahana. Ah, resek memang ini kutu loncat. Bete, aku segera masuk kembali ke rumah meninggalkan Galih dengan rentetan ejekannya.


"Nggak adek, nggak kakak, bikin gondok hati gue aja," rutukku, jengkel.


💔💔💔

__ADS_1


Sudah satu minggu, aku tak bertegur sapa dengan Dilara. Awalnya, mau terus kupepet, siapa tahu dia mau diajak balikan lagi. Namun, baru juga dekat, Dilara sudah pergi masuk kamar dan tak keluar lagi. Begitu juga saat sengaja kujemput di sekolahnya, bukannya senyum semringah yang kudapat, tapi tatapan tajam penuh kebencian yang dia lempar seraya masuk mobil si bocah tengik.


Aku? Jelas sakit hati. Untung terlahir sebagai cowok, bisa menahan tangis meski sangat ingin kukeluarkan air mata itu. Setelah itu, setiap hari kusibukkan dengan mengerjakan skripsi. Menenggelamkan diri di antara tumpukan buku perpustakaan. Berangkat pagi, pulang sore hingga lupa akan kehadiran sosok Dilara.


Langkahku terhenti saat berpapasan dengan Sandra di lorong kampus setelah menghadap guru pembimbing. Gadis itu menyapa dengan senyum semringah, memperlihatkan gigi gingsulnya. Tubuhnya meliuk indah mengikuti gerak langkah kakinya yang jenjang. Bergerak cepat ke arahku.


"Udah selesai?"


"Kelar."


"Anterin gue, yuk."


"Ke mana?"


"Toko buku masak ke hotel."


"Sembarangan kalau ngomong. Jaga tu mulut," kataku setengah marah.


Aku memang tak suka dengan gadis yang seolah merendahkan harga dirinya meski itu sekadar bercanda. Mereka harus bisa menghormati diri sendiri, hingga kami kaum pria pun segan untuk menggoda.


Sandra terkekeh, tak takut sedikit pun akan protes yang kulayangkan. Malah mengucap kata maaf dengan santai. Kemudian, tangannya mengapit lenganku keluar dari gedung. Risih sebenernya, tapi percuma mengelak. Gadis keras kepala ini pasti akan lebih melakukan hal yang lebih parah.


Sepanjang perjalaan ke area parkir kampus, kami berbicara masalah skripsi. Membahas masalah yang akan kami angkat.


"Keren lu udah mau penelitian aja."


"Udah nggak sabar mau nikah apa kerja?"


Aku tersenyum miris. "Kerja."


"Yakin?"


"Iyelah. Calon gue masih anak SMA." Aku terhenyak, lalu terdiam sesaat, seolah menyadari seuatu. Ah, sudah sebulan berlalu tapi rasa ini masih tetap ada untuk Dilara. Memang aku sempat lupa akan hadirnya, tapi tak bisa dimungkiri, kadang aku teringat juga.


"Anak SMA, siapa?"


"Ham!" Suara maskulin memanggil dari arah belakang sebelum aku menjawab. Kami menoleh bersama.


Di sana Galih datang bersama Dilara. Tiba-tiba, jantungku berdetak cepat. Ada desiran aneh yang merambati hati. Aku menatap mantanku itu tanpa berkedip. Baru kali ini setelah dia memutuskan hubungan, aku bisa melihat wajahnya, lama.


"Kalian mau ke mana?" tanya Galih saat sudah berada dekat dengan kami.


"Nganter Sandra ke toko buku. Ngapain bawa adik lu?"


"Nggak ada yang jemput."

__ADS_1


"Oh ... cowoknya?"


"Tanya aja, tuh, orangnya. Ke mana adik ipar gue."


"Jiah! Adik ipar," ucapku mencibir.


Mendengar percakapan kami, Dilara menundukkan pandangan. Entah apa yang ada di pikiran gadis itu. Aku pun tak bisa menebak ekspresi wajahnya. Ingin bertanya, tapi gengsi menguasai. Dan jantung ini, masih lancang karena berdegup semakin kencang. Jika tak segera pergi, bisa kurengkuh tubuh gadis yang selalu menguarkan aroma manis itu.


"Kita jalan dululah. Yuk, San," ajakku.


"Kalian kapan-kapan aja, deh, perginya. Biar Irham nganter adik gue pulang. Ya?"


"Enak aje. Emang gue adik ipar lu. Bukan, 'kan?"


"Sialan, lu!"


Aku dan Sandra melewati meraka. Kulirik, Dilara masih menunduk. Saat berada beberapa langkah dari mereka, aku berharap Dilara memanggil dan memintaku untuk mengantarkannya. Jika itu terjadi, tanpa pikir panjang akan kutinggal Sandra dengan suka rela. Namun, hingga kami mencapai motor, gadis itu tetap diam. Kecewa juga pupus sudah harapanku.


Aku diam memikirkan Dilara selama perjalanan ke toko buku. Raut wajah gadis itu tak berubah sama sekali, masih cantik. Senyum tipis kusunggingkan saat mengingat jempol Dilara masih mampir di tiap postingan puisiku. Percakapan tadi, tambah membuatku bahagia karena jika dilihat dari penuturan Galih, Dila dan bocah tengik itu tak menjalin hubungan.


"Syukurlah!"


"Kenapa, Ham?" Sandra mencondongkan tubuhnya ke depan hingga jarak di antara kami tak ada sekat. Bahkan tubuhnya menempel di punggungku. Aku akan sedang jika Dilara yang melakukan itu, tapi ini Sandra.


"Nggak apa-apa. Lu duduk agak jauhan napa?"


"Napa, lu? Seneng?"


"Risih gue."


Sandra bukannya segera menjauhkan tubuh, malah semakin menempel. Sialan memang! Seolah-olah dia memang sengaja melakukan itu. Motor segera kulajukan dengan cepat, ingin segera sampai dan kondisi itu bisa kuhindari. Jujur, aku tak nyaman. Meskipun sebagai seorang laki-laki tentu aku sangat beruntung.


"Pelan-pelan aja napa, sih? Buru-buru amat!" protesnya seraya mengencangkan pelukan di perutku.


Buset!


"Biar cepat sampai dan lu nggak nempel kayak ulet gini."


Sandra tertawa terbahak-bahak, entah apa yang lucu dari perkataanku hingga dia begitu senang. Seolah-olah mampu membaca pikiranku, dia pun berujar, "Segitu jijiknya lu ma gue."


"Bukan jijik elah. Gue nggak nyaman. Noh, liat orang-orang pada ngeliatin."


"Terus saat lu sama anak SMA itu, apa nggak pernah pelukan gini?"


Aku terdiam. Saat bersama Dilara jelas aku yang memaksanya untuk memeluk dan itu wajib saat berboncengan denganku.

__ADS_1


"Kalian melakukannya juga, 'kan? Kenapa nggak risih kalau sama dia? Karena cinta?" Aku merasakan kegetiran di suara Sandra. Namun, aku bisa apa? Bukankah hati tak bisa berbohong?


Next


__ADS_2