PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 103


__ADS_3

Bulan merasakan ada yang aneh pada tubuhnya. Terutama di perut dan kaki. Seperti ada sesuatu yang menimpa kedua bagian tubuhnya tersebut. Terasa agak berat.


Tanpa bergerak, Bulan membuka kedua matanya secara perlahan. "Dimana gue." batin Bulan menatap ke atas. Dimana dirinya merasa asing dengan langit-langit ruangan tempatnya berbaring sekarang. Juga dengan bau harum yang baru saja dia hirup.


Bulan menghela nafas perlahan. "Wangi ini, gue pernah merasakannya." batin Bulan.


Bulan juga merasakan hembusan nafas dari sisi kirinya. Dengan gerakan pelan, Bulan menggerakkan kepalanya untuk melihat ke sisi kirinya. Dimana dirinya merasa ada seseorang di samping kirinya.


Bulan mengerjapkan kedua matanya dengan lucu. Antara percaya dan tidak. "Nyonya Rindi." batin Bulan merasa bingung bercampur aneh.


"Masa gue tidur di kamar Nyonya Rindi? Lalu di mana Tuan David?" batin Bulan malah mencari keberadaan papa dari Jeno.


"Eeh, ngapain gue nyari Tuan David. Tunggu,,,, bagaimana gue bisa bersama Nyonya Rindi. Satu ruangan. Satu ranjang." batin Bulan melihat tangan Nyonya Rindi berada di atas perutnya.


Bulan mengingat kembali kejadian semalam. "Jeno. Jangan bilang Jeno yang membawa gue ke sini. Astaga,,,, jangan-jangan,,,, jangan-jangan Jeno membawa gue pulang ke rumahnya." tebak Bulan dalam hati.


"Mampus." umpat Bulan dalam hati memaki dirinya sendiri.


Bukannya menggerakkan badannya, supaya Nyonya Rindi tahu jika dirinya sudah bangun, Bulan malah kembali memejamkan kedua matanya.


"Pasti setelah ini ada sesi wawancara." batin Bulan dengan kedua mata terpejam.


"Apa Jeno menceritakan yang sebenarnya?"


"Cckkk,,, Jeno,,, ngapain elo bawa gue ke sini. Memang nggak ada tempat lain apa?"


"Apa yang harus gue katakan. Mana gue datang dengan keadaan tidak sadar."


"Jika saja gue bisa menghilang, gue pingin menghilang dari ranjang ini sekarang juga."


"Haaahhhh,,,,, lebih baik gue adu jotos atau adu tembak sekalian, dari pada berada di situasi seperti ini."


Dan masih banyak lagi kalimat-kalimat yang berada di dalam benak Bulan. Tentu saja dirinya merasa cemas setelah dia terbangun. Bertemu serta berbicara dengan Tuan David serta Nyonya Rindi.


Tak berselang berapa lama, Nyonya Rindi menggerakkan badannya. Beliau memindahkan tangan dan kakinya dari tubuh Bulan.


"Lega, kaki gue sampai kesemutan." batin Bulan.


Nyonya Rindi menatap wajah Bulan, menyingkirkan helaian rambut di wajah Bulan. "Kenapa kamu belum sadar?" lirih Nyonya Rindi.


Dilihatnya sang putra yang juga masih tertidur pulas di atas sofa. "Jeno,,, Jeno,,," panggil Nyonya Rindi.


Bulan menajamkan indera pendengarannya. "Jeno. Berarti di ruangan ini bukan cuma ada gue dan Nyonya Rindi." batin Bulan, sebab Nyonya Rindi memangil Jeno tanpa turin dari ranjang.


Jeno tidak segera bangun. Dia hanya menggerakkan kedua tangannya untuk meregangkan otot-ototnya. Lalu tak bergerak kembali.


"Astaga...!" gumam Nyonya Rindi, saat Jeno malah kembali tertidur.


"Jeno...! Kenapa Bulan belum bangun...??!" tanya Nyonya Rindi sedikit meninggikan suaranya.


Sontak saja, mendengar nama Bulan, Jeno langsung teringat jika saat ini Bulan sedang berada di dalam kamarnya.


Jeno segera beranjak dari tidurnya. Mendekat ke ranjang di mana Bulan masih memejamkan kedua matanya. "Sayang,,,,," panggil Jeno, duduk di tepi ranjang, dengan tangan mengelus lembut pipi Bulan.


"Sayang...!! Sayang mata elo peyang...!! Astaga, berani sekali Jeno manggil gue dengan kata itu." geram Bulan, dimana pastinya masih ada Nyonya Rindi di sebelah mereka.


"Ma, kok Bulan belum bangun. Apa Jeno panggil lagi dokternya?" tanya Jeno khawatir.


"Bulan, dia hanya manggil nama gue, tanpa ada embel-embel bu. Benar-benar nih anak. Tunggu,,, dokter. Memanggil dokter. Jeno,,, jangan bilang semalam gue sudah diperiksa dokter. Berarti kedua orang tua Jeno tahu kalau gue terkena racun. Mampus elo Bulan." batin Bulan.


Tanpa Bulan tahu, jika Jeno sendirilah yang mengatakan pada sang dokter. Jika dirinya dalam keadaan seperti ini karena terkena racun.


Krekk... pintu kamar Jeno terbuka dari luar. Menampilkan Tuan David yang masih memakai pakaian tidur lengkapnya. "Mama lupa kalau punya suami? Betah sekali di kamar Jeno." sungut Tuan David mendekat ke ranjang.


"Kamar Jeno. Berarti gue berada di kamar Jeno." batin Bulan mendengar apa yang dikatakan Tuan David.


"Pa,,, Bulan kok belum sadar ya?" tanya Nyonya Rindi, merasa cemas.


"Apa Jeno panggil dokter lagi?" sahut Jeno.


"Jika keadaannya seperti ini, berarti mereka pasti minta kejelasan dari gue." batin Bulan, meski kedua orang tua Jeno tak meminta penjelasannya, Bulan sebagai perempuan baik dan mengerti aturan pasti akan menjelaskannya.


Bulan menggerakkan kepalanya perlahan, dengan menggerakkan kedua mata serta bibirnya dengan pelan. Membuat wajahnya terlihat menggemaskan.


"Pa,,, Bulan bangun." seru Nyonya Rindi dengan antusias.

__ADS_1


Jeno segera mengubah posisi duduknya agar lebih nyaman. Bulan membuka kedua matanya. Tanpa bergerak, ditatapnya ketiga orang di sampingnya secara bergantian. Tak lupa, Bulan memasang wajah bingung.


"Bulan,,,," panggil Nyonya Rindi.


"Ma, sabar. Bulan pasti bingung. Dirinya baru sadar, pasti dia aneh bangun di tempat yang asing." tutur sang suami, memegang kedua pundak Nyonya Rindi.


Bulan hendak duduk, segera Jeno membantunya untuk menyenderkan punggung Bulan di sandaran ranjang. "Gue terlihat begitu lemah." batin Bulan.


Bulan tersenyum kaku menatap Nyonya Rindi serta Tuan David. Lalu beralih menatap Jeno dengan sorot mata yang tajam.


Jeno tersenyum takut. "Maaf, aku membawa kamu ke rumah. Tempat ini menjadi pilihanku. Karena paling dekat dengan tempat aku menemukan kamu." jelas Jeno.


"Aku kamu." batin Bulan geram dengan cara bicara Jeno di depan kedua orang tua Jeno.


"Terimakasih." cicit Bulan.


Bulan mengalihkan pandangannya pada kedua orang tua Jeno. "Tante,,, om,,, terimakasih sudah menerima Bulan." tutur Bulan dengan sopan.


Nyonya Rindi menggenggam telapak tangan Bulan. "Jangan sungkan. Kamu tidak perlu berterimakasih. Apala...." perkataan Nyonya Rindi terputus saat Tuan David memotong kalimatnya.


"Ma... Biarkan Bulan membersihkan badan dulu. Kita sarapan bersama." Tuan David takut sang istri bicara ngawur.


"Pa, Bulan baru saja bangun. Memang sudah kuat?" tanya Nyonya Rindi.


Bulan tersenyum manis. "Sudah tante. Bulan sudah tidak apa-apa." papar Bulan.


"Lagian mama melupakan papa. Lihat, papa masih memakai piyama." rajuk Tuan David.


Nyonya Rindi tersenyum malu menatap Bulan, lalu mencubit lengan sang suami sembari memelototinya. "Jeno,, kamu temani Bulan sebentar. Mama akan ambilkan baju ganti untuk Bulan." pinta Nyonya Rindi.


"Ayo pa." ajak Nyonya Rindi, mengajak sang suami pergi dari kamar Jeno.


Sepeninggal Tuan David dan Nyonya Rindi, Bulan dan Jeno hanya berdua di dalam kamar. Jeno tersenyum menatap Bulan. "Akhirnya kamu bangun juga sayang." tutur Jeno dengan tenang.


Padahal Bulan sedang kesal padanya. Lantaran Jeno membawa Bulan ke rumahnya. "Kenapa?" tanya Jeno, melihat Bulan membuang wajah. Tak ingin menatap Jeno dan memasang ekspresi kesal.


"Masih tanya kenapa?!" kesal Bulan.


"Ya,,, memang aku nggak tahu." tukas Jeno dengan polos.


Jeno menghela nafas panjang. "Sabar Jeno, perempuan memang makhluk paling susah di mengerti." batin Jeno, merasa dirinya sudah menjelaskan alasannya. Kenapa membawa Bulan pulang ke rumahnya. Bukan ke tempat lain.


"Tatap mata lawan bicara kamu." pinta Jeno.


Namun Bulan acuh dan tetap menghadap ke depan. Entah kenapa, saat hanya berdua dengan Jeno. Bulan menjadi seperti anak kecil dan sama sekali mudah tersulut emosi.


"Bulan, tatap lawan bicara kamu." pinta Jeno, mengulangi lagi kalimatnya.


Jeno kembali menghela nafa panjang. Menetralkan emosinya supaya tak sampai marah. "Padahal usia gue di bawahnya. Kenapa rasanya gue yang jadi lebih tua." batin Jeno tersenyum dalam hati, merasa lucu.


"Bulan...!!" panggil Jeno meninggikan nada suaranya.


Dengan malas, Bulan menatap Jeno. Namun dengan ekspresi sebal. "Bukankah tadi aku sudah mengatakan alasannya. Kenapa aku membawa kamu pulang ke rumah. Karena memang tempat ini yang paling dekat." jelas Jeno lagi dan lagi.


"Aku hanya memikirkan keselamatan nyawa kamu. Apalagi keadaan kamu sangat membuat aku takut. Nafas aku seolah berhenti." lanjut Jeno menjelaskan rasa cemasnya semalam melihat keadaan Bulan.


Jeno menangkup kedua pipi Bulan. "Kamu tak sadarkan diri. Suhu badan kamu sangat panas. Wajah kami pucat. Bahkan kamu berkeringat." sambung Jeno.


Bulan sama sekali tak melihat kebohongan di kedua mata Jeno. Karena memang Jeno mengatakan kebenarannya. Dirinya begitu ketakutan jika terjadi sesuatu dengan Bulan.


"Aku tidak peduli apapun lagi. Hanya satu. Hanya satu yang aku pedulikan. Keselamatan kamu."


Bulan menyisihkan kedua telapak tangan Jeno di pipinya. "Tapi bagaimana dengan kedua orang tua kamu?"


Bulan menundukkan kepala. Dan Jeno, kini mengerti keresahan yang di rasakan Bulan. "Pasti mereka akan bertanya. Kenapa kamu bisa bersama aku. Kenapa keadaanku sampai seperti itu." tutur Bulan.


"Apalagi kamu." Bulan memukul pelan dada Jeno.


"Aku kenapa lagi?" tanya Jeno yang merasa dirinya disalahkan lagi oleh Bulan. Tapi Jeno hanya bisa pasrah dan menerimanya.


"Kenapa kamu panggil aku dengan kata sayang. Terus pake aku kamu. Kitakan murid dan guru." dengus Bulan.


Jeno tersenyum. Tanpa sadar, dirinya memperlihatkan perhatiannya pada Bulan di depan kedua orang tuanya. Sementara kedua orang tuanya sama sekali tidak bertanya perihal kedekatan dirinya dan Bulan.


Jeno menebak, jika keduanya telah tahu perasaannya pada Bulan. Apalagi saat semalam sang mama begitu memperlihatkan rasa khawatirnya. Bahkan sampai rela tidur seranjang untuk menemani Bulan.

__ADS_1


Dan itu artinya, kedua ornag tuanya menyetujui jika dirinya menjalin hubungan dengan Bulan. Terlepas dari perbedaan usia mereka..


"Kenapa malah senyum. Bukannya jawab." sinis Bulan.


"Sudahlah. Tidak perlu kamu risaukan."


"Kamu apa-apaan sih. Tetap saja aku merasa..... Udahlah, ngomong sama kamu malah bikin emosi aku naik." ucap Bulan.


Jeno menatap intens ke arah Bulan sembari tersenyum. "Kita lihat. Apa mama dan papa sudah tahu jika gue menyukai Bulan." batin Jeno.


Yang pastinya Jeno mempunyai rencana untuk mengetahuinya. Cup.... Lagi, Jeno mencuri ciuman di pipi Bulan.


"Jeno." geram Bulan, menatap ke arah pintu. Takut jika tiba-tiba ada yang masuk. Pasalnya saat ini dirinya berada di rumah Jeno. Dimana ada beberapa pembantu, tentunya juga ada Tuan David dan Nyonya Rindi.


Sampai di kamar, Nyonya Rindi langsung mencari dressnya saat beliau masih muda. Dirinya ingin Bulan menggunakannya.


"Belum jadi mantu saja sudah mengambil semua perhatian mama." rajuk Tuan David dengan sebal.


"Ma,,, papa belum mandi." rengek Tuan David.


"Papa,,, ya mandi sana. Memang setiap hari papa mandinya bagaimana. Mama mandiin?!" ujar Nyonya Rindi yang masih sibuk mencarikan pakaian untuk Bulan.


Tuan David memeluk tubuh sang istri dari belakang. "Semalam kita tidur terpisah low ma." rengeknya.


"Papa,,, mama sibuk. Papa cepat mandi sana." Nyonya Rindi melepaskan tangan sang suami di perutnya.


Tuan David memandang kesal pada sang istri. Beliau lalu tersenyum aneh. Pastinya beliau mempunyai rencana supaya keinginannya terpenuhi. Dasar lelaki. "Mama belum mandi?"


"Belum pa." Nyonya Rindi mengambil beberapa gaun dari dalam almari. Beserta satu stel dalaman miliknya yang masih baru. Belum terpakai. Bahkan masih ada bandrol merknya.


"Ya sudah, papa tunggu. Mama berikan dulu ini ke Bulan."


Nyonya Rindi mengernyitkan keningnya dengan heran. "Mama nggak mau, sarapan bareng Bulan. Kan lebih cepat jika kita mandi bersama." ajak Tuan David.


Nyonya Rindi manggut-manggut membenarkan ucapan sang suami. "Benar juga. Sebentar ya pa, mama berikan ini pakaian ganti dulu buat Bulan."


"Iya ma." sahut Tuan David tersenyum senang. Sedari dulu, Tuan Davi memang selalu bisa membuat sang istri melakukan apa yang dia inginkan. Tentunya dengan cara-cara yang licik.


"Tak masalah licik, sama istri sendiri." lirihnya tersenyum menatap ke arah pintu. Menunggu kembalinya sang istri ke dalam kamar.


Beruntung, Bulan segera mendorong tubuh Jeno setelah Jeno mencuri cium di pipinya. Jika tidak, pasti Nyonya Rindi akan curiga.


Sebab baru saja Jeno memberikan kecupan di pipi Bulan, pintu terbuka dari luar. Tentu saja Nyonya Rindi yang berani membukanya tanpa mengetuk dahulu.


"Bulan, ini dress tante sewaktu tante masih muda. Kamu pakai ya. Dan ini **********. Masih baru kok, belum tante pakai." ucap Nyonya Rindi, sembari memberikannya pada Bulan.


Segera Bulan mengambilnya dengan sopan. "Terimakasih tante, maaf merepotkan." tutur Bulan, yang sebenarnya dirinya ingin menolak saat mendengar kata dress.


Meski Bulan memang pernah memakai rok, namun seumur-umur dirinya tidak pernah memakai dress. Yang Bulan pakai malah daster ibu-ibu saat dia pulang ke rumah ke dua orang tuanya.


"Oh iya,,, kamu mau sarapan apa? Nanti biar tante bilang sama yang masak." tanya Nyonya Rindi.


Bulan tersenyum tulus. "Bulan suka semuanya kok tan. Tidak ada permintaan khusus." sahut Bulan yang memang tidak pernah memilih-milih makanan.


Jika saja Nyonya Rindi tahu, jika Bulan pernah memakan makanan basi, atau roti yang sudah tidak layak makan saat Bulan menjalankan misi. Pasti Nyonya Rindi akan terkejut.


"Ya sudah. Jeno, kamu keluar dulu. Gunakan kamar Jevo untuk membersihkan badan kamu." pinta Nyonya Rindi.


Tapi Jeno malah duduk tak segera beranjak sambil memandang kesal ke arah sang mama. "Jeno...!!" seru Nyonya Rindi.


Bulan tersenyum samar melihat Nyonya Rindi membentak Jeno. "Ma..." rengek Jeno.


Nyonya Rindi mendekat ke tempat Jeno duduk dan. "Maa...." teriak Jeno, saat tangan Nyonya Rindi mendarat di telinganya.


Jeno terpaksa keluar dari kamarnya dengan ekspresi meringis. Karena jeweran di telinganya dari sang mama. "Bulan,,, kunci pintunya dari dalam sayang...!!" teriak Nyonya Rindi saat dirinya serta Jeno berada di luar kamar.


Bulan terkekeh pelan melihat tingkah Jeno dan Nyonya Rindi. Segera Bulan melakukan apa yang dikatakan Nyonya Rindi. "Bahaya juga jika pintunya tidak dikunci." tukas Bulan mengunci pintu kamar Jeno.


Bulan menatap setiap sudut kamar Jeno. "Bersih dan wangi." cicit Bulan.


Bulan menatap setiap foto yang berada di kamar Jeno. Hanya ada foto Jeno sendiri dengan Jevo. Serta Tuan David dan Nyonya Rindi. "Apa dia belum punya kekasih?" tanya Bulan, pasalnya tak terlihat foto perempuan selain Nyonya Rindi di kamar tersebut.


Bulan teringat ketiga orang yang telah dia selamatkan dari Timo. "Ponsel gue ke mana?" cicit Bulan. Dirinya ingin menghubungi Jevo, Arya, atau Mikel. Dan pastinya Gara.


"Mungkin di simpan Jeno." lirih Bulan. Memilih untuk mandi terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2