
Claudia duduk di kursi yang berada di pojokan cafe, dengan segelas minuman berwarna orange di atas meja bundar yang ada di depannya.
Tampak Claudia terlihat cemas bercampur kesal. Pasalnya, orang yang dia tunggu lebih dari sepuluh menit belum juga terlihat akan tanda kemunculannya.
Claudia mengambil minumannya, menyeruput sedikit minumannya, lalu menaruhnya lagi. Pandangannya selalu mengarah ke pintu masuk. Berharap orang yang dia tunggu segera terlihat batang hidungnya
"Sialan, lama sekali dia." gerutu Claudia mengumpat.
Claudia melihat ke arah pergelangan tangannya. Mana bisa Claudia sabar menanti. "Ckk,,, bisa karatan gue duduk di sini" decak Claudia merasa kesal, meski masih sepuluh menit menunggu.
Berkali-kali Claudia menghembuskan nafas kasar. Rasa sabarnya mulai lenyap. "Awas saja. Gue akan buat elo menyesal karena tidak datang." ancam Claudia, hendak berdiri, meninggalkan cafe.
Tapi Claudia menghentikan gerakannya, melihat orang yang dia tunggu akhirnya datang. Claudia kembali duduk dengan wajah garangnya.
"Sorry, gue telat." cicit Revan dengan santai, tanpa rasa bersalah. Duduk di kursi yang berada di depan Claudia. Yang hanya terhalang sebuah meja di antara mereka.
Revan tahu, jika Claudia sedang menatapnya dengan tajam karena kesal pada dirinya yang datang tak tepat waktu. Revan tersenyum dalam hati. "Enak bukan menunggu. Pasti mengasyikkan." batin Revan, yang ternyata sengaja datang terlambat.
Pastinya Revan masih menyimpan dendam pada Claudia terkait video yang telah didapatkannya, serta dikumpulkannya susah payah. Tapi malah dihancurkan oleh Claudia dengan mudah.
Sebab, di dalam video tersebut tersimpan beberapa adegan panas di atas ranjang. Dengan pemeran utamanya adalah Claudia dan Revan sendiri. Yang tentu saja langsung di musnahkan oleh Claudia sendiri.
Revan mengangkat tangannya, memanggil seorang pelayan cafe. Memesan minuman serta makanan ringan. "Elo mau pesan apa?" tanya Revan, yang sebenarnya sangat malas bersikap baik pada Claudia.
Hanya saja, Revan tahu bagaimana liciknya keluarga Claudia. Ditambah lagi dirinya yang tidak punya senjata untuk melawannya.
Revan hanya takut, kelahirannya akan terkena imbas. Jika dirinya mencari masalah dengan Claudia, yang artinya papa dari Claudia pasti akan ikut terlibat di dalamnya.
Claudia malah membuang muka. Seakan acuh dengan pertanyaan Revan. "*****,,, sialan." batin Revan, yang memang hanya berpura-pura baik.
"Ini saja mbak." ujar Revan menunjuk ke buku menu.
"Baik. Tunggu sebentar ya kak." ucap sang karyawan.
Revan tersenyum sembari mengangguk. Claudia tersenyum sinis melihat sikap yang Revan tunjukkan kepada pelayan tersebut.
"Memang, orang rendahan seleranya sama orang rendahan." cibir Claudia, dengan memandang ke arah lain.
Revan tahu, jika ucapan Claudia ditunjukkan pada dirinya. Revan tidak lantas marah. Dia malah melipat tangannya di atas meja. Dan memandang lamat ke arah Claudia.
Revan tersenyum sempurna. "Jangan lupa, elo selalu mendesah nikmat di bawah kungkungan badan kekar lelaki rendahan ini." ujar Revan, membuat mulut Claudia seakan tertutup rapat.
Sebab apa yang dikatakan Revan benar adanya. Bahkan, sering Claudia terlebih dulu yang meminta tanpa rasa malu kepada Revan.
"Mau menyanggah. Ayolah baby, apa perlu kita ulangi lagi. Bukankah sudah terlalu lama kita tidak melakukannya. Apa kamu tidak kangen dengan rudal milik ku yang hebat ini." goda Revan membuat Claudia berang.
Sebenarnya Revan juga penasaran. Kenapa Claudia tak lagi menghubunginya. Mengajaknya berolah raga panas di atas ranjang.
Revan ingin bertanya. Tapi dirinya merasa tidak perlu, dan percuma. "Tutup mulut elo. Jangan banyak bicara...! Sialan...!!" tekan Claudia dengan nada rendah.
Claudia melirik ke kanan dan kiri. Dirinya tidak ingin ada yang mendengarkan apa yang katakan Revan. Sudah cukup dirinya mendapat ultimatum dari sang papa. Claudia tak mau mendapat masalah lagi.
Claudia tak lagi menghubungi Revan, dan meminta Revan untuk memuaskannya di atas ranjang. Semua itu disebabkan oleh sang papa yang ternyata mengetahui perbuatannya.
Claudia terpaksa menghentikan apa yang ingin sekali dia lakukan dengan Revan. Yakni merengkuh nikmatnya duania. Tapi Claudia tak lagi melakukannya, karena ancaman dari sang papa.
Mana mungkin Claudia berani melawan perkataan sang papa. Dirinya yang selama ini hidup di bawah kekayaan serta kekuasaan sang papa. Mau tak mau harus tunduk dengan semua peraturan serta apapun yang dikatakan sang papa.
Revan meletakkan tangannya di depan mulut, melakukan gerakan seperti menutup resleting dompet tepat di depan mulutnya. Menandakan dirinya akan menjaga rahasia itu.
Perbincangan mereka terhenti karena seorang pelayan perempuan datang mengantarkan pesanan Revan. "Lakukan dengan cepat..!! Dan segera enyah...!!" usir Claudia.
Merasa jika sang pelayan malah mencari perhatian dari Revan. Dengan berlama-lama di meja mereka.
Revan terkekeh pelan mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Claudia. "Tenang saja. Aku tidak akan tertarik dengan dia. Jadi, jangan cemburu." tukas Revan percaya diri.
"Cihh,,,, najis. Selera gue bukan lelaki kayak elo." decih Claudia, menghina Revan.
Revan menggenggam erat sebelah tangannya yang berada di bawah meja. Revan tahu, jika Claudia sangat menginginkan Jevo.
"Perempuan sialan. Gue akan membuat elo hancur sehancur-hancurnya." batin Revan dendam terhadap Claudia.
"Sebaiknya kita tidak perlu banyak omong. Gue punya pekerjaan buat elo." Claudia bicara tujuannya, mengapa dirinya mengajak bertemu Revan di kafe.
Revan memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Memandang Claudia dengan tatapan penasaran. "Pekerjaan apa? Menyenangkan kamu di atas ranjang?" goda Revan.
Claudia sedikit mencondongkan badannya ke depan. "Gue mau elo membuat Bulan celaka."
Revan mengernyitkan keningnya. "Bulan." cicit Revan. Lantaran dirinya hanya mengenal satu nama Bulan. Yakni salah satu guru di sekolahnya. Meski Bulan tidak mengajar di kelas Revan.
"Iya. Bulan. Guru perempuan, yang baru di sekolah kita." jelas Claudia.
Revan menyenderkan punggungnya ke kursi. "Kenapa?"
Revan memerlukan alasan. Kenapa Claudia menyuruhnya untuk membuat Bulan celaka. "Lakukan saja." tukas Claudia tanpa berniat menyebutkan alasannya.
Revan menggeleng. "Tidak akan. Jika elo tidak memberitahu alasannya pada gue." tegas Revan.
Claudia menghela nafas kesal. Dirinya mengira jika Revan akan menuruti keinginan tanpa berbelit-belit. "Gue akan bayar elo dengan harga mahal." ucap Claudia.
Revan terkekeh pelan. "Apa gue terlihat begitu miskin, dan sangat membutuhkan uang." Revan mengeluarkan dompetnya dari saku celana. Membukanya, sehingga terlihat beberapa kartu kredit dengan berbagai warna.
"Ingat Nona, kekayaan keluarga kita sama." jelas Revan mengingatkan, jika dirinya tidak membutuhkan uang dari Claudia. Sebanyak apapun itu, yang akan diberikan Claudia padanya.
__ADS_1
"Tapi, jika semua kekayaan keluarga elo, gue mau." Revan menggoda Claudia, memainkan kedua alisnya naik turun.
Raut wajah Claudia terlihat kesal. Claudia berpikir, akan melanjutkan rencananya dengan melibatkan Revan, atau mencari orang lain.
"Ayolah, katakan alasannya. Dan gue akan lakukan. Buat elo." ucap Revan dengan santai.
"Gue penasaran. Apa salah bu Bulan. Sehingga elo berniat mencelakai dia." batin Revan, yang sama sekali tidak ingin melakukan apa yang dikatakan Claudia.
"Karena Bulan mendekati Jevo." tekan Claudia.
Revan melongo. Mengedipkan kedua kelopak matanya dengan lucu. Lalu beberapa detik kemudian dia tertawa lepas.
"Revan,,, diam,,,,!! Elo pikir omongan gue itu komedi." geram Claudia, karena beberapa pengunjung sampai menoleh ke arah mereka. Memperhatikan Claudia dan Revan.
"Bu Bulan. Mendekati Jevo. Apa telinga gue nggak salah dengar." ujar Revan dengan sisa tawanya.
"Terserah. Elo mau percaya atau tidak." ketus Claudia.
Revan tahu, jika Bulan memang menjadi guru perempuan yang banyak di idolakan para murid. Terutama murid lelaki. Termasuk juga dirinya.
"Clau,,, Apa nggak kebalik. Yang ada Jevolah yang mengejar bu Bulan." tukas Revan.
Claudia tersenyum sinis. "Gue nggak butuh pendapat elo. Yang gue butuhkan, elo mau atau tidak mencelakai Bulan?!"
Revan terdiam. Memakan camilan serta meneguk minuman di depannya dengan santai. "Oke." Revan menepuk-nepuk kedua telapak tangannya, seperti sedang membersihkannya.
Revan berdiri. "Terimakasih traktiran minum dan makannya. Walau harganya tak seberapa. Dan untuk jawaban gue, mengenai bu Bulan. Emmm..... Gue pikirkan dulu." Revan mengambil dompetnya, memasukkan lagi ke dalam daku celana.
Revan menggerakkan telapak tangannya dengan gaya lucu seperti anak balita yang sedang melambaikan tangan.
Melangkah pergi meninggalkan Claudia yang menatapnya dengan tatapan tak percaya. "Apa maksudnya ini? Dipikirkan dulu. Dia menggantung gue?" lirih Claudia tak menyangka akan mendapat perlakukan seperti ini dari Revan.
"Revan sialan...!!" geram Claudia.
Tanpa Claudia dan Revan tahu, duduk seorang perempuan tepat di belakang mereka yang mendengar semua percakapan keduanya.
"Mencelakai bu Bulan. Claudia bilang, Bu Bulan mengejar dan mendekati Jevo. Apa dia sudah tidak waras." batin Moza.
Moza tahu sendiri, Jevolah yang selalu mengganggu dam menggoda Bulan saat mereka berada di kelas, di mana saat Bulan mengajar di kelas mereka.
"Claudia. Dia ternyata sangat jahat. Sama seperti Rani." batin Moza.
"Gue harus mengatakan ini pada bu Bulan. Jangan sampai bu Bulan mengalami kejadian seperti apa yang gue alami." batin Moza, teringat saat kejadian tersebut, dan Jevo datang menolongnya.
Sedangkan di markas, ketiganya sedang mengamati layar laptop. Mereka adalah Bulan, Gara, dan Mikel. "Apa kita harus pergi ke sana?" tanya Mikel pada Bulan.
Berbeda dengan ketiga sahabatnya, Mikel seseorang yang bisa dibilang tidak dikekang sama sekali oleh kedua orang tuanya. Atau di bebaskan.
Tidak seperti Arya, Jevo dan Jeno yang barus tinggal serumah bersama kedua orang tuanya. Mikel tinggal sendiri di sebuah apartemen mewah.
"Iya, kita akan ke sana. Menyelidikinya lebih lanjut."
Mikel bergidik ngeri melihat wajah Timo yang asli. "Pantas dia lebih memilih menggunakan topeng wajah orang lain." tukas Mikel.
Gara membandingkan wajah Timo kecil dan dewasa. "Luka di wajahnya tak sebanyak saat dia sudah dewasa." ujar Gara, memandang ke arah Bulan.
"Kapan kematian kedua orang tuanya terjadi?" tanya Bulan.
Gara segera menggerakkan jari jemarinya di atas keyboard. "Gila, mereka berdua memang hebat. Bisa melakukan semuanya dengan cepat dan tepat." batin Mikel, melihat Bulan dan Gara yang memang seperti satu paket.
"Saat Timo masih kecil. Jika dihitung, saat umur Timo,,,, ya, saat Timo masih duduk di bangku TK." jelas Gara, menunjuk foto Timo menggunakan seragam TK.
Bulan mengambil alih keyboard di depan Gara. Menggerakkan jarinya di atas keyboard. "Ternyata bu Bulan juga jago komputer." batin Mikel, yang mengira Bulan hanya sekedar bisa menggunakan perangkat lunak.
"Kecelakaan. Keduanya meninggal. Dan Timo masih hidup." tukas Bulan mencari tahu.
"Elo cari apa lagi?" tanya Gara.
"Foto Timo saat kecil."
"Memang ada?" tanya Mikel penasaran.
Gara melirik ke arah Mikel. "Jika dilihat dari kendaraan yang ditumpangi kedua orang tua Timo beserta Timo saat kecelakaan, mereka termasuk orang yang kaya. Pasti mereka mengabadikan foto putra mereka saat kecil."
Mikel mengangguk. Dirinya tidak sampai berpikir ke arah itu. "Fokus mereka terarah ke mana-mana. Hebat. Bagaimana bisa mereka melakukannya." lagi-lagi, Mikel merasa berada di antar dua orang yang jenius.
Tik.... Bulan menemukan foto Timo sewaktu kecil. "Berarti, wajah Timo rusak karena kecelakaan bersama kedua orang tuanya." ujar Mikel, yang melihat wajah mulus Timo sewaktu kecil. Terlihat sangat tampan.
"Tapi, kenapa saat dewasa wajahnya semakin rusak?" tanya Mikel memandang Gara dan Bulan bergantian.
Bulan hanya menghela nafas serta menggeleng pelan, mendengar pertanyaan yang diajukan anak didiknya tersebut.
Gara merangkul pundak Mikel, yang memang duduk di sampingnya. "Mikel, jangan bertanya sesuatu yang tidak terlalu penting."
Gara mengarahkan jari telunjuknya di dahi Mikel. "Cukup pikirkan dalam benak kamu." Lalu Gara mengalihkan jati telunjuknya ke dada Mikel. "Dan simpan di hati kamu." jelas Gara.
Yang artinya, tak semua perlu dijelaskan secara detail. Sebab mereka harus bergerak cepat tanpa berbicara banyak. Dan hanya membicarakan intinya saja.
"Jika elo bertanya hal yang tidak terlalu penting, yang ada kita malah akan menyelidiki hal yang tidak penting. Dan mengabaikan hal yang penting." jelas Gara.
Mikel tersenyum malu, sembari mengangguk. "Maaf, aku akan mulai memahaminya sedikit demi sedikit."
Gara menepuk punggung Mikel. "Bagus."
__ADS_1
"Kemungkinan, Timo mendapat perlakukan yang tidak menyenangkan saat SMA. Dan itu dia dapatkan di wajahnya. Makanya dia menargetkan anak SMA sebagai korbannya." batin Mikel.
"Benar, jika kita membahas masalah wajah Timo, yang ada kita malah membuang-buang waktu. Dan masalah akan semakin melebar. Bukan mengerucut." batin Mikel mulai mengerti.
"Kapan elo akan ke sana?" tanya Gara.
"Malam ini. Tapi, elo harus memastikan jika Timo tetap berada di rumah." jelas Bulan, ingin bergerak cepat dengan tak membuang-buang waktu.
"Biar saya saja bu." ujar Mikel mengajukan diri.
"Jangan. Sebaiknya Bulan sendiri yang pergi." timpal Gara.
Mikel menatap heran bercampur bingung ke arah Gara. Hanya untuk menemukan rumah kakek Timo, bukankah dirinya bisa melakukannya.
"Bulan sudah menemukan rumah kakek Timo." jelas Gara.
Mikel mengalihkan pandangannya kepada Bulan. "Kapan?" tanya Mikel dalam hati.
Padahal semalam dirinya dan Bulan masih berada di markas. Dan pagi hingga siang, mereka berada di sekolah. Lalu dirinya dan Bulan ke markas.
Mikel hanya penasaran, kapan Bulan mencari tahu tempat tinggal kakek Timo. Tapi Mikel kembali mengingat perkataan Gara beberapa menit yang lalu.
Jika jangan menanyakan sesuatu yang tidak penting.
"Bu Bulan tinggal mengatakan alamatnya pada saya dan memerintahkan apa saja yang harus saya lakukan, saya akan bertindak seperti biasanya." jelas Mikel.
"Bukan itu masalahnya." lagi-lagi Gara yang menimpali perkataan Mikel. Sementara Bulan hanya diam.
"Lalu?"
Gara menghela nafas panjang. Melihat ke arah Bulan yang tersenyum. "Elo tahu sendirikan, siapa Timo. Psikopat dengan otak gesreknya yang parah."
Mikel mengangguk. "Elo pikir dengan matang. Timo bisa dengan mudah membeli rumah bagus untuk kakeknya. Menempatkan kakeknya di rumah bagus tersebut. Tapi dia tidak melakukannya. Pasti ada sesuatu yang dia lakukan dan dia sembunyikan. Sehingga membiarkan sang kakek tinggal sendirian, di tempat seperti itu." jelas Gara.
"Benar juga."
"Timo. Dia selama ini beraksi seorang diri. Mempermainkan semua orang. Mempermainkan pihak berwajib. Mempermainkan nyawa orang lain. Apa elo pikir akan begitu saja membiarkan kakeknya tinggal di tempat seperti itu tanpa pengamanan."
"Bisa jadi, ada berbagai jebakan di sekitar rumah sang kakek." tebak Mikel.
Gara mengangguk pelan. "Benar. Makanya, lebih baik Bulan yang pergi. Dari pada elo." jelas Gara.
"Apa saya perlu mengalihkan perhatian, agar Timo tidak ke rumah itu?" tanya Mikel.
"Jangan. Tidak perlu. Dia sangat licik. Dan elo sudah pernah bertemu sekali dengannya. Jika bisa, elo jangan pernah bertemu dengan Timo lagi." tutur Gara.
"Mikel, tidak ada kebetulan untuk yang kedua kali. Apalagi elo dan Timo orang asing. Elo bukan seperti Jeno, yang berperan sebagai asisten dokter Vinc. Insting seorang psikopat seperti Timo biasanya lebih jeli dari pada yang kamu pikirkan." ucap Bulan.
"Baik bu."
"Apa ada yang perlu elo siapkan untuk nanti malam?" tanya Gara, karena hari masih sore.
"Elo pikir gue mau mendaki." ketus Bulan.
Keadaan hening sejenak. Bulan sibuk mengotak-atik senjatanya. Sedangkan Mikel sibuk dengan ponselnya. Dan Gara fokus dengan laptop.
"Bulan..." panggil Gara terdengar cemas.
Bulan menyimpan senjatanya, begitu juga Mikel. Dia segera menyimpan ponselnya. "Lihat..." ujar Gara, menunjukkan sesuatu di layar laptopnya.
"Bukankah itu Narendra?" tanya Bulan seolah menyakinkan dirinya sendiri.
"Benar. Dia mengalami kecelakaan siang tadi. Keadaannya sekarang sangat kritis." jelas Gara, membaca tulisan di layar laptopnya.
Mikel yang tidak mengerti apa yang mereka bahas, hanya diam. Mendengarkan dan melihat.
Bulan langsung berdiri. "Sial..!!" Bulan menendang kursi di sampingnya, hingga kursi tersebut terpental jauh.
"Bulan tenang. Elo harus berpikir jernih. Ingat, ini yang mereka inginkan. Elo jangan kepancing." ujar Gara.
Gara tidak ingin Bulan menampakkan diri. Yang malah akan membuat keselamatan Bulan terancam. Bulan menyugar rambutnya ke belakang dengan raut wajah yang menakutkan.
Mikel meneguk ludahnya dengan sulit. "Sepertinya ada kasus yang lebih besar dari Timo." tebak Mikel dalam hati, melihat sikap yang ditunjukkan oleh Bulan. Serta kekhawatiran Gara.
"Narendra. Dia siapa? Kelihatannya orang penting." batin Mikel menebak.
"Bulan, elo harus ingat. Mereka menaruh curiga ke elo. Jadi elo haris hati-hati." ucap Gara, terlihat jelas ekspresi cemas di wajah Gara.
"Narendra selalu pergi dengan seorang laki-laki. Coba elo cari tahu." pinta Bulan, duduk dengan gelisah.
Segera jari jemari Gara bermain di atas keyboard, melakukan apa yang diminta Bulan. "Bulan, tidak bisa di akses." ucap Gara.
Bulan segera melihat ke layar laptop. "Jangan." Gara menghentikan, saat Bulan ingin mencoba membukanya.
"Gue mohon, jangan." pinta Gara dengan ekspresi sendu.
Jika Bulan membukanya menggunakan sistem yang hanya Bulan sendiri yang bisa melakukannya, mereka pasti akan segera mengetahui jika Bulan menyimpan semua bukti kejahatan mereka.
"Ckk,,, pasti mereka menambah personil lagi. Lihat, Narendra celaka. Lelaki yang bersama Narendra menghilang." tukas Bulan, menyandarkan punggungnya ke kursi, dengan kedua mata terpejam.
"Jangan sampai, rekaman yang ada di tangan Narendra beralih ke tangan orang yang salah." tutur Bulan masih dengan kedua mata terpejam.
Bulan membuka kedua matanya. "Gue harus segera menyelesaikan kasus Timo. Jika terus begini, gue takut anak dan istri atasan gue akan jadi korban selanjutnya." jelas Bulan.
__ADS_1
"Tapi elo harus ingat. Jangan ceroboh. Tetap tenang. Jangan gegabah." ujar Gara mengingatkan.
Bulan mengangguk. "Elo tenang saja. Gue sedang berusaha mencari tahu keberadaan mereka berdua." ujar Gara memberitahu Bulan.